
Kinanti mengendarai vespanya, ia melalui pabrik suaminya,
" Wangsul ( pulang ) bu?" sapa si satpam sedikit menundukkan kepalanya, sapaan santun ciri khas orang jawa.
" Nggih pak.." jawab Kinanti melempar senyum, lalu kembali fokus mengendarai vespanya ke arah rumah.
Ketika masuk ke halaman rumah, dahinya berkerut heran melihat sebuah mobil terparkir di depan halaman rumahnya.
Sama besar dan gagahnya dengan mobil Yoga, hanya saja Warnanya hitam.
Merknya berbeda meski bodynya hampir sama, warnanya hitam legam, dengan ban ban yang besar.
Tipe tipe mobil yang kokoh untuk perjalanan jauh dan naik ke perbukitan.
" Mobil siapa..?" batin Kinanti, ia memasukkan motornya ke dalam garasi.
" Permisi mbak?" Umar tiba tiba muncul,
" Motornya saya geser ya, mau masukkan mobil..?" ujar Umar dengan senyum terkembang.
" Mobil siapa? kok di masukkan garasi?" tanya Kinanti polos.
" Ya mobil sampean tho mbak.."
" ah, bercanda saja..?"
" Nggih.. ini sebuah bentuk kasih sayang mas Damar mbak, dia ingin mbak duduk di mobil yang bagus dan nyaman.."
senyum Umar lebih lebar.
" Astaga?! berapa harganya Mar?! pasti mahal?! apa masih boleh di tukar Mar?!" wajah Kinanti malah terkesan tidak nyaman.
" Lho? kenapa mbak? tidak suka dengan modelnya?
apa terlalu besar? tapi mas Damar suka mobil yang kuat dari pada yang tampilannya cantik.."
ujar Umar, padahal Umar tau, Damar sengaja beli mobil yang sama gagahnya dan sedikit lebih mahal dari Yoga, di karenakan perasaannya sebagai seorang laki laki yang sedang terancam dan takut tersaingi.
Diam diam Umar tertawa geli, bosnya itu benar benar di landa cemburu yang tidak jelas pada saudaranya sendiri.
" Bukan begitu Mar, aku tau kalau mobil suamiku yang lama sering mogok sekarang,
aku juga setuju dia beli mobil baru,
tapi.. tidak berlebihan,
ku kira suamiku bukan orang yang boros seperti saudara saudaranya.." keluh Kinanti.
"Aduh..." keluh Umar dalam hati,
"piye iki.. mas Damar sebenarnya memang bukan orang yang boros mbak, tapi karena sampean dia jadi boros..
karena dia takut sampean menoleh pada laki laki tampan di sebelah rumah kalian yang mobilnya lebih bagus.." batin umar.
" Saya rasa ini tidak boros mbak, jangan takut..
tabungan mas Damar masih cukup untuk membeli satu lagi jika mau.." Umar memamerkan giginya yang rapi.
" Kenapa kau tidak mencegahnya? dia bisa beli mobil biasa biasa saja yang lebih murah?"
" Wah.. mana bisa saya mencegah pak bos mbak..?"
" Aku tidak mau ada kalimat kalimat buruk yang ia terima hanya karena ingin membuatku nyaman Mar??"
Kinanti melirik rumah Kaila, mungkin maksud Kinanti khawatir kalau ibu tiri Damar berpikir yang tidak tidak padanya.
" mas Damar itu pemimpin keluarga mbak, dia berhak mengambil keputusan apapun yang menurutnya baik..
sudah sampean tenang saja mbak..." Umar segera berjalan ke dalam garasi dan memindahkan motor Kinanti.
Damar baru saja keluar Dari kamar mandi, rambutnya bahkan masih basah.
__ADS_1
Bau khas sabun mandinya menyebar ke seluruh ruangan.
Bisa bisanya ia melepas handuknya di depan Kinanti dengan santai.
" Sudah hafal bentuknya kok masih malu?" ucap Damar ketika melihat Kinanti menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
" Meskipun aku sudah hafal bentuknya, tapi bukan berarti mas boleh kesana kemari dengan tampilan seperti itu?!
kalau ada kucing loncat bagaimana?"
" Eh, memangnya ini ikan asin apa? yang ada kau yang loncat, bukan kucing.." Damar tergelak, ia mengambil baju santainya di lemari dan memakainya.
" Eh..?! kenapa lagi?" tanya Kinanti melihat punggung suaminya tergores.
" Kenapa?" tanya Damar melepas lagi kaosnya.
Sehingga terlihat punggung dan bahu yang bidang berotot itu.
" Kau ini bos atau bukan sih.. kok tubuhmu sering begini?" Kinanti mengerutu sembari mengambil salep.
" Duduk sini?!" perintah Kinanti pada suaminya yang hany menggenakan celana pendek itu.
Damar menurut, bahkan lebih menurut dari pada Bagas.
Ia duduk di pinggiran tempat tidur, dan membiarkan istrinya itu mengoleskan salep pada punggungnya yang tergores.
" Apa yang membuatmu tidak senang?" tanya Damar melihat wajah Kinanti cemberut, bahkan sejak tadi perempuan itu menggerutu.
" Mas untuk apa membeli mobil semahal itu?" akhirnya Kinanti bertanya,
" Eh, siapa bilang mahal?" Damar menoleh ke arah istrinya itu.
" Jangan bohong, aku sudah tau berapa harganya.. ngerinya melihat suamiku membeli mobil semahal itu?"
Damar tersenyum,
" Jadi kau tidak suka sayang?" ucap Damar sembari menghela tangan istrinya lembut.
" Aku lebih suka mas membeli mobil yang biasa biasa saja, asal tidak mogok dan bisa jalan itu sudah cukup..?"
" ku kira mas berbeda dengan para saudara mas,
ku kira suamiku bukan tipe yang akan membeli sesuatu yang berlebihan seperti itu..
aku seperti tidak mengenalmu mas.."
mendengar ucapan Kinanti Damar menghela nafas.
" Aku membelinya karena dirimu.. tidak sadarkan kau itu?" Damar berbalik dan menarik tubuh istrinya,
mendudukkan istrinya itu di pangkuannya.
" Kenapa aku yang di jadikan alasan dirimu seboros itu?, apa kata ibumu nanti? menikah denganku malah foya foya, dia pasti semakin berpikir buruk padaku yang anak orang tak punya apa apa ini??"
" Kau berpikir terlalu banyak sayang..
ku kira kau akan senang, tapi malah ngomel seperti ini.." Damar mencium pipi Kinanti.
" Aku tau itu uangmu, aku tidak berhak mengatur apa yang ingin mas beli, tapi..?"
" Hei.. itu juga uangmu.., aku bekerja sejak muda hanya untukmu..
itu sebelum kita menjadi suami istri, apalagi sekarang..
kau sudah menjadi istriku,
semuanya tentu saja milikmu.." ucap Damar lembut.
" Kau nyonya besar disini.. jadi jangan mudah terprovokasi ibuku atau orang lain..
aku tidak haus hormat, tapi aku bisa menunjukkan kuasaku ketika ada seseorang yang mengusikmu..
__ADS_1
kau tau kenapa aku bekerja keras selama ini?
karena aku ingin anak cucu kita nanti terjamin hidupnya.."
mendengar kalimat kalimat yang keluar dari bibir suaminya itu Kinanti luluh seketika.
" Betapa beruntungnya, aku menikahi seorang laki laki yang sangat bertanggung jawab.." batin Kinanti sembari melingkarkan tangannya ke pinggang Damar, lalu menyandarkan kepalanya di dada yang kokoh itu.
" Kenapa? sudah tidak ingin mengomel lagi?" tanya Damar tersenyum, ia mencubit ujung hidung Kinanti.
" Besok besok.. ngomong dulu ya kalau mau beli apa apa.." ucap Kinanti lirih.
" Iya.. maaf, aku tidak bicara dulu denganmu.. aku salah ya..
aku bersedia di hukum.." Damar mengecup bibir Kinanti.
" Hukuman macam apa yang mas bicarakan?"
" Apa sajalah.. kau boleh mengigitku disini, atau disini..
atau dimanapun kau mau.." suara Damar lirih.
" Itu bukan hukuman namanya..?"
" tidak mau?"
" tentu tidak, mana ada hukuman yang membuatmu semakin senang seperti itu mas?!"
Damar tertawa,
" kau membuatku gemas, rasanya seperti memeluk anak anak.." Damar tertawa,
di peluknya tubuh Kinanti lebih erat.
" Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Damar tiba tiba,
" Apa itu?"
" apa Yoga pernah berkata tentang sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan padamu?" suara Damar lembur namun serius.
Deg..
Kinanti terhenyak, tubuhnya kaku seketika.
" Sayang?" tanya Damar lagi karena tidak mendapat jawaban.
" Tidak seharusnya bagaimana mas?" tanya Kinanti bingung,
" Yah... sesuatu yang membuatmu tidak nyaman mungkin?"
Kinanti berpikir sejenak, ia tak mungkin merusak persaudaraan antara Yoga Dan Damar.
Hatinya benar benar di liputi kebimbangan, saat ini jujur atau tidak semuanya mempunyai resiko kemarahan dari Damar.
Kinanti takut, sikap Damar akan berubah jika ia tau yang sesungguhnya.
" Tidak mas.. dia sopan sopan saja padaku.." jawab Kinanti pelan, ia menyembunyikan wajahnya di dada Damar, sehingga Damar tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
" Benar?" tanya Damar,
Kinanti mengangguk,
Damar sesungguhnya belum puas dengan jawaban Kinanti,
tapi ia tak mau merusak suasana.
Di helanya wajah istrinya itu, dan menciumnya perlahan.
" Aku suamimu.. aku akan selalu melindungi dan membelamu..
percayalah..
__ADS_1
karena itu, jangan pernah menyembunyikan apapun dariku.. kau mengerti sayang?" ucap Damar di sela sela ciumannya.
Dan sebelum istrinya itu menjawab, Damar sudah membaringkan tubuh Kinanti di atas tempat tidur.