Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
peralatan jahit


__ADS_3

" Aku pulang dulu, kau disini saja...aku harus ke kampus jam 10.." ujar Damar pada Umar yang baru saja bangun, ia terlihat lelah karena kesana kemari.


" ini pegangan mu, pulang dari kampus aku kesini lagi.." ujar Damar sembari memberi uang yang lebih dari cukup untuk pegangan Umar.


" Iya mas, jangan lupa sarapan di jalan.. hati hati.." balas Umar bangkit dan mengantar kepergian Damar sampai pintu ruangan.


Kebetulan si sholeh sudah di pindahkan dan sudah tidak mengkhawatirkan, hanya saja dia lebih banyak tidur karena obat.


Damar berjalan sampai di parkiran dia sudah mencuci mukanya, tapi tetap saja kantuk masih melekat di pelupuk matanya.


Di gosok gosok wajahnya sehingga alis yang tebal itu berantakan.


Ia ingin mengusir kantuk nya karena berbahaya jika ia menyetir dengan rasa kantuk.


Dia melihat kanan dan kiri, matanya menemukan kursi kosong di bawah pohon rambutan yang rimbun di halaman rumah sakit, sepertinya itu kursi tukang parkir.


" Numpang ngerokok sebentar pak.. tidak apa apa kan pak merokok disini?" ujar Damar pada tukang parkir yang nampaknya juga baru mulai bekerja karena ini masih cukup pagi.


" nggih.. monggo monggo mas.." jawab si tukang parkir.


Damar membakar rokoknya, menghisapnya perlahan sembari menikmati udara pagi.


Rumah sakit ini cukup besar, dan terlihat asri, banyak pepohonan rindang yang di biarkan tumbuh untuk membuat hawa sekitar yang panas menjadi sejuk.


" Jenguk siapa mas?" tanya tukang parkir duduk di sebelah Damar.


" Saudara pak.." jawab Damar tersenyum,


" Sakit apa?"


" Kecelakaan pak.."


" owalah.. semoga cepat sembuh mas.."


" nggih pak.. maturnuwun.." jawab Damar tersenyum, bagaimanapun itu adalah sebuah doa yang tulus pagi pagi, tentu saja Damar menghargainya.


" Rumahnya dimana mas?"


" saya asli malang pak.." jawab Damar kembali tersenyum,


" lho? kok jauh?"


" iya.. kebetulan saudara saya sedang kirim barang ke kota ini.." jelas Damar,


" Owalah mas.. kasiannya.. ada saja musibah ya mas.."


" iya.. di syukuri saja, alhamdulillah luka lukanya tidak membahayakan nyawa.."


" Iya mas.. masih di beri kesempatan melihat matahari besok, alhamdulillah.."


Damar dan si tukang parkir sama sama mengangguk.


Mereka memiliki pemikiran yang sama, manusia harus selalu bersyukur, karena di balik semua musibah pasti ada sebuah hikmah.


Begitupun dengan Sholeh, mungkin sholeh harus istirahat, karena selama bekerja sholeh terlalu keras dan ngoyo,


ia sebegitu takutnya anak istrinya kekurangan, terkadang kita tidak boleh bersikap berlebihan akan sesuatu,


karena rejeki sudah di atur Tuhan.


Tak lama setelah berbincang,


mata Damar terbentur lagi pada sosok laki laki yang berjalan keluar dari pintu utama rumah sakit.


Damar berdiri, ingin melihat wajah laki laki itu dengan jelas.


Setelah lama melihat dan meyakinkan dirinya siapa laki laki itu, Damar membuang rokoknya dan berniat menghampiri laki laki itu.


Tapi di urungkan niatnya.


Wajah Kinanti tiba tiba saja menghampirinya.


Ia akan mencari tau dengan tenang, apa yang sebenarnya Haikal lakukan disini, dan apakah Kinanti tau bahwa Haikal berada di tempat ini.


Penting untuk Damar menahan diri sebelum segalanya jelas,

__ADS_1


rasa sayangnya pada Kinanti akan membuatnya menjadi tertuduh yang cemburu, sehingga mampu mengarang hal hal yang tidak baik untuk memperburuk citra Haikal nantinya.


" Oh.. Kinanti.." keluh nya dalam hati,


" aku sudah berpasrah segalanya pada Tuhan.. aku berharap segalanya baik untukmu..


tapi jika laki laki itu menyakitimu.. aku tidak tau masih sanggup menjadi manusia yang baik atau tidak.." ia masih mengeluh dalam hati,


sembari tertunduk di bawah rindang pohon rambutan itu.


Seandainya dari awal pertemuan mereka, Damar melamarnya terang terangan,


mungkin ceritanya tidak akan seperti ini.


Harus melihatnya hidup dengan laki laki lain bukanlah hal yang mudah,


namun ia harus menanggungnya.


Setelah Dari kampus Damar segera datang kerumah Kinanti,


ia ingin memastikan Haikal ada di kota ini atau tidak.


" Kinan kemana bu?" tanya Damar bertanya pada ibu yang sedang memetik tomat dan cabe di kebun kecil sebelah rumah.


" Belanja ke pasar.. tunggulah sebentar.." ujar ibu.


Damar menunggu, sesuai perintah ibu, namun 30 menit berlalu Kinanti belum juga datang.


" Belanja apa ya bu? di pasar mana?" tanya Damar tidak sabar, waktunya tidak banyak juga,


ia harus ke kembali keluar kota untuk membawa istri dan anak sholeh ke rumah sakit.


" belanja peralatan jahit, katanya mau belajar menjahit.. dari pada diam.." jawab ibu,


" di pasar yang biasanya ibu belanja kan bu?"


" Iya.. toko peralatan jahit ada di lantai dua.."


" Ya wes, Damar susul saja..?!" setelah pamit pada ibu Damar segera menuju pasar, menyusul Kinanti.


Sesampainya di parkiran pasar ia segera naik ke lantai dua,


bertanya pada beberapa penjual dimana letak toko alat jahit.


Damar terus berjalan hingga ujung, dan disana ia menemukan sosok Kinanti yang sedang berbincang dengan pemilik toko.


Mereka terlihat senang sekali berbincang bincang, tak enak rasanya Damar menganggu, tapi ia tidak tenang.


" Nan??" Damar menyentuh lengan Kinanti hati hati hingga Kinanti menghentikan pembicaraannya dan menoleh pada Damar.


" Mas??" Kinanti heran,


" Kok di pasar?"


" aku menyusul mu?" ujar Damar,


" Kenapa? ada apa?" raut wajah Kinanti khawatir, ia takut kalau kalau ada apa apa dengan ibu.


" Tidak.. semua baik baik saja.. aku hanya ingin menemuimu.." jawab Damar,


" di pasar??" tanya Kinanti heran.


Melihat wajah Damar yang sedikit berkeringat Kinanti menghela nafas.


Damar pasti berjalan dengan buru buru sampai sampai ia berkeringat seperti itu.


Kinanti memberikan sebuah tissue pada Damar.


" Tunggu sebentar mas, aku perlu membeli beberapa barang lagi.." ujar Kinanti lalu kembali beralih ke ibu penjual.


Setelah 5 menit menunggu Akhirnya Kinanti selesai dengan belanjaannya.


Keduanya berjalan turun dari tangga pasar.


" Pelan pelan" ujar Damar sembari mengambil kantong plastik di tangan Kinanti yang berisi belanjaan.

__ADS_1


" Aku masih mau beli wortel dan brokoli mas di pasar sayur, sebelah sana.." tunjuk Kinanti.


" Ya sudah.. ayo ku temani.."


Kinanti tertawa mendengar itu,


" kenapa tertawa?" tanya Damar serius,


" Mas serius mau menemaniku belanja dengan penampilanmu yang seperti orang kantoran ini?, apalagi kacamatamu.. aku takut banyak penjual sayuran yang naksir padamu mas.." goda Kinanti.


Damar diam sejenak,


" Kau saja tidak tertarik padaku, bagaimana mereka bisa tertarik padaku..?" ujar Damar berjalan terlebih dahulu, wajahnya benar benar tanpa senyum.


Melihat Damar yang tidak bisa di ajak bercanda Kinanti diam, ia melanjutkan langkahnya,


mengekor di belakang Damar, dan benar saja, penampilannya yang terlalu rapi dan maskulin itu membuat penjual penjual yang usianya masih terbilang muda melirik ya.


Memandangi Damar yang berdiri di samping Kinanti dari bawah ke atas.


" Laki laki ini wajahnya terlalu mencolok!" kesal Kinanti dalam hati.


Setelah mereka berbelanja Damar mengajak Kinanti makan di salah satu tempat makan lesehan yang cukup luas namun sepi, letaknya hanya 2 kilometer dari pasar.


" Sepi sekali?" tanya Kinanti,


" Tentu saja.. disini ramainya malam.. tempat anak muda nongkrong dan berpacaran.." jawab Damar sembari meminum jusnya.


ia menyandarkan punggungnya, terlihat lelah.


" Berarti bukan tempat kita mas, kita kan sudah beranjak tua.."


" Aku yang beranjak tua.." ucap Damar menghela nafas.


Kinanti melihat Damar baik baik,


" ada apa sebenarnya mas, sampai menyusul ku ke pasar..?" tanya Kinanti serius,


Damar memejamkan matanya tiba tiba,


" Aduh.." keluhnya, saking lamanya menemani Kinanti berbelanja ia sampai lupa dengan pertanyaan pertanyaan yang sudah ia rangkai dengan baik.


" Kenapa mas?"


" Aku lupa mau ngomong apa.." jawab Damar membuka mata.


" lho kok bisa?"


" bisalah.. aku sibuk melihat sayur sayur itu sampai lupa.."


" Maksudnya sibuk melihat penjual penjual sayur itu sampai lupa kalimat kalimat mas? ahahahaha..!" goda Kinanti lagi, namun tawa Kinanti langsung hilang melihat wajah Damar yang begitu serius.


" Haikal kemana Nan?" tanya Damar kemudian,


" Haikal? kok tiba tiba tanya Haikal?"


" Jawab saja Haikal sekarang dimana?"


" Di luar kota mas.. masih ada urusan, besok sudah kembali kok.." jawab Kinanti sembari menyendok es krimnya.


" Luar kota mana?" Damar masih belum puas.


" Kenapa sih mas? tumben?" tentu saja Kinanti heran, tidak biasanya Damar cerewet begini perkara Haikal.


" sebutkan nama kotanya?" tanya Damar lagi.


" Surabaya katanya.." jawab Kianti.


Damar membeku sejenak,


"benar.. itu Haikal.." ujarnya dalam hati.


" Ada apa sih mas?" tuntut Kinanti penasaran.


" Tidak.. aku hanya bertanya.." Jawab Damar duduk setenang mungkin.

__ADS_1


__ADS_2