Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
aku mengaku salah


__ADS_3

" Kau ini bagaimana?!!" protes Winda keras,


" kalau kau tidak cukup mampu untuk bertindak tegas?! biar aku yang bertindak!


sebenarnya selama ini apa yang kau lakukan untuk memperingatkannya sehingga dia besar kepala dan berani bertindak keterlaluan semacam itu?!!" Winda benar benar meradang,


Yoga habis oleh bentakan dan cacian dari kakak kandungnya.


Semua mata bisa melihat bekas kuku Vania yang melukai pipi Dinda.


" Aku saja merasa terhina! apa kau sebagai suami tidak!!" sejam berlalu, Winda masih mengomeli Yoga yang sudah kelihatan suntuk dan lelah.


" Beri aku kesempatan untuk menyelesaikannya mbak.." ujar Yoga setelah lama diam mendengarkan Winda bicara.


" penyelesaian macam apa? peringatan lagi?!!"


" tidak, aku sudah tidak punya rasa sabar.." jawab Yoga meyakinkan Winda.


" Istrimu di tampar orang, harga dirimu kau letakkan dimana?!


apalagi ku dengar laki laki lain yang membantunya,


kau benar benar mengecewakanku Yog!"


Winda terus saja mengeluarkan kekesalannya dan tak memberi kesempatan untuk Yoga bicara.


Dinda diam sediam diamnya,


ia tak bicara pada Yoga,


tak juga membiarkan Yoga menyentuh wajahnya meski Yoga ingin merawatnya.


" Aku berjanji.. hal semacam ini tidak akan terjadi lagi.." suara Yoga lirih disamping Dinda yang sedang berbaring.


Suasana kamar itu hening, tak ada jawaban atau gerakan sedikitpun.


" Aku mengaku salah.. harusnya mengambil langkah hukum lebih cepat.." imbuh Yoga kikuk karena di acuhkan.


" Tapi.. bolehkan ku minta sesuatu..?" Dinda masih tak berkutik,


" aku tau kau mendengarkan.. jadi aku akan terus bicara meski kau tak menjawab.." Yoga menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan istrinya.


" Aku tidak mau ada pihak ketiga yang mengambil kesempatan dalam kesempitan saat kondisi keluarga kita sedang seperti ini..


laki laki itu..


jangan mendekatinya atau memberinya kesempatan dalam bentuk apapun.."


suasana hening, cukup lama..


Yoga menunggu jawaban, namun Dinda tak kunjung menjawab.


" Laki laki itu suka padamu.." ucap Yoga lagi dengan suara yang lebih lirih dan sedikit bergetar.


" Aku sudah meneliti cctv sebelum kejadian..


katakan dengan jujur padaku..

__ADS_1


apa hatimu tergerak olehnya?"


mendengar pertanyaan Yoga Dinda sontak menatap Yoga tak percaya.


Yoga bangkit dan duduk tertunduk,


" Aku tidak mau kau tinggalkan.." suara Yoga benar benar bergetar, entah perasaan macam apa yang sedang ia tahan.


Mendengar itu Dinda bukannya luluh, perempuan itu bangkit, dan berjalan kearah pintu.


" Din??!" Yoga bangkit mengejar langkah istrinya.


" Jangan begini?" Yoga memegang handle pintu,


mencegah Dinda keluar dari kamar.


" Aku tidak ingin bicara apapun denganmu, jadi.. jika kau ingin aku tetap di kamar ini.. makan diamlah, tidur saja." suara Dinda datar lalu berbalik dan berjalan kembali ke tempat tidur.


Yoga termangu, dua tahun pernikahan mereka, tak pernah Dinda sedingin dan seacuh ini, belum lagi kata kata barusan,


Dinda bicara seperti orang lain,


ia berlaku seperti Yoga bukan suaminya.


Tiba tiba Yoga merasakan jarak yang begitu jauh, jarak yang entah dari mana datangnya dan siapa yang lebih dulu menciptakannya.


Beberapa hari ini Yoga juga menjadi sosok pendiam,


ia tak banyak bicara,


sudah seminggu ini dia terus saja pulang malam.


Bagas Yang melihat kediaman kedua orang tuanya tentu saja gelisah,


dia mengadu pada budhenya, yaitu Winda.


Winda yang sesungguhnya tau tentang apa yang terjadi enggan untuk bicara pada Dinda,


karena dirinya juga turut merasa bersalah atas ketidak tegasan adiknya.


Dinda malu karena sebagai kakak dirinya kurang tegas sehingga Yoga menjadi sosok yang semacam itu.


" Mama mau pergi.." Dinda membelai rambut putra sambungnya itu.


" Kemana ma?" bocah laki laki yang sama gantengnya dengan papanya itu bertanya,


" Bagas mau ikut mama?" Dinda mengulas senyum sendunya,


Bagas mengangguk dengan cepat,


" papa ikut ma??" pertanyaan Bagas membuat Dinda termenung sejenak,


" ma? ma? papa ikut ma??" tanya Bagas lagi karena Dinda tak kunjung menjawab.


" Tidak.." jawab Dinda lagi lagi memberi Bagas senyumnya,


" papa kerja.." jawab Dinda lagi.

__ADS_1


Bagas mengangguk dan tersenyum,


" Sekolah Bagas?"


" Biar mama yang ijin pada bu guru ya?"


" he emm..!" Bagas tersenyum lebar.


" Ya sudah.. Bagas main dulu, mama mau ke budhe Winda.."


" iya ma!" bocah itu berdiri dari duduknya dan berjalan setengah berlari ke ruang tengah,


mengambil remote tv dan duduk tenang.


Dinda berjalan keluar rumah, baru ia berjalan beberapa langkah sebuah mobil masuk ke halamannya.


" Adinda?!" sosok Rakha keluar dari mobil,


betapa terkejutnya Dinda melihat Rakha berada di halaman rumahnya, raut wajah Dinda bingung dan cemas.


" Kau? bagaimana kau tau alamatku?" tanya Dinda masih berdiri di tempatnya.


" Tidak perlu kau tau bagaimana caraku mendapatkan alamatmu..


aku gelisah, apalagi saat aku datang ke toko kau tidak ada terus..?" jawab Rakha mendekat.


Di tatapnya perempuan yang sedang di hadapannya itu.


Wajahnya tampak sendu, tak ada bias kebahagiaan sedikitpun,


begitu pula dengan apa yang ia kenakan sekarang,


memang.. Dinda yang sekarang lebih cantik dari pada Dinda yang dulu, tapi melihatnya berdaster begini, Rakha merasa tidak mengenal Dindanya yang dulu, yang acuh dan tidak feminim.


" Kau bisa memakai daster sekarang?" tanya Rakha mengulas senyum, Dinda tak berkutik, ia terlihat begitu cemas.


" Tolong pulanglah.. jangan menambah masalah.." ujar Dinda berusaha tenang.


" Masalah?" Rakha mendekat,


" aku ingin melindungimu.." imbuh Rakha.


" Rakha... kita bukan anak kuliahan lagi.. berpikirlah yang benar dan pantas..


tidak sepatutnya kau main main begini..?" Dinda frustasi melihat Rakha.


" Kau salah sangka padaku Din..


meski aku senang bercanda, namun aku serius dalam hal ini.." Rakha mendekat.


" Siapa Din?!" suara Winda dari kejauhan,


melihat seseorang berjalan mendekat Rakha mundur sedikit menjauh.


" Tamumu? kenapa tidak disuruh masuk?" tanya Winda setelah berdiri disamping Dinda.


" Tidak mbak, dia mau pulang.." jawan Dinda berusaha tersenyum,

__ADS_1


" bukankah kita belum selesai bicara Din? tidakkah seharusnya aku di persilahkan masuk..?" Rakha melempar senyum ramahnya pada Winda.


__ADS_2