
Damar memandangi istrinya,
" Yo masa aku yang manjat Nan? terus apa gunanya suaminya?!" protes Damar.
" Sudah.. namanya juga orang ngidam.." Kinanti merayu suaminya,
" tapi dia kan tidak sadar kalau sedang hamil?"
" mas? mau ponakanmu ngiler?" tanya Kinan dengan wajah serius.
" Ah, itu urusan Yoga?!" Damar membakar rokoknya.
" Ini malah ngerokok terus??" Kinan mengambil rokok yang baru di bakar itu dan menaruhnya di asbak.
" Emoh Nan.. ( tidak mau Nan..) emoh.. ( tidak mau..),
pohon mangga di sebelah gudang itu tinggi,
mbok ya yang pendek sedikit kalau ngidam?" Damar baru kali ini menolak permintaan orang lain padanya.
" Tidak Yoga, tidak istrinya.. kelakuannya sama,
tidak tenang mereka itu tidak mengangguku sebulan saja.." Damar menggerutu.
" Huss.. jangan ngomong begitu.."
Kinanti menarik tangan suaminya dan mengajaknya ke depan rumah.
Disana sudah ada Yoga dan Dinda.
Yoga sudah memegangi tangga sedari tadi,
wajahnya terlihat masam,
rupanya ia tak bisa menutupi rasa kesalnya karena istrinya malah meminta Damar yang memanjat pohon mangga.
" Ayo lho mas?!" panggil Yoga tanpa senyum,
" ayo ayo..?! bojone iku sopo??! ( suaminya itu siapa??!)" sahut Damar tak kalah kesal.
" Mas kesal, aku juga kesal..!" Yoga menggerutu, masih terus memegangi tangga.
" Terus kalau seperti ini.. gunanya suamimu apa Din?!" tanya Damar pada Dinda.
Dinda hanya tersenyum saja,
melihat senyum Dinda, Damar menghela nafas panjang, lalu menaiki tangga yang sudah di sandarkan Yoga pada batang kayu mangga yang lumayan besar itu.
" Nan.. ini tinggi lho Nan.." Damar lagi lagi memangil istrinya setelah berhasil memanjat setengah.
" Sudah mas, naik terus ambil buahnya dan segera turun..?!" tegas Kinan dari bawah.
" Astaga.. istrikupun tak menaruh belas kasihan padaku.." gerutu Damar sudah di atas pohon.
" Mau berapa buah?!!" tanya Damar setengah berteriak dari atas.
" Jangan mas?!" sahut Dinda membuat Yoga menatapnya heran, begitu juga Kinanti.
" Aku hanya ingin melihat mas memanjat pohon mangga, bukan mengambil mangga?!" imbuh Dinda membuat Kinanti tak bisa menahan tawanya.
" Maksudmu opo iki..??" Damar yang sudah berada di atas pohon merasa di permainkan.
" Mas boleh turun, sekarang biar suamiku saja yang mengambil mangganya?!" ujar Dinda lagi sembari tersenyum, lalu menatap suaminya yang sedang menatapnya bingung.
" Sudah.. naik, ambilkan satu saja.. yang tua ya..?" pinta Dinda lembut.
Yoga menepuk dahinya, menyadarkan dirinya dan memperpanjang kesabarannya.
Tak banyak bicara, laki laki itu memasukkan kantong plastik ke dalam saku celananya.
Membuka kancing kemejanya dan mengangkat lengan kemejanya ke atas, sampai di bawah siku.
Dengan hati hati laki laki yang tidak pintar memanjat itu naik ke atas anak tangga,
lalu memanjat ke salah satu ranting besar setelah anak tangga habis.
Damar yang berada di ranting lain tersenyum mengejek.
" Dia mengerjai kita.." ujar Damar sembari menggeleng gelengkan kepala karena tak habis pikir.
__ADS_1
" Ikhlaskan mas, ini kan ngidam.. bukan istriku sengaja.."
" jangan jangan istrimu sudah tau kalau dirinya hamil, karen itu dia mengerjaimu.."
" tidak mungkin, kalau dia tau dia tidak mungkin mengerjai mas juga..
Dinda tak seberani itu padamu mas..
ini hanya efek hamil muda saja.."
" yakin sekali?!"
" yakinlah.. mbakyu saja yang tidak pernah mendapat trauma di kandungannya tidak menyadari kehamilannya,
apalagi istriku.. yang yakin sekali bahwa dirinya tidak bisa hamil..
dia tidak akan sadar sampai perutnya membesar..
apalagi.. haidnya tidak lancar,
stres sedikit saja haidnya telat..
besar kemungkinan dia tidak menyadari kehamilannya.." jelas Yoga sembari menarik satu mangga beserta daunnya.
Bau getah menyebar, bahkan menetes netes di lengan Yoga.
Damar yang awalnya kesal, sekarang tersenyum,
" Kau bahagia?" tanya Damar, tak sadar keduanya masih di atas pohon.
" Siapa yang tidak bahagia..?? aku menantinya selama dua tahun..
bekerja keras siang dan malam.." jawab Yoga dengan wajah serius,
namun malah membuat Damar tertawa.
" Dia pasti senang juga kalau tau.." ujar Damar,
" pasti mas.. tapi biar janinnya lebih kuat dulu..
dia punya riwayat keguguran lebih dari sekali mas, aku tidak bisa menganggap itu remeh..
aku hanya ingin emosinya stabil untuk sekarang..".
Damar mengangguk, ia mulai memahami ketakutan Yoga sekarang,
saudaranya itu, memang terlihat berbeda sekarang..
semenjak menikah dengan Dinda, senyumnya lebih cerah.. dan semangatnya lebih tinggi.
Damar ikut senang dan bahagia.
" Heii..!!" suara Kinan membuyarkan percakapan dua saudara itu.
" Kalau mau ngobrol biar kuambil tangganya, nanti malam saja turun..!" imbuh Kinan setengah berteriak.
" Istrimu galak sekarang ya mas..?" ujar Yoga setelah menoleh ke bawah,
" Hahaha.. di luarnya saja, kalau tidak ada orang ya nempel di ketiak.." jawab Damar dengan senyum secerah matahari.
" Hemm.. sombong..." gumam Yoga sembari berdiri perlahan.
" ayo sudah turun mas.. bidadariku sudah menunggu mangganya..".
Yoga meninggalkan istrinya demi bisa makan rujak bersama Kinanti.
" Pintar suamimu.. dia memetik mangga yang sudah tua.." komentar Kinan sembari mengiris mangga dan meletakkannya di atas piring.
Dinda sedari tadi hanya tersenyum senyum,
" hemm.. puas ya mengerjai suamiku?" tanya Kinan dengan wajah yang sok masam.
" Entahlah.. aku tiba tiba saja punya keinginan yang aneh aneh.." sahut Dinda.
Kinanti tersenyum mendengarnya,
" tapi tubuhmu baik baik saja kan?" tanya Kinan kemudian,
" aku sering pening.. malas makan, kadang juga mual..
__ADS_1
sakit apa sebenarnya aku ini ya Nan? andai aku tidak mandul.. mungkin aku bisa mengira diriku hamil.." Dinda mengulas senyum, namun senyum yang mengandung beban di dalamnya.
" Hei.. diagnosa bisa saja salah.. jangan terlalu yakin dirimu tidak bisa hamil.."
Dinda tertunduk, sorot matanya tiba tiba sedih,
" Mungkin jika anakku hidup.. dia sudah sebesar Bagas.." ucapnya sayu,
" Kau harus bahagia dan sehat.. aku tidak suka kau selalu memikirkan masa lalumu yang menyakitkan itu..
Yoga tidak akan diam saja, dia bukan orang bodoh meski kadang lambat dan kurang peka.. percayalah.."
" kasian dia.. tidak pernah dia bicara..
tapi aku tau, setiap laki laki pasti menginginkannya.."
Kinan tersenyum,
" Kau manut saja.. insyaallah akan ada kebahagiaan yang datang.."
Dinda diam sejenak, ia terlihat berpikir..
" Bagaimana jika ibu Bagas datang lagi?" tanya Dinda tiba tiba,
" wahh...kau benar benar mencintai Yoga ya ternyata.." Kinan tertawa,
" huss.. malah bahas itu.."
" kau bahasnya serius terus..
sudahlah.. Yoga sudah membuat Vania jera, dia juga tidak akan berani menganggu Bagas lagi, tenanglah..
sekarang kita makan rujak manis kita..?" Kinanti menyerahkan piring berisi mangga yang sudah ia potong dan bumbu rujak manis yang sudah siap.
Dari teras terdengar suara langkah Damar, di belakangnya ada Yusuf yang mengikuti.
" Waduh..! kenapa istriku tidak di panggil??" Yusuf ikut duduk diantara ibu ibu.
" Di bukannya kuliah?" tanya Dinda,
" Iya, paling sebentar lagi pulang, chat saja dia.. biar langsung kesini.." ujar Yusuf mengambil potongan mangga Dinda.
" Kau ini malah makan rujak, ayo berangkat?!" Damar yang tadi masuk ke dalam kamar hanya untuk mengganti bajunya, tiba tiba sudah berdiri disamping Yusuf.
" Sebentar mas, aku juga mau makan yang seger seger.." Yusuf mengunyah mangga yang sudah di celupkan ke bumbu kacang dan gula merah.
" Hemm.." Damar bersedia menunggu, matanya bertabrakan dengan istrinya.
" Lihat kayu di daerah pasuruan ya?" pamit Damar pelan,
" hati hati.." jawab Kinan mengangguk.
" Din..!" panggil Damar tiba tiba membuat Dinda kaget.
" Iya mas?" Dinda menatap Damar,
" aku sudah naik pohon mangga, jadi awas kalau kau tidak sehat..?!" tegas Damar,
" iya mas.." Jawab Dinda sedikit takut dengan nada Damar yang serius.
" Jangan bertengkar terus, kalau Yoga melirik perempuan lain biar aku yang memelintir lehernya,
jadi jaga dirimu baik baik," imbuh Damar tanpa senyum.
Dinda mengangguk, meski Damar tak tersenyum dan terlihat serius, Dinda faham betul kalau Damar perduli ada dirinya dan Yoga.
" Iya.. jangan ribut ribut.. bikin hidup susah dan rejeki seret.." celetuk Yusuf masih makan rujak di depannya.
" Nah.. dengarkan Yusuf ini, dia sudah berpengalaman mendapatkan peringatan dari Tuhan.." sela Damar.
" Bukan peringatan sih menurutku.. tapi hukuman..
akibat dosa yang kami lakukan..
hidup kami tidak tenang beberapa tahun ini..
istrikupun belum juga hamil lagi.." laki laki itu mengeluh dengan wajah sedih, namun mulutnya tak henti mengunyah.
" Jadikan itu pelajaran Suf.. kau sih tidak sabar!" Kinanti mencubit lengan Yusuf.
__ADS_1
" Sudah sudah.. ayo Suf?! keburu sore..!" ajak Damar membuat Yusuf langsung bangkit dan meninggalkan dua perempuan yang saling memandang itu.