Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Umar


__ADS_3

Damar berdiri di tepi jendela kamarnya, matanya menyalang memandangi langit yang sudah menghitam di luar jendela.


Sesekali di alihkan pandangannya pada istrinya yang sedang tertidur lelap.


Padahal ini baru jam 8, tapi ia sudah selelap ini.. selelah itukah? tubuhnya atau pikirannya yang lelah?,


Damar bertanya tanya dalam hati.


Ia yakin sesuatu terjadi hari ini, raut wajah Yoga begitu berbeda, ia menangkapnya dengan baik, begitu pula istrinya.


Gerahamnya sedikit mengetat, ada kekesalan yang timbul.


Yah.. Yoga memang tampan.. siapa yang bisa memungkiri itu, wajahnya menawan, kulitnya bersih.. dan.. mobilnya bagus.


Deg..


sialan, mobil lagi mobil lagi.. keluh Damar dalam hati,


" Aku bukan tipe laki laki yang suka iri dengan penampilan orang lain, tapi melihat istriku menaiki mobil Yoga, kenapa timbul rasa tak terima di hatiku..?"


Damar bicara sendiri.


Ia menutup tirai jendelanya, mendekat ke arah istrinya dan mengecup lembut kening istrinya yang sedang lelap itu,


kemudian Damar berjalan keluar dari kamarnya.


Saat Damar sedang duduk di ruang tamu sembari membakar sebatang rokoknya, tiba tiba Umar datang, Damar sedikit heran karena ia tak memanggil pemuda itu.


" Kenapa?" tanya Damar melihat wajah Umar tak baik,


" Ada masalah apa? masalah gedung C lagi?" Damar santai, ia bukan tipe orang yang grusa grusu dalam menghadapi masalah, jadi ia tidak kaget jika sering terjadi masalah di gedung C.


Pekerjanya sedikit bebal, mereka jarang mengindahkan perintah pengawas, sehingga hasil pekerjaan mereka terkadang tidak layak.


Namun herannya, ketika Damar yang datang untuk mengawasi, semua pekerja bekerja dengan baik dan Disiplin.


" Bukan masalah pabrik mas?" jawab Umar.


" Lalu?" Damar menghembuskan asap rokoknya, terlihat sekali ke laki lakian Damar saat ini.


Inilah kelebihan Damar di banding Yoga yang kalem, Damar lebih terlihat manly dan perempuan manapun akan menganggap lebih aman di pelukan Damar dari pada Yoga.


" Ini.. anu mas.." Umar terlihat gugup,


" Anu opo?" Damar memandang Umar teliti,


" Anu mas.. itu.. mbak Zahira.."


" Kenapa Zahira?"


dengan sedikit canggung Umar akhirnya menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Zahira.


Dan sekarang Umar bingung sekaligus takut, kalau kalau gara gara dirinya mbak Zahira tidak akan datang lagi ke pabrik dan akan timbul masalah nantinya dengan Damar.


Di luar dugaan Umar, Damar malah tertawa mendengar itu.


" Saya merasa tidak ada yang lucu mas.." suara Umar lirih,

__ADS_1


" Ya memang tidak ada.." ucap Damar,


" hanya saja menurutku ini adalah hal yang sepele..


kau dan Zahira itu kan beda beda sedikit usianya..


tapi pemikiranmu lebih matang, dan Zahira tidak bisa menerima kritikanmu..


itulah sebabnya dia bersikap seperti itu.."


ucap Damar dengan nada tenang.


Ia membakar lagi satu rokoknya,


" Sudah berapa hari dia tidak ke pabrik? dua atau tiga hari ya?" tanya Damar memastikan,


" 4 hari mas.. Biasanya dua hari sekali ke pabrik.. karena itu saya khawatir.." jawab Umar.


" Sudah.. kau tenang saja, Zahira itu belum mengerti susahnya hidup.. jadi sulit menerima pendapat orang lain.."


" lalu saya harus bagaimana mas? apa saya cari dan minta maaf saja?"


" Eh.. buat apa? kau tidak salah.." sahut Damar sembari mengetuk abu rokoknya di asbak.


" Yang kau katakan benar, istriku memang sedikit marah saat itu.. tapi aku berhasil mengusir kecemburuannya dengan baik..


karena itu aku lebih sering menyuruhmu mengajarinya kan?"


Umar mengangguk,


" tapi karena sungkan dengan bapaknya, aku harus sesekali mengajarinya juga.."


" Sudahlah.. jangan gelisah, lagi pula meski dia tidak datang lagi, tidak akan ada masalah yang terjadi antara aku dan bapaknya..


tenangkan pikiran mu.." ucap Damar menenangkan Umar, dan umar hanya mengangguk angguk saja.


" Besok siang kita ke kota.." Ujar Damar setelah beberapa menit diam dan berpikir.


" Mau beli mesin gergaji baru mas?" tanya Umar antusias karena Damar sempat merencanakan untuk menambah beberapa mesin gergaji.


" Tidak.. kita cari mobil.." Damar membuang rokoknya yang hampir habis ke asbak.


" Mobil? truk mas?"


" Bukan, sepertinya aku memang harus beli mobil baru.."


Umar terdiam, ia kaget mendengar bosnya yang super hati hati dalam masalah keuangan itu berencana membeli mobil.


Umar kaget bukan karena Damar tidak punya uang yang cukup, tapi karena Damar yang ia kenal selama ini cukup dengan sesuatu yang sederhana, dan tidak akan mengganti sesuatu dengan yang baru jika tidak benar benar butuh.


" Tapi mobilnya kan sudah bisa kata orang bengkel mas? masih layak di pergunakan?" Umar mengerutkan dahi.


Damar tak menjawab langsung,


ia membakar lagi sebatang rokok, melihat itu Umar semakin heran, ia faham betul, pasti bosnya itu sedang menanggung beban pikiran, karena Damar merokok tanpa henti.


" Saya mendukung semua keputusan mas.." ucap Umar kemudian sambil menunduk.

__ADS_1


Pemuda berkulit sawo matang dan berwajah manis itu sangat menghormati Damar, baginya Damar sudah seperti pengganti bapaknya.


" Sesungguhnya aku tidak mau membuang buang uang untuk sesuatu yang akan menjadi rongsokan.." ujar Damar tersenyum,


tapi entahlah, aku marah sekali pada diriku karena aku tidak siaga untuk istriku, sehingga istriku harus naik ke mobil laki laki lain.." Nada Damar terdengar tidak seperti biasanya, ada kekesalan yang terbaca oleh Umar.


" Laki laki lain? siapa mas?" tanya Umar hati hati,


" Yoga.." jawab Damar datar.


" Bukankan tidak masalah jika itu mas Yoga.. saya kira orang lain.."


" tetap saja.. dia laki laki.." Damar memandang keluar jendela.


Umar terdiam, ia harus berhati hati bicara,


" bersikap waspada memang baik mas.. tapi jangan sampai merugikan diri sendiri..


jangan membeli sesuatu hanya karena perasaan mas sedang tidak nyaman, atau karena merasa terancam.."


" aku? terancam?" tanya Damar menatap Umar,


" Yah.. sebagai seorang laki laki mas sedang merasa terancam..


mas Yoga yang, yah.. sebagai seorang laki laki pun saya mengakuinya dia tampan.. menarik.. apalagi pekerjaannya menjanjikan.."


Umar memperhatikan perubahan ekspresi Damar, namu Damar menyembunyikan ekspresinya itu dengan baik sehingga Umar tak bisa menangkapnya.


" Tapi.. mas tidak kalah, mas lebih lebih.. hanya saja mas tidak pernah menonjolkan apa yang mas punya..


saya kira tidak perlu membeli mobil baru..


terkecuali, mas ingin membelikan mbak Kinan.. monggo..


saya tidak bisa mencegah seorang suami yang ingin menyenangkan istrinya, karena itu ibadah.."


lagi lagi Damar diam.


" Aku percaya padamu Mar.. kau pasti tau apa yang kurasakan hingga aku mengambil keputusan yang ku nilai kurang bisa ku pahami ini.."


" Belilah mas.." ujar Umar,


" Buat istrimu senyaman mungkin disamping sampean mas.." Umar tersenyum mengerti.


" Tapi bagaimana dengan rencanaku yang lain?"


" tetap di laksanakan mas.. tapi pelan pelan.. dananya dibagi dua.." sahut Umar mengangguk,


" ya sudah, pokoknya kau selalu laporkan padaku perkara perkembangannya..


aku mau itu selesai sebelum aku punya momongan.."


" tentu saja bisa mas, yang penting sampean terus giat bekerja.."


" kau kira aku selama ini bermain main?" Damar memandang Umar serius, tapi Umar malah tersenyum.


" Iya.. siapa yang tidak tau mas gila kerja, andaikan saya perempuan, saya pasti akan mengejar mas Damar, karena masa depan saya sebagai seorang wanita pasti cerah ketika menjadi istri mas nantinya.." goda Umar.

__ADS_1


" Aku tidak sudi melirikmu.." gumam Damar acuh membuat Umar tertawa.


" Ya sudah.. besok kita belanja ya pak boss.. tapi ingat, demi masa depan.. pak bos harus sedikit hemat setelah ini.." peringat Umar yang sudah setahun ini menjadi orang kepercayaan Damar.


__ADS_2