
" Berhenti?! berhenti..!!" teriak Winda sembari berlari ke tengah tengah Damar dan Yoga.
Damar sedang berdiri di hadapan Yoga yang berusaha bangkit.
Beberapa bagian tubuh Yoga terluka karena tergores kaca.
Melihat darah di tubuh Yoga Winda menangis.
Bahkan Kaila yang baru masuk pun ikut shock melihat kedua kakaknya itu.
" Kalian kira aku buta?!" suara Damar berat, ia menatap Yoga dan Kinanti bergantian.
Kinanti membeku dengan air mata yang mengalir deras.
" Kau mau aku membagi istriku denganmu?" Damar mendekat, namun Winda memeluknya, mendorongnya mundur.
" Sudah le..? kita bicarakan baik baik le.. sudah le??" Winda memeluk perut Damar erat sembari menangis.
Tapi kata kata Winda tak Damar hiraukan sedikitpun.
Yang terlihat di matanya sekarang adalah Yoga dan Kinanti yang sudah sangat bersalah, keduanya benar benar sudah melukai hatinya, apa yang ia saksikan.. bukanlah sesuatu yang gampang ia terima dan maafkan.
" Karena aku sayang padamu?
karena kau saudara kesayangan ku?
lalu kau berani melakukan hal ini padaku?" suara dan tatapannya menakutkan, seakan akan masih bisa meraih Yoga lagi dan mungkin saja menghantamnya.
Yoga yang masih terduduk di lantai memberingsut mundur.
" Minta ampun Yog?! minta ampun pada Damar?!" Winda terus menangis, yang bisa ia lakukan sekarang adalah memeluk Damar erat erat agar tak menyentuh Yoga lagi.
" Apa kalian kira hanya kalian saja yang punya hati? lalu aku tidak?" tanya Damar tajam.
Yoga tertunduk dalam, tak ada satu kalimatpun yang keluar dari mulutnya.
" Aku sudah mengalah dengan pura pura tidak tau..
tapi kau semakin kurang ajar!" tunjuk Damar pada Yoga.
" Bahkan jika itu saudara kandungku,
tidak seharusnya kau merayu istriku di dalam rumahku!" Damar maju selangkah, namun Winda berusaha mencegahnya.
Melihat Winda yang kalah tenaga, Kaila dengan cepat memeluk Damar juga dari belakang.
" Mas?! jangan mas?! kita saudara mas??!" Kaila mengingatkan Kakaknya.
Tak ada yang di dengarkan oleh Damar, baik Winda atau Kaila, hatinya sudah sakit setengah mati.
" Kau dengan berani menyentuh istriku di depan mataku..
andai saja..
kau bukan keluargaku,
__ADS_1
sudah ku patahkan tanganmu.." Suara Damar pelan tertahan, namun masih begitu tajam di telinga Yoga.
Damar merasakan tubuhnya yang berat karena Winda dan Kaila memeluknya dengan erat dan keduanya bahkan sama sama menangis memohon pada Damar, hal itu membuat hati Damar semakin pilu dengan apa yang sedang terjadi sekarang.
Di kepalkan tangannya, demi menahan gemuruh emosi dan getir yang meledak ledak di dadanya.
Padahal dia sudah menahan diri dan berusaha mengerti, ia berharap dengan pengertiannya segalanya akan membaik dengan sendirinya.
Entah mimpi apa dirinya semalam, sehingga ia harus melihat saudaranya itu berlutut demi cinta dan memohon agar tidak di lupakan oleh istrinya.
Hatinya seperti di hujam dengan belati yang berkarat, luka yang di hasilkan sangat buruk dan lebih menyakitkan.
Di liriknya istrinya yang terdiam sembari menangis itu,
rasa pedih dan kekecewaan membakar dirinya menjadi satu.
Ia merasa sudah di khianati oleh orang orang yang sudah ia sayangi dengan baik.
" Aku tidak bisa hidup seperti ini.. pilih saja.. aku atau kau yang pergi dari keluarga ini.." ucap Damar dengan air mata yang hampir menetes, kepercayaannya sudah habis.
Yoga sontak menatap Damar tak percaya,
" Ini salahku mas, bukan salah Kinanti.. sungguh, ini salahku..??" Akhirnya Yoga berani membuka suara,
Namun bukannya tenang, Damar semakin terbakar.
" Kinanti? jadi selama ini di belakangku kalian saling memanggil nama?"
Yoga tertunduk kembali, ia benar benar salah, dan tak ada yang bisa ia lakukan untuk membela dirinya sekarang.
" Kalian sering bercengkrama di belakangku rupanya?"
" Kau?!" Damar menunjuk Kinanti.
" Kau bilang mencintaiku, tapi kau memberi celah untuk masa lalu mu?
kau bahkan tidak jujur padaku?
apa maumu Kinanti!" Suara Damar kembali meninggi, kekecewaannya pada Kinanti begitu dalam, ia frustasi karena kemaran itu seperti menumpuk numpuk di dadanya.
Kinanti ketakutan,
jangannya untuk menjawab, seluruh tubuhnya sudah lemas, sosok suami nya yang sekarang benar banar tak bisa di ajak bicara, Damar seperti api yang menyembur kesana kemari dan bisa membakar siapa saja yang mendekat.
" Cukup Dam!" tiba tiba terdengar suara Yudi Masuk.
" Ini memalukan?! bagaimana jika orang luar tau hal semacam ini terjadi di keluarga kita?!,
kau adalah orang yang rasional dan bijaksana, dimana sikapmu itu di saat seperti ini?!" Nasehat Yudi keras karena melihat kekacauan yang terjadi.
" Bahkan mas Menyalahkanku?" Damar tertawa sinis, hatinya sungguh sungguh pedih.
" Aku bahkan tidak boleh marah padanya? padahal dia menginginkan milikku?! apa mas kira aku malaikat??
dia menginginkan istriku..!!!" Damar berteriak melampiaskan kemarahannya.
__ADS_1
" Saudara brengsek!!" imbuhnya.
" Kau sedang emosi Dam..?!" Yudi ikut menahan Damar, semua orang takut Damar tiba tiba meloncat lagi ke arah Yoga.
Dengan tenaga Damar yang sebesar itu, Yoga tidak hanya akan babak belur, namun bisa juga mati jika semua orang membiarkan Damar terus menyentuhnya.
" Mmm...mas..?" Suara Kinanti bergetar, ia memberanikan diri.
" Mas.. sudah salah faham, aku.. aku tidak.." imbuh Kinanti,
" Diam!!"
belum selesai Kinanti bicara, suara Keras Damar sudah membuat suaranya hilang kembali.
" Pengkhianat tidak berhak bicara!" tegas Damar tajam, sungguh sungguh sakit hati.
" Sudah cukup.. kau yang pergi, atau aku yang pergi?" ucap Damar tegas namun dengan nada yang lebih pelan.
" Jangan begitu Dam? mereka saudara dan istrimu??" Winda memohon.
" Aku muak melihat wajah pembohong pembohong itu.." ujar Damar berusaha melepaskan dirinya sekuat tenaga dari Winda dan Kaila.
" Lepas kan, aku tidak akan memukul siapapun." ujar Damar menatap Winda.
Melihat keseriusan dalam kalimat Damar, Winda melepaskan pelukannya, begitu juga Kaila.
" Baiklah.. Mungkin memang aku yang harus pergi.." ujar Damar sembari menatap Kinanti sayu, ia menularkan pedih dari matanya ke mata Kinanti, memberi tau, betapa besarnya luka yang Kinanti berikan padanya.
lalu tak lama laki laki itu mundur dan berjalan pergi.
Entah kemana,
yang jelas, hanya suara motor trailnya saja yang terdengar menjauh.
Kinanti terduduk lemas, sembari terisak isak.
Sementara Yoga, ia hanya bisa menatap Kinanti dengan penuh rasa bersalah.
" Apa yang harus kita lakukan mas?" tanya Winda pada suaminya dengan cemas,
" Damar hanya sedang emosi saja, tenanglah, sekarang kita urus Yoga dulu..
La, bersihkan kaca kaca itu.." ujar Yudi yang sesungguhnya juga shock melihat Damar yang selama ini kalem, bijak dan menyayangi Yoga, bisa bersikap semacam itu.
Dia seperti orang yang kesetanan,
tak bisa di kendalikan.
Namun untungnya dia sudah tenang dan pergi,
karena jika ia masih terus marah dan memukul Yoga,
Yudi pun tak akan sanggup membela.
Damar yang terbiasa bekerja berat itu, tangannya lebih keras berkali lipat dari pada tangan seorang dokter atau pengusaha seperti dirinya dan Yoga jika memukul orang.
__ADS_1
Apalagi tinggi badannya yang melebihi Yoga dan Yudi, benar benar membuat Yudi ketar ketir.
" Kalau sudah membersihkan kacanya panggil Umar La.." pinta Yudi pada Kaila.