
Yoga melepas blangkon dan kerisnya,
" Lho lho? masih banyak keluarga dan temanmu? ape nangdi tho Yog?! ( mau kemana Yog?!)" tanya Yudi saat melihat Yoga buru buru berjalan ke dalam rumah.
" Sudah berjam jam akad selesai? tapi mereka tidak pulang pulang..?" keluh Yoga.
Yudi tertawa melihat adik iparnya itu,
" Wes ojok mlebu kamar sek, sawangane..! ( jangan masuk kamar dulu, ga enak di lihat orang..!)" ujar Yudi sembari menarik lengan Yoga agar kembali ke teras dimana semua orang berkumpul.
" Aku mau lihat istriku sebentar mas??" rengek Yoga.
" Kau itu seperti laki laki yang belum pernah menikah saja?! nanti kalau sudah tidak ada orang?! kau tidak keluar kamar seminggupun tidak masalah..!" tegas Yudi terus menarik lengan Yoga, membuat Yoga mau tak mau mengikuti langkah Yudi.
" La? sejak pulang aku tidak melihatmu??" tanya Dinda memeluk Kaila.
" Aku sibuk mengurus kuliahku mbak..
maaf, aku tidak datang kesini untuk membantu apapun.." ujar Kaila duduk disamping Dinda.
" Tidak apa apa.. bagaimana? sudah sehat? maafkan aku karena tidak bisa membantu apapun.." Dinda mengelus punggung Kaila.
Kaila mengulas senyum tipis dan mengangguk.
" Tidak apa apa mbak.. aku mengerti.." ujar Kaila.
" Ku dengar tanggal pernikahanmu sudah di tentukan ya?"
Kaila mengangguk,
" Baguslah.. lalu dimana Yusuf?"
" dia di depan, kebetulan kami tidak bisa lama mbak.."
" kenapa? jangan menjaga jarak denganku begini, bukankah kita sekarang keluarga??" Dinda heran dengan sikap Kaila yang seperti menjaga jarak.
" Kami tidak begitu di terima disini, kasihan Yusuf jika lama lama sendirian di luar.."
Dinda bangkit,
" ayo kita ke Yusuf.. aku ingin berbincang dengannya.." kata Dinda,
" tapi..?" Kaila ragu,
" tapi apa? kau masih cemburu denganku?? aku memang pernah pacaran dengannya, tapi hanya sebentar? dan tak tersisa perasaan apapun diantara kami La??" jelas Dinda.
" Aku tau mbak.. tapi bukan itu,"
" Lalu??"
" Aku takut mas Damar.."
Dinda menghela nafas mendengar itu,
__ADS_1
" sudahlah.. ini hari pernikahanku.. aku ingin berbincang dengan kalian.." Dinda mengangkat jariknya sedikit, dan berjalan keluar kamar dengan Kaila.
" Selamat lho pak.." ucap salah satu rekan kerjanya yang terlambat datang.
" Mana mempelai perempuannya ini?" tanya rekan kerjanya penasaran.
" Sepertinya di dalam.." jawab Yoga,
" Lha kok tidak di kenalkan, kita juga mau lihat seberapa cantiknya istri dokter kita satu ini.."
Yoga tersenyum, tapi di balik senyumnya ada rasa kurang nyaman.
" Kesini cari aku atau istriku? sudah ngobrol denganku saja.." ujar Yoga cepat.
" Wah wah.. posesif sekali bapak ini..?!" teman temannya tertawa.
" Lho? bukannya itu pengantin perempuan ya?" tunjuk salah satu perawat di tempat Yoga.
" Itu istrinya kan dok?" lanjut si perawat bertanya, membuat Yoga langsung melihat kearah yang di tunjukkan oleh si perawat.
Mata Yoga menemukan sosok Dinda yang masih di lengkap dengan sanggul dan kebayanya, masih cantik, lipstiknya masih merah, ia begitu segar dan seksi meski sudah berjam jam lelah berbincang dengan seluruh keluarga.
" Ah.. kenapa kebaya itu sempit sekali, lekuk pinggulnya jadi menonjol sekali.." ujar Yoga dalam hati, ia tidak suka lekuk tubuh yang indah itu di pandang oleh mata orang lain.
" Wah.. joss dokter Yoga ya? istrinya cantik dan molek begitu.. pantas maunya cepat cepat saja.." goda salah satu dokter senior pelan di samping Yoga.
Yoga hanya tersenyum seadanya dan mengangguk.
" Wah.. kami di kenalkan dong dok.. istri cantik begitu kok tidak di kenalkan pada kami..?" ujar salah satu dokter yang juga bertugas di kliniknya.
" Biar saya panggil dulu.." Yoga yang merasa sungkan akhirnya bangkit dan berjalan ke arah Dinda yang sedang duduk dan berbincang santai dengan Yusuf.
Senyum Dinda begitu lebar dan ceria saat berbincang dengan Yusuf, itu membuatnya kesal, karena sejak kemarin tak ada kehangatan yang Dinda sampaikan padanya.
" Bisa bisanya, di kira di kamar?" suara Yoga mengagetkan Dinda.
" Tadi di kamar, tapi aku ikut Kaila keluar.." jawab Dinda tenang.
" Lalu Kaila dimana? kenapa kau disini dengan Yusuf saja?" tanya Yoga sedikit masam, Yusuf yang menyadari itu hanya tersenyum saja, ia tak menyangka Yoga masih menyimpan kecemburuan padanya dalam situasi yang seperti ini.
" Kaila pulang sebentar, ganti sandal.."
Yoga tak menjawab, tapi langsung meraih tangan Dinda.
" Mau kemana?" tanya Dinda heran tangannya di tarik.
" Itu, senior dan teman temanku, tidak pantas jika kau tidak menyapa mereka.." kata Yoga menunjuk dengan dagunya.
" Kesanalah Din, aku akan menunggu Kaila.." ujar Yusuf mengerti.
" Mbak, bukan Din..!" Yoga menegaskan,
" astaga.. hal semacam itu saja diributkan?" Dinda berdiri dan menatap Yoga dengan matanya yang lebar dan cantik itu.
__ADS_1
Menyadari Dinda yang sedekat itu Yoga menelan ludah, tiba tiba saja matanya langsung mengarah pada bibir merah yang tepat di hadapannya.
Ada yang berdesir di dadanya,
" jangan mendebatku, atau ku cium nanti di hadapan orang.." ujar Yoga menahan diri.
Yusuf yang mendengar itu secara tidak sengaja menahan senyumnya.
" Iya mbak.. sudah sana, ikut suamimu menyapa teman temannya.." Yusuf mengalah dan cukup mengerti situasi.
Yoga benar benar mirip singa yang waspada dan siap menerkam siapapun yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Dia benar benar menunjukkan rasa kepemilikannya yang tinggi pada setiap orang yang melirik istrinya.
Dinda melepas beskap Bagas dan menganti baju Bagas dengan yang lebih santai.
" Rewel?" tanya Damar,
" Sedikit mas, mungkin karena ribet dan banyak orang.." jawab Dinda yang masih berkebaya lengkap itu.
Semua tamu sudah pulang, namun masih banyak keluarga yang berbincang di ruang tamu.
" Orang orang sudah banyak yanga pulang, dan kalian sudah berfoto kan?" tanya Damar sembari menunggu Kinanti yang sedang di pamit ke kamar mandi.
" Sampun mas, ( sudah mas,)"
" Ya sudah, ganti saja, toh suamimu juga sudah acak acakan.. jariknya saja sudah kemana mana.."
" Iya mas.. nanti saya minta tolong Kinan membuka sanggul.."
" jangan Kinan, suamimu saja.. itukan tugasnya.." ujar Damar tertawa sembari melirik Yoga yang sedang berjalan mendekat, bawahan jariknya memang sudah acak acakan kesana dan kemari.
" Kenapa mas?" tanya Yoga ketika sudah disamping Damar.
" Tidak.. si Bagas rewel bajunya minta ganti.."
" Ah.. pandangan mas dari jauh tidak menyiratkan itu?"
" Oh.. kau faham juga, bantu istrimu ganti sana.. biar Bagas tidur denganku malam ini.." bisik Damar membuat telinga Yoga geli.
" Apa sih mas, seperti tidak ada besok saja.." bantah Yoga, padahal hatinya ingin sekarang.
" Hahahaha!!" Damar tertawa keras,
" Iya yahh.. masih banyak orang berkeliaran merapikan rumahmu.. ya masa kau tidak bisa menunggu.." ujar Damar sengaja menggoda Yoga sekarang, Yoga tak menjawab hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah lelah.
" Bagas, ayo sayang sama om.." ajak Damar setelah Bagas selesai berpakaian.
Bagas patuh, ia meraih tangan Damar dan berjalan mengikuti Damar keluar dari rumah.
Baru saja Yoga akan melangkah ke dalam kamar, tapi Yudi lagi lagi memanggilnya,
" Yog?! Yoga?! ini lho ada pak lek dari blitar sama bulek?!" suara Yudi nyaring saking kerasnya.
__ADS_1
Mendengar panggilan Yudi, Yoga dan Dinda saling bertukar pandang sembari menghela nafas.