
Ternyata benar..
Kesedihan tak dapat di terka kapan datangnya,
begitu pula bahagia..
Tak tentu hadirnya.
Tuhan dengan mudah membolak balikkan keadaan,
dan juga perasaan manusia agar timbul waspada.
Kelalaian sering kali menyebabkan derita..
Ada dada yang sesak karena harapannya hanya sebatas kata..
Ada pula air mata yang mengalir deras karena hidupnya begitu keras..
Air mata itu akhirnya turun juga,
Damar yang menangis di pangkuan semeru,
di dalam rengkuhan lengan Dedy yang sejak dulu selalu perduli dan tak pernah basa basi.
Angin kencang kembali berhembus, membantu air mata yang jarang menetes itu agar segera kering.
Supaya laki laki gagah itu tak terlihat rapuh di hadapan sekumpulan laki laki lainnya.
Hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali turun,
kembali pada sekumpulan suami suami dan bapak bapak yang mencoba muda kembali.
Rombongan yang sudah kembali turun setelah mengintip jonggring salaka dari kejauhan itu sedang heboh.
Ada yang langsung sibuk dengan makanannya,
ada yang sibuk bercerita betapa susah payahnya ia sampai di puncak,
ada yang langsung merebahkan dirinya di atas rumput begitu saja.
" Lho! kalian dari mana?!" tanya Hadi yang sedang sibuk bercerita menunjuk Dedy dan Damar yang sedang berjalan mendekat kearah perkemahan.
" Ya dari atas.. kami duduk di atas sana.." tunjuk dedy dengan dagunya.
" Wah! pantas.. coba saja kalian duduk di tengah jalan, sudah kulempar ke bawah sampai Ranu.."
" Kau mabuk pasir?" tanya Dedy sembari duduk disamping lainnya,
sementara Damar duduk disamping tenda dan mengambil snack entah milik siapa.
" Aku mau lanjut ke arjuna welirang dengan Adis, Wahyu dan Ardi, siapa yang mau bergabung?" tanya Hadi sembari melihat temannya satu persatu.
" Wah, takut istri semua ini..." gerutu Hadi saat tau tak ada yang turut.
" Eh.. lambemu ( mulutmu) Had?!, bukan takut istri.. kita kan sudah seminggu disini, liburan sebentar lagi habis..
kalau kami lanjut Arjuna Welirang, pulang pulang kami langsung kerja..
tidak ada jeda untuk istirahat..!" celetuk Rian.
" Heleh.. ! kapan lagi?!" Hadi tak mau kalah.
" Ah! lihat saja nanti.., kalau lelah ya pulang, klo masih fit lanjutlahh.." jawab beberapa orang.
" Dam?! piye?! ( gimana?! )" tanya Hadi,
__ADS_1
" sama..liat kondisi dulu.." jawab Damar terus saja mengunyah.
" Hem.. ya sudahlah.. kita mandi mandi dulu lah.." ujar Hadi dengan wajah yang menghitam karena debu pasir.
Mata Yoga menyalang menatap bromo di hadapan matanya.
Sungguh, ia tak pernah naik gunung dan melihat pemandangan semacam ini langsung di depan matanya.
" Cantik mas?" tanya si pemandu,
Yoga mengangguk cepat, mengiyakan.
" Sayangnya kita tidak ada waktu untuk kesana, kita harus langsung ke tujuan,
kita akan tiba lebih terlambat dadi perkiraan karena keterlambatan mas tadi.." ujar si pemandu lagi.
Memang benar, Yoga terlambat..
ia harus meminta ijin pada mbak Winda, yang ternyata tidak semudah itu mendapatkannya.
Winda takut Damar akan menyerang Yoga lagi.
Apalagi Yoga menyusulnya di gunung,
Yoga buta sekali dengan kondisi dan situasi digunung.
Setelah cekcok selama sejam lebih, barulah ia dapat berangkat.
Tak apalah terlambat.. yang penting hari ini berangkat pikirnya.
Yoga mengeluarkan kepalanya dari jendela jeep yang di tumpanginya.
" Bromo tengger semeru.." ia membaca tulisan yang tertera di atas gapura.
kalau lelah mas boleh tidur dulu, akan saya bangunkan jika sudah sampai.."
" Ah.. aku sudah cukup tidur, lagi pula pemandangan disini terlalu indah untuk tidak di lihat..
pantas saja..
mas ku senang naik gunung.."sahut Yoga setengah bergumam.
Kaila menutup pintu kamar Kinanti.
" Sudah mendingan?" tanya Yusuf dengan wajah resah.
" Sudah ku gosok minyak kayu putih di perut dan lehernya.." jawab Kaila.
" Salah makan apa masuk angin?"
" Makannya kurang teratur, mungkin lambungnya kambuh lagi.."
Yusuf tertunduk sambil berdecak, ia menyesali dirinya yang tak bisa berbuat apapun.
" Mana dia menangis keras sekali.. aku tidak tahan..
kenapa mas Damar seperti ini sih?!" Yusuf yang tidak sabaran itu mulai kesal dengan Damar.
Ia tak tahan melihat Kinanti yang terus saja menangis dan mulai tidak sehat.
" Mbak Kinan sudah berhenti menangis kok.. jangan berisik, biarkan dia istirahat.." Kaila mengajak Yusuf pindah keruang tamu.
" Sebenarnya kemana sih mas Damar?! aku lama lama kesal!" Yusuf menggerutu.
" Mas Yoga sedang mencarinya.."
__ADS_1
" Ah! Yoga! laki laki itu tidak bisa di percaya!"
" Husss! dia saudaraku..?!"
" Lalu Kinanti bukan saudaraku? Yoga yang menyakitinya terlebih dahulu, ingatlah itu..."
Kaila diam, ia menghela nafas bersabar.
" Tidak akan ada habisnya jika saling menyalahkan..
belajarlah,
bagaimana aku bisa menikah denganmu jika ku selalu berapi api seperti ini.."
nasehat Kaila.
" Aku hanya berapi api denganmu saja.." kata Yusuf menarik lengan Kaila dan mencium bahu kekasihnya itu.
" Jangan genit!" tegas Kaila,
" astaga.. siapa bilang kalau sudah tidur bersama perempuan jadi penurut seperti kucing.. kurasa kau lebih mirip macan.." keluh Yusuf.
" Galakk.. lebih galak dari sebelumnya malah.." lanjut Yusuf.
" Siapa suruh membuatku kesal.. belajarlah lebih lembut, bagaimana kau mengasuh anakmu nanti jika kau seperti ini terus?"
" anak? jadi kau sudah mau menikah dalam waktu dekat?"
" Tentu tidak, aku harus menyelesaikan kuliahku?! ini hanya semisal saja?!"
" hemm.. begitu.." sahut Yusuf kecewa, wajahnya bengkak seketika.
Umar memeriksa kayu kayu yang baru saja di letakkan di gedung B.
Beberapa orang pengawas mendekat ke arahnya.
" Mas Damar kok lama sekali keluar kotanya?
ada urusan apa tho mas Umar?" tanya salah satu pengawas.
" Iya e.. kangen semua, biasanya ga pernah telat ke pabrik..
rasanya seperti ada yang kurang..?"
Umar menghentikan kegiatannya dan menatap para pengawas yang di penuhi rasa ingin tahu itu.
" Mas Damar itu boss.. dia mau kemana itu bukan urusan sampean sampean..
jadi lebih baik kembali bekerja..ndak usah repot ngurusi orang yang sudah banyak uangnya." jawab Umar sedikit kesal.
" Ealah mas.. kami ini tanya karena kangen mas.. bukan apa apa.. sampean kok ketus men.." celetuk salah satu dari orang orang itu.
" Lha sampean kan tau ini jam kerja?! dan saya juga sedang bekerja pak?! bukan diam diam santai sehingga bisa di ajak berbincang atau bahkan di tanya tanya!" jawab Umar dengan nada lebih keras.
Mungkin karena lelah dan stress, beberapa hari ini dia menjadi lebih sensitif.
Mudah sekali emosinya terpancing, apalagi dengan hal hal yang berhubungan dengan pertanyaan tentang Damar.
Dengan langkah kesal Umar keluar dari gedung B.
Hatinya sudah tidak senang, jika terus berada ditempat itu sudah pasti akan berujung keributan.
Jadi lebih baik untuknya segera pergi menghindari para pengawas yang terlalu banyak bicara itu.
" Kenapa Mar?" tanya yang Winda baru saja masuk melewati pos satpam.
__ADS_1