Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kenapa menerima bunga dari laki laki lain


__ADS_3

Yoga pulang larut hari ini, ada beberapa hal yang harus ia urus di luar pekerjaannya.


Saat ia pulang, istrinya sudah tertidur lelap, begitu juga putranya yang beberapa hari ini sibuk mengikuti budhe Windanya kemana mana.


Yoga berjalan ke dapur, membuka lemari es untuk mengambil botol susu segar.


Matanya menemukan bungkusan plastik, diambil bungkusan plastik itu, di keluarkan bersama susu yang akan di panaskannya.


" Soto.." gumam Yoga saat tau di dalam plastik itu ada kotak foam putih yang di dalamnya ada soto daging yang di bungkus dengan plastik bening.


Di atas foam itu terdapat stiker bertuliskan 'Soto pak Cipto'.


Yoga langsung duduk dan termenung,


ia tau, itu adalah soto yang biasa ia makan saat mengunjungi Kinanti dulu,


letaknya persis di sebelah kampus.


Yoga menghela nafas, ada perasaan tidak mengenakkan yang menyusupi hatinya.


" Ya masa Kinan? Dinda pasti tidak doyan soto dalam kondisi yang sekarang.." ujar Yoga bicara sendiri, andai saja dirinya tidak kenyang karena makan di luar, sudah pasti soto ini akan ia habiskan.


Yoga memasukkan soto itu kembali ke dalam lemari es,


dan melanjutkan niatnya memanaskan susu.


Saat dirinya sudah selesai memanaskan susu segar, dan berniat mencuci gelas kotornya, matanya tak sengaja menemukan sesuatu yang membuatnya tak bisa untuk tidak melihat.


Buket mawar putih yang masih segar, di taruh begitu saja di samping cucian piring, tak jauh dari buket itu ada sebuah vas kaca yang sudah di isi air.


Yoga mematung di depan tempat cucian piring, rahangnya mengeras menahan perasaan tak terima atas kelakuan Rakha yang sudah kurang ajar dan terang terangan ingin merebut perhatian istrinya.


" Apa bunga yang kubelikan untukmu kurang banyak..? sehingga kau menerima bunga dari laki laki lain.." desis Yoga sembari mengepalkan tangan.


Yoga yang semenjak menikah itu hanya bergelut di tempat tidur ketika bangun pagi,


kini memulai rutinitasnya yang dulu,


joging berkeliling di area sekitar persawahan keluarganya dan rumahnya.


Ingin sekali dirinya marah,


tapi mengingat kehamilan istrinya yang masih berusia satu bulan,


di urungkan niatnya.


Karena itu Yoga hanya bisa membawa tubuhnya untuk berlari hingga lelah untuk mengurangi emosinya.


" Pak dokter..?!" sapa seorang petani yang berjalan sembari membawa cangkul di pundaknya.

__ADS_1


" Inggih pak...!" sahut Yoga tersenyum namun terus berlari.


Laki laki berjaket putih dan bercelana pendek hitam itu berkeliling sampai dua kali dengan sepatu putihnya.


Ia ingin menghabiskan tenaganya, hingga ia tak bisa berpikir lagi untuk marah pada Istinya.


Senja mulai muncul saat Yoga mulai lelah, ia berjalan kembali ke arah rumah melewati pabrik Damar.


Kulit yang putih mulus dan wajah yang ganteng itu tentu saja menarik perhatian,


bahkan ibu ibu yang baru saja pulang lembur sampai tak berhenti menatap Yoga,


meski tak satupun dari mereka berani untuk menyapa.


" Wes dokter.. ganteng maneh.. ( sudah dokter.. ganteng lagi..)" gumam salah satu ibu ibu.


" lho, ganti tho mbak?" sahut salah satu ibu ibu juga,


" ganti piye maksud ee..?"


" pak Damar piye?"


" lhoo, ojo takon ( jangan tanya),


kui nomor satu ( itu nomor satu),


ganteng, gagah, manis, duwite akeh.. (uangnya banyak..)" si ibu itu tersenyum lebar,


" ketok ae yoo lek ono wong nganteng yo yuu..? ( kelihatan saja kalau ada orang ganteng ya mbak..?" sahut ibu lainnya.


" Ya jelas.. umur boleh tua, mata tetap awas.. subuh subuh, capek lembur..


eh.. pak dokter lewat..


vitamin tho.. kui??"


setelah sibuk bercanda dan membincangkan Yoga,


para ibu ibu itu berjalan kembali pulang kerumah masing masih.


Yoga yang sedikit banyak mendengar ucapan para ibu ibu itu tersenyum saja sambil berjalan terus kearah rumahnya.


Bagaimana ia tidak mendengar, menurut ibu ibu itu mereka sedang berbisik,


tapi di tengah subuh begini,


bisikan mereka begitu jelas di telinga Yoga.


Yoga sampai dirumah saat fajar sudah mulai hilang, dan langit berubah terang.

__ADS_1


Dinda terlihat sedang menyiram bunga bunganya di teras,


ia terlihat segar dengan rambut yang setengah basah,


tampaknya dia nekat mandi dingin dingin begini.


Wajahnya masih tersisa lesu, bibirnya masih pucat tanpa polesan lipstik dan lainnya.


Senyum Yoga tiba tiba saja terkembang dengan sendirinya,


betapa bahagianya ia melihat istrinya yang sedang bersweater abu abu tua itu sedang menyibukkan dirinya dan tidak terus tidur di kamar.


Yoga duduk di pinggir lantai teras,


melepas sepatunya.


" Sudah lebih baik.." tanya Yoga memandangi si istri yang sibuk mencabuti daun daun yang mulai mengering di tangkai krisan.


" Sudah," jawab Dinda datar tanpa menatap suaminya.


Yoga hanya bisa menghela nafas melihat sikap Dinda padanya.


Andai saja perempuan itu tidak marah,


Yoga pasti akan memeluk dan menciumnya sekarang,


bahkan mungkin akan menggendongnya dan membawanya ke dalam kamar segera, seperti hari hari kemarin,


sebelum Vania dan laki laki bernama Rakha itu datang untuk menganggu.


Di helanya nafas untuk kesekian kali,


ia sungguh sungguh rindu akan kelembutan dan kemanjaan Dinda,


namun dirinya tak berani..


di karenakan perbuatannya saat itu,


ia seperti enggan menyentuh Dinda, bukan karena tak mau,


tapi karena takut Dinda marah atau merasa terancam.


" Aku mandi dulu.. setelah itu kita makan bersama.." ujar Yoga bangkit dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Menyadari suaminya yang berjalan melewatinya begitu saja, Dinda merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan menyusupinya.


Dinda memang masih kesal pada suaminya itu,


tapi suasana ini lama kelamaan tidak menyenangkan juga.

__ADS_1


Dinda mengeluh diam diam,


ia juga rindu sentuhan Yoga, tapi saat ia ingat kejadian waktu itu, kerinduannya menguap seketika.


__ADS_2