
Dinda melihat jam dinding,
Harusnya sudah pulang sedari tadi, apa mungkin dia lembur?,
apa dokter ada lembur?, batin Dinda.
Ia tidak punya wawasan apapun tentang pekerjaan seorang dokter selain mengobati pasien.
Dinda menyelimuti Bagas yang sudah tidur sejak jam tujuh tadi, lalu bangun perlahan dan berjalan keluar kamar.
Tak lama ada suara mobil yang memasuki garasi.
Dinda yang sedang berdiri disamping jendela tengah itu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
" Bagas sudah tidur?" tanya Yoga sembari melangkah masuk.
Dinda menutup pintu dan segera mengejar langkah Yoga.
" Kenapa??" tanya Dinda menarik lengan Yoga.
" Kenapa maksudnya?" tanya Yoga datar.
Dinda menyentuh tulang pipi Yoga yang sedikit bengkak dan memerah.
" Aduhh..." keluh Yoga pelan,
" kau berkelahi?" tanya Dinda dengan raut khawatir.
Namun Yoga hanya diam dan melanjutkan langkahnya.
" Aku mau mandi? mengikutiku terus?kau mau ikut?" ujar Yoga saat melihat Dinda terus mengikutinya dari belakang.
" Biar ku obati dulu?" suara Dinda canggung.
" Tidak usah.. aku sudah terbiasa sakit." sahut Yoga dingin, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Dinda terdiam, tak bergerak dari tempatnya.
Sikap Yoga yang seperti itu entah kenapa membuat hatinya tak rela.
Wajah yang penuh senyum hangat itu berubah menjadi tidak hangat lagi dua hari ini.
Dinda memutuskan kembali ke kamar, namun sesampainya di kamar jangankan tidur, memejamkan mata saja ia tidak bisa.
Di ambil HPnya, di sibukkan dirinya.
Beberapa chat masuk dari beberapa pemilik konveksi ia buka satu persatu, dan ia balas pula satu persatu.
Tiba tiba saja ada sebuah Chat,
- Chat siapa malam malam begini?
Yoga?, bukankan dia sudah tidak perduli? lalu untuk apa sekarang bertanya?.
Dinda tak membalas, di tenangkan hatinya.
Ia tetap fokus membalas chat dari pemilik konveksi.
Mereka bertanya kapan Dinda kembali ke bandung, karena stok melimpah dan siap di kirim ke pasar baru.
Baru saja Dinda mengetik beberapa kata, pintu kamar Bagas tiba tiba terbuka.
Yoga berdiri tegak disana dengan pandangannya yang nanar.
Rambut laki laki itu masih basah, ia pun hanya menggenakan celana piyamanya, dada dan perutnya di biarkan terbuka begitu saja dengan sisa sisa air yang masih menetes dari rambutnya.
Entah sengaja, entah buru buru.
" Kenapa tidak menjawab?" suara Yoga dalam, sekilas di lirik HP di tangan Dinda, sorot matanya tidak senang.
Tanpa menunggu ia berjalan dengan cepat mendekat ke tempat tidur.
Di sambarnya HP Dinda hingga Dinda yang kaget memberingsut mundur.
seperti seorang suami yang mencurigai istrinya menghubungi laki laki lain, Yoga membuka chat satu persatu.
" Itu privasi?!" Dinda bangkit dan berusaha merebut HPnya kembali.
" Tidurlah, kukembalikan besok." ujar Yoga lalu berjalan pergi keluar kamar begitu saja.
Meninggalkan Dinda dalam kebingungan.
Laki laki ini! geram Dinda dalam hati.
Di susulnya langkah Yoga, laki laki itu masuk ke dalam kamarnya, Dindapun turut masuk.
" Kembalikan?" tuntut Dinda dengan suara masih tenang.
" Tidak" jawab Yoga pendek,
" aku memintanya baik baik, tolong kembalikan HP ku.." ulang Dinda menahan diri.
" Aku bilang besok pagi ya besok pagi" Yoga masih acuh.
" Untuk apa sih?!" suara Dinda akhirnya meninggi,
" Apa yang mau kau lihat? tidak ada yang penting selain membicarakan bisnis disana?!" tegas Dinda.
Tapi laki laki itu masih saja acuh, ia mengambil atasan piyamanya dan memakainya.
" Kembalilah ke kamar Bagas, atau kau mau tidur disini?" suara Yoga seperti perintah.
" Yoga.. dengarkan aku, jika kau terus seperti ini, maka aku tidak akan banyak berpikir lagi,
jangan salahkan aku kalau aku mempercepat kepulanganku ke bandung?!" tegas Dinda lalu berbalik.
Yoga yang merasa ucapan Dinda itu serius tentu saja bergerak cepat.
Laki laki yang sebelumnya acuh itu tiba tiba berjalan secepat mungkin ke arah pintu kamar dan menguncinya, tentu saja bertujuan agar Dinda tak bisa keluar.
Dinda sontak menatap Yoga penuh kemarahan.
" Sekarang apa?" tanya Dinda dengan wajah lelah.
__ADS_1
Yoga bersandar di pintu wajahnya juga terlihat lelah dan lesu, sekarang setelah mandi bengkak di pipinya justru lebih terlihat.
Dinda menjadi bimbang melihat itu, di hela nafasnya, lalu berjalan ke arah tempat tidur dan duduk.
" Dua hari ini kau bersikap acuh padaku, ku kira kau sudah menyerah..
tapi ternyata aku salah,
kau menyimpan kemarahan padaku kan, karena aku keluar dengan Yusuf dan pulang tengah malam?" ujar Dinda pada Yoga yang masih saja diam bersandar di pintu.
" Kau benar, Yusuf mantan pacarku.." lanjut Dinda.
Dinda mengira respon Yoga akan seagresif biasanya, tapi ternyata tidak, seakan kakinya lemas, tubuh laki laki itu merosot turun dan terduduk di lantai.
Dinda terheran heran, ada apa dengan laki laki ini? biasanya dia dominan.. tak pernah menunjukkan ekspresi selemah ini.
" Sepertinya kau lelah, aku akan mengalah malam ini.. akan kuminta HP ku besok pagi, sekarang buka pintunya," Dinda tidak ingin ada keributan lagi diantara dirinya dan Yoga, jika mengalah adalah pilihan yang baik, itu akan dia lakukan.
" Aku akan ikut ke bandung.."
Yoga membuka suara tiba tiba,
" maksudmu?" Dinda mengerutkan dahinya, antara heran dan tidak mengerti apa maksud Yoga sesungguhnya.
" Aku bilang, aku dan Bagas akan ikut ke bandung.." jawab Yoga lebih jelas,
ia masih terduduk dan bersandar di pintu.
" Liburan? memangnya kau tidak akan bermasalah dengan pekerjaanmu jika sering bepergian seperti itu?"
" aku akan keluar dari pekerjaanku.." jawab Yoga tenang dan ringan, tapi tidak dengan sorot matanya yang tak lepas dari Dinda sedetikpun.
" Keluar dari pekerjaanmu??" tanya Dinda tidak bisa menutupi keterkejutannya atas kata kata Yoga.
" Hei.. kau benar benar tidak bisa berpikir dengan jernih ya sekarang? jangan mengambil keputusan yang akan kau sesali nanti??" lanjut Dinda dengan resah, perempuan itu bangkit dan mendekat pada Yoga, ia ingin melihat ekspresi laki laki itu dengan lebih jelas.
" Dengarkan aku, kau tidak harus melakukan hal bodoh semacam itu..
tolong, berpikirlah yang realistis..?" bujuk Dinda akhirnya duduk tepat di hadapan laki laki itu.
" Kau tidak memberiku pilihan lain.." jawab Yoga lirih.
" Aku sudah mati langkah..
jika kau terus memaksa pergi,
maka aku yang akan mengikutimu..
pekerjaan dan apapun yang ada disini akan kutinggalkan.." imbuh Yoga meredup.
Dinda terhenyak, apa yang ia dengar ini nyata? apa laki laki ini bersungguh sungguh, atau ini hanya sebuah upaya untuk mencegah Dinda pergi?.
" Kau.. kau sedang kurang sehat,
kita bicara ketika kau sudah sehat ya..?
sekarang ayo bangun?" ajak Dinda bangkit dari lantai yang dingin itu.
" Ayolah.. turuti aku..?" Dinda menarik lengan laki laki itu agar bangkit, tapi jangankan bangkit, bergerak saja tidak.
aku harus menyelesaikan semua urusanku disini, meski tak akan mudah meminta persetujuan mbak Winda dan mas Damar.." laki laki itu sungguh sungguh serius rupanya.
" Dan.. bolehkah kita tidak tinggal di kontrakan itu..?" tanya Yoga membuat hati Dinda akhirnya bergetar.
" Kenapa?" tanya Dinda mengikuti alur pembicaraan Yoga.
" Kita harus membesarkan Bagas di tempat yang baik.."
" apa tempat itu kurang baik menurutmu?"
Yoga mengangguk,
" Karena sederhana? sempit?"
Yoga menggeleng,
" lalu?"
" terlalu banyak laki laki.." jawabnya, tentu saja banyak laki laki, karena di gang itu banyak kost dan kontrakan.
Dinda tersenyum sekilas, namun senyum itu tak bisa menutupi kegalauan hatinya.
" Jadi kau benar benar mau mengikutiku?" tanya Dinda meyakinkan Yoga dan dirinya.
Yoga mengangguk,
" Kau tidak akan menyesal?"
" asal kau selalu menyayangi kami, tidak akan pernah ada penyesalan.." jawab Yoga yakin.
" Kalau hidup kita disana tidak senyaman hidupmu disini bagaimana?"
" Aku akan bekerja keras.. mencari rumah sakit yang bagus, kalau perlu aku akan bekerja di beberapa tempat,
aku mau kau dan Bagas bahagia.."
Jawaban itu cukup menusuk hati Dinda,
laki laki ini benar benar tidak bisa membuatnya lari lagi.
Bagaimana dirinya bisa lari, jika Yoga sudah memutuskan untuk mengikutinya.
Dinda memandangi Yoga, tak habis pikir..
" Kau sungguh sungguh ingin berumah tangga denganku?" tanya Dinda masih ingin meyakinkan dirinya.
Keduanya beradu pandang, tak ada yang bicara, hingga suasana cukup hening.
" Telfon keluargamu.." Yoga menyerahkan HP Dinda,
" untuk apa? ini juga sudah malam?" Dinda menerima HP itu dengan ragu.
" Mungkin mereka belum tidur, karena belum terlalu lama juga aku pulang dari sana.."
__ADS_1
Dinda terbelalak,
" Kau dari rumah? untuk apa?!" tanya Dinda, tapi tak mendapat jawaban.
" Jangan jangan?!" Dinda tak meneruskan kalimatnya, tangannya spontan menyentuh pipi Yoga yang terlihat membengkak.
" Kau berkelahi lagi dengan Roni??"
Yoga masih saja diam, tak menjawab.
Melihat Yoga yang diam saja, mau tidak mau dia menelfon orang rumahnya.
" Hallo? bapak?" Suara Dinda sedikit canggung,
" Dinda mau bicara dengan bapak saja kalau ibuk sudah tidur.. apa, hari ini ada teman Dinda yang kerumah?" tanya Dinda pelan dan hati hati.
Tak terdengar lagi suara dari Dinda yang bertanya,
yang Yoga lihat hanya perubahan ekspresi Dinda saat ia mulai mendengarkan suara bapaknya dari balik telfon.
Berkali kali mata Dinda menatap Yoga dengan pandangan tak percaya.
Yoga hanya bisa diam dan memperhatikan.
dan setelah beberapa menit Dinda berbicara dengan bapak sambungnya, HP yang awalnya menempel lekat di telinganya itu di letakkan di atas lantai.
" Kenapa kau bertindak seperti itu?" tanya Dinda dengan suara bergetar.
" Kau bertanyakan? apa aku sungguh sungguh ingin berumah tangga denganmu?
tidak akan ada gunanya jika aku hanya menjawab dengan mulutku saja.." jawab Yoga.
" Lalu dimana kau bertemu dengan Roni?"
" Aku datang kerumahnya, Bapakmu yang mengantarkanku.."
Dinda tak bisa lagi membendung air matanya, di peluknya Yoga tanpa berpikir lagi.
" Kau tidak perlu memohon sampai seperti itu pada ibuku..?!" tangis Dinda pecah, ia mendengar dari bapak sambungnya bahwa Yoga datang menemui kedua orang tuanya, memohon restu untuk dirinya dan Dinda, bahkan memberi sepaket perhiasan untuk mengambil hati ibunya, karena berkali kali dirinya di tolak dengan alasan mantan suami Dinda masih menginginkannya.
Dan tak cukup disitu, Yoga bahkan dengan berani datang ke kediaman mantan suami Dinda, memperingatkannya agar tidak menganggu calon istrinya lagi, hingga terjadilah perkelahian diantara keduanya.
Untung saja, bekas mertua Dinda cukup bijaksana, ia melerai dan menasehati putranya untuk melepaskan apa yang sudah tidak menjadi miliknya lagi.
" Bisa bisanya kau..? bagaimana kalau Roni berbuat hal jahat padamu?"
" Aku pasrah...karena ini adalah usaha terakhirku.." jawab Yoga.
" Bodoh! lalu kau biarkan Roni memukulmu?!"
" tenanglah, dia mendapatkan lebih banyak pukulan dariku.." Yoga melingkarkan tangannya di punggung Dinda, membalas pelukan Dinda dengan erat.
" Apa yang kau janjikan pada ibu, dia tidak mungkin menyerah hanya dengan satu set perhiasan?" tanya Dinda penasaran, masih di sela sela tangisnya.
" Kau tak perlu tau apa yang ku janjikan.. yang jelas..
ibumu tak akan menganggu Kita kedepannya.." jawab Yoga mengulas senyum,
" Kau mengancamnya?" Dinda melepaskan pelukannya dan memandang Yoga serius.
" Mana mungkin aku mengancam mertuaku?"
" lalu?"
" Biar ini jadi urusanku sayang.."
" tidak, aku tidak mau kau rugi apapun?!"
" tidak, aku tidak rugi apapun.. dan kujamin ibumu tidak akan merecokimu lagi.."
" kau serius?"
Yoga mengangguk sembari menghapus sisa air mata di pipi Dinda.
" Ya sudah.." kata Dinda menyandarkan kepalanya di bahu Yoga.
" Ya sudah? itu saja??" tanya Yoga tak percaya hanya mendapatkan kalimat itu saja setelah apa yang sudah di lakukannya.
" Ya sudah.. lalu mau aku bagaimana?" sahut Dinda pasrah.
" Wah.. enteng sekali..setidaknya katakan sesuatu yang menyentuh hatiku?" tuntut Yoga menghela wajah Dinda agar menatapnya.
Dinda yang wajahnya merah dan sembab itu mau tidak mau menuruti Yoga.
" Terimakasih atas segala usahamu untuk memperistri aku..
dan aku..
aku mau menjadi istrimu.." ujar Dinda sembari malu malu.
Akhirnya.. batin Yoga, ia terlalu bahagia sampai tak mampu berkata kata.
Di kecup perempuan yang sedang pasrah di pangkuannya itu.
" Aku mau secepatnya.." bisik Yoga di telinga Dinda, lalu bibirnya turun mengecupi leher Dinda.
" Aku mencintaimu Din.." ucapnya lirih, namun terdengar jelas di telinga Dinda, dengan gerakan yang lembut, di renggutnya bibir Dinda.
Kali ini hal yang luar biasa bagi Yoga terjadi, Dinda membalas ciuman Yoga dengan sama hangatnya,
lengan perempuan itu terulur ke leher Yoga dan jemarinya yang lentik membelai kuduk laki laki itu.
" Aduhhh..." keluh Yoga melepaskan ciumannya dan menyandarkan kepalanya di pintu.
" Kita berhenti saja, aku tidak bisa menahannya kalau kita melanjutkannya lagi.." ucapnya dengan mata terpejam, ia benar benar menahan dirinya dengan susah payah, bahkan lantai yang dingin itu tidak bisa mendinginkan darahnya yang mendidih karena sentuhan Dinda.
Entah kenapa Dinda tersenyum senang melihat Yoga yang setengah mati menahan diri itu.
Diulurkan kembali tangannya ke bahu Yoga, dan jemarinya mulai menyusuri leher Yoga dengan sengaja.
Yoga berjingkat,
" Kau membalasku karena menggodamu selama ini?" tanya Yoga dengan wajah merah padam,
__ADS_1
Dinda hanya tersenyum,
" Dasar pendendam?!" tegas Yoga melingkarkan tangannya kembali ke pinggang Dinda.