
Kaila dan Yusuf terlihat tidak tenang, keduanya sesekali saling memandang dan kemudian tertunduk.
" Aku bukannya mau sok mengatur rumah tangga kalian,
tapi aku merasa sudah memberi waktu yang cukup untuk membuktikan kemampuan Yusuf sebagai seorang suami,
aku sesungguhnya tak masalah dengan kehidupan yang sederhana, aku justru menyukainya..
tapi aku bermasalah dengan kemunduran yang ku saksikan baru baru ini.."
Damar tak memandang adik dan adik iparnya, ia hanya terus saja menatap halaman rumahnya sembari sesekali menghisap rokoknya.
Ia sungguh sungguh menunjukkan wibawanya sebagai putra tertua di keluarga.
Usia yang bertambah dan statusnya yang menjadi seorang ayah sekarang membuatnya semakin bijak dan hati hati.
" Aku tidak berkompromi dengan kalian,
jadi segera kembali kesini,
banyak perbaikan yang harus kalian lakukan..
Aku membuka gudang baru, dan membutuhkan tenaga yang berpengalaman, kau bisa bekerja dengan tenang di bawah naunganku..
dan kau Kaila, setelah suamimu bekerja di tempatku, tentunya aku akan berusaha memberi gaji yang layak sehingga dia mampu mendukungmu untuk melanjutkan pendidikan,
bagaimana mungkin aku melepasmu dengan pendidikanmu yang terputus,
itu beban untukku meski kau sudah bersuami..
jadi patuhlah..
setelah pendidikan Kaila selesai,
mau loncat ke Afrika pun terserah kalian.." jelas Damar tenang dan tegas, membuat Kaila dan Yusuf benar benar terdiam.
" Dan perkara ibu, mbakyu mu sudah mengatakan semuanya padaku..
tinggalah dirumah kalian yang semula..
perkara ibu, biar aku yang mengurus.." ujar Damar tenang,
" ibu akan tetap mencariku jika tau aku di malang.." gumam Kaila,
" Kau tidak yakin dengan kemampuanku?
ibu berani bersikap seperti itu padamu karena tau aku mengacuhkanmu setelah pernikahanmu,
karena itu dia berani se enaknya..
__ADS_1
sudahlah..
selesaikan sekolahmu, biarkan suamimu bekerja..
sambil belajar merintis usaha sendiri disini," Kali ini Damar menatap keduanya serius.
" Kan sudah ku katakan?? istirahatlah?!" tegas Yoga menutup pintu kamarnya rapat rapat.
Ia baru saja keluar dari kamar mandi dan masih menggenakan handuknya,
tapi istrinya itu tau tau sudah mandi di kamar mandi lain dan bahkan sudah mengganti bajunya.
" Aku sudah baik, beberapa hari ini aku tiduran terus, rasanya tidak enak.." sahut Dinda duduk di depan meja rias dan mulai menghias wajahnya yang masih sedikit pucat.
Yoga merebut Lipstik yang di pegang Dinda, laki laki itu terlihat geram.
" Aku heran, sakit sakit begini masih saja mau pergi ke toko,
dan lagi lipstik semerah ini mau kau tunjukkan pada siapa?!" Yoga berdiri di hadapan istrinya dengan tatapan kesal.
Dinda tak menggubris Yoga, ia mengambil lipstik lainnya, dan mengoleskannya dengan tenang di bibirnya.
" Kau sungguh sungguh tidak memperdulikan kata kataku lagi?" Yoga mendekat dan menghela dagu Dinda agar menatapnya.
" Pekerjaanku tertunda karena aku sakit berhari hari, jadi wajar saja jika aku ingin segera ke toko,
ada beberapa barang dari bandung yang belum ku bongkar juga,
" Tekanan darahmu rendah, apa kau tau kalau di biarkan terus itu juga bisa berbahaya? apalagi kau suka naik motor kemana mana,
aku heran.. senang sekali kau mempersulit dirimu sendiri?"
" itu pekerjaanku,"
" dari awal aku tidak mewajibkan mu bekerja?!"
" aku tidak mau ongkang ongkang kaki dirumah,"
" Kau adalah nyonya rumah ini, mau kau ongkang ongkang kaki atau apa.. itu bukan masalah..!"
" Tapi aku tidak nyaman begitu,"
" tidak nyaman atau takut?"
Keduanya beradu pandang, sorot Yoga selidik, sedangkan sorot mata Dinda terlihat tak terima.
" Apa yang harus ku takutkan?"
" kau sendiri yang lebih tau apa yang kau takutkan?!"
__ADS_1
" kau mulai omong kosong.." Dinda bangkit dan mengambil handbag nya.
" Aku kan belum selesai bicara?!" Yoga mengambil handbag itu.
Mendapat perlakuan semacam itu Dinda menatap Yoga tak percaya.
" Kau mulai arogan.." desis Dinda lirih,
" Kau yang arogan, aku ini suamimu.." balas Yoga dengan suara tertahan.
" Jangan berlaku se enaknya padaku.." peringat Dinda,
" kau yang jangan se enaknya, mentang mentang aku mencintaimu..?!" Yoga melempar handbag itu ke atas tempat tidur, sedikit kasar.
" Diam dirumah, atau ku robohkan toko itu!" tegas Yoga, ia terlihat benar benar marah.
Dinda terduduk di atas tempat tidur, di katupkan kedua bibirnya rapat demi menahan kesal.
Ia mencegah air matanya agar tidak tumpah, tak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain diam.
Yoga yang merasa Dinda sudah tenang, segera mengambil beberapa baju di lemari.
Sembari berpakaian ia berkata,
" sikapmu kembali seperti awal awal kita akan menikah,
susah di tenangkan dan sulit percaya pada orang lain." Yoga terdengar masih kesal.
" Aku menikahimu karena aku mencintaimu, ingin membahagiakanmu, mensejahterakan mu,
bukan ingin melihatmu susah payah bekerja,
ingat perjanjian kita..
kau boleh mengelola toko sekedarnya, hanya untuk membunuh kebosananmu." imbuh Yoga yang sudah berpakaian lengkap itu berjalan mendekat kembali pada istrinya yang duduk diam di tepi tempat tidur.
" Jangan membuatku cemburu, entah itu pada sebuah toko atau manusia,
fokuslah pada suami dan anakmu saja." tegas Yoga mendekat, ia ingin mencium kening Dinda, tapi Dinda mengelak dengan menjauhkan wajahnya.
" Nah.. lihatlah.. betapa keras kepalanya dirimu, padahal aku bertindak seperti ini demi kebaikanmu." Yoga menggelengkan kepalanya seakan tak mengerti apa yang sesungguhnya perasaan yang disimpan istrinya di dalam hati.
" Aku tau kau sedang datang bulan, tp kurasa itu bukan alasan yang cukup untuk menjelaskan sikapmu yang semakin dingin saja beberapa hari ini." Yoga berusaha mengerti, dan mengusir jauh jauh pikiran buruknya.
" Sudahlah, aku tak akan menyentuh atau menciummu jika kau memang tidak menginginkannya,
tapi perkara toko,
awas saja jika aku berangkat nanti, kau juga diam diam pergi,
__ADS_1
aku akan memperingatkan si mbak untuk mengawasimu." Yoga melipat lengan kemejanya, merapikan dirinya di kaca sebentar, lalu berjalan pergi begitu saja tanpa kecupan atau kata kata pamit seperti biasanya.