Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Mas Yoga


__ADS_3

Bagas melirik ke arah jendela berkali kali, melihat rumah papanya.


" Kenapa? mau pulang ke mama?" tanya Kinan membaca keresahan Bagas.


Bagas diam tak menjawab.


" Mama sama papa biar bersih bersih rumah ya? Bagas sama om Damar saja..


Kita ke pabrik sebentar terus beli ayam goreng sama es krim kesukaan Bagas..


gimana gimana...?" Ujar Damar yang baru saja selesai mandi.


Dengan cepat Bagas mengangguk,


" tapi es krimnya Bagas mau yang coklat?" balas bocah yang wajahnya mirip bapaknya itu.


" Lhooo tenang saja kalau sama om..


tanya tante Kinan coba..


tante mau ikut nggak, kalau tante ikut nanti sekalian kita ke alun alun batu..?"


Bagas sontak menatap Kinanti.


" Memangnya mas tidak capek??" tanya Kinan pada suaminya,


" Capek sedikit.. tapi kena angin di luar juga hilang capeknya, aku juga tidak makan tadi di tempat Yoga.. malas rasanya melihat menu menu berlemak..


kita makan pecel di sebelahnya alun alun.." ajak Damar terlihat antusias,


" pecel buk sri yang bukanya setelah magrib itu?"


" lah nggih tho sayang.. tempatku dan Aji makan kalau uang kami sedang tipis.." Damar mengecup bibir istrinya lalu mengulas senyum lebar.


" Bagas juga mau di cium om.." suara Bagas menyentakkan Damar dan Kinanti, keduanya lupa kalau ada makhluk kecil di tengah mereka.


" Aduhh.. lupa Nan..???" ucap Damar lirih,


" Ah mas sih..nggak tengok kanan kiri?" protes Kinan,


" lha seperti maling saja harus tengak tengok, yang kucium istriku, menciumnya juga di dalam rumahku?"


" iya.. tapi ada Bagas..?!" Kinanti mencubit dada Damar.


" Aduu duu duu.." Damar meringis, lalu mengangkat Bagas dan menggendongnya,


" sini Bagas juga di cium pipinya.. di pipi ya.. om tadi meleset sedikit, sebenarnya mau cium pipi tante.." Damar berkilah sembari meringis, lalu mencium pipi bocah itu.


Bagas tersenyum dan menangguk,


" Jadi.. kita jalan jalan?"


" Jadi om!" jawab Bagas semangat.


" Bobo sama om dan tante dong nanti?'


" he emmm!" jawab Bagas dengan wajah sumringah.


" Oke.. kita ke pabrik sebentar, om mau lihat orang lembur ya..?"


Bagas mengangguk sembari melingkarkan tangannya ke bahu Damar.


" Ya sudah..mas Ke pabrik dulu, aku ganti baju sebentar.." ujar Kinanti melangkah meninggalkan suaminya dan Bagas yang masih berdiri di ruang tengah.


Yoga melepas jepit di sanggul Dinda satu persatu, hingga sanggul yang membebani kepalanya mulai pagi hingga sore itu terlepas.


" Pelan pelan??!" protes Dinda karena masih ada satu jepit yang belum tercabut, sehingga rambutnya tertarik saat Yoga melepas sanggul.

__ADS_1


" Ini sudah pelan.." jawab Yoga sembari melepas satu jepit yang tersisa.


" Ini ada lagi di dalam rambut.." ujar Dinda menekan nekan rambut depannya.


Ada sanggul subal yang di gunakan oleh perias untuk membuat lengkungan atau gunungan di bagian rambut depan.


Dinda meminta sanggul subal agar rambutnya tidak di sasak.


Sanggul subal berguna untuk para pengantin yang tidak mau repot repot merapikan rambutnya setelah acara selesai, itu dapat di pahami karena lebih banyak pengantin yang dalam kondisi lelah tak ingin lagi riweh dengan membenarkan rambut kusutnya karena sasak.


" Lha.. opo iki? ( lha.. apa ini?)" celetuk Yoga menemukan sebuah sanggul yang bentuknya panjang di dalam rambut depan istrinya.


" Itu gunanya supaya rambutku tidak di sasak.. dan menghemat waktu penyanggulan juga.. sepertinya jepitnya lebih sedikit..?" ujar Dinda membantu mencari jepit di rambutnya.


Yoga mengambil jepit satu persatu dengan sabar.


" Nah.. sudah.. sini sisirnya?" Yoga mengambil sisir dari tangan Dinda.


Ia menyisir rambut istrinya dengan hati hati.


Jika seharian tadi ia seperti singa yang waspada, maka sekarang dirinya lebih mirip kucing, apapun yang Dinda minta pokoknya ' Iya ' saja.


" Padahal nggak rame rame.. tapi sanak saudara dan rekan rekan datang semua..


jadi tidak bisa langsung ganti baju setelah foto.." gerutu Yoga dengan wajah lelah.


" Wes tho.. gausah ngomel.. toh sudah selesai.." ujar Dinda.


" Bagas dimana??" tanya Dinda tiba tiba ingat putra sambungnya tak terdengar suaranya sedikitpun.


" Di bawa mas Damar, kata mas Damar tadi kan mau di ajak tidur dirumah mas Damar?"


" Memangnya tidak apa apa?"


" memangnya kenapa??"


" ambil saja setelah mandi ya??" lanjut Dinda.


" Bukan kita yang mau, tapi mas Damar sendiri yang membawanya pergi..


mas Damar juga telfon tiga puluh menit yang lalu, katanya Bagas mau di ajak keluar.. dari suaranya senang sekali dia.." jelas Yoga.


" Kau ini, mulai sekarang jangan sering sering menitipkan Bagas? dia juga butuh pelukanmu, kalau dia lebih sayang mas Damar dan Kinanti, apa gunanya kita sebagai orang tua??" protes Dinda.


" Wah.. belum sehari full menikah, tapi sudah dapat omelan.." Yoga tertawa,


" oh.. tidak suka?" Dinda berbalik menatap suaminya.


Yoga tak menjawab ia malah tersenyum sembari mendekatkan wajahnya.


Bibir yang merah itu sedari pagi menggodanya,


seperti sengaja menganggu detak jantungnya setiap kali pemiliknya melempar senyum kearah laki laki lain.


" Mana mungkin aku tidak suka.. merah begini.." gumam Yoga sembari menyentuh rambut yang sudah susah payah ia sisir, lalu mencium perlahan bibir yang lipstiknya masih penuh itu.


Dua Minggu, bahkan lebih..


Yoga tak menyentuh Dinda sama sekali, semenjak datang Yoga hanya merajuk tak jelas, dan Dinda yang lelah tak ada waktu untuk membujuknya.


Perempuan yang masih berkebaya lengkap itu diangkatnya ke atas pangkuannya.


Sedangkan dirinya sendiri juga masih memakai jarik, namun ia sudah melepas atasannya hingga dadanya yang bidang itu terbuka bebas dan Dinda bisa menyentuhnya dimana mana.


Masih berciuman dengan hangat, keduanya seperti meluapkan rindu setelah lama tak bertemu.


Tangan Yoga yang bebas berusaha melepas kebaya Dinda yang kancingnya hanya beberapa saja itu.

__ADS_1


Dengan hati hati Yoga menjauhkan kebaya itu dan meletakkannya di atas tempat tidur, sehingga tersisa kemben hitam yang menutupi dada Dinda.


Tangan Yoga beralih ke bawah, ia menyentuh kain stagen yang melingkar kuat di pinggang dan perut istrinya.


Di lepaskan ciumannya ketika tangannya merasa kesulitan mencari jalan untuk membuka stagen itu.


" Susah ya pak?" goda Dinda tau Yoga kesulitan.


" Mbok yo di ewangi.. di bukakno tho gae bojone.. ( di bantulah...di buka lah buat suaminya..)" bisik Yoga di telinga Dinda sembari mencuri sebuah kecupan di leher Dinda.


" Yang mau siapa? mbok yo usaha...?" balas Dinda mengulas senyum menggoda Yoga.


" Ck.... " Yoga berdecak mendengar kata kata Dinda.


" Ayo tho Din.. mbok yo ndang di copot..?? ( ayolah Din.. cepat di lepas..??)" ujar Yoga dengan suara di menahan diri.


" Harus hati hati.. banyak peniti, bukannya tidak mau.. tapi aku juga butuh bantuan karena penitinya di belakang..??" sahut Dinda berusaha meraba pinggang belakangnya.


Yoga yang melihat itu menghela nafas,


" Owalah.. tau begini pakai baju biasa saja.." gumam Yoga.


" Ya kalau pakai pakaian tradisional harus begini, pakainya sabar, lepasnya juga harus sabar..


tapi hasil foto kita bagus tho pakai jarik..?"


" Yooo.. bagus, saking bagusnya sampai bentuk pinggulmu kelihatan jelas begitu.." nada Yoga berubah sedikit kesal.


" Jangan salahkan aku lho, memang dari periasnya begitu, di kira aku juga tidak tersiksa seharian??"


" Aduh.. iya iya, istriku sayang.. hatiku yang bermasalah karena bentuk tubuhmu itu terlalu bagus.." Yoga masam.


" Ya wes.. ndang di rewangi iki..?! ( ya sudah.. lekas di bantu ini..?!)" Dinda bangkit dari pangkuan Yoga dan berbalik memunggungi Yoga.


" Ndang tho ( cepatlah) Yog?? " ujar Dinda menunggu Yoga membuka peniti stagennya.


" Yog?!" tanya Yoga membalikkan tubuh Dinda,


" Iya.. ayo Yog??" ulang Dinda santai.


" Yag yog yag yog..?! aku iki bojomu?! ( aku ini suamimu?!)" dengus Yoga menarik Dinda lagi kepangkuannya.


" Aduh..?!" keluh Dinda,


" lalu mau di panggil apa kalau bukan Yoga??!" tanya Dinda setelah sadar bibir suaminya itu memanjang.


" Panggil mas lah?! apa yang, sayang?! apa pa, papa, pi, papi?!" jawab Yog dengan wajah serius.


Dinda rasanya ingin tertawa, tapi ia sadar jika ia sampai tertawa Yoga pasti merajuk, bahkan mungkin marah.


" Hemm.. ya wes.. mas.., mas Yoga.. ndang di tulungi tho bojone.." bisik Dinda sembari mengalungkan tangannya di bahu Yoga,


" cepat di buka.. nafasku sudah sesak.." lanjut Dinda dengan pose manja, dan ternyata hal itu mampu membuat senyum Yoga kembali terkembang.


" Awas saja kalau tidak memanggilku mas seterusnya.." ancam Yoga lirih lalu mengecup pergelangan tangan Dinda yang dekat dengan wajahnya.


Dinda bangkit, membiarkan Yoga melepas stagennya.


" Sekarang kembennya.. mas yang lepas juga?" tanya Yoga dengan wajah tersipu saking senangnya.


" Ada talinya, tarik saja.." ucap Dinda sembari memegangi bagian depan agar tak jatuh ketika Yoga menarik talinya.


" Jariknya tidak usah, bisa kulepas sendiri..?" kata Dinda, tapi Yoga tak mau mendengarnya,


Di lepas juga jarik itu setelah menarik tali kemben.


" Yoga?!" Dinda sontak memegangi jariknya agar tidak jatuh.

__ADS_1


" Mas Yoga..." kata Yoga dengan senyum lebar.


__ADS_2