
Damar dan Kinanti menginjakkan kaki mereka kembali di malang.
Taksi online yang mereka tumpangi melewati persawahan dan perkebunan, tentu saja itu suasana sekitaran jalan ke arah rumah mereka, hijau dan menyenangkan.
Melihat beberapa orang yang bekerja di kebun sorot mata Kinanti terlihat bahagia,
tidak hanya Kinanti, tapi Damar pun begitu, sembari merangkul pundak istrinya ia berbisik.
" Kita hampir sampai rumah sayang.."
Kinanti tersenyum dan mengangguk.
Winda dan Kaila berjalan terburu buru keluar saat melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Damar.
Raut wajah mereka gembira saat melihat sosok Kinanti dan Damar keluar dari mobil.
" Mbak?!!!" suara Kaila berlari dari jauh, tanpa berkata apapun lagi gadis itu langsung memeluk Kinanti dengan erat.
" Ndukk..." sapa Kinanti membalas pelukan Kaila, lalu setelahnya beralih pada mbak Winda.
" Sehat Nan?" tanya Winda bahagia bercampur syukur.
" Inggih ( iya ) sehat mbak.." jawab Kinanti mengangguk.
" Sudah sudah.. biarkan istriku masuk.." sela Damar merangkul istrinya.
" Ya sudah.. kalian istirahat dulu..
mbak ambilkan makanan ya.. tadi mbak buat cemilan nduk.." ujar Winda,
" iya mbak boleh.." Kinanti tersenyum dan mengikuti langkah suaminya.
Pandangan Damar teduh saat memasuki rumah, ia berkali kali memeluk istrinya, berharap tidak akan ada hal buruk yang membuat keduanya terpisah lagi.
" Sabarlah.. aku akan membawamu pergi dari sini.." ujar Damar masih memeluk istrinya,
" Maksudnya mas? memang kita mau kemana?" tanya Kinanti heran, sebelumnya Damar tidak pernah menyinggung hal ini.
" Kita akan membesarkan putra atau putri kita di tempat lain, tidak disini.."
keduanya berpandangan,
" kenapa? tidak mau??" tanya Damar kalem,
" kenapa?" tanya Kinanti pendek,
" Apanya kenapa?"
" kenapa tiba tiba pindah? mas takut aku dan Yoga masih menyimpan perasaan?" tanya Kinanti tepat sasaran.
Damar tersenyum ringan,
" bohong kalau tidak..
tapi bukan tidak percaya padamu sayang, tapi aku belum bisa percaya pada Yoga.." jawab Damar masih menatap istrinya lekat.
" Kukira Yoga tidak akan pernah menggangguku lagi setelah ini mas.."
" tentu saja dia tidak akan berani lagi, tapi hatiku tidak kuat jika harus melihat kalian bertemu setiap waktu..
kasihani suamimu yang lemah ini.."
" lemah?"
" tentu saja, aku lemah di hadapanmu.."
Kinanti tersenyum dan menjatuhkan kepalanya di dada Damar.
" Baiklah.. aku ikut kemanapun mas pergi.." ucapnya, dan membuat hati Damar benar benar tenang.
__ADS_1
" Mas Damar dan mbak Kinan sudah pulang, kau tidak kerumah?" tanya Kaila.
" Nanti malam saja," jawab Yusuf tenang sembari menyetir mobil.
Keduanya memang hanya bertemu saat jam jam Kaila pulang kuliah saja, setelah itu Yusuf kembali bekerja, ia bahkan sering lembur mendobel pekerjaannya dengan harapan gaji tambahan.
Ia ingin mempunyai uang tabungan untuk pernikahannya kelak.
Tentu saja ingin memberikan Kaila rumah tangga yang layak, karena itu ia merasa tak masalah bersusah payah untuk sekarang.
" Datanglah kerumah nanti sekalian.. ada acara arisan mampirlah ke rumahku dan mbak Winda.."
" ah tidak, aku kerumah mas Damar saja," jawab Yusuf.
" Kok begitu? kau kan tinggal melangkah saja kerumahku?
acaranya di tempat mbak Winda, tapi kenalan ibuku banyak yang hadir..
tidak ada salahnya kau bergabung dengan kami..?"
" Untuk apa? ibumu tidak begitu tertarik padaku setelah tau aku seorang pegawai biasa yang tidak berambisi mewarisi bisnis orang tuaku" jawab Yusuf masih tenang,
" itu kan ibuku?! bukan aku?! memangnya kau akan menikah dengan ibu?!" tegas Kaila tiba tiba bernada tinggi.
" Wah.. syukurlah kau masih ada niatan menikah denganku.." gumam Yusuf.
" Yusuf?!"
" Mas.. panggil aku mas.. aku jauh lebih tua darimu,
apa kau akan terus memanggil namaku sampai akhir?"
suara Yusuf santai namun terkesan serius.
" Kau kenapa sih?" Kaila heran dengan sikap Yusuf yang tidak lagi meledak ledak, ia tampak lebih tenang namun sinis.
" Aku? kenapa? kau bilang tidak suka dengan laki laki yang agresif bukan?"
" mana mungkin aku mengacuhkanmu, aku akan bertanggung jawab atas dirimu sampai akhir.."
" lalu kenapa kau berubah sinis?"
" benarkah? kukira tidak.. aku hanya malas berdebat seperti biasanya, toh aku mencintaimu.. rasanya percuma aku mendebatmu..
keputusanmu selalu menjadi yang utama bukan?" Yusuf menghela nafas.
Kaila terdiam,
" Bagaimana jika ibumu tetap menentangku? apa kau akan menerima laki laki yamg lebih layak untukmu?"
tanya Yusuf kemudian.
" Aku mencintaimu.. tapi aku tidak tau kau mencintaiku juga atau tidak, entahlah.. meski aku sudah melanggar batasan demi mengikatmu atas tanggung jawabku,
namun aku selalu was was jika memikirkan tentang usiamu dan betapa tidak sukanya ibumu terhadapku..
apa kau akan meninggalkan ku kelak?" tanya Yusuf tanpa memandang Kaila, ia tetap lurus menatap jalan raya.
" Apa aku sebodoh itu?" tanya Kaila balik,
" apa kau secinta itu padaku untuk menentang semua orang?
toh aku akan menjadi laki laki tua 10 tahun lagi, tidak sepertimu yang masih belia."
" Maksudmu apa? berputar putar di aku saja? seakan aku ini perempuan yang tidak berprinsip?"
" Kau perempuan satu satunya yang membuatku lupa batasanku, aku bahkan berbuat hal yang pantas di benci untuk memilikimu..
aku ingin membuktikan padamu jika yang kurasakan bukan obsesi..
__ADS_1
tapi benar benar cinta yang tulus..
aku selalu memberimu ruang dengan duniamu..
mendukung pendidikanmu dan tidak memaksakan kehendakku..
aku sungguh sungguh berusaha yang terbaik dan tidak mengecewakanmu..
meski terkadang..
kau menganggapku seperti om om yang menempel kepadamu..
posessive dan menyebalkan..
begitu bukan.."
Kaila membisu, ia tak menjawab.
" Asal kau tau.. aku menentang perjodohan dari orang tuaku karena aku ingin menikah dengan orang yang kucintai, dan itu kau..
aku tidak perduli meski kau menganggap ku menyebalkan,
terserah mau kau apakan aku, kau acuhkan kau rendahkan aku akan mengalah..
Namun..
aku akan pergi jika sekali saja aku melihatmu dengan laki laki lain."
Nada Yusuf serius dan tak main main, untuk pertama kalinya Kaila merasa gelisah dengan kata kata Yusuf.
Kaila tau, Yusuf sudah banyak menahan diri selama ini.
Laki laki ini.. keluh Kaila dalam hati, bagaimana bisa laki laki ini menjadi sesayang ini padanya, padahal beberapa bulan yang lalu hubungan mereka lebih mirip musuh bebuyutan.
Kaila melirik Yusuf sejenak, laki laki disampingnya ini tentu saja tidak jelek, sudah pasti tidak akan membuat Kaila malu jika mengandengnya kemanapun, meski tak setampan mas Yoga dan tak segagah mas Damar, batin Kaila.
Raut wajahnya tegas, hidungnya pun mancung, di tambah lagi lesung pipi yang selalu muncul di salah satu pipinya setiap Yusuf tersenyum.
Laki laki ini cukup galak, namun sungguh manis.. batin Kaila.
" Ck...." Kaila berdecak kesal, ia bingung dengan pemikirannya sendiri yang kadang ingin tapi tak ingin.
Awalnya memang Yusuf tak ada di hatinya, namun seiring waktu hatinya mulai terisi juga oleh Yusuf yang menurutnya emosional dan tak sabaran ini.
Mungkin Yusuf memang bersalah karena sudah melampaui batas, tapi setelah hari itu, dia tak pernah mengulangi hal itu lagi, bahkan mencium dirinya pun tidak.
Kaila yakin, dia sudah amat menahan dirinya yang mudah meledak ledak itu.
Sering kali Yusuf mendekatkan dirinya pada Kaila, namun tak lama kemudian laki laki itu tiba tiba menjauh dan menjaga jarak.. seperti sekarang.
" Kenapa kau berdecak.. kau mulai lelah denganku?" suara Yusuf menyadarkan Kaila yang tenggelam dengan pemikiran pemikirannya.
" Apa aku harus berhenti menjemputmu mulai sekarang agar kau tidak bosan melihat wajahku?" tanya Yusuf lagi.
Kaila yang gemas dengan kelakuan laki laki itu yang sering kali salah menafsirkan dirinya meminta Yusuf untuk menghentikan mobilnya.
" Jangan mengajakku ribut di pinggir jalan, sudah kukatakan aku akan mengalah jika kau memang mulai bosan melihatku.." ujar Yusuf.
Kaila yang gemas itu meraih wajah Yusuf dan menciumnya,
Yusuf tentu saja kaget, selama ini dia sudah menahan diri, dan ia berpikir Kaila tidak akan suka jika ia selalu mengedepankan hubungan fisik.
Tapi sekarang, Kaila yang berinisiatif menciumnya, tentu saja Yusuf tak bisa tenang seperti beberapa menit yang lalu.
Tangannya melingkar ke pinggang Kaila dan menariknya, namun tak lama kemudian tangan Yusuf mendorong pelan tubuh Kaila agar menjauh darinya.
" Hentikan.. atau aku akan lepas kendali..
aku sudah pernah merasakannya,
__ADS_1
jadi bohong kalau aku tak ingin lagi," Suara Yusuf parau, sorot mata laki laki itu sayu, menghindari tatapan Kaila yang tercekat karen di dorong menjauh.