Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
memaafkan, namun tidak melupakan


__ADS_3

" Kau bicara apa pada ibumu kemarin? dia terisak isak saat keluar dari rumahmu?"


tanya Winda keesokan harinya.


" Aku hanya membuatnya terisak isak sekali.. tapi dia membuat ibuku terisak bertahun tahun sampai akhirnya meninggal..


kukira aku masih baik.." ujar Damar sembari menghembuskan asap rokoknya, ia tak menatap Winda sama sekali.


" Kau harus melupakan hal hal yang menyakitkan dimasa lalu Dam.." sahut Winda kalem,


" Aku sudah memaafkan, meski tak pernah sekalipun mulutnya mengucapkan kata maaf.."


" lalu kenapa masih kau bahas luka lamamu?"


Damar tersenyum pahit,


" memaafkan bukan berarti melupakan..


jangan salahkan ingatanku yang terlalu kuat mbak.."


Winda terdiam sejenak, ia tau kondisi hati Damar tak baik sejak kejadian kemarin lusa.


Wajahnya menyiratkan luka dan kekecewaan yang sepertinya terlampau sulit ia utarakan.


" Aku akan pindah rumah setelah pernikahan Yoga," ucapnya setelah mematikan rokoknya di asbak.


" Lalu Kaila dan Yusuf?" tanya Winda,


" mbak saja yang urus mereka,


cari hari yang baik, setelah menikah ia wajib mengikuti suaminya, aku tak mengijinkan dia kembali kerumah ibu." Winda menatap Damar serius,


" Bagaimana kalau Yusuf belum mapan?"


" Aku tidak ingin bersikap kejam, tapi mereka sendiri yang membuat masalah,


mari kita lihat, sedalam apa cinta mereka saat kesulitan kesulitan mulai terjadi dalam rumah tangganya."


" Kita tidak bisa melepasnya begitu saja Dam.. redakan emosimu.."


Damar tersenyum kecut mendengar kata kata Winda.


" Kesusahan hidup dapat membentuk seseorang,


tak ada salahnya membiarkan keduanya merayap dari bawah.."


" Yusuf mungkin bisa, tapi Kaila akan kaget?"


" kaget? kenapa itu menjadi masalah jika cintanya pada Yusuf cukup besar?"


" Damar?"


" Sudahlah mbak.. katakan pada Kaila, setelah menikah, semua tanggung jawab jatuh pada suaminya, baik tempat tinggal, uang kuliah juga kebutuhannya..


sampean dan Yoga tidak di ijinkan untuk membantu dalam hal apapun itu.."


tegas Damar dengan raut tenang.


Winda tak menjawab, ia hanya diam.. tak menolak atau mengiyakan.


Ia sadar Damar sedang dalam kondisi kecewa terhadap apa yang sudah di lakukan oleh Kaila,


jadi lebih baik untuk Winda untuk tak lagi mendebat Damar dan membiarkan si adik kesayangannya itu melampiaskan kemarahannya dengan cara lain.


" Yusuf tetap tidak mau pulang.." ujar si bapak pada istrinya.


Laki laki itu terduduk begitu saja di samping istrinya karena terlalu lelah.

__ADS_1


" Biarkan dia menenangkan dirinya sembari berpikir langkah apa yang terbaik.." sahut Anita melangkah memasuki rumah.


Sejak kemarin perempuan itu tak pernah lepas dari punggung bapaknya.


" Aku merasa tidak ada langkah yang baik, melihat kemarahan yang di pendam oleh Damar, rasanya dada bapak sudah sesak nduk..


bapak tidak sanggup membayangkan bagaimana Yusuf akan di tekan karena kesalahan ini.." keluh si bapak.


" Bapak... tidak kapok ya..??


menilai seseorang dengan dangkal akan selalu menimbulkan konflik dalam batin bapak sendiri,


seharusnya bapak bersyukur permasalahan ini selesai dengan landai.."


" Landai itu yang terlihat di luar, Damar itu pebisnis yang sangat perhitungan, karena itu dia bisa lebih sukses melebihi bapaknya di usia sekarang,


Sikapnya yang sederhana dan ramah justru berbahaya..


dia pasti membuat perhitungan pada Yusuf.." wajah tua yang lesu itu benar benar tidak tenang.


" Apalagi setelah ia tau kalau aku berusaha menjodohkan Yusuf dengan anak pak Handoko..


mungkin aku harus mencari bahan dari pabrik lain.."


Anita menggelengkan kepalanya pelan,


" Pak.. letakkan semua pemikiran pemikiran bapak yang belum pasti itu..


sekarang kita harus fokus dengan pernikahan Yusuf.."


" Iya pak.. ibu nelongso setengah mati melihat anak kita.." sela si ibu yang sejak tadi terdiam pasrah.


" Iya bu.. mungkin kalau bapak tidak mengenalkan Yusuf pada putri pak Handoko, Kaila tidak akan mengugurkan kandungannya ya bu..?" si bapak lagi lagi membuang pandangan kecewa ke atas lantai rumahnya.


" Belum tentu pak.. sudah, jangan menyalahkan diri sendiri, sekarang kita harus memikirkan pernikahan Yusuf..


mereka tidak akan mengadakan pesta apapun untuk Kaila dan Yusuf,


apa bapak dan ibu sampai hati Yusuf menikah tanpa pesta?" tanya Anita.


" Tidak.. Kita harus adakan pesta untuk putra kita pak, ini pernikahan yang kita harapkan kan pak? akhirnya Yusuf menikah juga.. meski kejadiannya seperti ini, tapi ibu tidak tega tidak memberinya pernikahan yang layak?" ujar si ibu membujuk si suami.


" Iya bu.. kita adakan pesta.. kita akan memberi yang terbaik untuk Yusuf, karena kita juga seperti itu pada Anita dulu.." si bapak mengangguk sembari menggenggam tangan istrinya.


" Kalau begitu biarkan Anita yang mengurus pak..


Anita yang akan berkomunikasi dengan keluarga Kaila.."


Si bapak hanya mengangguk, tampaknya ia sudah tak punya lagi tenaga untuk mengambil keputusan.


Damar tau kalau Kaila baru saja keluar dari mobil Yusuf, keduanya tampak baru pulang dari rumah sakit, masih tersisa pucat di wajah Kaila.


Keduanya hanya tertunduk saat Damar lewat begitu saja,


jangankan menyapa, mengangkat kepalanya oun Yusuf dan Kaila tak punya nyali.


Damar yang biasanya hangat dan penuh kasih sayang pada Kaila sekarang benar benar acuh.


Jangankan melihat, melirik saja tidak.


Damar terus saja berjalan lurus melewati area persawahan, menuju ke pabrik.


" Mas Damar?!" sapa bapak bapak yang baru pulang mencari rumput, bahunya memikul satu karung penuh rumput yang masih segar.


" Wangsul pak? ( pulang pak?)" tanya Damar melempar senyum,


" nggih mas, monggo rumiyen..?! ( iya mas, mari duluan..?!)" jawab si bapak berjalan dengan langkah cepat.

__ADS_1


" Nggih pak.." jawab Damar membiarkan si bapak yang tampak lelah itu berjalan terlebih dahulu.


Damar berjalan dengan tenang, matanya menatap punggung tua yang mendahului langkahnya itu, punggung tua yang cucuran keringatnya mungkin sudah membasahi seluruh baju yang ia kenakan.


Damar tiba tiba tertunduk, ia memperlambat langkahnya,


rasa malu menusuk hatinya.


Di hadapannya adalah sosok laki laki tua yang bahkan keriputnya sudah terlihat,


setiap hari dia harus berjalan berkilo kilo hanya untuk mencari rumput, dan rumput itu di jual pada pemilik ternak.


Uang yang di dapat si bapak tak seberapa, mungkin hanya cukup untuk membeli beras satu kilo saja..


lalu kenapa dirinya yang semuda ini mudah kecewa dan menyerah pada keadaan.


Lagi lagi hati Damar tertusuk nelangsa, ia melihat kaki si bapak melangkah tanpa mengeluh,


berjalan di atas aspal rusak yang penuh kerikil, kasar.. menusuk.. pastinya panas, karena ini tengah hari.. batin Damar sedih.


Tak ada alas kaki ataupun topi yang ia kenakan untuk melindungi dirinya dari teriknya matahari dan tajamnya kerikil.


Padahal sudah biasa Damar melihat pemandangan seperti ini, tapi entah kenapa hari ini hatinya di penuhi nelangsa.


Sosok Bapaknya tiba tiba masuk ke ingatannya,


bapak yang selalu tersenyum dan jarang marah..


bapak yang rukun dan sayang pada ibu..


bapak yang selalu rajin mengelus kepala Damar setiap akan berangkat sekolah dan menjelang tidur.


Dulu.. sebelum ibu Kaila masuk ke dalam keluarga Damar, bapaknya adalah sosok laki laki penyabar dan pekerja keras.


Damar ingat benar, Bapak dan mbah kung selalu bekerja dengan rajin di sawah, tak ada mesin traktor saat itu..


sawah di bajak dengan bantuan dua ekor sapi, dan Damar selalu senang duduk di atas kayu pembajak yang di seret oleh sapi itu.


Kenangan yang indah.. sangat indah hingga mampu membuat Damar berlinang air mata.


" Ada apa?" tanya Kinanti saat suaminya terlihat murung setelah pulang dari pabrik,


wajahnya lesu, dan tak bersemangat.


" Tidak ada.. aku hanya melihat bapak bapak tadi.." jawab Damar merebahkan dirinya disamping Kinanti yang sedang duduk di atas tempat tidur sembari membaca novel klasik kesukaannya.


" Bapak bapak? kenapa?" Kinanti meletakkan novelnya lalu menyentuh dahi suaminya, memijat mijat kepala Damar pelan.


" Tidak apa apa.." jawab Damar lirih.


" Tidak apa apa kok murung..?"


" aku sedikit capek.."


Kinanti tau, apa yang sedang di rasakan suaminya..


kekecewaannya terhadap Kaila tidak main main.


" Kaila dan Yusuf tadi kesini.. mencari mas.. mereka bilang akan kesini lagi nanti malam.." ujar Kinanti,


" Kita pergi saja nanti malam, jalan jalan.. makan di luar..


apapun juga boleh, buncit.." sahut Damar sembari tersenyum seadanya lalu mencium perut Kinanti.


" Kenapa malah pergi? mereka membutuhkanmu sebagai pengganti bapak.."


" tidak, Kaila tidak membutuhkanku." sahut Damar dengan suara dalam, membuat Kinanti memandangi suaminya itu dengan pandangan bimbang.

__ADS_1


__ADS_2