Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kripik tempe


__ADS_3

Pagi itu Kinanti menyusul suaminya ke sawah, sembari membawa beberapa cemilan dan minuman.


Dengan langkah hati hati ia berjalan melewati petak demi petak sawah.


Senyumnya terkembang merasakan angin yang menerpa wajahnya dengan lembut.


Apalagi saat ia menangkap sosok suaminya yang sedang duduk di bawah pohon ceres.


Damar melambaikan tangannya pada Kinanti.


Kinanti membalasnya dengan anggukan, lalu kembali berjalan.


Namun ketika sudah dekat bertapa kagetnya ia melihat Yoga sedang duduk disamping suaminya.


Karena tubuh suaminya lebih besar, tubuh Yoga jadi tidak terlihat jelas dari kejauhan.


Tidak ada yang bisa Kinanti lakukan selain mendekat dan duduk di sebelah suaminya dengan ekspresi senormal mungkin, apalagi banyak para petani yang sedang duduk tak jauh dari mereka.


" Ku bawakan cemilan dan minuman mas.." Kinanti mengeluarkan beberapa camilan dari kantong plastik.


" Wah.. istriku ini.. faham sekali.." ujar Damar.


" Kopi dong.."


" Kata pak dokter kemarin mas tidak boleh minum kopi untuk sementara.." Ujar Kinanti tanpa menatap Yoga.


Damar langsung menatap Yoga,


" Wah.. aku kan sudah sembuh Yog?"


" tetap saja mas.. kurangi kopi dan rokokmu.." ucap Yoga,


" Buatku mana mbak yu.. masa mas Damar saja.." Yoga meminta dengan senyumnya.


Kinanti mengambil satu bungkus cemilan, keripik tempe, dan memberikannya pada Yoga.


" Alhamdulillah.. dapat juga.." ujar Yoga sembari tersenyum.


" Temani mas saja disini Nan, dirumah tidak mengerjakan apa apa kan?" ujar Damar,


" Tidak mengerjakan apa apa mas, tapi kan sudah ada papa Bagas yang menemani..?"


" ah.. di temani istri sama saudara itu beda..


apalagi hawanya enak seperti ini.."


jawab Damar tersenyum lebar.


" hemm.. tingkah mas seperti hanya mas saja yang punya istri di dunia ini.." ucap Yoga sembari mengunyah keripik tempenya.


" Mangkannya kau segera menyusul.." ujar Damar,


" aku sedang tidak terburu buru mas.." jawab Yoga membuang pandangannya pada hamparan padi.


" Bagas dimana?" tanya Kinanti,


" Sedang ikut mbak Winda belanja ke kota mbak, sudah berangkat dari tadi pagi..


mungkin sebentar lagi pulang.." jawab Yoga.


" Lalu kau kenapa tidak keluar? malah nongkrong di sawah bersamaku sejak tadi..?" tanya Damar,


" Aku ingin menikmati hari libur dengan tenang mas.. apa tidak boleh?" sahut Yoga,


" boleh.. tapi tumben saja.."


" Yah.. namanya orang, rasanya aku jenuh juga dengan keseharianku mas.." keluh Yoga.


Tak lama tiba tiba seorang petani berjalan ke arah Damar, tubuh petani itu basah di penuhi lumpur,


namun ia bukan salah satu pekerja Damar atau mbah uti.


" Nuwun sewu ( permisi ) mas Damar..?" si bapak itu mendekat.


" Nggih pak, wonten nopo? ( ada apa?)" tanya Damar.


" Traktor saya mogok mas.. mau minta tolong angkat dari sawah.." si bapak berbicara dengan hati hati.


" Ngapunten ( maaf) lho mas.. bukan mau lancang, tapi disini laki lakinya cuma njenengan sama mas e.." Si bapak menunjuk Yoga.


" Mboten nopo nopo pak..( tidak apa apa pak..)" ujar Damar lalu bangkit,


" Biar saya coba lihat pak sebentar.. mungkin bisa di perbaiki.. dan di pakai bekerja lagi.. jangan buru buru diangkat dulu.." ucap Damar.


" Yog, biar ku periksa dulu, kau disini dulu temani mbak yu mu.."


" Aku mau ikut mas saja?!" suara Kinanti cepat.


" Eh.. patuhlah.. disana lumpur semua, diam dan duduklah disini dengan Yoga, aku akan segera kembali.." Damar memberi pengertian pada istrinya itu.

__ADS_1


" Ya sudah.." jawab Kinanti dengan berat hati akhirnya.


Damar melepas sandalnya, lalu berjalan mengikuti langkah di bapak.


Kinanti memperhatikan langkah suaminya, sampai suaminya itu sampai di petakan sawah paling ujung.


Yah benar.. itu bukan sawah milik suaminya, tapi bukan alasan untuk tidak membantu orang lain, apalagi suaminya itu terkenal ringan tangan.


Dari kejauhan Kinanti melihat suaminya itu masuk ke dalam sawah yang seluruhnya terdiri dari tanah yang basah yang sedang di bajak.


Dengan sigap suaminya itu memeriksa entah apa.


Kinanti menghela nafas panjang,


" Sana kek, bantu..!" ujar Kinanti pada Yoga,


Namun Yoga hanya tersenyum,


" bantu apa? tau sendiri aku tidak faham otomotif..


kita kan pernah jalan kaki 5 kilo gara gara motor mogok, seandainya aku bisa memperbaiki mungkin kita tidak akan jalan kaki sejauh 5 kilo.." Yoga mengunyah kripiknya lagi.


" Bisa mu apa sih?!" Kinanti bergumam ketus sembari mencabuti ujung ujung rumput si samping nya.


" Bisaku..? mencintaimu.." ucap Yoga menatap Kinanti.


" Mulai lagi..!" Kinanti membuang pandangannya ke arah suaminya yang jauh.


" Aku bicara tentang kenyataan.."


" Kau perayu..!"


" aku rela jika yang ku rayu adalah dirimu, sudahlah.. jangan ketus begitu..


kan aku bilang hanya ingin berdiri disampingmu dengan tenang tanpa mengharapkan kau membalas perasaanku.." Keduanya beradu pandang.


" Kau membuat ku gila rasanya..?!" ujar Kinanti sembari menghela nafas.


" Kau juga sama.. membuatku gila.." sahut Yoga.


Kinanti diam cukup lama, sehingga ia dapat mendengar suara angin yang menampar lembut pipinya dan memainkan rambut panjangnya nya kesana kemari.


Begitu pula dengan Yoga, angin juga mempermainkan ujung rambutnya,


membuat wajah yang rupawan itu terlihat jelas.


" apanya yang lucu?" Kinanti tak menatap wajah Yoga dan sibuk membenarkan letak rambutnya.


" Nasib kita.."


Mendengar itu Kinanti terdiam,


" aku ingin kita berdampingan sampai tua.."


" maksudmu..??"


" Jangan pergi.. jangan menghindar.."


" Jika kau ingin kita hidup berdampingan dengan baik, segeralah menikah.. mungkin sikapku akan lebih baik padamu"


ujar Kinanti.


" Kasihan perempuan itu kalau hanya ku jadikan pelampiasan.."


" tidak hanya menikah, tapi kau harus mencintainya..!" tegas Kinanti.


" Bagaimana caranya aku mencintai orang lain..? hatiku penuh oleh dirimu.."


Kinanti diam, wajahnya memerah tiba tiba, entah malu, entah kesal..


" saking kesalnya rasanya aku ingin mencabut semua rambutmu sampai botak.." gumam Kinanti.


Yoga tertawa, Keduanya diam cukup lama memandangi Damar dari jauh.


Kinanti tampaknya sibuk dengan rambutnya yang berlarian kesana kemari, sampai sampai beberapa rambut itu menempel di sela bibirnya.


" Aduh.." keluh Kinanti,


Yoga yang melihatnya sejak tadi menghela rambut itu, dan menariknya ke belakang dengan hati hati.


" Bahkan angin pun suka dengan wajahmu.. bagaimana bisa kau menyuruhku menjauh.." ucap Yoga.


Kinanti diam, malu, risih, jadi satu.


Kinanti buru buru melihat sekitar, ia takut ada yang melihat Yoga menyentuh rambutnya.


" Jangan khawatir.. tidak ada pekerja yang berani menatap kita.." ucap Yoga menenangkan Kinanti.


" Jaga tanganmu..!" Kinanti menegaskan,

__ADS_1


" kalau begitu jaga juga wajahmu.." Yoga tersenyum.


" maksudmu?!"


" Nan..?" panggil Yoga lembut,


" Mbak! bukan Nan.." Kinanti melotot,


Yoga tertawa,


" mbakyu.. mbak yu yang kucintai.." ucap Yoga membuat Kinanti semaki melotot.


" Hei.. mata yang cantik itu bisa meloncat keluar lhoo.." Imbuh Yoga masih tertawa.


" Hentikan Yog?!"


" Iya iya.. sudah sudah.. nanti di lihat orang lho.." sahut Yoga.


" Yog! Yoga?!!" terdengar suara Damar dari jauh, tangannya melambai lambai.


" Nah.. mas Damar memanggilku.. diamlah disini tuan putri.." Yoga menaruh keripik tempe itu lalu bangkit.


" Aku ikut?!" Kinanti ikut bangkit,


" Jangan.. nanti kau kotor.." ujar Yoga.


Tapi Kinanti tetap saja mengekor di belakang Yoga, ia mau melihat suaminya dari dekat.


Dan benar saja, Kinanti terperosok dan jatuh.


" Apa ku bilang?" Yoga membantu Kinanti berdiri.


Damar yang melihat istrinya jatuh dari kejauhan sebenarnya akan berlari mendekat, tapi saat ia melihat Yoga sudah menolong istrinya, di urungkan niatnya.


" Kembalilah duduk disana.. dan tunggu kami.." Ujar Yoga.


" Mas?!" panggil Kinanti pada suaminya,


" Duduk saja?! duduk sayang!" suara Damar berteriak.


" Apa ku bilang, bahkan suamimu menyuruhnu duduk tenang.. patuhlah mbak yu sayang.." suara Yoga lembut.


Mendengar itu Kinanti kembali ke tempatnya semula dengan langkah berat.


" Jatuh mbak?" sapa ibu ibu yang di lewati Kinanti.


" Nggih bu.. saya kurang hati hati.." jawab Kinanti tersenyum,


" Lenggah mriki ( duduk sini ) lho mbak.." ujar salah satu ibu ibu yang baru saja duduk dan beristirahat.


" Istirahat bu..?" tanya Kinanti duduk disamping ibu ibu itu.


" Iya mbak.. baru sekarang lihat sampean jarak dekat.."


" Nggih bu.." Kinanti mengangguk,


" Pinter mas Damar cari istri.. cantik, munggil.." ujar ibu itu tersenyum,


" Traktornya pak Mulyo rusak sepertinya.." imbuh si ibu,


" oh..itu pak Mulyo..?"


" nggih mbak, dia pemilik 5 petak sawah disini..


mas Damar pinter perbaiki ini itu nggih mbak.. serba bisa orangnya..


kalau mas Yoga kan pak dokter man bisa perbaiki mesin..


bisanya nyuntik orang.." si ibu tersenyum,


" Nggih bu.." Kinanti ikut tersenyum, ia tak tau harus menjawab apa.


Di alihkan lagi pandangannya pada suaminya.


Benar sekali.. sosok Damar yang kaki dan tangannya kotor itu serba bisa,


perempuan mana yang tidak jatuh cinta melihat karakter sekuat dan seramah itu.


Sedangkan yang satu,


Kinanti melirik Yoga yang disamping Damar.


Tenaga nya mungkin hanya separuh tenaga Damar dalam urusan bekerja keras, tapi perkara ke kaleman dan wajah tampannya, Kinanti tak bisa berkomentar.


" Owalah.." Kinanti mengeluh dalam hati,


situasi macam ini pikirnya.


Ia memandangi kedua laki laki itu, satu adalah suaminya, dan satu lagi adalah laki laki yang pernah di cintainya sepenuh hati, dan ternyata sampai sekarang masih mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2