
" Semakin lama kau semakin menyeramkan?! kecurigaanmu berlebihan!" tegas Dinda ingin menarik tangannya tapi tidak bisa.
" Katakan?! kau bersentuhan dengan siapa? si Rakha itu?!" Yoga tak bisa membendung kecurigaannya,
" Aku ini penjual jasa! aku berjabat tangan dengan siapapun yang memang sudah akrab denganku?! mau itu laki laki atau perempuan?!" jelas Dinda membela diri.
" Tutup tokonya!" bentak Yoga semakin meradang mendengar istrinya berjabat tangan dengan siapa saja.
" Aku tidak mau istriku bersentuhan dengan laki laki lain!" Yoga masih membentak.
Dinda membisu, ia tertegun dengan sikap Yoga yang baginya keterlaluan itu.
" Aku mengijinkanmu bekerja bukan untuk membuatku khawatir dan makan hati seperti ini!"
Dinda diam tak menjawab, namun matanya mulai tergenang air mata.
Keesokan harinya, Yoga mampir kerumah Damar dahulu sebelum berangkat ke klinik.
" Mbakyu?!" panggilnya mencari Kinanti, ia melewati Damar yang sedang duduk di teras sembari minum kopi.
" Heh! sludar sludur ae! aturanmu nangdi tho Yog Yog?!!( asal masuk saja! aturanmu dimana sih Yog Yog?!!)"
Damar bangkit dan mengikuti langkah Yoga yang sedikit terburu buru.
" Mbak?!" Yoga menuju ruang tengah, disana ia menemukan Kinanti yang sedang duduk sembari menyuapi Gendhis.
" Hemm.." jawab Kinan kalem,
Yoga segera duduk tak jauh dari Kinanti, di ikuti Damar yang bediri disamping istrinya.
" Wes tho mas, ini mendesak..?!" ujar Yoga ketika sadar raut wajah Damar kesal melihatnya masuk rumah begitu saja tanpa menyapa Damar terlebih dahulu.
" Sepenting apa sampai kau mengabaikan tata kramamu?" suara Damar tenang namun penuh ketegasan.
" iya, aku salah.." Yoga menundukkan kepalanya.
" Memangnya ada apa kau pagi2 ribut cari istriku?" tanya Damar kemudian.
" Anu.. itu.." Yoga tiba tiba ragu saat melihat Damar, padahal saat berangkat tadi semangatnya begitu tinggi.
" Opo?" tanya Damar lebih tegas,
" Aku mau menanyakan sesuatu pada mbakyu.."
" perkara?" tanya Kinanti,
" kuharap kita tidak membahas masa lalu.." peringat Kinanti.
Yoga melirik Damar,
" kenapa kau melirikku?" tanya Damar menatap Yoga serius.
" bertanyalah, jika kau kurang ajar, aku sudah siap siap melemparmu lagi keluar.." ujar Damar.
Yoga mengangguk patuh,
" Itu, apa mbakyu dan Dinda punya teman kuliah yang bernama Rakha?" tanya Yoga hati hati,
" Rakha? Rakhaditomo putra?" tanya Kinanti membuat Damar ikut menatapnya Kinanti.
" Aku tidak tau nama panjangnya.."
" ganteng, kulitnya putih, tingginya sama dengan mas Damar?" tanya Kinanti membuat Damar menatapnya serius.
__ADS_1
" Wahh.. hafal sekali istriku?" sela Damar,
" hafal karena teman satu jurusan, dan kostnya sebelah kost kami.." jelas Kinan pada suaminya.
Damar diam, tapi pandangannya selidik,
" Owalah.. kau bawa masalah saja Yog, kau harus tanggung jawab kalau suamiku cemburu ya?!,
lagi pula kau itu sering melihatnya jalan dengan Dinda dulu,
Rakha sering menjemput Dinda untuk makan bersama waktu itu, kau ini bagaimana sih?!" Kinan kesal.
" Istriku, pandang aku.." Damar tak henti menatap istrinya.
" Haduhh.. jangan mau di kacaukan oleh Yoga mas?"
" sudah, sudah cukup aku dan istriku yang ribut, kalian jangan?" ujar Yoga,
" kalian ribut? kenapa?" tanya Kinan.
Yoga diam tiba tiba, ia terlihat canggung,
" Jangan cemburu buta lah Yog?!" ujar Kinanti,
" Aku bukan cemburu buta,"
" Lalu?"
" di depan mataku dia ngotot minta nomor HP istriku pada para pegawai,"
" karena dia bekerja sama dengan Dinda Yoga..." jelas Kinan,
" kemarin saat kujemput, ada bau parfum yang menempel di jari jari istriku,
" Yahhh.. aku tau, mungkin mereka berjabat tangan atau apa, tapi aku khawatir..
istriku sedang kurang kepercayaan padaku gara gara ibu kandung Bagas,
jika dalam kondisi seperti itu, tiba tiba ada laki laki yang mendekatinya..
aku takut..",
Damar dan Kinan saling memandang,
" Kau tau sekarang rasanya jadi diriku dulu.." gumam Damar,
" Huss.." tegas Kinan pada suaminya.
" Begini Yog.. dalam hal ini kau harus banyak mengalah dan bersabar,
aku juga takut,
jika kau terlalu mengekangnya..
dia malah akan kabur.." ujar Damar.
" Sebelum menikah kau sudah tau kalau dia suka mencari uang sendiri,
di sudah banyak di sakiti, baik oleh keluarga atau mantan suaminya..
jika sekarang kau bersikap kasar hanya karena kecemburuanmu yang tidak jelas itu..
itu akan sangat menyakiti Dinda,
__ADS_1
dia mempercayaimu, memercayai cintamu.. tapi kenapa kau tak mempercayainya?
ku akui, Rakha sejak dulu menaruh hati padanya,
tapi Dinda hanya memperlakukannya sebagai seorang sahabat..
kau sendiri faham istrimu seperti apa, kau sendiri juga merasakan betapa keras dan berprinsip dia sejak bujang.."
Yoga diam, raut wajahnya masih gelisah.
" Jangan kasar, aku tau semakin besar rasa cintamu semakin kau takut kehilangan dia, tapi cinta yang dewasa tidak mengekang..
berilah dia kepercayaan.." ujar Damar,
" kalau dia terus bertemu laki laki lain diluar? bagaimana?" tanya Yoga menatap Damar serius,
" Kau tidak percaya diri? aku tidak pernah melihatmu krisis kepercayaan diri seperti ini.." sahut Damar,
" benar.. di hadapan Dinda aku selalu merasa diriku kurang..
dia perempuan yang terlalu tangguh bagiku mas.."
" bukankan seharusnya kau bersyukur memiliki istri yang seperti itu..
dia bahkan mencintai Bagas dengan tulus,
percayalah,
sesering apapun ia bertemu dengan laki laki di luar sana, selama kau bertindak baik, selalu mencintai dan menghargainya,
dia akan berpikir seribu kali untuk meninggalkanmu..
perempuan yang baik tidak akan pernah meninggalkan suami yang pengertian dan bertanggung jawab..?
aku yakin, Dinda bukan perempuan yang mudah goyah,
jadi hentikan kelakuanmu yang berlebihan itu,
minta maaflah jika kau merasa ada hal yang tidak sepatutnya kau lakukan tapi sudah kau lakukan..
merawat itu lebih sulit dari pada mendapatkan..
jagalah baik baik.." nasehat Damar.
" apa aku boleh menemui laki laki itu?" tanya Yoga pada Damar dan Kinan,
" untuk apa? mereka tidak mempunyai hubungan khusus, kau akan terlihat kekanak kanakan jika melakukan hal itu.." jawab Damar.
Lagi lagi Yoga diam, terlihat berpikir.
" Sekarang Dinda dimana?" tanya Kinan,
" dirumah,"
" tidak ke toko?"
" aku melarangnya," jawab Yoga masih tertunduk,
" owalah Yog.... mbok yo kasian sama istrimu..
nanti kalau dia lelah dan pergi, yang rugi bukan hanya dirimu, tapi Bagas juga..
kau mau Bagas kehilangan sosok ibu lagi??
__ADS_1
bersabarlah.. bukankah kau dulu orang yang sabar dan kalem.." nasehat Kinanti.