
Dinda tiba tiba memutuskan untuk libur dan pergi ke lembang hari ini, entah kenapa, padahal kemarin kemarin meski di rayu oleh Alfian pun Dinda tidak mau.
Mobil minibus berwarna putih milik Alfian berhenti di depan rumah kontrakan Dinda.
" Sudah siap?" tanya Alfian dengan senyumnya yang merekah.
Dia terlihat antusias sekali, hal ini yang memang sudah di harapkan Alfian sejak lama, menghabiskan waktu yang lama dengan Dinda.
Kinanti keluar, dan Dinda menyusul di belakang Kinanti setelah mengunci pintu rumahnya.
" Sudah.. hayukk..!" ujar Dinda mengulas senyum dan menepuk pundak Kinanti.
" Berterimakasihlah kepadaku.." ujar Dinda berbisik.
" terimakasih?" tanya Kinanti sembari mengerutkan dahinya.
" Iya, karena aku membawamu liburan hari ini.." Dinda melewati Kinanti dan membuka pintu mobil.
" Aku di depan ya? pura pura jadi nyonya.. hehehe.." canda Dinda.
" Jadi nyonya betulan juga nggak apa apa.." sahut Alfian tersenyum,
" waduh.. jadi obat nyamukk.." gumam Kinanti masuk ke dalam mobil.
" Heh.. aku dengar.." ujar Dinda mengikuti masuk namun duduk di kursi depan, disamping Alfian.
" Lha memang kenapa kalau dengar..
memang iya.." sahut Kinanti santai sembari membuka sebotol minuman vitamin C.
" Mas Alfian tersinggung? tidak kan?" tanya Kinanti setelah meneguk minumannya.
" Ah, tidak teh Kinan.. saya malah senang, kalau tidak mau pacaran, rencananya mau langsung saya lamar.." sahut Alfian membuat wajah Dinda memerah, dan Kinanti tertawa.
" Nahh.. nahh.. dengar kau Din?!"
" Huss..! kalian berdua ini! sudah, ayo berangkat, nanti keburu sore dan tidak dapat penginapan?!"
" Lho? kita nginap tho?" tanya Kinanti,
" ya iyalah.. besok kita pulang..kalau sore ini langsung pulang capek di jalan.. bukan liburan dong namanya..?!"
" Kalau begitu aku butuh bawa baju?"
" sudah.. aku bawa ganti banyak, kau mau ganti lima kalipun sok atuhhh...!"
Alfian tertawa mendengarnya.
" Sudah teh.. percayakan pada kami,
teteh duduk tenang saja di belakang.." ujar Alfian memberi ketenangan sembari melempar senyum penuh arti pada Dinda.
" Aku ikut mas?!" Yoga mengejar langkah Damar.
" Kau kerja saja." Damar mengacuhkan Yoga.
" Memangnya mas tau Dinda jujur atau bohong?
aku ini mengenal Dinda mas, dia pasti tidak akan memberitahu dengan semudah itu?, dia itu keras kepala, dan akan melindungi Kuinanti dengan sekuat tenaga, baik dulu atau sekarang..
karena akan lebih baik jika aku bicara dengannya,
aku ini takut kalau tidak ikut?!"
" takut apa? tidak bisa menggoda istriku lagi?"
" astaga mas?? kenapa masih berpikir seperti itu??, aku ini takut mas ribut lagi, terus istrimu lari lagi? Kondisi mas juga kurang fit? kalau mas kenapa kenapa dijalan?!"
Yoga benar benar khawatir.
Damar diam,
" pokoknya aku ikut mas?! kondisimu begitu..?
aku sumpah mas..
sampai mati aku tidak akan menganggu istrimu lagi,
kalau aku berbuat seperti itu lagi, langsung bunuh saja aku mas..
aku tidak akan melawan.." Yoga berusaha meyakinkan Damar.
__ADS_1
" Melawanpun kau tidak akan bisa.." gumam Damar sengau.
" Nah.. itu, sudah pasti aku kalah.." sahut Yoga lirih dan putus asa.
" Aku masih belum percaya padamu, jadi tidak usah sumpah sumpah.." tukas Damar,
" lalu apa yang harus kulakukan agar mas percaya?? bahwa aku tidak akan mengulangi hal yang sama??" tanya Yoga menatap Damar dengan harapan baik.
" Tentu saja cari perempuan lain dan menikahlah."
Yoga tertegun, tenggorokannya kering tiba tiba.
" Ya masa aku ujug ujug menikah?? aku juga butuh waktu untuk mencari pasangan yang tepat??"
" butuh waktu untuk membuang rasa cintamu pada istriku maksudmu?" suara Damar masih sinis.
Yoga benar benar tenggelam dalam kebisuannya sekarang,
ia bahkan tak tau harus berkata apalagi, ucapan Damar benar benar melesat tepat sasaran, menusuk nusuk perasaan Yoga.
Melihat kebisuan Yoga Damar semakin kesal hatinya.
" Kau mau cari sendiri atau aku yang cari?" tanya Damar dengan wajah kakunya.
" Lho mas??!"
" lho apa?, ku beri waktu kau 3 bulan, atau.. ikhlaskan aku yang memilih calon ibu Bagas."
Yoga tertunduk lesu cukup lama.
" Apa tidak ada cara lain mas?" tanya Yoga kemudian dengan raut menyedihkan.
" Ada, menyingkir yang jauh, tidak cukup beda kota kalau bisa beda provinsi."
Deg..
rasa getir menyelimuti hati Yoga tiba tiba,
sebegitu tidak percayanya Damar pada dirinya..
Dirinya memang bersalah, tapi ia tidak menyangka akan di perlakukan seperti hama.
Sedangkan Damar benar benar serius akan hal ini,
Terserah orang mengatakan dia terlalu berlebihan atau tidak percaya diri, tapi baginya hal itu penting untuk ketenangan batinnya.
" Wahhh.. cekik aku saja mas...." protes Yoga lemah dengan raut wajah frustasi.
" Kalau kau bukan saudaraku tentu saja sudah ku cekik kau sejak kemarin kemarin." jawab Damar lalu melanjutkan langkahnya.
" Kesempatan terakhirmu untuk menunjukkan penyesalanmu padaku, ku ijinkan kau ikut.
Jadi kendalikan perasaanmu baik baik. Pesan dua tiket pesawat untuk sore ini, aku mau urus pabrik dulu." tegas Damar berjalan setenang mungkin dan semakin jauh ke arah pabrik.
" Astaga.. sepertinya oksigen di bumi makin menipis..
nafasku sekarang sesak setiap mas Damar berbicara.." keluh Yoga lirih sembari berbalik dan berjalan ke arah rumahnya.
Kinanti sampai di resort, Dinda dan dirinya menginap di satu kamar, sedangkan Alfian menginap di kamar lain, persis di samping kamar Kinanti dan Dinda.
" Kau kenapa sih, tiba tiba kesini? bukannya kau bilang sibuk menaikkan omset penjualanmu bulan ini?" protes Kinanti ketika mereka sudah menyelesaikan makan malamnya.
" Uang bisa di cari Nan.. tapi ketenangan itu sulit di temukan.." ujar Dinda sembari duduk disamping jendela.
" Kau bicara apa sih?!"
Dinda tersenyum sekedarnya.
" Kau kapan pulang?" tanya Dinda tiba tiba,
" kau mengusirku?"
" buat apa aku mengusirmu? justru aku senang setiap pulang dari pasar ada yang menungguku dirumah..
bahkan memasak untukku.."
" Lalu kenapa kau tanya kapan aku pulang?"
" Karena masalah itu harus di selesaikan, bukan malah di tinggal lari.."
Raut Kinanti berubah murung seketika.
__ADS_1
" Nan.. aku begini justru karena aku perduli.." imbuh Dinda.
" Aku tau.. tapi aku tidak lari.." kata Kinanti.
" Aku pergi karena dia menginginkanku pergi.." lanjut Kinanti dengan kesedihan yang mulai merayapinya lagi.
" Dia berkata seperti itu? mengusirmu?"
" saat dia pergi dari rumah dia sempat menyuruhku pergi.."
" Ah.. kurasa itu hanya kemarahan sesaat saja.."
" yah.. ku pikir, tapi saat ia tak kunjung pulang.. aku benar benar frustasi..
dalam hatiku selalu berkata, bahwa ia tak mau melihatku lagi, karena itu dia tidak kunjung pulang.." lagi lagi air mata Kinanti jatuh.
" Lalu kau memutuskan kesini?"
" Yah.. aku butuh ketenangan, dan sejak dulu tujuanku adalah dirimu.."
Dinda menghela nafas panjang, dan terlihat berpikir.
Di pandangnya Kinanti yang sedang duduk sedih di atas tempat tidur itu.
Tubuhnya semakin kurus, mana ada orang yang tenang pikirannya, sementara tubuhnya semakin kurus.
lagi lagi Dinda menghela nafas.
" Coba ceritakan tentang suamimu padaku.." kata Dinda memandang Kinanti serius.
" Tentang kami bertemu? atau tentang saat dia marah?"
" ya semuanya kalau bisa.. aku ingin menilainya dari satu sisi terlebih dahulu..
sudut pandangmu tentu saja.."
Kinanti terlihat membisu sejenak, sebelum akhirnya mulutnya kembali terbuka.
" Dia yang membiayai kuliahku setelah mas Aji dan bapak meninggal.."
" Dia?! jadi suamimu adalah laki laki yang sering kita bicarakan itu?!" Dinda hampir saja terperanjat, tapi di kendalikan dirinya karena harus mendengarkan cerita yang lebih lengkap.
" Namanya Damar.."
" Hemm.. Damar.. artine lampu, penerang..
apa dia sudah sesuai namanya? menjadi penerangmu selama ini?"
" Tidak hanya penerangku.. tapi juga penerang ibu.. dia menjadi tambatan hati ibu, pengganti sosok mas Aji..
Tanpa tau kesulitannya sendiri, beban hidup kami diambil alih olehnya..
dan kau tau sendiri dia tidak menunjukkan wajahnya sama sekali saat aku masih kuliah.."
Dinda mengangguk,
" Iya.. aku sempat berpikir dia adalah laki laki tua yang punya niat buruk terhadapmu.." ujar Dinda.
" Tentu saja semua orang akan berpikir begitu karena tidak tau bagaimana karakter mas Damar seutuhnya.."
" Oh ya.. bagaimana karakter suamimu menurutmu?"
" Dia bukan tipe pemaksa.. apapun yang kulakukan dia akan mendukung ku sepenuhnya..
dia juga pekerja keras..
selalu perduli terhadap kesulitan orang lain..
yang jelas, suamiku adalah sosok paling hangat dan pengertian..
yah..
meski terkadang dia sulit mengungkapkan keinginannya dengan lugas.."
" apa lagi?" Dinda mengulas senyum.
" Aku mencintainya Din..
semarah apapun dia padaku.." Kinanti tertunduk dalam, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mulai terisak isak.
Melihat itu Dinda bangkit dari kursinya dan menghampiri Kinanti, lalu memeluknya.
__ADS_1
" Ku pastikan dia juga mencintaimu Nan.. tidak mungkin dia melepaskanmu dengan begitu mudah..
percayalah.." kata Dinda sembari mengelus pelan punggung Kinanti.