Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kita mulai dari awal..


__ADS_3

" Aku sudah bilang lekas pulang, lekas pulang! sepertinya hanya aku saja yang mencintaimu?! sementara kau tidak!, pernikahan kita menghitung hari, tapi kau masih santai santai saja disana, apa memang kau tidak ingin kembali dan menikah denganku?!!" itu kalimat Yoga ketika menelfon Dinda beberapa jam yang lalu.


Laki laki itu terdengar marah, ia bahkan menutup panggilannya begitu saja tanpa mendengar jawaban dari Dinda.


Dinda yang memang sudah bersiap siap untuk pulang keesokan hari jadi heran,


" Kenapa sih..?" gumam Dinda sedikit kesal.


Dirinya memang tidak bisa menepati janji, bahwa akan segera pulang, tapi bukan berarti ia tak akan pulang.


Dinda yang di beri informasi bahwa kebaya dari penjahit sudah selesai, dan tak akan ada pesta tentu saja merasa santai.


Ia ingin menghabiskan waktu yang sedikit lama, karena kemungkinan ia akan sulit untuk kembali melihat kota bandung di kemudian hari.


" Aku besok pulang.. jaga dirimu baik baik ya..?" Dinda menyerahkan sebuah kotak berwana hitam pada Alvian,


keduanya sedang duduk di ruang tamu rumah Alvian.


Alvian mengambilnya dengan enggan,


" Kau ini..." gumam Alvian dengan mata berkaca kaca.


" Aku benci di tinggalkan seperti ini.." laki laki itu menutupi wajahnya dengan satu tangannya, tak ingin Dinda melihat betapa pilu dan kecewa hatinya.


" Bukan barang mahal.. tapi kujamin tidak akan mudah rusak.. mau ku pakaikan?" kata Dinda saat Alvian sudah membuka jam pemberiannya.


Jam berwarna hitam, yang Dinda rasa akan cocok sekali di pakai oleh Alvian.


Namun Alvian bukannya senang melihat jam itu, hatinya justru sakit sekali.


" Aku tidak mau, aku tidak mau.." ujar alvian melepaskan tangannya dari wajahnya dan menatap Dinda dengan sayu.


" Kau sengaja?" tanya Alvian,


" sengaja?"


" yah, kau sengaja melakukan ini, kau ingin hatiku sakit setiap melihat barang pemberianmu?


kau bahkan mau memakaikannya di tanganku,


kau ini sadar tidak, sadar tidak?


aku ini laki laki yang punya perasaan padamu..


bisa bisanya kau bersikap seperti ini lalu meninggalkanku begitu saja??"


Dinda tertegun,


tak ada maksud dirinya ingin membuat Alvian terus mengingatnya dan menderita.


Ia hanya ingin memberi sebuah kenang kenangan, hadiah kecil.. karena selama ini Alvian sudah bersikap baik dan menjaganya dengan tulus.


" Aku... aku sungguh tak ada maksud untuk itu.." Dinda membuka suara, suaranya terdengar kikuk kali ini.


" Maafkan aku Alvian.. jika aku tanpa sengaja membuat hatimu sakit kembali..


bukankan kita sudah berjanji untuk bertindak sewajarnya..


karena pembicaraan dan sikap semacam ini hanya akan membebani diri kita masing masing.." lanjut Dinda mencoba memberi pengertian kembali.


" Jangan kembali, jangan menikah dengan laki laki itu.." Alvian benar benar memohon sekarang.


Yoga keluar dari mobilnya, membawa kantong plastik besar di kedua tangannya.


" Ini pesanan mbak.." Yoga menaruh kantong kantong plastik itu di dapur rumahnya, disana ada Winda, Kinanti, si mbak dan yuk yang sedang sibuk mengelap piring piring besar dan mengatur kue.


Hari ini Winda mengundang beberapa orang untuk mengaji dirumah Yoga.


Dulu sebelum Damar menikah Winda juga menyuruh beberapa orang untuk mengaji, sama seperti hari ini.


Itu adalah hal yang biasa di lakukan orang orang di kampung untuk mengawali hari yang baik, seperti hari kelahiran, dan hari pernikahan.


" Dinda berangkat kapan katanya?" tanya Kinanti pada Yoga, laki laki itu tampak kusut.


" Tidak tau, tanyalah sendiri, kau kan punya nomornya." jawab Yoga datar.


" Lho? kok jawabanmu begitu?" tanya Kinanti heran, ia dan Winda berpandangan.


" Jangan neko neko kau ya Yog??!" pelotot Winda.


" Neko neko opo?, kok aku yang di bilang neko neko?" sahut Yoga masih datar.


" Jawabanmu iku lee, ga enak di dengar?! mana ada orang yang dua hari lagi mau menikah berkata seperti itu?!"

__ADS_1


protes Winda.


" Ya mbak tanya juga pada calon istriku, niat tidak menikah kok sampai hari ini belum pulang juga?


pokoknya kalau nanti malam dia tidak datang juga,


batalkan saja." Sorot mata Yoga terlihat kesal kali ini,


" Batalkan? enak sekali kau bicara Yog??" sekarang Kinanti yang protes.


" Kendalikan pikiranmu itu, aku tau kau marah karena Dinda tak kunjung pulang, tapi bukan berarti kau bisa dengan mudahnya memutuskan sesuatu?!" lanjut Kinanti.


" Dia pasti belum ikhlas melepaskan laki laki bernama Alvian itu kan?


itu sebabnya dia berlama lama disana." ujar Yoga membuang muka.


Winda dan Kinanti beradu pandang sejenak lalu tersenyum.


" Kau masih saja cemburu pada laki laki lain?


sementara Dinda sudah memilih untuk menikah denganmu?" tanya Kinanti menahan senyumnya.


" Mbakyu mana tau rasanya.." jawab Yoga bergumam kesal.


" Rasanya apa?"


" rasanya dianggap tidak begitu penting, bahkan hari pernikahan sudah sedekat ini dia belum pulang,


apa sih hal yang memberatkan disana? semua urusannya sudah selesai?


apalagi kalau tidak berlama lama dengan si tetangga bujangan itu?!"


Setelah mengatakan itu Yoga bangkit,


" Mau kemana? jangan seperti anak kecil, banyak orang yang melihat tingkahmu?!" panggil Winda, namun laki laki itu berjalan pergi begitu saja, tak menghiraukan ucapan Winda.


Kaila membuka kamar itu, ukurannya 4x4 meter, itu adalah kamar utama, yang paling besar.


Hanya ada satu lemari kayu berpintu dua, dan satu tempat tidur yang di letakkan di lantai begitu saja.


Kamar itu mempunyai dua jendela besar yang berhadapan langsung dengan teras.


Kaila menaruh tasnya di kamar, lalu kembali berjalan keluar.


Kaila kembali berkeliling, ia memasuki dapur,


jika di bandingkan dengan rumahnya tentu saja dapur ini terlalu kecil.


di sebelah dapur itu ada sebuah pintu yang menghubungkannya dengan jemuran yang tak kalah kecilnya.


Terdengar dengan jelas di telinga Yusuf, berkali kali perempuan di sampingnya itu menghela nafas.


" Maafkan aku.." ujar Yusuf saat Kaila sudah kembali ke kamar dan duduk di atas tempat tidur, karena dirumah itu memang belum mempunyai meja kursi dan perabot lainnya.


" Kenapa minta maaf?" Kaila memandang Yusuf tenang,


" karena untuk sekarang hanya ini yang mampu kuberi untukmu.."


Mendengar itu Kaila tersenyum,


" bukankan kau bilang ini hasil keringatmu sendiri?" tanya Kaila, dan Yusuf mengangguk,


" ini cukup bagus.. aku saja belum tentu bisa membeli rumah sendiri.." di genggamnya tangan Yusuf.


" Tapi rumah ini kurang besarkan untukmu?"


" Aku akan tinggal dimanapun kau tinggal.." jawab Kaila,


" apa kau tidak menyesal?"


" menyesal kenapa?"


" hidup kita tidak akan mudah setelah ini.." Yusuf tertunduk.


" Selama kau setia tidak ada yang akan kusesali..


terimakasih, dan maafkan aku.. aku yang bodoh ini sudah berbuat hal yang kejam dan membuatmu kecewa.."


" Sudahlah.. " Yusuf memeluk Kaila.


" Mari kita jadikan hal itu sebagai pembelajaran..


kita mulai semua dari awal.." lanjut Yusuf.

__ADS_1


Kaila membalas pelukan Yusuf dengan erat.


" Mas Damar sudah tidak perduli padaku.. jadi, sekarang kau adalah satu satunya sandaranku.." ucap Kaila lirih.


" Jangan khawatir, aku akan segera mencari pekerjaan, aku punya ijazah dan pengalaman..


tapi kau harus sabar,


mungkin gaji yang kudapatkan di tempat lain tidak akan sebanyak seperti yang kudapatkan ketika aku masih bekerja di tempat bapakku.."


Kaila mengangguk,


" aku akan membantumu bekerja.." ujar Kaila, membuat Yusuf melepaskan pelukannya dan memandang calon istrinya itu baik baik.


" Mau kerja apa? ijazah SMA? kau juga tidak pernah susah sejak lahir..


bukannya aku meremehkanmu,


banyak orang tak berijazah sukses di luar sana, tapi mereka menjalani proses yang tidak mudah dan belajar terus menerus dari kegagalan..


dan dirimu.." Yusuf menghentikan kalimatnya.


" Hanya anak manja yang belum dewasa..?" lanjut Kaila tersenyum,


mau tidak mau Yusuf menggangguk, karena itu adalah kenyataannya.


" Aku akan belajar.. aku akan belajar bekerja dirumah, berjualan apa atau apa mungkin?"


" Berjualan apa?? sudahlah.. bicara saja kadang kau kurang ramah, bagaimana bisa berdagang..?"


" Kenapa kau mematikan semangatku?"


" aku tidak tega.. sudahlah.. dirumah saja, biar aku yang bekerja.. kau juga baru keguguran..


aku ingin kau lekas pulih, dan kembali belajar.."


" belajar? kuliah?"


Yusuf mengangguk,


" Tidak.. aku berhenti saja.." jawab Kaila tertunduk.


" Kenapa?? tidak percaya padaku kalau aku sanggup??"


" bukan begitu? lihatlah rumah ini.. kita bahkan belum punya apapun.." jawab Kaila sedih menatap dinding yang putih polos.


" Kita hanya berdua.. kita beli seperlunya saja..


untuk yang tidak begitu penting, pelang pelan dulu ya?"


Kaila mengangguk,


" aku butuh buku resep.. karena aku tidak pandai memasak.." ujar Kaila merasa malu, entah apa yang ia lakukan selama ini, yang bisa ia lakukan hanya memasak mie instan dan menggoreng telur saja.


Sekarang timbullah penyesalannya,


apa yang harus ia masak setiap pagi untuk suaminya?.


Melihat wajah Kaila yang gusar Yusuf memahami kesulitan Kaila.


" Aku makan seadanya.. tidak pernah neko neko,


jadi jangan khawatir.. belajarlah segalanya pelan pelan.." mendengar ucapan Yusuf Kaila tampak begitu sedih.


" Maafkan aku.. aku hanya menjadi beban untukmu.."


Yusuf menggeleng,


" kau bukan beban, kau adalah tanggung jawabku ke depannya..


aku akan berusaha sekuat tenaga..


jadi tetap lanjutkan kuliah.. dan aku yang akan berkerja.."


Kaila terdiam, ia tampak bimbang..


hatinya memang ingin untuk terus kuliah, tapi melihat Yusuf rasanya ia tak tega.


Di hela nafasnya, lalu di buang pandangannya keluar jendela.


" Sudahlah.. berbaringlah.. aku mau mencari makan siang sebentar.." ujar Yusuf kemudian bangkit.


" Kita bisa masak kan?" tanya Kaila,

__ADS_1


" Apa yang mau di masak.. jika bahan makanan dan komporpun tidak ada.." sahut Yusuf tersenyum dan mencubit gemas pipi Kaila.


__ADS_2