
Yoga yang sudah selesai mandi kembali masuk ke dalam kamar hanya dengan handuk yang menutupi tubuhnya.
" Tidak ada baju untukku?" tanya Yoga membangunkan Dinda yang rupanya baru saja terlelap.
Dinda membuka matanya dan duduk, mengembalikan kesadarannya.
" Maaf membangunkanmu, tapi kau tau kan aku tidak bisa tidur dengan baju yang tidak bersih..?"
" iya, sudah kusiapkan.. tapi mungkin sedikit kekecilan.." Dinda mengambil satu celana pendek dan kaos oblong.
" Bajumu sayang?" tanya Yoga,
" tentu saja, mau kupinjamkan baju bapak?,
tapi bapak masih belum pulang kan?"
" tidak usah, ini saja muat.."
Yoga memakai celana pendek istrinya, untung saja selera Dinda tidak terlalu feminim dan ada karet di bagian pinggangnya, itu membuat Yoga tidak terlalu malu untuk memakainya.
" Sedikit sempit.." gumam Yoga saat memakai kaos putih yang di berikan Dinda,
di bagian lengan terlihat ketat, begitu juga bagian bahu.
Tentu saja, meski tak sebesar otot Damar,
bagian bahu dan dadanya juga lumayan berisi.
Dinda tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa, namun di tahannya kemudian.
" Nah.. menertawakanku.." tau di tertawakan Yoga berniat membuka kembali kaos itu.
" Eh, jangan di buka?" ujar Dinda,
" pasti lucu, malas ah.." keluh Yoga,
" jangan, dari pada masuk angin.. disini dingin,
toh yang melihat juga aku saja.." ujar Dinda.
Yoga diam, di pandangnya Dinda,
" ya sudah.." jawabnya lalu naik ke atas tempat tidur.
" Kau di sebelah sana saja Din, sebelah tembok.." Yoga membiarkan istrinya tidur di sebelah dinding.
" Aku takut kau jatuh kalau di samping sebelah sini.." Yoga merebahkan dirinya dengan hati hati karena tempat tidur itu kecil.
" Sini.." Yoga memberikan lengannya sebagai bantal.
" Tidak usah nanti tanganmu kram,"
" halah.. sini thoo.." Yoga menarik Istrinya agar mendekat dan merebahkan kepalanya di lengan Yoga.
" Hangat?" tanya Yoga sembari mendekap Dinda.
" Jangan dekat dekat ke dinding, dingin.." Yoga mengecupi pipi Dinda.
Dinda terdiam,
memang hangat..
keluh Dinda dalam hati,
tapi sehangat apapun Yoga tidak akan menyentuhnya dengan alasan kesehatan,
sama seperti kemarin kemarin,
Dinda sadar diri dan tidak berharap banyak.
Meski dalam hatinya juga bertanya tanya,
sesungguhnya dirinya ini sakit apa..
kenapa Yoga sebegitu khawatirnya,
dan banyak orang mengatakan tubuhnya makin menyusut.
Benar..
nafsu makannya hilang, banyak makanan yang tiba tiba saja tidak sesuai dengan lidahnya.
Bahkan beberapa makanan terlihat begitu menjijikkan untuknya.
Belum lagi lemas dan pusing yang sering ia derita.
" Huuhh..." tak sadar Dinda mengeluh, dan Yoga mendengarnya meski mata Yoga sudah terpejam.
" Kenapa? tidak nyaman? ada yang sakit??" kepala Yoga terangkat.
" Tidak.." jawab Dinda pelan,
" Sesak? apa aku tidur di kursi depan saja??" Yoga akan bangkit tapi Dinda mencegahnya dengan menyentuh lengan Yoga yang melingkari perutnya.
__ADS_1
" Jangan.. disini saja.." Dinda berbalik dan menatap suaminya.
" Atau kau yang tidak nyaman..?" tanya Dinda kemudian, suaranya begitu lembut.
" tentu saja... tidak.." jawab Yoga tiba tiba merasa berbeda.
Dinda yang tak sadar suaminya itu merasakan hal yang lain,
malah membenamkan wajahnya ke dada Yoga.
" Din.." panggil Yoga dengan perasaan yang sudah berdesir tak karuan, apalagi nafas Dinda yang hangat menyentuh dada Yoga.
" Sayang..." panggil Yoga lagi, tapi tetap tak mendapat jawaban.
Yoga mengigit bibirnya sembari memejamkan matanya.
" Huuuft..." ia membuang nafas berkali kali,
namun.. di saat ia sedang susah payah menahan dirinya,
tangan Dinda malah bergerak menyentuh perutnya.
" Aduhh Din.. mau mati rasanya kalau begini.." bisik Yoga membuat Dinda membuka kembali matanya.
Perempuan itu terlihat bingung dengan kata kata suaminya,
" Aku minta maaf...??" ucap Yoga tiba tiba lalu mencium bibir Dinda.
" Aku akan hati hati dan pelan pelan.. "
ujar Yoga dengan suara parau di tengah tengah ciumannya.
Ia sudah tidak sanggup menahan diri,
entah sudah berapa minggu dia berusaha untuk teguh,
tapi hari ini keteguhannya luruh hanya karena sentuhan Dinda yang sederhana itu.
Atau mungkin..
ranjang yang sempit ini juga berpengaruh,
tempat mungil dan sederhana ini sungguh luar biasa bisa membuat kemesraan diantara keduanya timbul begitu saja.
Kamar yang dindingnya berwarna putih dan di penuhi foto masa muda Dinda itu menjadi saksi untuk pertama kalinya,
setelah keduanya begitu lama menikah.
yang meskipun kasih sayang itu tak terucapkan.. namun ia mengikat Yoga begitu kuat.
Yoga membuka matanya,
menyadarkan dirinya dari perasaan hebatnya semalam.
Di kerjap kerjapkan matanya, mengatur sisa kehangatan Dinda yang masih begitu lekat.
Entah kenapa.. dirinya seperti kembali pada malam pertama mereka dua tahun lalu.
Semalam..
menyadari bahwa ada benihnya yang berkembang dalam perut Dinda membuat dirinya sedikit canggung dan sangat berhati hati,
Dadanya berdesir dengan begitu luar biasa.
Yoga mengeluh berkali kali, di sadarkan kembali dirinya lalu bangkit,
kemudian duduk disamping tempat tidur.
Matanya melirik jam dinding,
oh.. tidak, ini sudah cukup siang..
Bisa bisanya dia bangun sesiang ini dirumah mertuanya, ia mengeluh pada dirinya sendiri.
" Mandi, lalu makan.." terdengar suara Dinda,
perempuan yang sudah terlihat cantik itu masuk ke dalam kamar,
rambutnya masih basah dan bibirnya tampak merah alami, lebih merah dari biasanya.
Yoga buru buru bangkit dan segera menghampiri Dinda,
" Bagaimana tubuhmu? apa ada yang terasa nyeri??" tanya laki laki itu cepat,
" tidak.." jawab Dinda ringan,
" ada rasa mulas?? atau lainnya??" tanya Yoga lagi masih khawatir,
Adinda menggeleng pelan,
" vitamin? kau bawa?"
" ku bawa, setelah makan ku minum.." jawab Dinda,
__ADS_1
" Baguslah.." ujar Yoga sedikit tenang.
" Aku ini sakit apa? kalau kau tidak mau memberitahuku yang sebenarnya, aku akan periksa sendiri kerumah sakit?" tanya Dinda curiga dengan gerak gerik suaminya.
Apalagi melihat perlakuan Yoga yang sangat berhati hati dan lembut sekali semalam,
kekhawatiran juga terbaca setiap Dinda bersuara, sekecil apapun suara yang Dinda buat.
Yoga tak menjawab, tapi tangannya langsung terulur memeluk istrinya.
" Kau hanya sedikit kurang sehat.. dengan istirahat, rutin minum vitamin dan juga makan makanan sehat kau akan segera membaik..
sabarlah.. sebentar lagi.." ujar Yoga dengan suara yang sedikit bergetar.
" Kau harus percaya padaku.. tidak ada penyakit aneh yang menyerangmu.. jadi tenangkan dirimu..
aku begini karena ingin kau benar benar sehat dan lebih bugar saja.." imbuh Yoga masih memeluk istrinya dengan erat.
Yoga dengan bapak bapak yang lainnya duduk duduk saja di depan rumah sembari berbincang santai.
Sementara Dinda sedari tadi bersliweran di depan Yoga sembari membawa makanan dan kue untuk di bagikan ke tetangga sekitar.
Yoga yang melihatnya tak tenang, karena tidak sekali dua kali Dinda lewat, namun berkali kali.
" Pak..?" Yoga mendekati mertuanya,
" apa boleh kalau istri saya di minta duduk saja?"
" kenapa lee??"
" saya takut dia kelelahan dan jatuh sakit lagi seperti kemarin kemarin pak.." ujar Yoga,
" owalahh iya lee.. biar bapak bicara pada ibukmu.."
si bapak bangkit dan mencari istrinya.
" Buk.. Dinda ojok di kongkon wira wiri.." ujar si bapak pada istrinya.
Siang harinya Yoga dan Dinda kembali,
keduanya tidak mengikuti acara sampai selesai karena Yoga harus bekerja siang ini.
" Bagas dari tadi telfon.." ujar Dinda sembari membuka jendela dan mengeluarkn sedikit kepalanya untuk melihat bunga bunga rumput disamping jalan yang ia dan Yoga lewati.
" Tentu saja, dia mencari ibunya.."
mendengar itu Dinda terdiam,
" Kelak ketika dewasa dia akan memahami apa yang sedang terjadi sekarang..
jadi jangan terlalu banyak berpikir..
aku ingin kau sehat.. dengar?" ujar Yoga lagi, ia melirik Dinda yang diam sembari menikmati angin itu.
" Hei.. sayang.." Yoga membelai rambut Dinda dengan satu tangannya, lalu kembali fokus pada jalan raya.
" Ada yang ingin kau beli atau makan?" tanya Yoga dengan wajah cerah.
" Aku ingin kerumah Kinan.."
" sekarang?"
" pulang dulu, ganti baju.."
" tidak lelah??"
Dinda menggeleng,
" Mau apa ke mbakyu? mengadu?" goda Yoga.
" Kau merasa berbuat salah sehingga barus ku adukan??" tanya Dinda,
Yoga tertawa,
" aku kan sudah pelan pelan semalam.." jawab Yoga dengan wajah sumringah,
" aku tidak membahas itu.." jawab Dinda menghela nafas.
" sudahlah... mau mangga di samping gudang mas Damar," ujar Dinda membuat Yoga menoleh,
" Mangga? kan bisa cari di pasar atau supermarket?" sahut Yoga.
" Mau yang dari pohonnya, yang masih ada daunnya.."
" owalah Din... jangan bilang harus di panjat olehku?"
" bukan.. biar mas Damar yang panjat," jawab Dinda,
" mas Damar? kok mas Damar? jangan merepotkan mas Damar Din??,
sudah biar aku saja, pakai tangga tapi ya? kan pohonnya tinggi..?" dahi Yoga berkerut membayangkan pohon mangga yang tinggi itu.
" Kepingin lihat mas Damar manjat pohon.." ujar Dinda lagi dengan wajah serius.
__ADS_1