Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
toko


__ADS_3

Damar menggendong putrinya sembari meneliti satu persatu gelondongan gelondongan kayu besar yang sudah di tata rapi di gudang.


" Apak.."


" hemm.." jawab Damar pelan,


" apakk..."


" dalem sayang.. sebentar lagi diantar ke ibu, bapak mau lihat kayu sebentar ya.." ujar Damar sembari mencuri pipi putrinya.


" Maaf pak.. laporannya saya letakkan di meja bapak.." seseorang mendekat,


" hemm.. ya sudah, ambil juga laporan dari gudang belakang,


biar sekalian,


karena sore ini aku tidak di tempat.."


" iya pak," jawab pemuda di hadapan Damar, ia mengangguk dan segera berjalan ke arah gudang belakang, dimana kayu kayu dengan jenis dan ukuran berbeda di letakkan.


Damar melangkah memasuki halaman rumahnya, masih dengan gendhis di tangannya.


" Jam makan siang ini mas," suara Kinanti dari dalam rumah.


" Nah maem dulu, sama ibu.." Damar menurunkan putrinya dari gendongannya tepat setelah melewati pintu rumah.


" Masak opo Nan..?" tanya Damar berhenti di depan pintu dapur, memperhatikan istrinya yang sedang memindahkan lauk pauk ke atas piring.


" Sayur asem sama pepes ikan, ada dadar jagung dan mendol juga.."


" wahhhh..." wajah Damar terlihat bersinar,


" Hayuk hayukk maem..!" Damar buru buru berjalan ke meja makan, menggendong Gendis dan mendudukkan Gendhis di pangkuannya.


" Gendhis maem opo iki..?" tanya Damar pada Kinanti yang menaruh beberapa piring dan duduk tak jauh darinya.


" sudah di siapkan sayur dan ikannya sendiri..


sini nduk.. sama ibuk, bapak biar maem.." Kinan mengangkat tubuh Gendhis dan memindahkan ke pangkuannya.


" aem.. endhis aem.." ujar gadis kecil yang belum sempurna bicara itu.


Betapa senangnya Damar mendengar celoteh putri kecilnya itu.


Semangat seakan bertambah dan bertambah saat melihat putrinya itu berceloteh.


" Nanti mas harus ke surabaya Nan.." kata Damar di tengah tengah makannya.


" Ke pabrik pak Zulkarnain?" tanya Kinanti sembari menyuapi putrinya.


" Iya, dia beberapa kali komplain.. katanya ada kayu yang riject,


padahal pengiriman sudah ku awasi baik baik.."


" mungkin ada kelalaian dari pekerja mas?"

__ADS_1


" aku tidak tau benar.. karena itu aku merasa harus datang..


kalau memang ada kesalahpahaman, bukankah harus segera di luruskan..


aku tidak mau kehilangan kepercayaan darinya.."


Kinanti mengangguk pelan,


" Iya.. hati hatilah.. dengan siapa kalau boleh tau.. Umar?"


" tidak.. aku mengajak Yusuf.. hitung hitung belajar.. ya tho?"


" benar.." sahut Kinanti tersenyum.


Yusuf dan Kaila melewati area persawahan yang sudah setahun lebih tak di lihatnya itu.


Sawah milik Damar terbentang hijau.


Angin bertiup seakan menyambut Kaila yang di besarkan di tempat itu.


" Kenapa?" tanya Yusuf saat wajah istrinya terlihat sendu.


" Tidak.. aku hanya merasa rindu.." jawab Kaila pelan.


" Tentu saja, kau di besarkan disini.." Yusuf tersenyum mengerti.


Di masukkan mobilnya ke halaman rumah Yoga.


" Ibu tidak adakan..?" tanya Yusuf,


" Masih begitu ya?"


" itulah hidupnya.." jawab Kaila keluar dari mobil, di susuk oleh Yusuf.


" Ke mba Winda dulu, atau ke Bagas?" tanya Yusuf,


" Ke mbak Winda dulu saja.. setelah itu kita kesini.."


" Ya sudah.. tapi nanti ku tinggal ya? kan aku ada janji dengan mas Damar.."


" hem.. ya sudah.. " jawab Dinda berjalan ke arah rumah Winda.


Yoga dengan sengaja datang ke toko Dinda,


waktu istirahat siangnya ia sia siakan demi melihat kondisi toko tanpa pemiliknya.


" Ibu belum sehat pak?" tanya salah satu pekerja di toko,


" belum.. biar ibu istirahat.." jawab Yoga duduk di kursi kerja Dinda.


Tak sengaja mata Yoga menemukan tumpukan baju yang masih di bungkus plastik plastik besar.


" Itu barang baru?" tanya Yoga penasaran.


" Nggih pak.. kami tidak berani buka, karena setiap barang datang ibu sendiri yang memeriksanya,"

__ADS_1


" sebanyak itu ibu periksa sendiri??"


" iya pak.. ibu yang periksa semua barang keluar masuk tanpa terkecuali..".


Yoga mengangguk pelan sembari berpikir.


Saat ia sedang berpikir, muncul seorang laki laki yang menarik perhatiannya.


" Bos mu mana?" tanya seorang laki laki berpostur tubuh tinggi dan berkulit putih, usianya tampak tak jauh berbeda dengan Yoga, dandanannya rapi, klimis..


" Ibu sedang tidak di tempat.. tadi kan sudah saya jelaskan di telfon pak kalau ibu tidak di tempat.." jelas salah satu pegawai Dinda.


" Tidak di tempat itu kemana??" tanya laki laki berkemeja biru muda itu terlihat kesal.


Yoga melihat laki laki itu dari tempat duduknya, jaraknya sekitar lima meteran dari laki laki itu berdiri,


Yoga menatapnya dari atas ke bawah.. dari bawah ke atas.. tatapannya terlihat tidak senang ada sosok laki laki yang bisa di bilang gantengnya setara dengan dirinya itu, dan yang jelas posturnya lebih tinggi.


" Ibu sakit pak, jadi maaf.."


" ada nomor yang bisa saya hubungi selain nomor toko?" tanya pemuda itu sedikit memaksa.


" Tidak ada pak.. kami sendiri tidak tau nomor Hp ibu.. mohon maaf, bapak telfon saja ke nomor toko, nanti biar kami infokan kalau ibu sudah ada.."


" Ck..!" terdengar laki laki itu berdecak kesal.


" Ya sudah, bilang bosmu Rakha kesini, kalau sudah sehat suruh dia hubungi ya?, dia sudah ada kontakku..?!" tegas si laki laki itu.


Sembari berbalik laki laki itu melirik Yoga, keduanya sempat beradu pandang,


namun laki laki bernama Rakha itu tak menggubris Yoga,


ia berlalu begitu saja tanpa perduli atau penasaran Yoga itu siapa dan kenapa duduk di meja kerja Dinda.


Setelah laki laki bernama Rakha itu pergi suasana toko menjadi senyap, para pekerja tak ada yang berani bicara, dan lebih terkesan menghindari Yoga.


" Ada yang tau siapa laki laki tadi?" tanya Yoga akhirnya gatal.


Para pegawai saling berpandangan,


" lho, bukannya jawab malah saling melihat..?" Yoga menunggu jawaban.


" Itu pak.. dia biasanya mengambil partai besar dari ibu.." salah satu pegawai senior memberanikan diri.


" Tapi kenapa bicaranya seakan akan kenal dekat dengan ibu?"


" memang orangnya seperti itu pak.. tapi ibu hanya ada urusan bisnis dengannya pak..


karena itu ibu melarang kami untuk tidak memberikan nomor HP ibu pada siapapun" jelas si pegawai senior.


Yoga diam, tak lagi bertanya, tapi muncul ganjalan di hatinya,


dan sampai pulang itu tak bisa hilang.


Was was.. tentu saja, ia melihat lawan yang seimbang sedang meminta nomor HP istrinya dengan setengah memaksa.

__ADS_1


__ADS_2