Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Mengawasinya sejak SMA


__ADS_3

Yusuf berkendara dengan hati hati, ia sekalian mengantar Kinanti kembali ke kostnya.


Sejak tadi sepulang dari rumah Damar dia terus diam, tak cerewet seperti biasanya.


" Kenapa wajahmu mendung begitu? tidak rela pulang? ingin merawatnya?" suara Yusuf setengah menggoda.


" Mulutmu.. gatal ya tidak menggodaku?" Kinanti masam.


" Habisnya.. kau diam seribu bahasa begitu, wajahmu juga di tekuk..!" Ujar Yusuf sembari fokus menyetir.


" Aku kaget saja.." suara Kinanti pelan.


" Kaget kenapa?"


" ya kaget dengan kondisinya.. rasanya aku bingung sekaligus sedih.."


" bingung apa?"


" kurasa ada yang tidak beres.. dia bukan tukang kayu.." wajah Kinanti bimbang.


Yusuf tertawa,


" ada benarnya ucapannya.. tapi dia itu pemilik, bukan tukangnya..


disini adalah tempat ayah mengambil bahan baku mebel, dan kurasa aku pernah bertemu dengan laki laki itu beberapa kali, hanya saja aku lupa lupa ingat..


tapi setelah mendengar nama keluarganya di sebut tadi, aku sudah memastikan kalau dia adalah pemilik pabrik itu..


orangnya baik, pekerja keras..


kata Ayah dia tidak segan segan bekerja bersama para pekerja,


usaha ini sempat bangkrut dulu, ketika bapaknya masih hidup..


tapi ketika dia yang mengambil alih, semuanya mulai normal kembali dan berkembang dengan baik..


itu yang kudengar dari ayahku.." jelas Yusuf.


" kalau dia pemilik dari sebuah pabrik.. bukankah dia mampu membeli mobil yang bagus? lalu kenapa dia memakai mobil yang sedikit.. "


" Tua dan usang?" sahut Yusuf lagi lagi tertawa melihat Kinanti.


" Tidak semua laki laki suka menampakkan kekayaannya Nan..


aku justru suka dengan laki laki macam Damar, dia punya uang dan kuasa, namun tidak memperlihatkannya.."


" kau tau kan, aku trauma dengan status sosial..


aku di tinggalkan karena di anggap anak dari orang yang tidak punya banyak uang..


semakin aku tau dia banyak uang, semakin malas aku dekat dekat dengannya.." suara Kinanti resah.


" Dia berbeda.. tidakkah kau lihat?" tanya Yusuf.


Kinanti diam, entah apa yang ia pikirkan.


" Dia membiayai mu sejak Mas Aji meninggal..


jelaskan berapa tahun itu, lalu kenapa dia baru muncul di hadapanmu sekarang, saat ibu mulai sakit sakitan..?


ini hanya sudut pandangku lho ya sebagai laki laki..


entah salah entah benar, namun ini menurutku..


Dia sebenarnya sudah puas dengan melihatmu baik baik saja dari jauh, dia juga tidak ada niatan menampakkan diri..


tapi karena kegelisahan ibu, dan kondisi ibu..


dia akhirnya menampakkan dirinya karena ikut merasa cemas..


kau adalah tanggung jawabnya, sebelum kau menikah dia akan merasa wajib untuk terus menyokongmu..


jadi wajar saja kalau dia menyuruhmu menikah setiap kalian bertemu..


beban atas kematian mas mu seperti tali yang mengikat kakinya..


sebelum kau menikah langkahnya pasti masih berat.."


" Ya masa aku harus menikah hanya untuk meringankan bebannya?!"


" Bagaimana kalau saling meringankan beban.." lagi lagi kalimat ambigu dari Yusuf.


" Jangan membuat kalimat aneh..!"


" Ahahaha..! kau itu perduli tapi sok tidak perduli.." ejek Yusuf.


" Siapa yang tidak perduli kalau di begitu? membiayai ku seenaknya, tiba tiba datang mengantar jemputku, membuatku terbiasa, lalu sekarang dia sakit.. aku ini manusia.. tidak mungkin tidak perduli.. Suf..?!" jelas Kinanti kesal.


" Andai kau lihat wajahnya yang pucat itu, sedihnya aku.. sosok yang kuat dan terkadang acuh itu berubah lemah sekali.. dan.. " Kinanti terdiam.


" Dan apa?"


" mbahnya itu, aku jadi ingat buyutku dulu.. dia bilang kalau Damar sakit, atau gelisah, Damar selalu tidur disitu..

__ADS_1


bahkan kadang tidur di dapur di atas kursi beralas tikar yang tadi ku duduki..


entah kenapa ada perasaan sedih yang menyusup di hatiku Suf..


aku merasakan dia kesepian sekali, rumah sebesar itu dia tinggalkan, lalu tinggal di kamar mbah yang sederhana itu.." Wajah Kinanti benar benar seperti bunga yang tidak di sirami beberapa hari.


" Rumah mbah itu juga bukan rumah sembarangan, meski setengahnya dari kayu, tapi kau lihat kayunya ukiran jati.. mana ada sekarang rumah yang seperti itu.."


" iya.. dia juga lebih suka masak dengan kayu meskipun kulihat ada kompor dan penanak nasi listrik.."


" nah.. itu kelebihan perempuan jaman dulu..


kukira mbah mendidik Damar dengan baik, sehingga dia tumbuh menjadi laki laki yang sederhana dan tidak banyak tingkah.."


Kinanti diam mendengarnya, karena bimbang ia membuang pandangannya keluar jendela, mengawasi jalanan yang sudah gelap.


" Kenapa sih kau tidak mau menikah dengannya?" tanya Yusuf kemudian.


Kinanti menghela nafas,


" Ya masa aku menikah dengan laki laki yang hanya ingin menepati janjinya pada kakakku? jadi seperti apa pernikahan kami nanti..?


meskipun tidak cinta, setidaknya ada rasa sayang sebagai pondasi untuk tidak saling menyakiti kelak.." jelas Kinanti.


" Ya kau katakan itu kepadanya.."


" katakan apa? apa kau tau dia gencar menyuruhku menikah dengan laki laki lain.." gerutu Kinanti.


" Oh.. jadi kau marah karena dia menyuruhmu menikah dengan laki laki lain dan bukan dengan dirinya??" goda Yusuf lagi.


" Kau itu Suf?!, tentu saja tidak! aku hanya heran.. kok ada laki laki semacam dia.."


" kok tidak tertarik kepadamu begitu maksud nya? sudahlah Nan.. ikuti kata hati saja, jangan di lawan.. nanti kau menyesal..


perkara masa lalu, jangan kau ingat ingat.." nasehat Yusuf agar Kinanti melupakan pengkhianatan mantan kekasihnya.


" Mana bisa? bertahun tahun aku menangisinya.. sampai sekarangpun aku tidak bisa memaafkannya yang meninggalkan aku begitu saja seperti sampah.." Kinanti mengingat hubungannya yang lalu.


" Dia meninggalkanku dengan alasan aku kurang bisa menyenangkannya dan status keluargaku biasa biasa saja.."


" eh! bagaimana dengan Haikal?"


" pria berseragam ya?" Kinanti tidak berkenan sepertinya.


" Yah.. cobalah bertemu, siapa tau cocok karena teman lama.."


" hemmm.. kau jadi mak comblang sekarang?"


" tidak masalah.. kau bahagia aku juga bahagia.. apapun ku usahakan untukmu.." Yusuf tersenyum lebar menjengkelkan.


kau yang tidak pernah di khianati tidak akan tau bagaimana rasanya.."


Yusuf terdiam mendengar kata kata Kinanti,


" Seandainya ibu sehat sehat saja.. aku tidak akan menurutinya untuk bertemu Damar,


Rasanya dadaku kadang sesak memikirkannya..


biaya yang dia berikan tidak sedikit, itu seperti beban untukku..


apalagi setelah aku tau dia orang mampu..


rasanya aku ingin lari menjauh darinya.." ujar Kinanti masih membuang pandangannya keluar kaca jendela mobil Yusuf.


Yusuf menghela nafas,


" Kau akan dapat laki laki baik.. percayalah padaku.. jadi tenangkan hatimu.." Yusuf membelai kepala Kinanti dengan lembut, seakan dia mengerti kegelisahan apa yang sedang rasakan saudaranya itu.


Winda membantu Damar mengambilkan minun,


tiba tiba laki laki itu tampak lebih baik..


wajahnya tidak sepucat tadi.


" Hemm.. sekarang katakan padaku, tentang Kinanti itu?" tanya Winda dengan pandangan selidik.


" Hanya teman saja.." jawab Damar mengalihkan pandangannya,


" Teman? perempuan? datang kesini? menyuapi mu? dan kau makan lahap sekali? kau kira mbak mu ini bodoh??" Winda melotot.


Damar mengulas senyum lemah.


" Katakan dia siapa? sudah kenal berapa lama?, jangan jangan yang kau temui setiap jumat malam dan minggu malam?" tanya Winda menebak nebak.


" iya mbak.. aku mengantarnya kembali ke kost beberapa bulan ini.." Damar mengangguk,


Sementara Winda terhenyak saking terkejutnya.


Mengantar ke kost.. heran Winda dalam hati, sementara setau dia, Damar sering putus dengan wanita dan hanya bertahan sebulan dua bulan saja karena saking acuhnya, jangankan mengantar, menemui pacarnya saja ia jarang dengan alasan sibuk, lalu sekarang bagaimana bisa ia mengantar jemput perempuan itu dengan mudah?.


" Kenal berapa lama?" Winda benar benar seperti polisi yang berhadapan dengan tersangka sekarang.


" Aku ini sakit mbak.." ujar Damar capek ditanya.

__ADS_1


" Jangan alasan, kau sudah makan sepiring rawon, wajahmu juga tidak sepucat tadi, jadi jawab pertanyaanku?!"


mendengar itu Damar hanya bisa menghela nafas.


" Aku sudah mengenalnya sejak dia SMA, tapi kami baru bertemu beberapa bulan ini.." jawab Damar,


" aku yang mengawasinya sejak SMA.. diam diam, tanpa sepengetahuannya.." lanjutnya,


" seperti om om mesum? menyeramkan?!" komentar Winda.


" Huss.. tega sekali mbak mengatakan hal seperti itu? aku mengawasinya pun sudah mendapat ijin dari ibunya saat itu.."


" Bagaimana ibunya mengijinkan anaknya di awasi pria asing? apa karena mereka tau kau anak orang mampu?" Winda penuh kecurigaan.


Damar diam sejenak, seperti menata perasaannya.


" Aku bukan orang asing untuk orang tuanya.. karena mereka orang tua Aji.."


Deg..


Winda membisu, ada keterkejutan yang merayap di hatinya, raut wajahnya yang curiga itu berubah seketika, dengan sedikit ragu ia bertanya.


" Dia anak yang kau biayai selama ini?"


Damar mengangguk pelan.


" Mereka tidak tau tentang keluargaku mbak.. karena saat aku berteman dengan Aji aku adalah seorang pemuda susah yang hidup di luar rumah..


di akhir bulan aku sering di ajak makan dirumah Aji, bahkan sering meminjam uang Aji..


rasanya tidak mungkin mereka memandangku karena aku anak seorang pemilik pabrik dan punya aset ini itu mbak dulu..


karena mereka taunya aku anak yang di telantarkan orang tua karena bapakku menikah lagi.."


" lalu bagaimana dia kesini?"


" itu aku yang menelfon ibu.. aku bilang tidak bisa mengantar Kinanti karena sakit, dan aku pernah meninggalkan alamatku jika ada sesuatu hal yang mendesak dan aku tidak bisa di hubungi..


itu pun ibu baru baru ini tau, saat dia ngotot tidak mau menerima uang ku lagi..


dia takut hidupku semakin sulit karena membiayai Kinanti terus..


dia mau aku menghentikan segala bantuan ku karena Kinanti sudah lulus dan sudah bekerja sendiri..


dengan terpaksa aku memberi tahu tentang diriku..


Selain itu.. aku juga memberitahukan pada ibu tentang jati diriku karena aku mempunyai niatan untuk menikahi Kinanti beberapa bulan yang lalu.."


Winda semakin tercengang, adiknya yang seperri tidak mau menikah ini..


ternyata ada keinginan untuk menikahi seorang wanita.. itu seperti angin segar untuk Winda.


" Lalu kenapa tak kau laksanakan saja?" tanya Winda kemudian.


" Aku sudah meminta ibu untuk bertanya pada Kinanti, bahkan aku meminta ibu berbohong kalau ibu yang mengajukan pernikahan padaku agar dia tidak merasa terbebani jika memang tidak menyukaiku.."


" Lalu?"


" Dia pernah sakit hati.. minat menikahnya pun seperti tidak ada..


tapi ada laki laki yang gencar mendekatinya, kulihat dia laki laki yang baik..


aku bersedia mengalah jika Kinanti merasa cocok dengannya..


aku bahkan berjanji akan membiayai pernikahannya.." ujar Damar dengan suara berat, terlihat sekali ia menekan perasaannya.


" Dasar bodoh..!" Winda memukul lengan adiknya yang masih sakit itu dengan keras.


" Mengawasinya sejak SMA, membiayainya, dan dengan senang hati mau membiarkan orang lain yang memetiknya setelah dia dewasa dan matang, pikiranmu dimana Adamar?!" Winda gemas sekali,


" Itu bukan mengalah, tapi bodoh..! dirumah kau sudah mengalah pada ibu tirimu, di luar kau masih mau mengalah lagi?!" seru Winda.


" Aku tidak mau memaksanya mbak.. mengawasinya dari jauh dan melihatnya bahagia saja cukup..


mengutarakan perasaanku hanya akan membuatnya menjauhiku..


apalagi janjiku pada Aji seperti tali yang mengikat leherku..


Aku juga punya ketakutan dia di sia siakan laki laki lain..


banyak hal yang berputar putar di kepalaku mbak.. antara bisa membahagiakannya atau justru bisa menyakitinya.." Damar tertunduk.


" Aduhh...! punya adik laki laki, satunya agresif pada cinta, satunya tidak peka dan pasif! apa harus aku yang turun tangan agar semua berjalan baik?!" Winda yang cerewet itu benar benar gemas pada Damar.


" Eh.. ono opo tho yo?? adikmu ini sakit.. malah mbok omeli..??" si mbah masuk ke kamar yang di tempati Damar, karena sejak tadi ia mendengar suara Winda yang tinggi.


" Iki mbah! di kandani putune.. sembarang sembarang kok ngalah..?! gemes Winda mbah..?!" seru Winda,


si mbah tersenyum melihat kedua cucunya itu.


si mbah tidak kaget, cara bicara Winda memang ceplas ceplos.. namun hatinya baik.


Orang yang tidak faham pasti mengiranya jahat atau tukang memarahi orang.

__ADS_1


" le.. iku mau sopo..?" tanya si mbah juga ingin tau, ia duduk perlahan disamping Damar.


Damar yang merasa terjepit hanya bisa memegang dadanya sembari menghela nafas.


__ADS_2