
Damar membaringkan putrinya yang sudah lelap di atas tempat tidur.
Setelah menyelimutinya ia berbaring disamping putrinya.
Tak lama Kinanti masuk ke dalam kamar,
ia duduk di depan kaca rias dan mulai sibuk membersihkan wajahnya.
" Seganteng apa yang namanya Rakha itu? sampai sampai Yoga seperti itu?" tanya Damar yang ternyata belum tidur.
" Dikira sudah tidur.." sahut Kinan,
" hemmm.." Damar menunggu jawaban.
" kulitnya sama dengan Yoga, parasnya 11-12,
tapi Rakha lebih gagah dan tinggi, perawakan mirip mas,"
" Wah.. bukankan sempurna?" Damar bangkit duduk,
" Sempurna apa? dia tukang main perempuan dulu, karena itu Dinda tidak mau dengannya,
Dinda lebih memilih untuk berteman baik,"
" hemmm... dia sudah menikah?"
" setahun yang lalu ku dengar belum, tapi entah sekarang.." jawab Kinanti masih fokus membersihkan wajahnya.
" Kau yakin dia tidak menganggu Dinda?"
" tentu saja tidak mungkin tidak.."
" Maksudmu sayang??" Damar mengerutkan dahinya,
" Kalau Yoga terus begitu aku tidak menjamin,
apalagi Rakha bukan orang yang suka abai akan kesulitan orang yang di kenalnya dengan baik.."
" jangan main main sayang.. bicara yang benar.."
" benar mas.. kalau Rakha tau Dinda di perlakukan seperti itu, pasti dia akan masuk dengan segala macam cara.."
Damar diam,
" tipenya seperti mas.. jiwa sosialnya dan ingin ikut campurnya tinggi.."
" hemm.. maksudmu??"
" terhadap orang yang kesulitan maksudnya..
sejak dulu dia menggunakan hal itu sebagai daya tariknya pada teman wanitanya di kampus.."
" Aku tidak begitu.. hanya dirimu yang ku urus dan perhatikan, ingat ingat itu ya.." Damar tiba tiba serius,
Kinan tersenyum mendengarnya,
" Aku tau, mas bahkan rela meskipun perempuan yang sudah mas biayai menikah dengan laki laki lain.." ujar Kinan hampir selesai membersihkan wajahnya.
" Siapa bilang aku rela?" Damar bangkit, ia berjalan mendekati istrinya.
" apa namanya kalau tidak rela?
mas bahkan menuruti kata kata ibu untuk mencoba baju pengantin denganku, padahal bukan mas pengantin prianya..?" Kinanti mengingatkan masa lalu yang penuh rasa sakit hati itu.
" Aku bukannya rela, tapi mengalah.. asal kau bahagia, aku bahagia.." Damar mendekap istrinya dari belakang.
__ADS_1
" Andai kau tau.. betapa sakitnya hatiku saat itu sayang..
jika saja bunuh diri tidak dosa, mungkin aku akan melakukannya..
tapi aku berpikir panjang, Aji pasti tidak akan suka dengan keputusannya..
betapapun aku mencintaimu..
aku menanggung beban janji pada Aji, untu menjagamu..
meski aku tidak bisa menjadi pendampingmu..
aku harus tetap disampingmu sebagai seorang kakak.." Damar mengecup leher istrinya,
" sudahlah mas.. kita harus bersyukur, hal hal menyedihkan itu sudah lewat..
di tengah kita juga sudah hadir buah hatimu yang cantik..
aku sangat berterimakasih pada sang pencipta mas..
karena meski mas Aji sudah tidak ada..
dia mengirim mas untuk menopang keluarga kami..
menghibur ibu, mengusir keresahan ibu..
bahkan membuatku mampu menjadi seorang sarjana dalam kondisi yang sesungguhnya tidak mungkin bagiku saat itu.." Kinanti menggenggam tangan suaminya yang melingkar di bahunya.
Damar tak menjawab, hatinya trenyuh akan kalimat kalimat yang di ucapkan istrinya.
" Jangan bersikap seperti Yoga ya mas..?" ucap Kinanti tiba tiba, membuat Damar berpindah kesamping istrinya, sehingga keduanya bertatapan.
" Seperti Yoga bagaimana? apa pernah aku kasar kepadamu atau cemburu buta?,
bagaimana bisa kau samakan aku dengan Yoga sayang?" suara Damar kalem,
" Bukan menyamakan, aku harap mas tidak begitu.." Kinanti memberi pengertian,
" hemm.. kalau perkara cemburu buta, semua laki laki pasti begitu.. apalagi jika merasa kurang percaya diri dan terancam.."
" terancam?" tanya Kinanti,
Damar mengangguk,
" terancam oleh siapa? dan kenapa harus merasa tidak percaya diri?"
" pura pura bodoh ya sayang?? sebelum menikah saja aku punya dua saingan.."
Kinanti tertawa mendengar itu,
" huss.. Gendhis bisa bangun?!" Damar menutup mulut istrinya dengan telapak tangannya.
" Aku begitu karena kesal denganmu mas.." jawab Kinan setelah tangan Damar menjauh,
" omong kosong," gerutu Damar.
" omong kosong apa? sejujurnya aku juga suka mas..
tapi aku tidak percaya diri dengan diriku yang menanggung luka di masa lalu.."
" tapi itu bukan alasan untuk menerima lamaran laki laki lain.."
" aku hanya mengambil keputusan yang menurutku tepat saat itu,"
" dengan memilih laki laki lain dan mematahkan hatiku?"
__ADS_1
" aku memilih orang lain yang kurasa setara denganku, dan akan lebih baik jika aku tidak mencintainya..
mas tau..
aku begitu takut jatuh cinta, aku takut patah lagi..
karena itu aku menghindarimu mas.."
" perempuan bodoh?!" Damar mencubit pipi istrinya.
" pemikiran yang aneh dan menyiksa diri sendiri.." imbuh Damar.
" Kalau aku tidak punya pertahanan diri yang kuat, mungkin saat itu aku sudah berpikir nekat.." lanjut Damar lagi.
" Membawaku lari?"
Damar mengangguk,
" aku bahkan berpikir menghamilimu saat itu..
itu jalan terakhir agar kau menjadi milikku,
tapi setiap aku berpikir buruk..
bayangan Aji selalu muncul..
seakan mengingatkanku..
bahwa sesuatu yang di dapatkan dengan cara yang buruk.. tidak akan berakhir dengan baik.."
Keduanya mengulas senyum,
" Baiklah.. maafkan aku, atas kebodohanku di masa lalu..
sekarang tidurlah.." Ujar Kinanti mengecup kening suaminya.
" memangnya kau mau kemana?"
" ya tidur mas, tapi aku belum selesai membersihkan wajahku.."
" ya sudah, sekalian nanti saja membersihkan wajahnya.." Damar bangkit, di angkat tubuh istrinya dan di gendongnya keluar kamar.
" Kita olah raga sebentar.." bisik Damar mesra, lalu terus berjalan,
dan akhirnya menurunkan istrinya di ruang santai,
dimana ruangan itu berhadapan langsung dengan taman disamping rumah, yang khusus Damar buat untuk bersantai dan bermain dengan putrinya,
Damar juga membuat aquarium berukuran dua meter kali satu meter, dengan tinggi satu meter setengah,
di mana berbagai macam ikan hias terlihat jelas berenang kesana kemari,
tak jauh dari sana terdapat saung dari bambu, saat jenuh dengan pekerjaan, Damar akan duduk disana sembari menghabiskan beberapa batang rokok.
" Kalau gendhis bangun tidak lucu..?" protes Kinanti yang di baringkan di atas kursi panjang, kursi itu terletak diantara rumah dan taman, tak lupa Damar memberi istrinya itu dua bantal sofa besar.
lampu lampu membias redup, dan suara gemericik air dari aquarium membuat suasana semakin romantis untuk keduanya, meski tempat itu terbuka lebar dan udara malam sedikit dingin, Damar tak berkompromi.
" Jangan alasan.. Gendhis tidak pernah bangun malam malam.." Damar berbisik di telinga Kinan, lalu menciumnya.
" Mas ini ya.." Kinanti melingkarkan kedua tangannya di leher Damar.
" apa? mas apa?" Damar membenamkan wajahnya di pelukan Kinanti.
" Mas suami yang luar biasa.." suara Kinanti lirih dengan mata terpejam.
__ADS_1