
Yoga memarkir mobilnya di garasi,
" Kita sudah sampai.. turunlah.." Yoga turun, dan Dinda menyusul.
Sedangkan Kaila menjadi orang yang paling terakhir turun.
Dengan langkah ragu Dinda masuk ke dalam rumah yang cukup besar dan bagus itu,
benar benar seperti bumi dan langit jika di bandingkan dengan rumah Dinda.
" Antarkan aku kerumah Kinanti saja..?" suara Dinda ragu.
" Jangan, mas Damar dan Kinanti sedang istirahat.. Kinanti juga sedang hamil.. aku takut dia kaget melihatmu pagi buta begini..
sudahlah.. tenanglah.." ujar Yoga berdiri di depan Dinda sembari masih membawa travel bag Dinda.
" Tidur di tempatku saja mbak?" suara Kaila santai,
" tidak boleh, ada ibumu yang akan membuat ribut, kau tidak memperhitungkan itu?" Yoga sedikit melotot pada Kaila.
" Iya iya.. tidur sini sajalah.. ada dua kamar kosong kok.." Kaila mendukung kata kata Yoga.
" Tapi tidak pantas rasanya, kalau ada orang yang melihat bagaimana?" Dinda resah.
" Tidak akan ada yang ribut disini, kau lihat sendiri rumah keluarga kami terpisah jauh dari warga kampung..
misalkanpun ada yang lihat kenapa?
mereka tidak akan berani berkomentar.."
" itu benar sekali.. ya sudah, istirahatlah disini mbak.." lagi lagi Kaila mendukung kata kata Yoga.
" Sudah.. percayalah padaku, tidak akan ada apa apa.." ucap Yoga meyakinkan.
" Ya sudah aku pulang dulu, jangan lupa lho mas?!" pamit Kaila sembari mengingatkan janji Yoga padanya.
" Iyo iyo.. wes ngalih o.. ( iya iya.. pergi sana..)" ujar Yoga.
" Eh.. habis manis sepah di buang.." ujar Kaila sembari berlalu.
Melihat Kaila pergi Yoga langsung mengunci pintu, sementara Dinda masih terpaku di tempatnya sejak tadi, ia tampak bingung.
" Apa yang kau pikirkan, ayo ku antar ke kamarmu.." Yoga meraih pergelangan tangan Dinda dan menariknya perlahan.
Dinda yang sedang bingung itu tentu saja mengikuti langkah Yoga seperti bocah yang sedang di tuntun.
" Anakmu dimana?" tanya Dinda tiba tiba,
" dia tidur dirumah mbakku.. rumah yang pas di sebelahku ini.. tidak jauh.."
langkah Dinda terhenti,
" kenapa?" tanya yoga berbalik, masih dengan tangan menarik pergelangan tangan Dinda.
" Ki.. kita.. berdua saja disini? atau ada yang lainnya?" tanya Dinda dengan perasaan yang mulai aneh.
Yoga tersenyum sekilas, membaca apa yang di khawatirkan Dinda.
" Kita hanya berdua saja.. kenapa? kau sekarang tiba tiba takut padaku?"
" Aku tidur di Kinanti saja?"
" sudah kubilang tidurlah disini, aku tidak akan menerkammu saat kau sedang tidur.."
Wajah Dinda bersemu merah, ia malu sekali, bisa bisanya ia hanya berdua saja dirumah sebesar ini, dengan Yoga lagi.
" Lebih berbahaya mana? aku atau mantan suamimu?" tanya Yoga tenang,
Dinda diam, ia tak ingin menjawab.
" Ayolah.." Yoga menarik Dinda lagi, dan membawanya ke salah satu kamar kosong.
" Maaf, aku tadi memasang sprei seadanya.. tidak ada persiapan, yang bekerja disini juga hanya sampai jam 6 saja..
ku harap tidurmu akan tetap nyenyak.." Yoga menaruh travel bag Dinda di atas meja, tepat di samping tempat tidur.
" kamar mandinya disitu," Yoga menunjuk pintu yang berada di dalam kamar, letaknya di ujung.
Dinda melongok, bukankah kamar ini seluas ruang tamu di rumahnya.
Lagi lagi Dinda di buat berpikir dalam, dirinya dan Yoga sungguh jauh perbedaannya, sungguh tidak mungkin hubungan ini terjadi.
" Istirahatlah.. atau kau lapar?"
Dinda menggeleng,
__ADS_1
" ya sudah.. makanan ada di dapur dan kulkas.. carilah sendiri.. maksudku.. anggaplah rumahmu sendiri.."
Dinda mengangguk,
" Ya sudah.. kalau ada apa apa ketuk pintu kamarku yang paling depan.." ujar Yoga lalu mengecup kening Dinda dengan cepat sehingga perempuan itu tidak bisa menghindar.
" Aku akan melindungimu, jangan takutkan apapun.." Setelah itu Yoga keluar dari kamar.
Dinda menyentuh Dadanya sembari terduduk di pinggiran tempat tidur.
" Astaga.." keluhnya pelan, detak jantungnya belarian, sedari tadi ia menahan dirinya.
Yoga Yang sudah mengganti bajunya dengan piyama, dan sudah berbaring sejak tadi ternyata tak bisa memejamkan matanya.
Ia bolak balik di atas tempat tidur, resah tak karuan.
" Aduh!" laki laki itu bangkit, sudah jam setengah empat pagi, tapi matanya tak juga terpejam, untung saja besok jadwal nya di Klinik siang, kalau tidak bisa bahaya, bagaimana dia bisa menerima pasien dengan wajah kusut dan kurang tidur.
Dengan langkah berat Yoga keluar dari kamar, dan duduk di sofa ruang tengah, memandangi pintu kamar yang di tempati Dinda.
Bisa bisanya diriku.. sekarang aku tau bagaimana rasanya menjadi mas Damar setiap hari.. batinnya, masih terus menatap pintu kamar itu hingga dua puluh menit lamanya.
" Ceklekk..." terdengar suara pintu terbuka, dan itu pintu kamar Dinda.
Keduanya sama sama menatap, yang sedang di depan pintu terhenyak, yang sedang duduk menatap pintu pun terhenyak.
" Mau kemana?" tanya Yoga cepat setelah lepas dari keterhenyakannya.
" Mau ambil minum.. aku haus.." jawab Dinda sedikit malu, ia merasa seperti maling saja, apalagi Yoga memandanginya seperti itu.
" Duduk disini.. biar kuambilkan.." ujar Yoga bediri dengan cepat lalu segera ke dapur.
Tak lama ia kembali dengan secangkir air hangat.
Di taruh cangkir itu di atas meja tepat di depan sofa yang sedang di duduki Dinda.
" Air hangat.. hawanya sedikit dingin.." Yoga duduk tak jauh dari Dinda.
" Sebenarnya aku bisa ambil sendiri.. tapi, terimakasih.." ucap Dinda, lalu meminum air di cangkir itu.
Yoga membuka tirai di ruang tengah, memperlihatkan area persawahan yang masih gelap, langit juga masih gelap meski menjelang subuh begini.
" Aku ke kamar dulu.." pamit Dinda bangkit, namun Yoga menariknya agar duduk kembali.
" Kalau tidak bisa tidur disini saja, aku juga tidak bisa tidur.." kata yoga pada perempuan yang juga berbaju tidur itu, namun dengan setelan celana pendek, membuat Dinda tampak segar dan lucu seperti anak anak.
" Aku tidak bisa memejamkan mataku, entahlah..
untungnya aku masuk siang besok..
kau juga tidak tidur kan?
kita berbincang saja sambil menunggu fajar.." suara Yoga setengah memohon.
Awalnya Dinda tak menjawab, namun tak lama kemudian ia mengangguk.
Tentu saja hati Yoga bersorak sorak melihat anggukan itu.
" Apa kita perlu ambil makanan di dapur?" tanya Yoga,
" Kau lapar?"
Keduanya saling memandang, Yoga rasanya meleleh melihat perempuan ini begitu dekat dengannya, tak tahan rasanya untuk mendekap dan menciumnya.
" Aduh.. jangan menatapku seperti itu.." keluh Yoga menjatuhkan kepalanya ke bahu Dinda.
" Rasanya aku akan meleleh.." ujar Yoga lirih, membuat Dinda tak nyaman karena malu.
" ya sudah, aku masuk saja kalau begitu.."
" Jangan?!" Yoga mencegah perempuan itu untuk kesekian kalinya.
" Bisa tidak.. jangan kembali ke bandung..?"
pertanyaan Yoga membuat Dinda kaget,
" Kenapa aku tidak boleh kembali ke bandung?" tanya Dinda,
" karena rasanya aku tidak akan sanggup tidak melihatmu dalam waktu yang lama..
membayangkan saja hatiku sakit.." keluh Yoga,
" kau ini, jangan aneh aneh.. kau hanya terbawa suasana dan kekecewaanmu, karena itu kau bersikap seperti ini terhadapku, sadarlah Yoga..
kita bahkan berbeda jauh.."
__ADS_1
Mendengar itu Yoga diam, tak balas menjawab seperti biasanya.
Tatapannya terlihat tidak menyenangkan bagi Dinda.
" Harus ku apakan kau baru bisa menyadari perasaanku?" suara Yoga terdengar sesaat kemudian, sedikit sinis, tampak marah.
" Aku tidak mau kita bertengkar.. bukankan kita sudah berjanji untuk menjadi teman dan berdamai.." Kata Dinda lalu bangkit, tapi kali ini Yoga tidak menariknya untuk duduk kembali.
Dinda berjalan lurus ke arah pintu, namun ketika tangannya baru menyentuh handle pintu, ia merasa tubuhnya diangkat dengan cepat.
" Yoga?!" pekik Dinda terkejut,
" sstttsss..!" Yoga menggendong Dinda menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, di baringkannya perempuan itu di atas tempat tidur dan di tindihnya.
" Yoga?! sadar Yoga?!" teriak Dinda,
" Aku sadar.." Suara Yoga dengan nafasnya menggelitik telinga Dinda, membuat perempuan itu seperti cacing yang kepanasan.
Karena tau respon tubuhnya sudah tidak normal, Dinda berusaha sekuat tenaga mendorong Yoga dari atas tubuhnya.
Namun Yoga yang sedang mengecupi lehernya itu tak berkutik.
Tenaga Dinda tak sedikitpun bisa menggoyahkan tubuh Yoga.
" Yoga? ini tidak benar??!"
" memang tidak, tapi setidaknya aku bisa membuatmu tidak kembali ke laki laki itu.." suara Yoga bergetar menahan sesuatu, keduanya berpandangan, keduanya juga berharap di mengerti meski tanpa bicara.
" Aku tidak gila sehingga aku mau kembali ke mantan suamiku?!" tegas Dinda.
" Oh ya? lalu yang satunya lagi?"
" Satunya lagi?"
" laki laki muda yang selalu mengikutimu itu? Alvian kan namanya?"
mendengar nama Alvian di sebutkan Dinda langsung membisu.
Nada suara Yoga penuh kecemburuan,
" Sekarang kau diam? apa itu menandakan kalau kau punya perasaan padanya?" pertanyaan Yoga tak juga dijawab,
hal itu membuat Yoga kesal, dengan dorongan kecemburan, di ciumnya perempuan yang sedang di bawah tubuhnya itu.
Ciuman yang bertubi tubi, tak ada kehangatan sama sekali, yang ada hanya rasa ingin menguasai dan di akui.
saat ini Yoga sedang terbakar api cemburu.
" Aku.. aku tidak bisa bernafas..??" suara Dinda kesulitan bernafas ketika Yoga melepaskan ciumannya.
Deg..
Yoga tiba tiba tersadar bahwa dirinya sudah bersikap kasar,
untuk beberapa saat Yoga memandang wajah Dinda, membelai rambut dan pipinya.
Lalu di ciumnya perempuan itu kembali, dengan gerakan yang lebih halus dan ciuman yang lebih lembut,
yah.. Yoga lebih menunjuk kan kasih sayangnya, ia mulai sadar bahwa sedari tadi kecemburuan membuatnya bersikap sembrono.
Di belainya rambut Dinda beberapa kali, sebelum ia melepaskan bibirnya dari bibir Dinda.
" Kau? kenapa memperlakukan aku begini?" Suara Dinda bergetar menyimpan tangis.
" Apa aku pantas kau perlakukan begini? kau bilang akan melindungiku beberapa jam yang lalu?? tapi apa yang kau perbuat sekarang.." imbuh Dinda dengan bahu berguncang hebat.
Yoga seperti di tampar, oh.. Tuhan?? apa yang sudah kulakukan??! batinnya keras, kecewa pada dirinya sendiri,
ia terkejut setengah mati menyadari bahwa dirinya sudah menyakiti Dinda.
" Maafkan aku? maafkan??" Yoga turun dari tubuh Dinda dan langsung memeluk perempuan itu,
" Aku begini karena cemburu.." suara Yoga lirih.
" aku tidak waras saat aku cemburu.. ampuni aku Din? jangan menangis? jangan menangis??" pinta Yoga.
Laki laki itu memohon sepanjang pagi, sembari menjaga perempuan dengan tangis itu di pelukannya.
Sekarang semakin berat rasanya, hati Yoga benar benar tak ingin melepaskan perempuan itu,
tentu saja ia begitu menyesal..
karena dirinya.. pagi ini begitu banyak air mata Dinda yang tumpah.
__ADS_1
" Aku memang brengsek.. aku memang pecemburu yang tidak waras..
tapi setidaknya sekarang kau bisa merasakan, perasaanku padamu.. sungguh sungguh atau tidak.." ucap Yoga masih erat memeluk Dinda.