
" Oh.. mas Rakha teman kuliah Dinda dan Kinanti rupanya.." Winda ramah.
" Benar mbak.. kost saya tepat di sebelah mereka.." jawab Rakha mengulas senyum sembari menatap Dinda.
" Mohon maaf sebelumnya.. mungkin mbak heran kenapa saya datang kemari, padahal Dinda sudah bersuami,
rasanya memang kurang pantas..
tapi saya tidak bisa mengendalikan rasa cemas saya.." ujar Rakha membuat raut Winda berubah,
" maaf? cemas?" tanya Winda sedikit heran,
" Iya.. karena bekas tamparan itu mungkin meninggalkan luka, jadi saya ingin tau apa Dinda baik baik saja.."
Winda sontak menatap Dinda,
sementara Dinda sedari tadi tertunduk saja.
" Oh.. mas tho yang ada di toko saat kejadian?" tanya Winda memastikan,
" betul mbak.." jawab Rakha kalem.
Winda menyentuh tangan Dinda yang ada disampingnya,
" Begini mas Rakha.." ujar Winda,
" Saya selaku kakak ipar dari Dinda mengucapkan terimakasih banyak.."
" kenapa harus berterimakasih mbak, seharusnya tamparan itu di tujukan untuk saya, tapi karena sy kurang sigap, jadinya Dinda yang menanggung tamparan itu..?" jelas Rakha,
" tetap saja.. jika tidak ada mas, mungkin Dinda bis menderita lebih banyak.."
Rakha diam sejenak, lalu ia kembali bicara,
" Tidak ada sayapun, sesungguhnya Adinda bisa melawan..
dia tidak melawan karena dia tidak ingin ada masalah yang lebih besar..
percayalah mbak.. Dinda bukan orang yang mudah di tindas dulu..
tapi entahlah sekarang kenapa dia begini.."
Rakha menghela nafas,
" Kukira tidak ada pembicaraan penting, jadi lebih baik kau segera pulang.." sela Dinda tiba tiba.
" Kenapa kau mengusirku terus? sebegitu takutnya kau pada suamimu?" tanya Rakha terang terangan di hadapan Winda membuat suasana menjadi kikuk dan hening.
" Mas Rakha.. saya bukan tidak tau apa yang sedang terjadi sesungguhnya..
terimakasih atas perhatian dan pertolongan mas Rakha..
tapi.. benar apa yang di katakan Dinda," Winda memecah keheningan.
__ADS_1
Rakha mengulas senyum getir,
" Jujur saja mbak, saya sudah lama menunggunya,
saat saya mendengarnya menjanda saya senang sekali,
tapi dia malah kabur keluar dari malang,
dan saat saya tau dia kembali ke malang lagi saya mencarinya..
tapi saya malah terlambat lagi..
dia sudah di miliki oleh adik anda..
saya berusaha menerima, dan hanya ingin melihatnya dari jarak dekat saja..
tapi, saat saya tau suaminya membiarkan perempuan lain menyakitinya.. hati saya tidak terima..
saya akan jujur dan terang terangan..
jika adik anda tidak sanggup untuk membahagiakannya, maka lebih baik lepaskan Adinda.."
Winda tak bisa berkata apapun saking terkejutnya,
ia sudah tau jika laki laki di hadapannya ini menyimpan hati pad adik iparnya, itu terlihat dari tatapannya,
namun ia tidak pernah menyangka, laki laki ganteng dan tinggi yang sedang duduk berhadapan dengannya ini begitu jujur dan lugas.
Ia bahkan tak perduli bahwa Winda adalah kakak kandung dari suami Dinda.
tapi saya tidak merasa tenang dengan menyerahkan Dinda pada suaminya yang bahkan membiarkan perempuan yang menampar istrinya pergi begitu saja.."
Winda benar benar tak bisa berkata kata, sementara Dinda tertunduk semakin dalam, ia benar benar tak sanggup menunjukkan wajahnya sekarang.
" Tolong jangan marahi Dinda mbak..
ini hanya perasaan saya sepihak,
dia tidak pernah membalasnya sejak dulu.. dan saya tidak pernah berjuang lebih atas semua penolakannya.. usia saya masih begitu muda untuk tau apa itu berjuang dan berkorban,
namun sekarang..
melihatnya seperti ini, hati saya ikut sakit..
saya tidak segan..
jika adik anda tidak bisa memberi sikap yang bisa membahagiakan dan menenangkan hati Adinda.."
Winda memegang kepalanya yang tidak sakit, ia terlihat begitu shock.
" Maafkan aku mbak??" suara Dinda memohon, sesungguhnya apa yang terjadi sekarang sungguh tidak pantas.
" Cukup Ka?! kumohon pulanglah, dulu atau sekarang kita akan tetap menjadi teman,
__ADS_1
baik statusku istri orang atau singel,
aku tidak mau hubungan kita rusak hanya karena perasaan yang belum jelas ujung pangkalnya..?" Dinda memberanikan diri untuk bicara di hadapan Winda.
" Kau tidak bahagia, kenapa kau memaksakan dirimu?"
" Aku bahagia, aku sungguh bahagia..
aku hanya butuh waktu untuk memahami semua ini,
tolonglah Ka... kumohon..??"
Rakha diam, ia terlihat bimbang.
" Mas Rakha.." suara Winda kalem, meski hatinya berantakan tak karuan karena pengakuan Rakha pada adik iparnya.
" Saya disini tidak bicara sebagai kakak ipar,
namun saya bicara sebagai seseorang yang lebih tua..
sedang dalam masalah, ataupun tidak sedang dalam masalah..
hal yang mas lakukan kurang bijaksana..
andai saja, Yoga ada dirumah, mungkin bis terjadi kesalahpahaman, atau justru perkelahian..
saya memohon, sebagai seseorang yang lebih tua..
kata kata mas tadi, akan saya simpan dalam hati..
namun dengan segala kerendahan hati..
kasihani Dinda, jika memang anda menyayanginya..
tidak semua hal di dunia ini bisa berjalan sesuai dengan kemauan kita..
begitu pula dengan rumah tangga..
begini saja,
mas Rakha boleh kapan saja menemui saya jika ada ganjalan atau kecemasan atas kondisi Dinda..
tapi untuk sekarang..
mohon agar mas Rakha lebih menarik diri dan menjaga perasaan mas Rakha baik baik..
karena bagaimanapun Dinda adalah istri orang.." Winda panjang lebar.
Rakha diam cukup lama, sembari memandangi Dinda, laki laki itu terlihat kecewa.
" Mama?" terdengar suara Bagas dari dalam,
" Iya sayang..?!" jawab Dinda cepat sembari menoleh.
__ADS_1
Sesosok bocah laki laki berusia tujuh tahun berjalan keluar dari ruang tengah ke ruang tamu, dengan segera dia duduk di pangkuan Dinda dengan manjanya.
Rakha yang melihat pemandangan itu tampak tertegun.