Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
apapun yang berhubungan denganmu menyiksa..


__ADS_3

Damar mengemudi dengan tenang, meskipun sesekali ia menghela nafas berat.


Dengan suasana malam yang tenang, dan cara menyetir Damar yang halus, tentu saja Kinanti dapat mendengar helaan nafas Damar yang berat itu dengan jelas.


Kinanti tertunduk, dan Damar tetap membisu sembari memperhatikan jalan.


" Berhenti sebentar ya..?" ujar Damar tiba tiba, ia meminggirkan mobilnya ke bahu jalan.


Damar memilih berhenti di depan pertokoan yang kosong.


Tentu saja, sekarang sudah jam 9 malam, jadi tentunya sudah banyak toko yang mulai tutup.


" tidak apa apa kan? aku mau merokok sebentar.." ujar Damar segera membuka pintu mobil dan berjalan ke arah emperan toko, ia tak menunggu Kinanti untuk menjawab atau bahkan bertanya untuk apa mereka berhenti di tempat ini.


Ia duduk di sebuah kursi kayu panjang yang mungkin sengaja di persiapkan pemilik toko untuk pembelinya.


Kinanti diam di dalam mobil,


ia hanya memperhatikan Damar yang mulai membakar rokok dan menghisapnya.


Sekarang Kinanti yang menghela nafas berat melihat ekspresi Damar yang penuh kegelisahan.


Sesekali Kinanti melihat Damar menundukkan kepalanya,


entah apa yang sebenarnya ia lihat,


entah aspal? entah sesuatu yang lain.


Entah berapa menit berlalu, yang jelas Damar sudah menghabiskan sebatang rokok.


Ia menatap ke arah mobil cukup lama, lalu bangkit.


" Kita makan dulu ya..?" ujarnya Damar ketika sudah masuk ke dalam mobil, ada bau tembakau yang menyeruak di sekitar Damar.


" Mas lapar?" tanya Kinanti,


" tidak.. tapi aku ingin mengajakmu makan saja.." jawab Damar, sesungguhnya ia masih ingin bersama Kinanti lebih lama.


Ia menyandarkan punggungnya di kursi mobil, lalu tersenyum tipis.


" Rasa rasanya aku tidak ingin membawamu pulang.." ucapnya menatap lurus keluar kaca jendela mobilnya.


Kinanti terdiam, suasana menjadi hening seketika.


" Bukankah mas sudah berjanji..?" ujar Kinanti berusaha sebaik mungkin agar tidak terbawa suasana.


Damar masih terdiam,


seperti merasakan pengap meski sudah menyalakan Ac, Damar segera membuka kaca jendelanya lebar lebar.


" Harusnya aku tidak mengantarmu ketempat itu tadi.." ujarnya,


"ku kira aku akan baik baik saja..


nyatanya.. aku tidak.." imbuhnya.


Kinanti masih membeku, situasi ini tidak membuatnya nyaman, entah apa yang harus ia katakan untuk menghibur Damar, hatinya juga penuh rasa yang tidak ia anggap benar.


" Apa yang harus ku lakukan mas, agar kau menjadi baik baik saja..


tentunya mas harus ingat kalau aku calon istri orang.."


suara Kinanti sedikit serak.

__ADS_1


" Kau yang sekarang tidak akan bisa menghiburku dengan cara apapun..


untuk sekarang apapun yang berhubungan denganmu rasanya menyiksa..


bahkan kau duduk diam seperti sekarang saja disampingku, itu sangat menyiksa.."


Kinanti memandang Damar dengan dahi berkerut,


" Bagaimana bisa mas berkata seakan aku ini sengaja menyiksa mas??"


" tentu saja, kau bahkan menyiksaku sejak kita berangkat tadi.." Damar membuang pandangannya lagi ke luar jendela.


" Kau sengaja menggerai rambutmu yang wanginya menyebar kemana mana itu..


lalu duduk sedekat ini denganku, bukankah itu siksaan juga.." Damar tersenyum sinis, hatinya sudah berdebar tak karuan sejak awal mereka berangkat, namun Damar berusaha setenang mungkin di hadapan Kinanti, agar Kinanti merasa nyaman di dekatnya.


" Kau sudah bisa mencintai Haikal?" tanya Damar tiba tiba merubah topik.


Ia tetap berada di dalam mobil bersama Kinanti, dan mematikan mesin mobil yang sempat di nyalakannya tadi.


" Itu bukan hal yang patut kita bahas, perasaan manusia tidak bisa di gambarkan dengan satu atau dua kalimat mas,


jadi jangan pernah bertanya tentang hal semacam itu lagi padaku.."


Damar diam, ia lagi lagi menghela nafas.


" Apa aku harus menikah juga?" kalimat Damar yang tiba tiba membuat Kinanti tak bisa menyembunyikan ekspresi keterkejutannya.


Keduanya berpandangan,


" apa aku harus menikah juga?" tanya Damar serius,


" itu.. itu urusanmu mas.." jawab Kinanti masih terkejut.


" Aku bilang itu urusan mas, jadi terserah mas.." jawab Kinanti lagi lebih jelas.


" Jika kau sudah berkata seperti itu.. sepertinya aku harus menimbang nimbang perempuan yang di kenalkan mba Winda padaku..


kau tau bukan..


aku sedang sakit..


dan aku butuh obat.."


Wajah Kinanti memerah, ia tidak suka sekali dengan istilah obat yang di katakan Damar, lepas ia sengaja mengatakan itu untuk membuat Kinanti tidak nyaman atau tidak, yang jelas Kinanti tidak suka.


" Perempuan itu bukan obat.." ujar Kinanti, nadanya sedikit sinis,


" Kalau mas sakit pergilah kerumah sakit, jangan cari perempuan sebagai pelampiasan?!"


Damar menatap Kinanti heran,


" Kenapa kau tiba tiba marah? tentu saja perempuan bukanlah obat, apa aku tidak boleh menghibur diriku sendiri dengan kalimat kalimat yang tidak serius seperti itu?"


" Mas, kalau marah padaku marahlah.. jangan korbankan perempuan lain?, menggunakan orang lain sebagai pelampiasan itu jahat!" tegas Kinanti.


Damar menatap Kinanti, ia mencoba menenangkan diri.


" Kenapa kau penuh kesalahpahaman padaku?" Damar mendekat,


ia menarik lengan Kinanti, sehingga tubuh Kinanti condong kearahnya.


" Kalau aku salah berkata aku minta maaf?!

__ADS_1


pikiranku sedang kacau karenamu, dan sekarang kau menyemburkan kemarahanmu yang aku tak tau dari mana asalnya itu se enaknya padaku?"


" Mas yang selalu menyebabkan kesalahpahaman diantara kita, mas selalu memicu ku dengan kalimat kalimat mas yang.." Kinanti terhenti,


" Yang apa?" tanya Damar,


Kinanti tertunduk, sementara Damar tetap menatap Kinanti lekat, meski ada sedikit kemarahan di matanya.


" Aku menahan diriku agar tidak menculikmu, kau tau itu?!" tegas Damar.


" Kau bilang aku Jahat.. lebih jahat mana? aku atau dirimu?!


kau biarkan aku memandangmu dengan kebaya pengantin itu,


kau juga menyuruhku mencoba baju pengantin laki lakimu, padahal bukan aku yang akan duduk disampingmu..?


lalu siapa yang jahat?!" tangan Damar kuat mencengkeram lengan Kinanti.


" Seharusnya mas menolak, mas tidak harus selalu bilang iya ketika ibu atau siapapun itu meminta bantuan mas?"


" Aku menolak dan bertindak seperti pengecut yang selalu menghindar, kau ingin aku seperti itu?


cukup sekali aku bertindak sebagai pengecut dan kehilangan dirimu!" keduanya saling menatap, sama sama di penuhi rasa tak terima dan amarah.


" Sekali saja mengertilah aku, jangan keras kepala terus?,


aku melihatmu tumbuh beberapa tahun ini,


apa kau kira ini hal yang mudah bagiku? kau di hadapanku, tapi aku tidak bisa memilikimu.." suara Damar menurun, ada banyak kesedihan disana.


" Aku sungguh sungguh ingin membawamu pulang kerumahku.. ingin mengikatmu agar kau tidak bisa bertemu atau bahkan menikah dengan laki laki itu.."


Kinanti melemah, ia dapat merasakan kekecewaan dalam setiap kalimat Damar.


" Aku.." baru saja Kinanti ingin bicara,


namun Damar sudah terlebih dahulu menarik tubuhnya.


Damar yang sejak awal sudah menahan diri dengan sekuat tenaga,


tiba tiba runtuh pertahanannya,


Kinanti selalu bisa mendobrak batasannya.


Di Raihnya bibir Kinanti dengan cepat,


di dekapnya erat punggung wanita itu agar tak bergerak menolaknya.


Namun nyatanya Kinanti tak menolak sama sekali dan membalas ciuman Damar.


Menyadari hal itu Damar mengurangi pelukannya, keduanya sesekali melepaskan ciumannya dan berpandangan sejenak,


mengatur nafas sembari saling beradu kening seakan keduanya tidak bisa terpisah untuk saat ini.


Tak lama keduanya saling mencium lagi.


Tak ada paksaan sama sekali,


Kinanti bahkan bertindak sama, tidak seperti saat pertama kali Damar menciumnya.


Keduanya seperti menumpahkan kerinduan yang telah lama di tahan demi menjaga etika dan harga diri.


Namun sekarang hal semacam itu tak terpikirkan lagi untuk keduanya.

__ADS_1


" Kalau kau tidak mendorongku, aku tidak akan bisa berhenti.." suara Damar lirih, ia berbisik di telinga Kinanti di sela sela ciumannya.


__ADS_2