
Damar menempuh perjalanan kurang lebih lima jam dengan mengendarai mobilnya menuju Madiun.
Tempat yang sesungguhnya tak pernah ia kunjungi sekalipun.
Meski ia tau disana dekat dengan telaga sarangan yang begitu indah, dan orang orangnya terkenal begitu ramah.
Damar menghentikan mobilnya di depan sebuah gang.
" Turunlah, dan bertanya mas.." ujar Kinanti pada suaminya, tangannya erat memegang putrinya yang sedang terlelap di pangkuannya.
Damar menoleh pada istri dan putrinya sekilas, wajahnya terlihat bimbang.
" Sudahlah.. ini sudah dua tahun berlalu mas.." kata Kinanti selembut mungkin, ia tak ingin suaminya itu berubah pikiran lagi, karena sebelumnya Damar berkali kali ingin memutar mobilnya dan kembali ke malang.
" Dia adikmu, sedarah denganmu.. dia dan suaminya sudah membuktikan, bahwa mereka sanggup hidup mandiri sesuai dengan keinginanmu..
bukankan du tahun ini sudah cukup??" imbuh Kinanti.
Damar tak menjawab, ia mengusap dahinya yang bahkan tak berpeluh.
" Tunggu disini.." suara Damar tenang lalu membuka pintu mobilnya.
Terlihat laki laki tinggi itu berjalan menjauh dari mobil, dan bertanya pada salah seorang laki laki tua yang berdiri di tepi jalan.
Keduanya terlihat berbincang dan Damar berkali kali mengulas senyum demi kesopanan.
Lalu tak lama kemudian Damar berjalan kembali ke dalam mobil,
" Yang mana rumahnya mas?" tanya Kinan segera saat suaminya itu duduk kembali di kursi kemudi.
" Itu, rumah kedua dari sini, yang ada tokonya." jawab Damar menunjuk salah satu rumah bercat putih.
Tak begitu besar, rumah itu bahkan lebih kecil dari perumahan yang di miliki Yusuf di malang.
Rumah tak berpagar, dan memiliki sebuah toko di sampingnya persis,
entah toko kelontong atau apa, karena yoko itu terlihat sedang tutup.
Kinanti dapat melihat sorot mata Damar yang begitu kecewa,
apa yang Yusuf kerjakan, kenapa ia tak mampu membeli rumah yang lebih luas dan layak.
" Mas.. besar dan bagusnya sebuah rumah bukan jaminan untuk menilai kebahagiaan mereka.." ucap Kinanti seakan mengerti apa yang sedang di pikirkan suaminya.
Tak lama keduanya terdiam di dalam mobil,
sebuah motor melewati mobil mereka,
__ADS_1
motor matic yang di kendarai oleh seorang wanita yang sedikit tidak asing perawakannya.
Di jok belakangnya mengangkut tumpukan kardus yang di ikat oleh tali rafia,
sementara di depanpun ia mengangkut satu kardus sehingga motornya itu penuh dengan bawaan.
Damar dan Kinanti mengawasi, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat motor itu terhenti di depan toko yang katanya rumah Yusuf dan Kaila itu.
Dari kejauhan perempuan bertubuh mungil itu membuka rolling door tokonya, dan dengan gesit mengangkuti satu persatu kardus yang di bawanya masuk ke dalam toko.
Tubuhnya semakin kurus saja,
benarkah itu adikku.. batin Damar menelan ludah bersamaan dengan rasa pedih dan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
" Itu Kaila mas.. benar?" tanya Kinanti ragu,
Damar tak menjawab, matanya sayu.
Anak itu.. setelah kepergiannya setahun setengah yang lalu ia tak pernah menunjukan lagi batang hidungnya.
Keputusan yang bahkan mengejutkan Damar,
ia memutuskan untuk berhenti dari kuliahnya dan pergi mengikuti Yusuf yang mendapatkan panggilan kerja di luar kota.
Damar memegang erat setir mobilnya, kesal, sedih, kecewa, tak bisa ia gambarkan dengan baik.
" Aku turun duluan mas, gendong Gendhis dulu..?" Kinanti mengangkat tubuh putrinya perlahan, lalu membaringkannya di kedua lengan kokoh suaminya.
Kinanti berdiri di hadapan Kaila dengan pandangan takjub sekaligus sedih,
kedua tangan Kinanti yang penuh bawaan di lemparkan entah kemana, di peluk adik iparnya itu penuh rasa rindu dan haru.
" Mbak..??" suara Kaila gemetar menahan tangis.
" Jangan di tahan, menangis saja.. tak apa, aku ini mbak mu nduk..??" sahut Kinanti dengan air mata yang sudah meleleh kemana mana.
" Mba sendiri? atau dengan mas Damar?" tanya Kaila di sela isak tangisnya.
" Tidak mungkin mbak sendiri nduk.."
" Kalau begitu dengan Gendhis juga??" tanya Kaila dengan suara penuh harap, karena terakhir kali ia melihat Gendhis saat masih bayi.
" Bi.. biar kurapikan dulu rumahku?, kasian Gendhis nanti, rumah ku kotor mbak, aku belum sempat nyapu dan ngepel, karena aku buru buru ke pasar tadi??" Kaila buru buru melepaskan pelukan Kinanti dan segera menata kardus kardus berisi kue itu dengan rapi, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Kinanti termanggu, perempuan di hadapannya itu sungguh sangat berbeda jauh dari perempuan yang di temuinya setengah tahun yang lalu.
Bagaimana bisa.. bagaimana bisa?, batin Kinanti,
__ADS_1
bagaimana cara Yusuf memperlakukannya Kinanti sungguh sungguh tak mengerti, tubuh Kaila tampak kurus dan tak terawat.
Dan rumah yang ia tempati.. sungguh sungguh membuat Kinanti yang tinggal dirumah yang begitu besar dan layak menjadi malu.
Rasanya tak pantas.. ia bahkan tak akan makan dengan kenyang setelah melihat kondisi rumah adik iparnya ini.
" Sudah.. jangan sibuk bersih bersih..?" Kinanti menyusul dan mengambil sapu di tangan Kaila.
" Mas mu pasti sedih melihatmu begini.. biar mbak yang bantu sapu, kau ganti bajulah, rapikan dirimu dan poles wajahmu dengan sedikit bedak.." ujar Kinanti menatap Kaila baik baik.
Kaila hanya tertunduk, ia terlihat sedih dengan kata kata Kinanti.
" Kau tak ingin Yusuf menerima kemarahan mas mu lagi kan?? rapikan dirimu cepat.. sebelum mas Damar kemari??" ujar Kinanti lagi lebih tenang dan halus.
" Jangan lupa, telfon suamimu, usahakan pulang untuk menemui kami.. mungkin ijin setengah hari atau apa.." imbuh Kinan,
Kaila mengangguk patuh dan berjalan pergi masuk entah kemana, mungkin kamarnya.
Damar menggendong Gendhis di dadanya, berjalan perlahan memasuki teras rumah yang terbuat dari ubin berwarna hitam itu.
Langkahnya enggan, bukan karena jijik atau kotor,
tapi karena sejak tadi kekecewaan menyelimuti hatinya.
Yang ia injak bukanlah keramik, tapi ubin..
yah, rumah yang Kaila tempati adalah bangunan lama.
Meski terlihat masih kokoh, tapi dari model jendela dan pintu, rumah ini jelas jelas terlihat bangunan yang sudah kuno.
Perasaan Damar semerawut tak karuan, rasanya ia tak sanggup masuk ke dalam rumah dan lebih kecewa lagi.
" Mas.. masuklah.. Kaila sedang ganti baju.." terdengar suara istrinya dari depan pintu yang sudah sejak tadi terbuka itu.
Damar menatap istrinya, seperti ada puluhan kata yang ingin ia ucapkan, ia keluhkan,
tapi mulutnya tak sanggup terbuka, matanya saja yang terlihat berkaca kaca.
" Selamat datang di gubuk kecilku mas.." suara Kaila yang tiba tiba saja keluar dari kamarnya dan berdiri di belakang Kinanti membuatnya semakin tak kuasa menahan gemuruh yang sejak tadi di tahannya.
Damar berbalik, mengarahkan pandangannya pada jalan, agar adiknya itu tak bisa melihat bahwa Damar sedang bersusah payah menahan air matanya.
Tangan kanannya jari bebasnya memijit pangkal hidungnya, bermaksud untuk mencegah air matanya tak tumpah.
Sementara tangan lainya erat memegang Gendhis yang masih lelap.
" Mas...tidak mau masuk kerumahku?" suara Kaila terdengar lagi, kali ini tepat di belakang punggungnya.
__ADS_1