Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Suamiku sakit


__ADS_3

" Kumohon.." pinta Yoga,


" Apa kau bisa membayangkan apa yang terjadi jika mas Damar tau kalau kau mantan kekasihku yang ku tinggalkan?


aku selalu bercerita padanya kalau aku sesungguhnya masih mengharapkanmu..


kau kira bagimana caranya memperlakukan aku dan dirimu nanti?


dia pasti akan berubah sikap terhadapku??" imbuh Yoga.


" itu urusanmu.." Kinanti acuh,


" baik.. itu memang urusanku, lalu bagaimana dengan Bagas? apa dia masih bisa di perlakukan sama?


apa kau masih bisa memeluk dan mengendongnya seperti biasanya?"


Kinanti terdiam, ia terlihat bimbang.


" Benar kan? setelah ini kau pasti menjaga jarak dengan Bagas?"


" itu tidak benar, meskipun aku kesal dengan ayah dan ibunya tidak mungkin aku berpikir picik dengan melimpahkan kekesalanku pada anak yang tidak tau apa apa..?!" tegas Kinanti kemudian.


Yoga tersenyum tipis, menutupi kegetiran yang di terimanya atas kalimat Kinanti.


" Baguslah.. ini memang Kinan yang ku kenal.. sabar dan bijak.." ujar Yoga,


" Itu dulu, semenjak kau melukaiku aku tidak bijak lagi..!"


" Benarkah, lalu bagaimana bisa mas Damar mendapatkanmu?"


" Maksudmu?!"


" Ku dengar semenjak berpisah denganku kau jadi sosok yang ketus dan dingin pada setiap laki laki yang mendekatimu, lalu kenapa mas Damar yang akhirnya kau pilih menjadi pelabuhan terakhirmu?"


Kinanti menatap Yoga tak percaya, bisa bisanya dia berani berkomentar seperti itu, batin Kinanti.


" Beraninya kau mempertanyakan Mas Damar? apa karena kau memakai jas putih lalu mas Damar tidak lebih baik darimu?" sembur Kinanti,


" Kau terlalu memandang tinggi dirimu! makin tua kau makin menyebalkan!"


" Aku mana berani berkomentar tentang mas Damar,


seperti kau lihat.. suamimu lebih segalanya dariku..


aku hanya ingin tau, bagaimana dia meluluhkan hatimu yang sudah bagai batu itu.."


" Batu?!"


" Yah.. itu yang ku dengar dari rekan rekan se alumnimu..?"


" Kau bergosip rupanya?" cemooh Kinanti.


" Yah, terserahlah.. apapun itu tentangmu aku masin tertarik membicarakannya, jadi katakan padaku?"


" Kau sungguh tidak tau diri.."


" terserah saja.."


" baiklah.. tapi aku tidak akan menanggung rasa malumu nanti.." ujar Kinanti.


" Jangan kan malu, harga diriku sudah habis di hadapanmu.." gumam Yoga.


Kinanti membuang pandangannya ke arah lain, ia sudah muak dengan cara Yoga menatapnya.


" Kau tau laki laki yang membiayai kuliahku dulu?" ujar Kinanti kemudian,

__ADS_1


" Yah.. kau bilang dia teman almarhum kakakmu.." sahut Yoga.


" Dia terus bertanggung jawab atas kehidupanku meski aku sudah lulus kuliah dan bekerja.."


" lalu apa hubungannya dengan mas Damar?"


" Dia adalah mas Damar.." jawab Kinanti membuat Yoga terdiam.


Laki laki itu benar benar terdiam seribu bahasa sekarang.


Tampak kekecewaan dan kebingungan di matanya.


" Dari awal aku sudah kalah telak.." ujarnya setelah lama terdiam.


" Kuharap kau tidak bertingkah kurang ajar lagi,


dan jangan pernah bandingkan dirimu dengan suamiku,


sekarang pergilah, sebelum ada yang melihatmu disini" nada Kinanti lebih tenang namun tetap sinis.


Mendengar itu Yoga tidak berniat memperpanjang pembicaraan mereka lagi.


Dengan langkah cepat Yoga berjalan keluar dari rumah itu.


Tepatnya setelah magrib, Damar baru pulang.


Ia basah kuyup, terlihat sangat kusut.


" Kenapa hujan hujanan??" Kinanti berlari ke teras membawakan suaminya itu handuk.


" Mobilnya kejebak lumpur, eh.. baru jalan satu kilo pakai acara mogok.." Damar sedikit mengerutu sembari menggosok rambutnya yang basah.


" Kok apes sekali?"


" Iya.. padahal seumur umur mobil itu tidak pernah macet meski usianya sudah tua.." Damar berjalan ke dalam rumah, dan Kinanti mengekor di belakangnya.


" Iya.. perutku sedikit tidak enak rasanya.." sahut Damar berlalu menuju kamar mandi.


Setelah Damar mandi dan makan, Damar langsung rebahan di atas tempat tidur, tidak biasanya dia begitu.


Padahal Kinanti ingin sekali membicarakan perkara dirinya dan Yoga tadi siang.


Tapi sepertinya malam ini waktunya tidak tepat, suaminya terlihat lelah dan butuh istirahat.


Kurang bijak rasanya kalau Kinanti memaksakan kehendaknya untuk bicara dalam situasi seperti ini.


Subuh menjelang, seperti biasanya, Kinanti membuka jendela agar udara pagi yang masih belum tercemar itu masuk ke dalam kamarnya dan Damar.


" Dingin Nan, tutup saja.." ujar suaminya setengah bergumam.


Kinanti menutup jendela itu kembali, lalu berjalan ke arah suaminya yang masih terbaring.


Di lihatnya suaminya yang masih meringkuk itu.


Wajahnya pucat,


" Mas sakit? meriang?" tanya Kinanti memegang dahi suaminya.


Damar mengangguk lemah,


" Gara gara kehujanan kemarin pasti?! aduhh..." keluh Kinanti ketika di rasakan suhu tubuh suaminya panas.


" Kita ke dokter ya?"


Damar menggeleng,

__ADS_1


" Kenapa? panas mas tinggi?"


" Panggil Yoga saja.." ucap Damar masih dengan mata tertutup.


deg.. lagi lagi hati Kinanti mendapat serangan pagi pagi.


" Yoga?" ulang Kinanti dengan nada aneh,


" Iya, ayahnya Bagas.. cepatlah panggil dia.. mumpung masih subuh.." ujar Damar.


Kinanti lama terdiam, kalau bisa memilih ia tak mau berinteraksi dengan manusia bernama Yoga lagi.


" Ayo Nan.. tunggu apa.. kepalaku sakit sekali rasanya.." keluh Damar,


Kinanti bangkit dengan wajah bimbang dan enggan.


" Iya mas.. ku panggilkan.." ucap Kinanti lalu berjalan keluar.


Dengan langkah berat Kinanti berjalan ke arah rumah Yoga.


Sungguh, ia tak ingin bertandang kesana jika tidak karena permintaan suaminya.


" Kemana nduk?" tanya Winda yang baru saja membuka pintu rumahnya.


" Ke Ayahnya Bagas.." jawab Kinanti pelan,


" Suamimu kenapa?" tanya Winda cepat,


" Demam mbak, panasnya tinggi..?"


" Owalah..?! ya wes cepat cepat panggil Yoga, mumpung dia belum berangkat..! sebentar lagi aku kerumahmu..!" ujar Winda masuk kembali ke dalam rumahnya.


Lagi lagi Kinanti hanya bisa mengangguk lemah.


Langkah kakinya sungguh berat.


Sesampainya di depan rumah Yoga ia mengetuk pintu, tak butuh waktu lama sosok ganteng berkulit putih itu membuka pintu.


" Nan..? ada apa subuh subuh?" tanya Yoga sembari merapikan rambutnya yang acak acakan segera.


Senyumnya merekah melihat perempuan yang masih di sayanginya itu bertandang kerumahnya subuh subuh buta.


" Suamiku sakit, panasnya tinggi, aku dengan terpaksa meminta bantuanmu, karena rasanya tak pantas jika ada dokter disini tapi aku membawanya ke dokter lain,


kau paham kan kesulitanku?" nada Kinanti tak ada manis manisnya.


Yoga tersenyum melihat wajah yang masam itu.


" Terpaksa pun kau datang kesini aku tetap senang, kau mengetuk pintu rumah ku subuh subuh begini.. membayangkannya saja pun aku tidak berani.."


mata Yoga yang masih mengantuk itu berbinar tiba tiba.


" Jadi kau senang saudaramu sakit?!" tanya Kinanti tajam.


Yoga tertawa tiba tiba,


" Lihatlah.. marah pun sosokmu tetap memukau di mataku.." ujar Yoga,


" Sudahlah.. pulanglah duluan, aku akan menyusul..


aku harus cuci muka untuk menyadarkan diriku dari kejutanmu pagi ini.." senyum Yoga terlalu manis untuk ukuran seseorang yang baru saja bangun dari tidurnya.


" Kau meracau seperti orang mabuk..!" sembur Kinanti kesal.


" Yah.. apa saja makianmu, aku akan menerimanya, setidaknya aku masih mendapat perhatianmu, meski itu hanya kemarahan.."

__ADS_1


" Omong kosong! lekas periksa suamiku!" Kinanti berbalik pergi dengan menyimpan kemarahannya.


Sedang kan Yoga, tetap memandanginya dengan senyum yang sulit di artikan, hatinya begitu terhibur melihat Kinanti mencarinya pagi ini, terlepas apapun alasannya.


__ADS_2