
" Kenapa Yoga dan Dinda mas?" tanya Kinanti sembari membantu menyiapkan baju suaminya.
" Biasa..." jawab Damar sembari tersenyum,
laki laki yang hanya mengenakan handuk saja itu menghampiri istrinya.
" Biasa bagaimana..
terakhir kali Yoga bertindak kurang bijaksana pada istrinya..
cemburu membuatnya tidak waras..?!" tentu saja Kinanti membela sahabatnya.
" Tugas kita menengahi.. bukan ikut menghakimi.." Damar mengecup pipi istrinya lalu mengambil baju yang sudah di siapkan istrinya itu.
" Kelakuannya mirip mas dulu, sebelum kita menikah,"
" memangnya kelakuanku bagaimana?" Damar berdiri di depan kaca dan mulai mengenakan kemejanya.
" Agresif dan suka memaksakan kehendak.."
Damar mengulas senyum, sedikit malu jika mengingat kelakuannya yang dulu dulu.
" Bukankah itu suatu tanda.. bahwa aku benar benar merasakan sesuatu yang luar biasa dalam hatiku?"
" Dengan menciumi anak orang dimana mana?"
" dimana mana bagaimana sih sayang?" Damar berbalik dan memandang istrinya,
" andai orang tau, bahwa Damar yang agung senang sekali memaksakan kehendaknya.."
" hei.. hei.. hei.." Damar tertawa kecil dan mendekat,
" jangan macam macam ya.. bisa bisa aku terlambat berangkat ke surabaya.." Damar mendekap dan mengecup pipi Kinan beberapa kali.
" Aduh..?!" keluh Kinan saat tangan Damar dengan cepat merayap ke pahanya.
" Iya ampun.. " Kinanti memberingsut menjauh, tapi malah jatuh ke atas tempat tidur.
Damar tersenyum lebar melihat itu,
di buka lagi kemejanya dengan tatapan berbeda, lalu perlahan mendekat.
" Sini.." ujarnya sembari melempar kemejanya ke samping tempat tidur, matanya berkilat nakal.
" Mas itu sudah di tunggu Yusuf diluar??!" Kinanti bersiap siap melarikan diri.
" Yusuf pasti memahami rutinitas suami istri setiap pagi.." jawab Damar pelan lalu menarik kaki Kinan yang akan turun dari tempat tidur.
Yoga menerima telfon dari Winda,
" Istrimu ijin pulang padaku tadi, dia bilang nanti sore kembali," jelas Winda.
__ADS_1
Yoga bangkit dari kursinya,
" kok boleh sih mbak?!" suara Yoga terdengar marah.
" Dia tidak membawa apapun, cuma baju yang dia pakai dan tas slempang kecil yang muat HP dan dompet.."
" tetap saja, dia tidak boleh kemana mana?!"
Winda heran mendengar suara adiknya yang begitu marah dari sambungan telfon.
" Kau itu jangan keterlaluan Yog, istrimu juga butuh udara segar?!
jangan perlakukan dia seperti tahanan?!" Winda meninggikan suaranya.
" Bukan perkara aku tidak mau dia keluar karena cemburu mbak??!" tegas Yoga,
" apalagi kalau bukan karena kecemburuanmu yang berlebihan itu?!"
" Astagaa..." keluh Yoga kesal karena Winda malah marah marah.
" Istriku itu sedang hamil, usia kandungannya baru satu bulan?! kondisi tubuhnya kurang fit, bahaya..?!!" jelas Yoga membuat Winda terdiam,
" haloo? halo?? mbak Win!!" panggil Yoga saat tak ada suara sedikitpun yang ia dengar.
" Kenapa kau tidak bicara padaku? kau sungguh sungguh??" suara Winda muncul, terdengar ragu ragu.
" Mana mungkin aku bercanda perkara kehamilan istriku yang sudah dua tahun kunanti nanti?!
aku hanya berjaga jaga, aku ingin dia menyadari kehamilannya sendiri..?!"
" Ya sudah, mau bagaimana.. dia sudah naik taksi online limabelas menit yang lalu," ujar Winda dengan suara rendah tak lama kemudian.
" Owalah mbak.. mbak.. ya wes..!" Yoga mematikan sambungan telfonnya dengan rasa cemas yang tidak bisa di tutupi.
Langit sudah mulai senja saat Yoga memutuskan untuk pergi menjemput istrinya.
Sejak keluar dari parkiran klinik, sampai daerah kepanjen dia berkendara sedikit kencang dan terburu buru.
Apalagi Dinda tak mengangkat telfon dan chatnya sama sekali.
Sesampainya di jembatan bendungan yang menghubungkan malang dan pare tiba tiba saja HPnya berdering.
" Iyaa?" Yoga menghentikan mobilnya,
" aku mau menginap disini semalam, besok pagi aku pulang, disini ada acara 7 bulanan sepupuku.." suara Dinda yang lembut namun terkesan sedih terdengar dari balik telfon.
Yoga terdiam, di sandarkan punggungnya ke kursi,
" Kenapa tidak pamit?" tanyanya kemudian tenang,
" kalau aku pamit pasti kau tidak mengijinkan.."
__ADS_1
" lalu kenapa tidak mengangkat telfonku?"
" Hp ku tinggal dirumah karena lowbat,"
" sekarang dimana??"
" dirumah dek nuri.. bantu bantu.."
" bantu apa??" Yoga khawatir,
" hanya iris iris bawang dan mencetak kue.." jawab Dinda pelan.
" Hemm.. ya sudah, masih ingat pesanku?"
" jangan angkat yang berat berat, jangan makan aneh aneh.." jawab Dinda membuat suaminya yang sedang di dalam mobil sembari mengangkat telfon darinya itu tersenyum lega.
" Ya sudah, aku mau keluar dulu.. ikut belanja.."
" belanja?"
" iya, naik mobil dengan pak dhe, dengan budhe juga..
aku kangen serabinya embok embok yang di pasar.."
" hemm.. yawes ( ya sudah),hati hati.." jawab Yoga lalu mematikan sambungan telfon itu.
Yoga tersenyum sejenak, ia terlalu khawatir sepertinya..
istrinya itu pulang bukan karena marah,
tapi karena sedang ada acara keluarga.
Yoga juga dapat membaca kesedihan di dalam suara Adinda,
dirinya pasti sedang merasa nelangsa karena melihat saudaranya sedang hamil besar,
sedangkan dirinya belum hamil juga.
Yoga memandang langit yang mulai di kuasai senja di atas bendungan.
Burung burung sedang berarak di atas sana,
sepertinya mereka bergegas kembali pulang sebelum langit benar benar gelap.
Yoga menghela nafas tenang,
sembari masih terus saja menikmati bingkai gurat jingga.. yang redup kemerahan, dan cantik dengan sisa kebiru biruan..
" Aku sudah sampai disini.. tidak mungkin aku kembali pulang..
dimana ada kau.. disitu harus ada aku.." ucap Yoga pelan, lalu dengan hati yang lebih tenang di lanjutkan lagi perjalanannya.
__ADS_1
Di lewati jembatan yang lumayan panjang itu,
yang di bawahnya terdapat sungai besar yang terhubung dengan Bendungan Karangkates.