Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kenapa tidak menghubungiku?


__ADS_3

Tyo berjalan menuju pagar, ia berkali kali melempar senyum pada Kinanti sehingga tidak sadar ada seseorang yang berdiri tepat di depan pagar.


" Maaf..?!" ujar Tyo mundur beberapa langkah.


Tyo menemukan sesosok laki laki yang lebih tinggi darinya, dan sepertinya Tyo kenal, itu adalah laki laki yang pernah menjemput Kinanti dan ngobrol sedikit dengannya disini,


kalau tidak salah dia kerabat jauh atau apa ya..


Tyo sedikit lupa, yang jelas Tyo lekas memberi senyum dan mengucapkan kata maaf lagi karena sudah menabrak orang.


" Saya minta maaf..?"


" Tidak apa apa.." jawab laki laki itu datar, ia melemparkan senyum, yang entah tulus atau terpaksa itu, yang jelas wajahnya terlihat sedikit kurang ramah.


" Sudah mau pulang pak Tyo?" tanya laki laki berjaket hitam itu, sementara tangan kirinya memegang helm trailnya.


" Iya, saya sudah sejak sore disini.."


" oh.." Tyo mendapat jawaban yang datar.


" ya sudah.. saya pamit dulu.. mari.." pamit Tyo merasakan hawa yang kurang menyenangkan dari laki laki di hadapannya.


Ia segera berjalan keluar, ke arah motornya dan berlalu memasuki jalan raya.


Sedangkan di teras depan hanya tersisa si laki laki itu dan Kinanti.


Keduanya saling memandang sejenak,


laki laki itu terlihat menahan sesuatu, wajahnya kaku.


Namun Kinanti yang lelah mengacuhkan semua itu.


" Masuklah.. ibu di kamar.." ujar Kinanti.


Ia masuk terlebih dahulu.


" Lho? Kinanti yang telfon?" tanya si ibu setelah melihat sosok Damar masuk ke kamar.


" Tidak ada yang mengabari saya, bahkan ibu.." nada Damar kecewa,


" Maafkan ibu nak.. ibu tidak mau merepotkan nak Damar.." ujar ibu memaksakan diri.


" Ibu istirahat saja bu.." ujar Damar setelah tau kondisi ibu kurang baik,


" Saya ke depan dulu.. ibu tenang tenang ya.. " Damar bangkit dan berjalan keluar kamar ibu.


Ia kemudian duduk di ruang tamu,


tak lama Kinanti keluar dengan secangkir kopi.


" Di minum mas.." Kinanti duduk tak jauh dari Damar.


" Kita ngobrol di luar.." ujar Damar dengan suara tak ramah.


Laki laki itu berjalan keluar ke arah teras, ia duduk disana.

__ADS_1


Kinanti yang malas ribut dengan Damar mengikuti keluar dan duduk di sebelah Damar, kursi mereka terpisah oleh meja kecil yang sengaja di letakkan disana untuk menaruh bunga hias.


" Ada apa mas?" tanya Kinanti tenang.


" Apa perlu seperti ini padaku?" tanya Damar tiba tiba, sorot mata laki laki itu menyiratkan kekecewaan.


" Maksudnya apa mas?" tanya Kinanti tidak mengerti,


" Kau benar benar membuatku sadar kali ini.. aku memang yang tidak tau diri.."


" Lho?! apa ini datang datang bicara begini?" Kinanti semakin heran.


" Kau boleh menghindari ku, tapi harusnya kau tetap mengabariku jika ibu sakit.." suara Damar naik turun, ia seperti menahan perasaannya agar tidak meledak.


" Aku kira ibu sudah mengabari mas, karena biasanya setiap ibu sakit mas yang di cari? aku mana tau mas, ku kira mas sibuk.." jawab Kinanti datar.


" Sibuk? sejak kapan kesibukanku lebih penting dari pada ibu dan kau?" nada suara Damar manajam.


Keduanya berpandangan,


" Apa ini mas? datang datang aku kau marahi dengan hal hal yang bahkan tidak aku pahami, dimana salahku?


kau bahkan menuduh aku menghindarimu, kenapa aku harus menghindarimu??!"


" Meninggalkanku dan pulang dengan laki laki itu, apa namanya? harusnya kau hubungi aku agar aku tidak datang ke kostmu seperti orang bodoh?!"


Damar membuang pandangannya, ia lebih memilih menatap pohon mangga di hadapannya.


Kinanti tercengang,


" Mas ini ya? luar biasa kalau menuduhku.."


"Astaga.. laki laki ini.." keluh Kinanti, ia bingung harus marah atau tertawa.


" Mas, jangan membuat pemikiran pemikiran aneh, bukankan sudah ku katakan itu?"


Damar diam, wajahnya kaku tanpa senyum.


" Aku pulang kesini sudah 2 hari, tanyakan pada ibu sana, aku juga pulang sendiri naik bus, tidak dengan siapapun..!" tegas Kinanti.


" Lalu laki laki itu?"


" Dia tiba tiba kemari dan menjenguk ibu, ya masa aku mau melarangnya?"


Damar Diam, wajahnya masih saja kaku.


" Lalu kenapa kau tak memintaku menjemputmu?" tanya Damar masih belum puas.


" Aku tidak akan terus merepotkan mu mas.. aku tau diri.." jawab Kinanti menghela nafas.


" Aku tidak mau terlena dengan kebaikanmu mas.." imbuhnya,


sontak Damar menatap wanita disampingnya itu.


" Terlena?" ulang Damar,

__ADS_1


" Iya.. kebaikanmu.. semua itu membuat ku bingung dan sulit.."


" bingung dan sulit??"


" lepaskanlah tanggung jawab mu itu mas.. anggap saja semua sudah lunas.."


Damar berdiri dari kursinya, ia menatap Kinanti dengan wajah marah dan kecewa.


" Jadi sekarang kau ingin menegaskan agar aku menjauh darimu?"


" bukan begitu mas, jangan salah faham..?" Kinanti ikut berdiri.


" Kau sudah benar benar memilih laki laki itu menjadi suamimu?" tanya Damar.


" Pantas saja.. hari ini kau terlihat cantik dan ceria.. ternyata itu semua karena kedatangan Tyo..


kau bahkan tidak berpikir untuk menghubungiku meski itu berkaitan dengan ibu..


baiklah.. jika memang dia yang kau pilih.. aku akan tetap melaksanakan janjiku dengan membiayai pernikahanmu.." suara Damar terdengar tidak baik baik saja, hatinya sungguh terluka.


" astaga.. mas ini, kenapa arahnya kesana terus??" Kinanti frustasi jika yang di bahas calon suami lagi calon suami lagi, padahal bukan itu yang ia ingin bahas.


" Aku kasihan padamu mas.. dengarkan aku.. aku.." belum selesai Kinanti bicara Damar sudah memotong ucapannya.


" Kasihan padaku karena aku menjemputmu kesana kemari tapi ternyata kau menikah dengan orang lain nantinya?"


Kinanti tak bisa berkata kata, ia bingung sekali dengan kalimat Damar yang menurutnya tidak masuk akal.


Entah kenapa ia terus salah faham di setiap kalimat yang Kinanti ucapkan.


Keduanya diam cukup lama, namun wajah Damar terlihat tidak tenang, laki laki itu gusar dan resah, susah payah menahan gejolak di hatinya.


" Baiklah.. sesuai janjiku pada Aji, aku akan melepasmu setelah kau menikah, maafkan ke egoisanku, kau berhak memilih siapapun calon suamimu..


tapi satuhal,


kau boleh memutuskan hubungan denganku,


tapi jangan sekali kali memutuskan hubunganku dengan ibu,


aku akan tetap merawat ibu,


kalau aku kesini acuhkan saja aku tidak masalah, aku takkan tersinggung kalau itu memang baik untukmu ke depannya.."


Damar benar benar menekan perasaannya, kecemburuannya pada Tyo membutakan pemikirannya yang logis sehingga menyebabkan ia berpikir terlalu dalam dan berlebihan.


" Jadi.. mulai sekarang aku tidak akan mengantar jemputmu lagi..


kau jangan khawatir.." Damar berjalan selangkah namun terhenti, seperti ada yang ingin ia katakan lagi, namun di telannya lagi kalimatnya itu.


" Aku pergi.." ujarnya sembari berjalan keluar dari teras, menuju motornya yang terparkir di pinggir jalan.


Kinanti yang melihat Damar seperti itu hanya bisa menepuk dadanya sendiri.


Entah kenapa menghadapi laki laki itu rasanya sesak sekali, kalimat kalimat yang ia lontarkan seperti bermakna ganda.

__ADS_1


Ia terus menyuruh Kinanti menikah, bahkan dengan laki laki lainpun tidak apa apa katanya,


tapi ketika ia benar benar melihat laki laki lain ia seperti kayu yang di lahap api, membara dan tak terima.


__ADS_2