Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
jangan acuhkan kakakku..


__ADS_3

Damar sedang sibuk memberi tanda pada kayu kayu yang sudah di potong itu, ia menulis dengan spidol permanen, terlihat serius dan sangat teliti.


Damar yang sekarang lebih gila kerja dari pada Damar yang kemarin.


Ia benar benar ingin lupa akan pikiran pikirannya yang di penuhi Kinanti.


Setelah mengajar ia tak beristirahat, ia langsung pergi ke pabrik untuk mencari cari pekerjaan.


Ia bahkan sering mengambil pekerjaan orang lain seperti sekarang.


Di mata para pekerjanya sosok Damar bukan hanya Rajin, namun juga suka menganggu,


terkadang dia mengambil alih pekerjaan sopir forklift, terkadang mengambil alih pekerjaan admin gudang, yang lebih parah dia mengambil alih pekerjaan tukang sapu di kantor kecilnya,


ia menyuruh si ibu tukang sapu duduk dan beristirahat, lalu dirinya mengantikan menyapu.


Banyak sekali pemandangan pemandangan aneh yang ia tampakkan di depan para pekerjanya, padahal ia adalah seorang bos, pemilik sah dari usaha pabrik kayu yang lumayan ini.


Namun kelakuannya tidak seperti bos, lebih seperti karyawan magang yang loncat kesana kemari bekerja serabutan.


" Iya mbak?" Damar menerima sebuah panggilan dari Winda,


" hemm.. iya iya.. aku kesana mbak.." jawab Damar lalu memasukkan HPnya itu kembali ke dalam saku.


" Mar..!" panggil Damar pada admin gudangnya yang usianya masih 23 th itu,


" Saya pulang sebentar.." ujarnya sembari menyerahkan spidol yang biasanya di pakai Umar bekerja.


Damar berjalan keluar dari pabrik, entahlah ada apalagi Winda memanggilnya pulang.


Sesampainya di halaman Damar melihat sebuah mobil di depan rumah Winda.


" Ada apa mbak?" tanya Damar sembari berjalan masuk, ia tak memperhatikan kalau di ruang tamu itu sedang duduk beberapa orang.


" Ini lho.. ada yang mau mbak kenalkan.." Winda menarik tangan adiknya itu dan mengajaknya duduk.


Mata Damar terbentur pada dua orang perempuan, yang satu masih muda sekali, mungkin usianya masih 17 tahunan,


dan yang satu mungkin seusia Kinanti, tidak.. sepertinya lebih muda.


Keduanya cantik.. mereka kompak tersenyum manis.


Damar mengerutkan dahinya sejenak, lalu tersenyum karena sadar Winda menatapnya setengah melotot.


" Mereka anak pak dhe Irwan, teman almarhum bapakmu.. kau ingat tidak?" ujar Winda,


Damar menggeleng,


" ah, kau ini pelupa.. yang ini namanya Afifa, sedangkan kakaknya Zahira.."


" Oh.. saya Adamar.." Damar menjabat tangan kedua perempuan itu bergantian.


" Mereka kesini karena disuruh pak dhe Irwan belajar tentang bisnis yang sedang kau geluti.."


" Mereka?" tanya Damar heran, karena jarang sekali perempuan tertarik pada bisnis kayu.


" Iya, pak dhe Irwan berencana membuka bisnis sama sepertimu..


karena mereka tidak punya anak laki laki, jadi anak anak perempuannya lah yang harus meneruskan.."


Damar diam sejenak,


" Baiklah.. karena orang tua kita teman lama aku akan membantu,


lalu siapa yang akan belajar?" tanya Damar,


" Saya mas.." Zahira menjawab,


" Hemm.. jadi mau mulai kapan?"

__ADS_1


" Kalau saya sedang libur kuliah saya akan kesini untuk belajar.."


" Masih kuliah?"


" iya, karena saya sempat cuti setahun.. jadi sekarang saya masih duduk di bangku kuliah.."


" owalah.. ya sudah.. kalau libur langsung saja ke pabrik.. kalau saya sedang tidak ada, mbak Zahira bisa belajar pada orang kepercayaan saya..


saya mohon juga agar belajar dengan serius.. karena saya tidak suka hal hal yang membuang waktu.." tegas Damar, namun di bungkus dengan senyuman agar suasana tidak tegang.


Damar tidak begitu yakin pada kedua perempuan di hadapannya, karena penampilan mereka menunjukkan kalau keduanya adalah gadis yang manja dan hidup dalam kemudahan kemudahan.


Damar faham betul hal itu, karena Damar sering melihat itu ada pada para mahasiswinya, anak anak orang berkecukupan yang manja dan malas susah.. bahkan mengerjakan tugas yang sedikit rumitpun mereka mengeluh.


Yah.. memang tidak semua begitu.. tapi Damar sudah banyak melihat yang begitu.


" Ya sudah kalau begitu.. saya pamit dulu.. masih ada pekerjaan.." Damar bangkit,


" Eh?! tunggu.. di ajak dong mereka ke pabrik, biar melihat lihat sebentar?" ujar Winda menari tangan Damar.


Rasanya ingin menjawab Winda, tapi lagi lagi Damar mengangguk.


" Ya sudahlah.. ayo.." ucap Damar lalu melangkah keluar.


Sedangkan dua gadis itu mengikuti.


Kebetulan semalam gerimis, jadi tanah di jalan sedikit basah.


Jalan di depan pabrik Damar sudah berkali kali di aspal, namun berkali kali juga rusak, mungkin karena di lewati truk truk besar.


Damar melirik sepatu kedua perempuan itu,


sepatu flat berwarna krem yang di penuhi manik yang cantik.


" Hati hati.. sedikit becek.." ujar Damar berjalan mendahului, diam diam ia tersenyum melihat tingkah kedua wanita itu.


Setelah sampai Damar membawa mereka berkeliling, menunjukkan jenis jenis kayu dan ukuran ukuran pemotongan.


" bagaimana?" tanya Damar setelah mereka berkeliling,


" Seru mas.. " jawab Zahira.


" Baguslah kalau mbak Zahira tertarik.. itu awal yang bagus.." Damar tersenyum.


"Bagaimana kalau kita kembali.. rasanya sudah cukup melihat lihatnya, untuk pembelajaran yang lebih serius mbak Zahira boleh datang lagi.."


Zahira mengangguk dan tersenyum,


" iya mas.." jawab Zahira lembut.


Kinanti berjalan di belakang Haikal, ia sebenarnya malas sekali untuk bepergian sejak kemarin, tapi ada saja barang yang dibutuhkan Haikal,


entah itu sepatu, kemeja, jam tangan.


Setelah Haikal selesai berbelanja ia mengajak Haikal untuk mampir di salah satu kedai makanan yang cukup Ramai.


Sesungguhnya bukan karena lapar, tapi Kinanti lelah berjalan, ia haus sekali.


" Diam disini.. biar aku yang pesan.." ujar Haikal, ia kemudian berdiri di antrian.


Kinanti yang sedang melihat ke kanan dan ke kiri tidak sengaja bertatapan dengan seorang gadis.


Sepertinya pernah melihatnya.. tapi entah dimana.. ucap Kinanti dalam hati.


Saat Kinanti masih sibuk berpikir, tiba tiba saja Gadis itu bangkit dari kursinya, meninggalkan beberapa temannya dan berjalan ke arah Kinanti,


" Halo mbak..?" sapanya duduk di hadapan Kinanti,


Kinanti tak menjawab karena kaget, siapa yang tidak terkejut kalau tiba tiba di hampiri seperti sekarang.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum,


" Aku Kaila mbak.." ucapnya,


" Kaila? seperti pernah melihat, tapi saya tidak tau dimana ya..?" Kinanti antara penasaran dan waspada.


" Mbak melihat saya bersama mas Damar.." jawab Kaila.


Deg.. Kinanti ingat, benar.. dia adalah gadis yang bergelantungan di lengan Damar.


" Oh.. sepertinya iya.." jawab Kinanti memaksakan senyumnya.


" Saya adik mas Damar mbak.."


kalimat Kaila membuat Kinanti menatap Kaila dengan pandangan yang tidak bisa Kaila artikan.


" Boleh aku minta nomormu mbak?"


" un.. untuk apa ya?"


" Untuk mengabarimu.. kalau kalau mas Damar kecelakaan seperti kapan hari itu.. supaya mbak bisa menjenguknya.."


" kecelakaan??" tanya Kinanti tak percaya pada apa yang ia dengar.


" Iya mbak.. pulang dari rumah mbak dia jatuh dari motor.. mas Damar baru pulih benar 3 mingguan.. kenapa mbak tidak menjenguknya saat itu?"


Kinanti benar benar membisu, ia tidak tau.. benar benar tidak tau kalau Damar kecelakaan saat itu..


jadi itukah sebabnya dia tidak menampakkan dirinya selama sebulan lebih..


Kinanti meremas tangannya sendiri.


" Aku tau ini tidak boleh ku lakukan, tapi aku adiknya..


mana bisa ku biarkan kakakku menanggung kesedihan sendiri..


mbak harus tau, mas Damar terbaring berminggu minggu dan kelakuannya membuat kami semua sedih..


jadi..


tolong jangan acuhkan mas Damar ya mbak..


aku tau apa yang terjadi kok..


tapi dia kakakku satu satunya..?"


Kaila memohon,


Kinanti membisu.. ia tak mampu menjanjikan apapun.


Kaila tiba tiba bangkit melihat Haikal yang tak sengaja berbalik dan menatapnya.


" Tolong beri aku nomormu mbak?" pinta Kaila masih dengan pandangan memohon.


" 08................. " ucap Kinanti tiba tiba, entah kenapa ia memberikannya.


" terimakasih mbak.." ujar Kaila setelah mencatat nomor Kinanti, ia lalu tersenyum dan segera beranjak dari meja Kinanti.


" Haaahh..." Kinanti membuang nafas berat,


ia ingin mengusir kegundahan di hatinya.


Bisa bisanya tiba tiba begini.. keluhnya di dalam hati,


mendengar Damar kecelakaan hatinya sakit sekali.


" Siapa itu tadi?" Haikal tau tau sudah berdiri disamping Kinanti,


ia menaruh semua pesanan makanan dan minuman di meja.

__ADS_1


" Ah.. adik temanku.." jawab Kinanti pelan.


__ADS_2