Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kau calon istriku


__ADS_3

" Sudah turun sana..!" perintah Yoga pada Kaila.


Kaila yang sedari tadi tidur di paksa bangun dan turun.


" Aduh!" keluh Kaila turun dari mobil dengan malas.


Keduanya berjalan dengan hati hati kearah rumah Dinda.


Betapa terkejutnya Yoga saat melihat laki laki yang memukulnya beberapa hari yang lalu itu tidur di kursi kayu panjang, tepat di sebelah pintu rumah Dinda.


Rumah yang sederhana, dengan lampu teras yang redup.


" Ck..!" Yoga berdecak kesal, kondisi yang benar benar menyebalkan, ingin rasanya dia menginjak mantan suami Dinda yang sedang mabuk berat itu.


" Jangan berisik.." suara Yoga pelan memperingatkan Kaila yang masih sesekali di serang kantuk.


" Ayo sini, ikuti mas..?" ajak Yoga berjalan ke arah belakang rumah.


" Astaga.. rumah siapa sih mas?" protes Kaila.


" Sudah diam, tugasmu hanya menemaniku saja." tegas Yoga pelan,


" Besok ku belikan sepatu, kau mau sepatu baru kan?"


mendengar kata sepatu tiba tiba kantuk Kaila hilang seketika,


" sepatu saja?" tanya Kaila,


" terus?"


" tas juga.."


" aduh! aku bisa kena marah mas Damar kalau terlalu menurutimu.."


" sepatu dan tas, sepakat.. kalau tidak aku masuk lagi ke mobil, biar mas di grebek orang.."


" ih! anak ini, iya iya..!" setuju Yoga gemas.


" Hallo.. keluarlah, jangan takut.. aku dengan adikku.." kata Yoga menelfon Dinda.


Setelah sekitar lima menit menunggu di belakang rumah Dinda yang penuh nyamuk karena langsung berhadapan dengan kebun, Dinda keluar dengan travel bag nya.


" Mau minggat?" tanya Kaila spontan,


" Huss..!" Yoga menutup mulut Kaila dengan cepat.


" Adikmu?" tanya Dinda datar,


" Iya, satu satunya dan yang paling menyebalkan.." jawab Yoga sembari mengambil travel bag Dinda.


" Nanti saja kenalannya, sekarang kita segera ke mobil..?!" ujar Yoga mengabaikan tatapan Kaila yang kesal karena di sebut menyebalkan.


Yoga melihat jam tangannya, jam 2 pagi.


Di liriknya Kaila yang tertidur di belakang, lalu di liriknya Dinda yang duduk di sebelahnya.


Perempuan itu tidak tidur sama sekali, matanya lebar menatap jalan raya.


" Kenapa kau bisa menikahi laki laki brengsek seperti dia?" tanya Yoga yang sudah sedari tadi menahan kesal, hanya saja ia tak enak jika Kaila mendengarkan perbincangan mereka.


Tak terdengar jawaban dari Dinda, yang Yoga dengan hanya helaan nafas.


" Jangan kembali kesana.." suara Yoga serius,


" Kemana bapakmu? setidaknya bapakmu membelamu?"


" Bapak sudah tidak ada.." akhirnya terdengar suara Dinda, pelan sekali hampir tak terdengar.


" Meninggal?"


Dinda mengangguk,

__ADS_1


" Yang dirumah sekarang adalah bapak sambungku..


beliau baik.. tapi sayangnya kalah dengan ibu..


setiap ibuku membuat keputusan, tidak ada yang berani membantah..


karena siapapun yang membantahnya pasti dianggap melawan dan tidak menghormatinya.." suara Dinda berubah serak.


Yoga meliriknya, terlihat air mata yang membasahi pipinya.


" Tidak seharusnya kau menjemputku.." ucap Dinda.


" Kenapa?"


" Aku ingat dulu kau sering kerumah untuk menjemput Kinanti.."


" Itu dulu! sekarang aku menjemputmu?!" tegas Yoga lagi lagi kesal Dinda membahas masa lalu.


" Kita sudah bukan anak muda, segala keputusan yang kubuat sekarang tidak asal seperti dulu,


banyak hal yang aku perhitungkan ketika memutuskan untuk mengejarmu.." imbuh Yoga lurus menatap jalanan yang gelap.


" Apa yang kau lakukan padaku terlalu mendadak bukan? siapapun akan mencurigainya,"


" kau benar.. aku tidak bisa menjelaskan tentang bagaimana perasaanku berkembang begitu saja kepadamu, yang jelas..


sejak aku menemukan dirimu di bandung, aku sudah merasa ada yang berbeda..


kau lebih cantik dan dewasa, yang paling membuatku terpukau adalah sikap pekerja kerasmu..


dimana lagi aku menemukan perempuan semacam dirimu? dan lagi kau sudah lama ku kenal..


aku tau seluk belukmu, sikapmu sejak kita masih muda..


rasanya aku tak mau buang waktu dengan mengenal perempuan lain..


aku sudah jemu dengan perempuan perempuan yang menawarkan kecantikan dan kemewahan yang terkadang palsu,


kau pasti memahaminya,


Yoga melirik Dinda untuk kesekian kali.


Perempuan itu tersenyum pahit,


" Kau tau, sejak dulu aku tidak suka laki laki kaya.." ujar Dinda,


" Yah, karena itu kau memusuhiku saat aku berpacaran dengan Kinanti dulu kan?,


asal kau tau.. aku bukan orang kaya, justru aku yang paling tidak punya apa apa diantara mas dan mbak ku..


kami tidak pernah menganggap diri kami kaya,


di atas langit masih ada langit Din..


apalah keluarga kami yang hidup di desa..


kami hanya bertani dan bertani.." jelas Yoga kalem,


" Kau bilang kau benci orang kaya, lalu mantanmu itu?"


" kenapa kau bahas dia terus?" Dinda menatap Yoga, keduanya beradu pandang sekilas.


" karena aku ingin tau, tolong jawablah.."


" kalau aku tidak mau jawab?"


" Aku akan bertanya pada Mbakyu,"


" Mbakyu??"


" Kinanti.."

__ADS_1


Dinda tiba tiba tertawa,


" tertawalah.. tapi setelahnya jelaskan padaku.." suara Yoga masih serius.


" Kau sepenasaran itu?"


" tentu saja.. kau calon istriku.." enteng saja Yoga mengatakan itu.


Sedangkan Dinda langsung terbelalak,


" Kau ini sembarangan saja bicara, kau tidak takut adikmu mendengarnya?" protes Dinda.


" Tidak.. hanya orang bersalah yang pantas takut..


memang aku akan menjadikanmu istriku, aku akan mengejarmu.."


" Kalau aku lari?"


" Kemana kau bisa lari?"


" Kau meragukan seberapa jauh aku bisa pergi?"


Yoga tersenyum tiba tiba,


" Larilah.. yang jauh, aku akan menangkapmu..


aku bukan Yoga yang lemah seperti dulu..


aku akan berjuang setengah mati demi apa yang ingin ku miliki sekarang.."


Dinda terdiam, ada penekanan yang besar dalam suara Yoga.


" Sekarang katakan, kenapa kau menikahi laki laki brengsek itu?" tanya Yoga lagi masih tidak menyerah.


Dinda hanya bisa menghela nafas, kemudian menjawab dengan tenang.


" Itu adalah hasil perjodohan, kami bahkan tidak berpacaran.. hanya beberapa kali bertemu lalu menikah.." kata Dinda,


" Kau menerima perjodohan itu begitu saja?"


" aku bisa apa? baru lulus kuliah.. dan ibu selalu membahas tentang balas budiku pada orang tua..


ibu bilang cukup dengan menikahi orang itu sudah membuat hidup ibu tenang dan nyaman,


karena sawahnya banyak..


kami tidak perlu repot beli beras, ibu juga di beri tanah gratis untuk menggarap tanaman,


ibu menanam apapun, dan menjual hasilnya untuk dirinya sendiri"


" Lalu dirimu?"


" Ku kira dengan membuat ibu senang dan patuh pada keputusannya adalah salah satu cara untuk membalas budi ku sebagai anak.."


" Apa ibumu tidak bisa mengenali betapa kasar suamimu saat itu?"


" Ibu tau.. tapi ibu bimbang karena tanah itu..


mungkin ibu tidak mau hidup susah payah lagi,


tidak bisa di pungkiri.. hidup keluargaku membaik ketika aku menikah dengannya.."


" batinmu?!"


Dinda tersenyum getir,


" Kau tau.. aku dua kali keguguran.. dia beberapa kali menginjak injak perutku saat mabuk berat,


aku bahkan tidak tau apakah aku bisa punya anak lagi atau tidak sekarang.. tidakkah itu membuatmu berpikir?"


Yoga tidak menjawab, tapi Dinda bisa melihat wajah Yoga yang menggeras, tangannya pun mencengkeram erat setir yang sedang di pegangnya.

__ADS_1


" Aku tidak perduli kau bisa hamil atau tidak.. kau dengar itu?" jawab Yoga tak lama kemudian, suaranya tegas namun tenang, laki laki itu tak menoleh pada Dinda, ia tetap fokus pada jalan raya,


namun raut wajahnya tetap saja mengeras dengan geraham yang tampak kaku, seperti menahan emosi yang besar.


__ADS_2