
" Banyak hal buruk yang sudah dialami suamimu..
kenangan buruk seperti menumpuk numpuk menjadi satu..
kau kira kenapa dia menjadi sosok yang semengerti itu..
dia tidak hanya menjadi boss.. tapi menjadi saudara untuk para pekerjanya..
karakternya berbeda dengan kami, karena caranya di besarkan memang tidak sama.." ujar Winda tak bisa menahan dirinya juga dari lelehan air mata.
" Ibu Kaila masuk dalam rumah tangga orang tuanya..
sejak dia datang kesini ibu Damar mulai sakit sakitan..
sering kali Damar menjadi pelampiasan kemarahan bapaknya karena kebingungan bapaknya akan dua orang istri yang tinggal dalam satu atap,
dua karakter yang selalu bertabrakan.. dan bapak Damar tak bisa bersikap adil..
Demi ibunya, Damar rela menanggung pukulan demi pukulan, agar pukulan itu tidak sampai ke tubuh ibunya..
cacian pun dia terima setiap pagi saat ia akan berangkat ke sekolah..
Damar kecil selalu menundukkan pandangannya, jika ia berani menatap mata bapaknya maka itu akan dianggap sebagai perlawanan..
itu semu berlanjut sampai ibunya meninggal, saat ia lulus SMA kami semua memberinya saran agar ia menjadikan kuliahnya sebagai alasan untuk keluar dari kehidupan sehari harinya yang seperti neraka..
aku ingat sekali, saat itu ia menangis sembari memelukku sebelum berangkat ke surabaya..
dia pamit se akan akan tidak ingin kembali..
tapi mau tidak mau dia harus kembali karena ayahnya meninggal satu setengah tahun yang lalu..
kami tidak bisa membiarkan ibu Kaila bertindak seperti ratu yang menghabiskan semua peninggalan bapak Damar.."
jelas Winda sembari menyentuh tangan Kinanti dan berusaha menenangkan nya.
" Pantas.. di punggungnya banyak bekas luka.." ujar Kinanti dengan air mata terus meleleh.
" Luka besar di punggungnya?"
Kinanti mengangguk,
" Itu bukan karena pukulan bapaknya, pukulan bapaknya lebih banyak di tujukan di wajah serta kepalanya.."
" lalu luka sebesar itu kenapa mbak??"
" menurut dari ceritanya, itu luka saat pertama kali dia bekerja serabutan di proyek.."
" tunggu? bukankan mas Damar kuliah mbak??"
" Benar.. tapi setelah kakakmu meninggal dia mulai bekerja di luar jam kuliah.. uang kiriman bapaknya dia serahkan pada ibumu.. dan dia menghidupi dirinya dengan bekerja.."
Deg..
Kinanti seperti di pukul oleh balok kayu, bagaimana bisa kenyataan ini baru ia ketahui?!.
" Dia bilang, saat itu menjadi buruh serabutan di proyek adalah hal yang paling baik untuk di lakukan, karena dia bisa menerima gaji harian dan tidak terikat jam kerja..
tapi karena ia termasuk gigih dan cerdas dalam bidangnya, ia mulai bekerja di tempat lain sembari menjadi tutor keliling.."
Kinanti benar benar membeku, ia tak tau harus berkata apa.
Bisa bisanya laki laki itu.. demi membiayai kuliahnya, dia sampai sampai menjadi buruh kasar..
padahal di wajahnya tidak tersirat bahwa dia pernah hidup sesulit itu.
Pantas saja.. pantas saja dia ringan tangan pada para pekerjanya dan seakan tidak menganggap dirinya mempunyai posisi yang tinggi di banding orang orang di sekitarnya,
__ADS_1
rupanya suaminya adalah orang yang sudah cukup menelan kepahitan hidup.. batin Kinanti.
Ada nyeri yang menyusuri hatinya, penyesalan dirinya akan pandangan pandangannya dirinya pada Damar yang ternyata tidak sesuai ekspetasinya melukai relung hatinya yang terdalam.
" Bagaimana bisa dia seperti itu mbak.. membuatku semakin bersalah.." ucap Kinanti.
" Kau jangan merasa bersalah.. dia begitu karena ingin kau dan ibumu hidup bahagia..
senyum kalian memberinya ketenangan.."
" lalu kalau senyum kami memberinya ketenangan, apa mbak kira kami juga senang hidup di atas penderitaannya?"
Kinanti kecewa, ia menyesali segala perbuatan dan kata kata yang pernah ia lontarkan pada Damar.
" Ku kira dia seorang yang berkecukupan sejak lahir.. karena itu aku memandang enteng dirinya mbak..
jika aku tau dia sesulit itu dulu demi diriku agar bisa menjadi sarjana..
mana mau aku menerimannya..?!"
" Tidak ada yang perlu kau sesali Nan.. dia suamimu sekarang.. dan itu sudah kewajibannya..
dia bahagia melihatmu sukses.."
" tapi hatiku sakit sekali mengetahui ini semua..
aku sudah semena mena terhadap suamiku.."
Winda menepuk pundak Kinanti,
" sudahlah.. hentikan air matamu.. nanti kalau Damar pulang dan melihat matamu yang sembab dia akan semakin sedih.." nasehat Winda.
Keduanya terdiam, cukup lama..
Winda hanya memperhatikan ekspresi Kinanti yang di liputi dengan berbagai macam kesedihan dan kecemasan.
" Lalu.. " Kinanti membuka mulutnya kembali,
" Bagaimana caranya supaya suamiku sembuh..
aku.. aku ingin suamiku sembuh.." imbuh Kinanti,
" Nah.. soal itu, bujuklah dia supaya mau menerima perawatan rutin.. tapi sepertinya dia tidak akan mau.. aku dan ayah Bagas sudah sering memaksanya, akhirnya kami hanya meminta resep khusus untuknya.." ujar Winda,
" tapi.. banyak yang menyarankan untuk perlahan menghilangkan trauma itu.. dengan terapi terapi khusus..
perkara itu ayah Bagas yang lebih tau..
jika dia sedang dirumah cobalah berbincang dengannya.."
" Aku tidak pernah bertemu langsung dengan ayah Bagas mbak..?"
" Yang benar?"
Kinanti mengangguk.
" Mungkin karena dia sibuk sekali akhir akhir ini.. kurasa dia juga sedang mengalami masa masa yang sulit..
wajahnya terlihat muram dan lelah..
tunggulah jika dia ada hari libur, kita berbincang bersama..
aku juga jarang melihatnya sekarang, karena dia suka pulang tengah malam.."
" baik mbak.." Kinanti mengangguk patuh.
" ya sudah.. sering sering ajak bicara suamimu.. gali apa yang menurutmu itu bisa memicu kesembuhan suamimu.." Winda memberi nasehat dan semangat agar Kinanti tak menyerah dengan apa yang terjadi pada suaminya.
__ADS_1
Damar Berhenti di salah satu cafe yang termasuk terkemuka di kota,
ia memutuskan masuk ke dalam cafe yang tidak pernah di masukinya itu karena ia melihat mobil Yoga.
Sudah lama sekali rasanya ia tak melihat Yoga meski rumah mereka berdekatan.
Damar juga merasa Yoga mulai terlihat aneh dan banyak menghindar.
" Sejak Kapan kau suka nongkrong begini?" tanya Damar tenang sembari duduk disamping Yoga.
Yoga hampir saja terperanjat,
" Kok mas disini?!" tanya Yoga bingung.
" Aku melihat mobilmu terparkir di depan, bukankah ini jam pulang praktek mu?" tanya Damar, raut nya kalem dan tenang.
Dan Yoga hanya diam.
" Ada masalah apa?" tanya Damar berusaha mengerti, mungkin saja adik sepupunya nya itu sedang mengalami permasalahan yang pelik.
" Tidak mas.." jawab Yoga,
" Lalu kenapa kau duduk duduk sendiri disini?,
sedang menunggu perempuan?" Damar mengerutkan dahi.
" Ah..! aku sudah bilang tidak ada masalah mas, dan aku juga tidak sedang menunggu siapapun..
aku sedang ingin makan dan minum disini karena ku dengar ada menu baru yang menarik..?!" alasan Yoga.
" Benarkah? kau duduk diam disini dan tidak memikirkan putramu yang menunggumu dirumah?
rasanya kau tidak seperti itu dalam ingatanku.."
Yoga Menghela nafas, ia bingung harus beralasan apalagi pada Damar yang kritis dan sangat mengenal baik dirinya itu.
" Aku memang sedang banyak pikiran mas.. ku kira tidak ada salahnya jika aku duduk diam disini sebentar sembari berpikir akan jalan keluarnya.." jawab Yoga kemudian sembari meneguk minumannya.
" Apa ada yang bisa ku bantu?" tanya Damar,
" tidak mas.. hanya soal perasaan yang akan segera ku singkirkan..
tak perlu membesar besarkannya.." jawab Yoga tersenyum tipis,
" Ku kira perasaan itu besar.. sampai membuatmu yang periang dan selalu optimis ini menjadi murung..
bahkan sampai sampai malas pulang seperti ini.."
Yoga lagi lagi tersenyum,
" Aku hanya sementara seperti ini mas..
tidak akan seterusnya..
setelah aku mampu menguasai hatiku, aku akan kembali seperti semula..
aku hanya sedang di liputi dengan kebingungan yang di sebabkan oleh perasaanku yang tiba tiba tak bisa ku kendalikan..
masa lalu seperti menyergapku dan mengurungku disana..
rasanya sulit untuk keluar..
tapi aku sedang mencobanya.." ujar Yoga tersenyum lagi dan menepuk lengan Damar, namun di dalam senyum Yoga yang penuh pengertian itu,
Damar bisa merasakan senyuman itu di liputi kesedihan dan kekecewaan.
Entah apa yang sedang Yoga sembunyikan, Damar juga penasaran, karena sikap Yoga benar benar berubah drastis.
__ADS_1
Damar khawatir itu akan mempengaruhi kasih sayang dan perhatian Yoga pada Bagas.
intinya, Damar tak mau Yoga salah memilih perempuan lagi.