
Damar Sedang menjelaskan beberapa hal pada Zahira, dan entah mengerti atau tidak Zahira terus saja mengangguk sembari tersenyum.
" Karena kau mengangguk dan tidak bertanya ku anggap mengerti ya?" ujar Damar berpindah ke gudang yang lain.
" Lho? kok begitu mas?" Zahira mengikuti langkah Damar, ia mengangguk terus bukan karena mengerti, tapi ia suka melihat wajah Damar.
" Siapa suruh mengangguk terus tanpa bertanya, kau disini belajar bisnis,
bukan sekolah,
bisnis gagal perhitungan kurang taruhannya rugi dan bangkrut..!" tegas Damar.
" Jangan serius serius dong mas, aku kan bukan mahasiswamu.."
" Kalau mau belajar sambil bercanda jangan belajar denganku, karena aku tidak bisa mengajari seseorang dengan bercanda, kau belajar saja pada salah satu staf, dan kalau ada yg sulit perkara jenis dan ukuran barang boleh tanya langsung ke umar, admin gudang"
" Jangan, Zahira belajar sama mas Damar saja.. serius tidak apa apalah.." ucap Zahira membuat Damar menggeleng pelan.
" Dasar.." ucap Damar dalam hati.
" Sudah siang, istirahatlah...kalau mau makan ke dapur saja, ada ibu ibu yang khusus memasak untuk orang kantor setiap hari.." ujar Damar datar, tak ada keramahan dan perhatian sama sekali.
" Mas Damar tidak makan siang?" tanya Zahira,
" Aku tidak pernah makan di pabrik"
" Lalu?"
" Aku makan dirumah mbahku, kau keluarlah cari makan kalau tidak berkenan dengan makanan di pabrik,
nanti sejam an kembalilah kesini untuk belajar lagi.."
kalimat Damar benar benar mematahkan semangat dan harapan Zahira.
Bagaimana bisa ada laki laki yang acuhnya setengah mati seperti ini, ucap Zahira dalam hati.
" Apa aku benar benar menyita waktumu mas?" tanya Zahira tidak enak,
" tentu saja, apakah aku harus berbohong dengan menjawab tidak.." lagi lagi jawaban Damar membuat Zahira kesal.
" Aku kesini ingin belajar darimu, karena kau adalah pembisnis yang ulet dan rendah hati kata ayah.." nada Zahira kecewa,
" aku sudah bersikap baik mbak Zahira, tidak semua orang yang ingin belajar ku terima dengan baik sepertimu disini"
jawab Damar menurunkan nadanya agar terlihat lebih ramah.
" Zahira, bukan mbak.." ujar Zahira menatap Damar.
Keduanya sempat beradu pandang, namun Damar segera mengalihkan pandangannya.
" Jadi maumu bagaimana? makan disini atau di luar?" tanya Damar.
Namun ketika Zahira akan menjawab, tiba tiba HP Damar berbunyi.
" Iya bu?" jawab Damar kalem, berbeda sekali dengan cara bicaranya pada Zahira yang datar dan acuh, Zahira tentu saja heran mendengarnya.
" Pingsan??!" ucap Damar lagi dengan raut wajah berubah cemas.
Geraham nya mengetat,
tangannya mengepal mendengar suara ibu yang menjelaskan hal hal yang baru saja terjadi dan menyebabkan Kinanti jatuh pingsan.
Tanpa berkata apapun lagi Damar langsung mematikan sambungan telfon itu.
__ADS_1
" Ada apa mas?" tanya Zahira ikut khawatir melihat raut wajah Damar.
Namun Damar tak menjawab, ia berlalu begitu saja meninggalkan Zahira tanpa berkata apapun.
Damar memacu motornya dengan kencang, ia buru buru ingin segera sampai dirumah Kinanti.
Perasaannya kacau balau mendengar Kinanti jatuh pingsan.
" Tenangkan dirimu, tenangkan.." ucapnya pada dirinya sendiri dalam hati.
Padahal baru saja dirinya tenang, baru saja ia meyakinkan dirinya kalau memang menerima segalanya itu lebih baik,
Asalkan Kinanti bahagia itu tidak masalah,
apapun akan ia korbankan untuk kenyamanan Kinanti meskipun itu menyakiti dirinya sendiri.
Tapi mendengar apa yang terjadi siang ini, meskipun itu hanya sepintas kata dari ibu, hatinya sungguh tak terima.
Ada gemuruh emosi yang siap ia luapkan.
Seharusnya tidak begini kan, seharusnya Kinanti bahagia menjelang hari pernikahannya, bukankah Haikal adalah laki laki pilihannya, bukankah ia yakin bahwa laki laki itu tidak akan menyakitinya, lalu kenapa sekarang terjadi hal seperti ini?, pikir Damar di tengah perjalanan menuju rumah Kinanti.
Sesampainya di rumah Kinanti ia memarkirnya motornya dengan begitu saja di tangah dua mobil yang sedang terparkir di depan rumah Kinanti.
Yang satu sudah jelas mobil Haikal yang berwarna putih, tapi yang berwarna merah Damar tidak tau jelas itu mobil siapa.
Dengan langkah terburu buru Damar berjalan melewati teras dan segera masuk ke ruang tamu.
Ia menemukan Haikal duduk berdekatan dengan seorang gadis,
Damar ingat, itu adalah gadis yang di atas kursi roda.
Wajah Haikal menegang melihat Damar yang tiba tiba saja muncul, ia berusaha melepaskan dirinya dari pegangan erat gadis itu dan berdiri.
" Mas.. aku.." ucap Haikal ingin menjelaskan, tapi ucapan Haikal terhenti karena melihat pandangan penuh kemarahan dari Damar.
Yang terpenting sekarang baginya adalah melihat Kondisi Kinanti dulu.
" Damar.." suara ibu penuh kekecewaan, ibu yang sedang duduk disamping Kinanti berdiri.
" Bagaimana bu?" tanya Damar mendekat.
" sudah sadar.. tapi sejak tadi dia diam saja.." ujar ibu dengan raut wajah yang sangat sangat kecewa dengan kondisi sekarang.
" Nan..?" Damar mendekat, duduk di samping Kinanti.
Benar, Kinanti diam saja, wajahnya begitu pucat.
" Dimana yang sakit Nan? ayo kita ke dokter..?" kata Damar pelan dan hati hati.
Pandangan Kinanti yang sedari tadi lemah dan kosong tiba tiba beralih pada Damar.
" Mas..?" ucap Kinanti lirih,
" Iya, ini mas disini.. katakan padaku Nan?"
Melihat sosok Damar membuat Kinanti yang shock tiba tiba tersadar.
Kinanti bangkit sekuat tenaga, memandang Damar dengan air mata yang berlinang tanpa henti.
" Aku akan selalu membelamu.. jangan takut.." ujar Damar,
ia tak tahan lagi, di peluknya wanita itu, di peluknya erat meskipun ada ibu dan Yusuf disana.
__ADS_1
" Aku akan selalu membelamu dan mendukungmu.. jangan takut..?" ucap Damar dengan perasaan yang tak kalah sedih.
Mendengar kalimat Damar, bukannya diam, tangis Kinanti makin keras, dan suara tangisan itu sampai ke telinga Haikal, juga gadis itu.
Seperti ingin menumpahkan kekesalannya, air matanya benar benar di tumpahkan di dada Damar.
Setelah Kinanti mulai tenang Damar meninggalkannya.
Ia berpikir Haikal dan gadis itu sudah pergi dari rumah ini,
tapi nyatanya ketika Damar keluar ia masih menemukan Haikal duduk berdampingan dengan gadis itu.
Entah Kenapa amarah bergemuruh lagi di dadanya.
Bisa bisanya, saat calon istrinya dalam kondisi seperti ini dia malah duduk berdampingan, bahkan berdekatan dengan perempuan lain.
Damar yang sudah menahan diri berminggu minggu rupanya sudah tidak sanggup menahan diri.
" Bediri.." ucapnya dengan nada tenang pada Haikal.
Haikal tak menjawab, tapi ia langsung berdiri.
" Ayo keluar.." Damar berjalan ke arah teras, dan Haikal dengan polosnya mengekor di belakangnya.
Tanpa menunggu, Damar berbalik ke arah Haikal, mengepalkan tangannya, dan
" Bugh!" sebuah tinju keras dari tangan Damar jatuh ke wajah Haikal.
Haikal terperangah saking kagetnya.
" Aku sudah berminggu minggu menahan diriku, ku kira kau bisa menyelesaikan semua ini dengan senyap tanpa melukai Kinan, tapi nyatanya..?!" ujar Damar dengan mata penuh kilat kemarahan.
" Ayo, balaslah..! aku tidak gentar melawanmu meski kau berseragam!" tegas Damar, pikirannya sudah tidak bijaksana lagi melihat Kinanti yang terbaring di kamar sementara Haikal duduk berdampingan dengan perempuan lain.
" Jangan mas?! ini salahku, maafkan mas Haikal?!" gadis itu berlari keluar, berdiri di depan Haikal menghalangi Damar dan Haikal agar tidak berkelahi.
" Aku tau kau mau membalasku, balaslah..! apalah arti tinjuku yang seorang tukang kayu ini untukmu yang gagah dan kuat!" Damar memprovokasi, ia memang ingin berkelahi sampai sepuasnya, entah kalah atau menang akhirnya, yang jelas ia harus memberikan Haikal beberapa pukulan lagi agar dirinya bisa tidur nyenyak malam ini.
" Cukup mas? cukup?!" Yusuf keluar, di susul Kinanti, sedangkan ibu tak sanggup lagi melihat para anak muda itu.
Beliau tetap diam di dalam kamar dengan penuh kekecewaan.
" Nan? aku bisa jelaskan.. kami benar benar sudah putus Nan??" ujar Haikal mendekat ke arah Kinanti.
Tapi Damar dengan cepat menyambar Kinanti dan merangkulnya, seakan mengklaim bahwa Kinanti adalah miliknya.
" Jangan keterlaluan mas?!" ujar Haikal marah melihat dirinya di cegah untuk mendekati Kinanti.
Sedangkan Kinanti, ia memandangi Haikal dan gadis di hadapannya itu bergantian,
satu hal yang tak luput, lengan Haikal selalu di gandeng sejak tadi oleh gadis itu, dan herannya Haikal tidak menolak sama sekali.
Kinanti terdiam, suasana senyap cukup lama.
Hingga akhirnya Kinanti melepaskan diri dari rangkulan Damar dan berhadapan dengan Haikal dengan jarak yang lebih dekat.
" Pergilah.. bawa perempuanmu dari sini.." ujar Kinanti dengan suara memaksakan dirinya agar kuat dan tenang.
" Tapi Nan? ini tidak seperti yang kau Kira?!" Haikal masih berusaha membela diri.
" Aku tidak ingin kau berkelahi dengan mas Damar.. jadi pergilah..
kita bicara saat aku sudah benar benar sehat.." Ucap Kinanti lagi lalu berjalan ke dalam rumah.
__ADS_1
Ia benar benar tidak kuat jika harus bicara lebih panjang lagi, seandainya ia tidak mendengar mas Damar memukul Haikal, maka ia tak akan bangun dari tempat tidurnya.
Damar yang melihat itu mengikuti langkah Kinanti masuk ke dalam, ia meninggalkan Haikal begitu saja, meski masih terlihat kilatan emosi di matanya.