Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kasih sayang ibu


__ADS_3

Damar pergi dari rumah Haikal dengan amarah yang terpendam,


dirinya benar benar ingin memukul laki laki itu, tapi apa daya..


ia tak boleh melakukannya.


Tanpa disadari motornya melaju ke arah rumah Kinanti.


" Kinan kemana bu?" tanya Damar pada ibu ketika sudah sampai dirumah Kinanti.


" Semalam ini, kau dari mana nak?" tanya ibu,


" dari rumah Haikal.." jawab Damar dengan wajah gelisah.


Ibu terdiam, memandang laki laki yang sudah dianggap putranya sendiri itu dengan seksama.


" Kau tidak ribut dengan Haikal kan nak?" tanya ibu khawatir,


" tidak bu.." jawab Damar lemah.


Ibu menghela nafas, memandangi Damar dengan penuh iba,


" Masuklah, malam ini tidurlah disini.." ibu menarik lengan Damar agar masuk ke dalam rumah.


" Masukkan dulu motormu.." imbuh ibu,


" Tidak bu, saya hanya ingin melihat Kinan sebentar.. lalu saya akan pulang.." jawab Damar.


" Lihat wajahmu di kaca, ibu tau kau menahan air matamu dengan susah payah agar tidak tumpah di hadapan ibu,


ibu tau apa yang kau tahan di dalam dadamu agar tidak meledak keluar..


karena itu patuhi ibu, tidurlah disini.. besok pagi pulanglah.."


Damar tertunduk,


" Ibu hanya tidak tenang.. ibu takut kau jatuh atau menabrak orang..?


manut ya le.. tidur disini.." ujar ibu benar benar cemas.


Damar tidak menjawab,


" Masukkan motormu, lalu makan dulu...


setelah itu tidurlah di kamar ibu, ibu akan tidur di kamar Kinan..


kebetulan Kinan sudah tidur dari sore, dia sedikit kurang sehat.."


ibu setengah memaksa.


Dengan langkah ragu Damar mengikuti kata kata ibu, dia memasukkan motornya ke ruang tamu,


karena rumah ini tidak mempunyai garasi atau ruang khusus untuk kendaraan.


Ia melepas jaketnya dan duduk tenang di ruang tamu.


" Makan ya?" tanya ibu,


" tidak bu.. saya mau minum saja.." jawab Damar masih dengan nada yang tak bersemangat.


" Ya sudah.. ibu buatkan teh hangat ya.." ujar ibu lalu masuk ke dapur.


Damar yang resah mengikuti langkah ibu, namun ia terhenti di depan pintu kamar Kinanti.


Ibu yang melihat itu lagi lagi memberi tatapan mengerti,


" lihatlah dia sebentar, kalau itu bisa membuat hatimu tenang.." ujar ibu memberi Damar keberanian untuk membuka pintu kamar Kinanti.


Setelah membuka pintu,


Damar menemukan sosok Kinanti yang sedang terbaring, wajah nya sedikit pucat, namun tidurnya pulas sekali.

__ADS_1


Dengan perasaan yang berantakan di beranikan dirinya menyentuh rambut wanita itu,


" Nan..." suara Damar lirih, jarinya berpindah ke pipi Kinanti.


" Menikah denganku ya..?" imbuh Damar dengan suara bergetar, ia menahan gejolak kepedihan yang ia rasakan di dadanya.


Namun Kinanti yang merasakan sentuhan Damar di pipinya tiba tiba membuka matanya, sayup sayup ia menangkap wajah Damar.


" Mas.." suara Kinanti lemah tak bertenaga,


Damar terkejut, ia tak mengira Kinanti akan membuka mata.


Namun keterkejutannya berangsur menghilang ketika ia melihat Kinanti menutup matanya kembali perlahan.


Rupanya Kinanti setengah sadar saat membuka matanya tadi, dan ia sudah kembali tertidur sekarang.


Damar menarik tangan nya dari pipi Kinanti perlahan, ia takut Kinanti terbangun lagi.


Damar yang tertidur cukup malam karena gelisah terbangun karena mimpi mimpi itu lagi.


Bahkan kali ini ia bermimpi berlarian di tengah hutan tanpa henti,


dalam mimpinya se ekor serigala membawa lari jasad Aji, sehingga ia harus berlari mengejarnya.


" Haaahh... haaahhh.." suaranya mengatur nafasnya.


setiap ia bermimpi itu terlihat begitu nyata, bahkan ia merasakan kelelahannya.


Di sandarkan dirinya di dinding kamar sambil terduduk.


" Bahkan dirumahmu pun aku tetap bermimpi buruk Ji.." ujarnya dengan suara frustasi.


Tak lama ia mendengar suara berisik di dapur,


di ambilnya jam tangannya di atas meja,


" setengah 4 pagi.." ucapnya,


Ia keluar dari kamar ibu, berjalan ke arah dapur dan menemukan ibu yang sedang memasak air.


" Bu.." panggil Damar duduk di kursi tak jauh dari dapur.


" lho.. kok sudah bangun nak, ibu berisik?" tanya ibu,


Damar menggeleng pelan,


" tidak.. saya memang biasa bangun di jam jam ini bu.." jawab Damar.


Melihat ibu yang sedang sibuk di dapur subuh subuh begini mengingatkan ia pada almarhum ibunya.


Meski saat itu dirinya masih duduk di bangku kelas 4 SD, tapi ia mengingat betul sosok ibunya,


semua perhatian dan kasih sayangnya.


setiap pagi ia akan mendapatkan air hangat untuk mandi, dan seragam yang masih hangat ketika di pakai karena di setrika ulang oleh ibu.


Belum lagi suapan suapan dari tangan ibunya.


Namun kehangatan itu hilang ketika ibunya meninggal di karenakan sakit.


Dan kehangatan itu benar benar hilang ketika posisi ibunya di gantikan oleh ibu Kaila,


ibu Kaila yang tidak pernah ingin mengerti dan memahami Damar.


Setiap hari ia selalu memikul kesalahan semenjak hidup bersama ibu tirinya, apalagi sejak Kaila dilahirkan.


Damar hampir setiap hari mendapatkan pukulan.


" Dam? melamun apa tho le..?" tanya ibu membuyarkan lamunannya.


" Oh.. nggih bu?" tanya Damar sembari menyeka air mata di sudut matanya.

__ADS_1


" Jangan mikir yang tidak tidak le..


jodoh, mati, rejeki.. ada di tangan Tuhan..


berpasrah lah.. makan kau akan di berikan jalan yang terbaik.." nasehat ibu melihat kesedihan yang besar di mata Damar.


" Airnya sudah mendidih.. mandilah, setelah itu sarapan dan berangkatlah bekerja..


ibu sengaja bangun pagi supaya kau tidak telat bekerja nanti.."


ujar ibu,


" Saya tidak buru buru bu, saya bukan orang kantoran atau pegawai negeri.." jawab Damar tersenyum,


" Saya mandi saja.. tidak usah sarapan.. masih terlalu pagi.." imbuhnya di penuhi rasa hangat dalam hatinya karena sikap ibu yang penuh kasih sayang sejak pertama kali ia datang kesini bersama Aji.


Kinanti terbangun, ia duduk di kursi tengah sembari memegangi kepalanya.


" kita ke dokter saja kalau tambah pusing.." suara ibu dari dapur.


" Tidak bu.. sudah enakan.." jawab Kinanti masih memegang kepalanya.


" Terus kenapa kepalanya di pegang pegang terus?" tanya ibu mendekat.


" Aneh ya bu.. semalam mimpi mas Damar, perasaan Kinan melihat wajah mas Damar sedih sekali.." ujar Kinanti, ibu yang mendengarnya tersenyum.


" Tidak ada angin tidak ada hujan, kok tiba tiba mimpi mas Damar.. jadi khawatir bu, jangan jangan jatuh seperti waktu itu??" imbuh Kinanti.


" Dia baik baik saja.. " Jawab Ibu,


sembari menaruh segelas air putih hangat di depan Kinanti.


Kinanti mengambil gelas berisi air itu dan meminumnya.


" Air hangat selalu nyaman di pagi hari bu.." ucap Kinanti,


" tentu saja, apalagi kau sedang flu.." jawab ibu.


" Apa sebaiknya aku telfon mas Damar ya bu?" Kinanti masih cemas,


" Untuk apa?"


" Kinanti takut mas Damar kesusahan atau kenapa kenapa..?" wajah Kinanti benar benar resah.


lagi lagi ibu tersenyum,


" kok ibu senyum saja dari tadi?"


" lha lucu nduk.. wong Damar semalam tidur disini,


dia bahkan sempat melihatmu ke kamar.." Kinanti melotot tak percaya,


" serius bu?!" tanyanya,


" Iya, tadi pagi dia pulang, kau belum bangun nduk..


ibu di larang membangunkan mu.."


Kinanti terdiam,


jadi semalam yang ia lihat itu benar benar Damar, dan bukan mimpi seperti yang ia kira..? ucapnya dalam hati.


" Mas Damar ngomong apa bu?" tanya Kinanti kemudian.


" Dia tidak bicara apapun pada ibu..


sama sepertimu, ibu takut dia kenapa kenapa di jalan karena saat kesini sudah malam sekali,


jadi ibu menyuruhnya untuk menginap.."


jelas ibu.

__ADS_1


__ADS_2