
Dua minggu berlalu, tidak ada kabar, Damarpun tak kunjung pulang.
Semua telfon dan chat Kinanti di abaikan.
Kinanti tak hentinya menangis setiap malam, hingga setiap pagi Winda dapat melihat matanya yang sembab.
Kondisi di pabrikpun menjadi sedikit kacau, karena Damar tak menunjukkan dirinya sama sekali, itu membuat para pekerja bertanya tanya.
" Apa yang harus saya lakukan jika mas Damar tidak segera kembali..?
saya tidak mungkin terus terusan menutupi kondisi yang sesungguhnya..
saya tidak cukup mampu untuk mengambil alih meski hanya sementara.." Umar tertunduk lesu.
Seorang Umar yang notabene bukan siap siapa Damar dan hanya murni seorang pekerja yang di didik langsung oleh Damar bisa seresah ini.
Ketegasan, kebijakan, dan keuletan Damar tak bisa di gantikan siapapun.
Sejak Umar tau bahwa Damar pergi dari rumah,
tidurnya ikut tak nyenyak.
" Lakukan saja tugasmu seperti biasanya..
tenanglah..
mas Damar akan segera pulang.." ujar Kinanti sembari menyeka air matanya yang terus saja menetes tak terkendali.
" Saya sesungguhnya sangat khawatir mbak..
setau saya mas Damar tidak punya teman dekat..
saya jadi kepikiran kemana mas Damar dua minggu ini.."
" Jangan menambah keresahanku Mar..
HPnya selalu on, tapi tak pernah sekalipun telfon dariku dan mbak Winda di angkat olehnya..
mungkin dia sudah terlalu muak denganku..
karena itu dia tidak mau pulang.."
lagi lagi air mata Kinanti mengalir, bahkan lebih deras.
Betapa nelangsa hatinya, Damar yang selama ini tidak bisa berpisah lama darinya,
mampu meninggalkannya dalam waktu yang lumayan lama menurut Kinanti.
Jangankan dua minggu, tiga hari saja rasanya menyiksa.
Bayangan bayangan buruk selalu melintas di benak Kinanti, apa yang sedang dilakukan suaminya di luar sana,
dan bagaimana jika suaminya itu mencari perempuan lain untuk pelampiasan atau bahkan membalas dendam.
" Jangan bicara begitu mbak, mas Damar tidak mungkin berpikiran sesempit itu..
tresnone gede nang sampean mbak.. ( cintanya besar ke sampean mbak..)"
Umar berusaha menguatkan Kinanti yang benar benar tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Laki laki bertubuh jangkung itu berdiri di tepian Ranu gumbolo, salah satu danau yang terletak di tengah gunung semeru.
Danau itu tampak lebih lebar dari pada terakhir kali dirinya mendaki.
Hawa hangat menyentuh wajahnya, angin pun menyapa cukup pelan pagi ini, kabut yang menyelimuti pun sudah lama pergi, meninggalkan pemandangan yang menakjubkan.
Beberapa hari di Ranu gumbolo sudah membuatnya lebih baik, tidak gemetar lagi seperti awal dia datang,
teman teman lamanya sangat membantu dan mendukung, mereka dengan sabar menunggu Damar yang lebih sering berhenti dan terduduk lemas karena di serang lagi oleh ingatan ingatan buruk saat turun membawa jasad Aji, dan betapa tak berdayanya dia dengan keadaan.
Bukan hanya air mata, namun darah dari luka lukanya karena tertusuk tusuk ranting masih begitu jelas dalam ingatannya.
Saat itu Damar berjalan sembari menangis, ia terisak dengan membawa Aji di punggungnya, berharap sahabatnya itu tiba tiba bangun dan memukul kepalanya seperti biasanya.
Namun sayang, sampai mereka berdua di temukan pun, Aji tak pernah bangun lagi.
Dadanya sering berdenyut nyeri saat kenangan buruk itu melintas, tubuhnya menjadi lemas dan gemetar.
Meski jalur yang mereka lewati tidak sama, namun tetap saja,
tidak mudah bagi Damar untuk datang kembali ketempat ini.
Ia sudah sangat berusaha menguasai dirinya, berpikir rileks dan setenang mungkin..
apa yang terjadi tak bisa di ubah.. dan segalanya sudah berlalu.. terus saja Damar menghibur dirinya sendiri agar tidak terlalu merasa bersalah,
meski ia tau kalau memang hal ini terjadi akibat keteledorannya..
dan kenangan buruk itu masih sering hinggap..
menusuk nusuk dirinya saat ia sendiri seperti ini.
__ADS_1
Tangannya erat memegang gagang pancing, beberapa pendaki yang masih begitu muda tertangkap oleh matanya sedang bermain main dan berfoto di batang pohon yang ambruk dan masuk ke dalam air, tidak begitu dalam..
Damar tau benar,
karena dulu, ketika usainya masih begitu muda batang pohon yang rubuh itu selalu menjadi tempat duduknya sembari merokok.
Ia tak menyangka tempat duduknya untuk memantau teman temannya yang sedang bercanda atau sibuk memasak saat pagi, itu bahkan masih ada, padahal belasan tahun sudah berlalu..
Ia tetap saja berdiri tenang dengan pancing di tangannya, meski ia tau.. berdiri sampai besok pun, mungkin tak akan ada ikan yang menarik kailnya..
karena sejak muda ia tidak pernah mujur salam memancing dan mendapatkan ikan seperti teman temannya.
Namun setidaknya ini cara Damar agar ia mempunyai kegiatan sembari menunggu teman temannya turun dari puncak.
Prediksi Damar, teman temannya itu mungkin sudah turun dan sampai di kali mati atau jika langkah mereka cepat seperti saat muda, mungkin mereka sudah sampai di arcopodo di waktu ini.
Namun Damar ragu saat melihat beberapa kawan lamanya yang sudah banyak bertambah berat badan itu,
Sudah pasti kecepatan mereka menurun, kecuali beberapa orang yang terlihat masih bugar dan terlihat rajin berolah raga.
Diam diam Damar tersenyum, laki laki yang paling tampan di fakultasnya dulu dan terkenal sebagai playboy kelas kakap, sekarang tampak lebih tambun dan kurang merawat dirinya, dengar dengar anaknya sudah tiga, satu laki laki, dan dua perempuan.
Benar saja.. mungkin menjadi seorang ayah membuatnya lebih bahagia, sehingga ia tak begitu memperdulikan penampilannya lagi.
Tiba tiba senyumnya hilang, pikirannya kembali menangkap bayangan istrinya.
" Sampai besokpun sepertinya kau tidak akan mendapatkan ikan.." suara Rian mengejutkan dari balik punggung Damar.
Meski sedikit terkejut namun Damar tak bergeming, ia tak menoleh dan matanya tetap terpaku pada Ranu gumbolo yang hitam berkilauan, sekarang atau belasan tahun yang lalu Ranu gumbolo tampak sangat tenang seperti biasanya.
Sementara itu, gundukan tanah raksasa yang membentuk perbukitan, erat memeluk dengan hijaunya di sertai pinus pinus yang menjulang seakan ingin menyentuh langit.
Elang jawa tiba tiba terbang melesat cepat, Damar yang sedang sibuk memikirkan istrinya tentu saja tidak menyadari itu.
" Kau lihat tadi?!" tanya Rian terperangah, karena burung itu sungguh sulit di dapati untuk di lihat.
" Tidak.." jawab Damar,
" sebesar itu kau tidak lihat? aduh.. tidakkah kau terlalu fokus dengan pancingmu?"
Damar terdiam,
" Ayolah, kita makan.. Dedy sedang membuat nasi goreng,
sudahlah.. taruh pancingmu itu.." Rian sedikit menarik lengan Damar.
" Kau duluan, aku akan menyusul.." ujar Damar tak menoleh.
" Ya sudah.. kalau habis jangan salahkan aku lho ya?! masak untuk dirimu sendiri nanti!" suara Rian sedikit keras.
" Susah payah ku ajak kesini, kelakuannya tetap begitu..!" gerutu Rian sembari duduk di samping nesting yang sudah di tata rapi oleh Dedy.
Mendengar itu Dedy hanya tersenyum,
" Kau tidak bertemu dengannya setiap hari sih.. di kampuspun kelakuannya begitu..?!" lanjut Rian.
" Jangan berharap terlalu banyak.." suara Dedy ringan sembari mebolak balik kerupuk yang sudah mulai mengembang.
" Maksudmu?" Rian mengerutkan dahi.
" Perkembangannya sudah bagus.. dia berani menginjak semeru lagi, bukankan itu luar biasa..
apa yang kau harapkan dari seseorang yang memiliki trauma yang besar..
memaksanya sembuh sama saja dengan menimbulkan luka baru,
jadi ikuti saja alurnya.. yang penting dia sudah sangat berusaha.."
ucap Dedy sembari tersenyum ringan.
" Untuk seseorang yang tidak memiliki trauma, kalimat ' sembuh ' seperti sesuatu yang sepele, semacam..
kalau kau jatuh, kau harus langsung bangkit..
sementara tidak semua orang sanggup, terkadang ada yang berguling guling dahulu,
terkadang ada yang merangkak dahulu..
apa kau tidak lihat matanya yang selalu memerah menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan kita?
Dia memang leader kita dulu, yang tercepat dan terkuat diantara kita,
namun dia tetaplah manusia biasa,
hatinya juga bisa hancur berkeping keping..
jadi..
tenanglah..
ikuti saja langkahnya, kita pantau dari balik punggungnya.."
__ADS_1
Rian menghela nafas, ia faham dengan ucapan Dedy,
namun tetap saja dirinya tidak nyaman melihat Damar yang selalu memisahkan dirinya.
" Aku takut dia kesambet Ded.. itu saja.." celetuk Rian.
Dedy tertawa,
" Memangnya anak itu bisa kesurupan?,
meski tubuhnya tenang, namun kepalanya berisik,
terlihat jelas di matanya bahwa ada sesuatu yang di pikirkannya setiap menit.
Kadang ekspresi tampak sedih..
kadang tampak marah..
kadang pula tampak putus asa.."
Rian menoleh, menjatuhkan pandangannya lagi pada sosok jangkung yang sedang berjalan masuk ke tepian Ranu gumbolo.
Laki laki tinggi itu sedang sibuk menarik mata pancingnya yang tersangkut ranting pinus.
" Makin tua kau makin bijak saja.. apa karena kau bapak bapak?" ujar Rian mengambil sendok.
" Kau memujiku atau mengejekku?" tanya Dedy,
" ah.. tentu saja dua duanya.." Rian tersenyum sekilas.
" Aku akan mencari mas Damar sampai ketemu.." ujar Yoga di balik pintu, namun laki laki itu tidak berani masuk.
" Maafkan aku.. maafkan aku, aku sudah mendapatkan kontak para alumninya,
setelah aku menemui salah satunya dan mendapat kabar..
aku akan segera mengabarimu..?" imbuh Yoga.
Namun tak sedikitpun Kinanti menjawab.
Ia tetap duduk tenang di ruang tamu bersama Kaila.
" Lucu sekali, bukankan ini yang kau harapkan?" suara Yusuf tiba tiba dari balik punggung Yoga.
" Kau menganggu ketenangan rumah tangga mereka, dan sekarang kau berlaga seperti perduli dan ingin menyatukan mereka kembali..
kau ini sedang bermain peran atau bagaimana?" imbuh Yusuf ketus.
" Jika kau tak ingin membantu setidak nya jangan memperburuk situasi.
Aku memang bersalah dalam hal ini, tapi aku tidak pernah menginginkan perpisahan mereka..?!" tegas Yoga.
" Aku? memperburuk?, begitu menyebalkannya dirimu..
kau kira karena kau tampan dan mampu kau bisa berbuat sesukamu?
bertindaklah seperti seorang laki laki,
jika kau tak pernah berani dengan resiko makan jangan pernah maju,
apa yang kau lakukan pada Kinanti di masa muda tak bisa kau tebus dengan cara yang sama,
berbuat baiklah dengan selalu mendukung apapun pilihannya sekarang, bukan malah selalu menjadi bayang bayangnya dan membuatnya gelisah akan masa lalu kalian yang sudah tidak mungkin terulang." Yusuf tampak kesal,
" Kenyataannya.. yang dia cintai sekarang adalah mas Damar, kau sudah pergi dari hatinya,
jangan salahkam siapapun.. salahkan dirimu sendiri yang pengecut..
harusnya dulu kau melindunginya dengan segenap kekuatanmu jika kau memang mencintainya,
kalian bisa pergi kemanapun kalian mau untuk hidup berdua,
bukan malah meninggalkannya dengan dalih takut dengan kedua orang tuamu menyakitinya,
apa kau faham poinnya?
kau harus sadar..
di dalam hatinya.. sudah tidak ada kau sama sekali.." suara Yusuf lebih lirih, namun lebih menusuk.
" Yusuf!" panggil Kaila keras.
" jika kau kesini hanya untuk membuat masalah pergilah..!" lanjut Kaila.
" Iya..iya.. aku tidak ribut.." sahut Yusuf tiba tiba patuh seperti anak kucing, ia memandang Kaila yang sedang melotot kearahnya.
Yoga mengepalkan tangannya, berusaha menguasai diri, percuma dia marah,
apa yang di katakan Yusuf memang benar..
ia adalah seorang pengecut yang tidak mau menerima kenyataan bahwa mantan kekasihnya sekarang sudah lebih berbahagia dengan saudara laki lakinya.
__ADS_1
" Jangan dengarkan mas? lebih baik mas pulang saja.. jangan membuat mbak Kinan semakin sedih memikirkan ini.." ujar Kaila pada Yoga.
" Aku akan berusaha membawa mas Damar pulang..." suara Yoga dalam, di pandanginya Kinanti penuh rasa bersalah dan pedih, sebelum akhirnya laki laki berparas tampan itu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah yang berat.