
Melihat Kaila dan yang Yusuf berpelukan sembari menangis, semua orang yang berada di ruangan itu tak bisa berkata apapun lagi.
Keduanya seperti dua orang yang sudah di pisahkan bertahun tahun, padahal kenyataannya tidak begitu.
Bahkan emosi Damar langsung luruh,
Beberapa jam yang lalu ia berniat memisahkan keduanya karena sikap tidak bertanggung jawab yang sudah mereka lakukan, Damar merasa harus ada hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka, terlebih Kaila.
Namun melihat kasih sayang diantara keduanya, siapa yang tega memisahkan.
Damar melirik bapak Yusuf sembari menghela nafas berat,
wajah laki laki tua itu lebih menyedihkan dari pada wajahnya,
laki laki yang sudah berusia cukup tua itu tampak merasa bersalah.
Ia merasa sedikit banyak hal ini terjadi karena ulahnya, meski Kaila juga wajib di salahkan karena mengambil keputusan yang tidak patut, begitu juga Yusuf yang sudah berbuat di luar batas sebelum adanya pernikahan.
" Bapak yang salah.." suara bapak Yusuf terdengar penuh penekanan,
" bapak seharusnya tidak egois.." imbuh bapaknya, sembari menatap putranya sayu.
" Jika tau akan terjadi hal semacam ini, mana bapak tega memaksamu..
sekarang semua terserah dirimu.. " si bapak telah menyerah karena tak tahan melihat air mata putranya.
Bagaimana bisa, pikir bapaknya.. anak yang keras kepala dan sulit menerima pendapat orang lain, menangis dan tampil lemah begini di hadapan banyak orang hanya karena seorang wanita.
Mungkin mereka benar benar jatuh cinta.. bukan cinta asal asalan atau sementara seperti yang di kira bapak Yusuf.
" Yusuf memang bersalah.. kami akan mendidiknya dengan lebih baik, agar menjadi laki laki yang lebih bertanggung jawab dan tidak mengecewakan ke depannya.." ucap Anita memecah keheningan yang sejenak muncul, ia menyambung perkataan bapaknya.
Anita terlihat lebih tegas meskipun ia adalah seorang wanita.
Damar diam, tak menjawab..
rasanya ia sudah lelah dengan apa yang ia lihat hari ini.
Dadanya pun sesak menahan gemuruh emosi, ia malas jika harus menjalani perdebatan lagi.
Ingin rasanya segera pulang, makan dan tidur disamping istrinya.
" Kita bicarakan setelah Kaila sembuh." ujar Damar masih kaku, ia tak menatap bapak Yusuf, atau kakak perempuan Yusuf.
" jika ada hal lain yang masih ingin di bicarakan, bicara pada adik saya Yoga." Tanpa menunggu jawaban Damar berjalan keluar ruangan dengan acuh.
" Sudah selesai mas?" tanya Kinanti yang sejak tadi menunggu di luar.
Damar mengangguk,
" Ayo pulang.." ajak Damar sembari mengelus perut Kinan.
" di dalam?" tanya Kinanti,
" biarkan Yoga yang urus.." jawab Damar menggandeng istrinya.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, ibu Kaila segera menemui Damar,
" Bagaimana adikmu??" tanyanya dengan wajah lesu, ia terlihat tidak beristirahat dengan benar, padahal Yoga dan Winda sudah menyuruhnya pulang untuk beristirahat.
Kehadirannya di rumah sakit malah menambah tekanan untuk Kaila.
Damar duduk di sofa ruang tamu, dan ibu nya dengan gelisah mengikutinya duduk.
Sikap arogan dan keangkuhan yang biasanya melekat pada si ibu kini hilang.
" Jawaban apa yang ibu harap dari saya?" tanya Damar.
" Tentu saja kabar kalau adikmu baik baik saja?"
" Baik tubuhnya? atau mentalnya?"
" apa maksudmu Damar? apa ini saat yang tepat untuk mengajakku beradu argumen?" si ibu sepertinya sudah tak punya tenaga.
" Justru ini saat yang tepat, ibu tau apa yang terjadi pada Kaila adalah hal yang menyakiti keluarga besar kita?
ibu selalu berkata akan mendidiknya dengan baik dan tidak mengijinkan ku ikut campur..
apa ibu bisa menjelaskan kenapa hal semacam ini bisa terjadi?"
" Jangan salahkan adikmu?"
" dua duanya bersalah bagiku bu, tapi perbuatan Kaila yang dengan sengaja mengugurkan kandungannya itu sangat ku sesalkan,
terlihat betapa tidak dewasa dan bertanggung jawabnya ia pada apa yang telah ia lakukan..?!" tegas Damar.
" tertekan karena ibu tidak mengajarkan bahwa manusia harus berani bertanggung jawab atas apa yang sudah ia perbuat dan ia pilih,
ibu selalu memberinya opsi yang mudah,
ibu mendidiknya menjadi seorang pengecut! melenyapkan janinnya sendiri!" tukas Damar dengan nada tinggi.
" Ibu hanya ingin Kaila hidup layak, mendapatkan orang yang sepantasnya ia dapatkan, wajar setiap orang tua menginginkan hal semacam itu untuk anaknya.." ujar si ibu,
" Ibu mendoktrinnya! ibu selalu menanamkan pemikiran kalau semua hal bisa di dapatkan dengan mudah asal kita mempunyai uang yang banyak,
dan uang yang banyak bisa di dapatkan dengan jalan pintas, yaitu mencari pasangan yang kaya,
seperti yang ibu lakukan pada bapakku!
merebut bapak dari ibuku dan hidup layaknya ratu di atas tangis ibuku!" Damar kehilangan kendali, luka lamanya entah kenapa muncul kembali, ia sempat terlihat sengit menatap si ibu, tapi beberapa saat kemudian ia berusaha kembali tenang saat melihat istrinya yang duduk tak jauh dari mereka.
Kinanti hanya diam, tak ikut bicara sepatahpun, tapi setiap pandangannya pada Damar seperti pengingat, agar suaminya itu tak hilang kendali.
" Jadi kau masih menyimpan dendam padaku??" tanya si ibu dengan raut terluka.
" Ini bukan dendam, tapi pengingat agar ibu tidak merusak pola pikir Kaila,
cukup aku saja yaang hidupnya ibu rusak..!"
" apa yang kurusak darimu? lihatlah dirimu sekarang? kau memiliki apa yang Kaila tidak miliki?!" sanggah si ibu,
__ADS_1
" Wah.. rupanya ibu masih belum mengerti, apa yang kumiliki sekarang adalah hasil kerja kerasku!
saat bapak meninggal dan ibu yang memegang kuasa atas pabrik dan tanah semuanya habis dan bangkrut!
sekarang ibu masih membicarakan apa yang aku miliki dan apa yang Kaila tidak miliki??
kalau ibu terus seperti ini, mungkin suatu ketika Kaila bisa membunuhku hanya karena kata kata ibu itu!
aku sudah memberi ibu banyak kesempatan untuk berubah..
tapi tetap saja yang ibu tebarkan hanya racun..
dulu bapak yang ibu racuni pikirannya, sekarang adikku..
ibu..
dengarkan aku ibu..
aku tidak akan membiarkan adikku hidup seatap lagi denganmu.."
" Apa maksudmu Dam? hanya Kaila yang kumiliki?"
" ibu tidak perlu khawatir, kebutuhan ibu akan selalu tercukupi, tapi hiduplah sendiri..
Kaila akan kunikahkan, dan dia harus mengikuti langkah suaminya, baik itu senang atau susah.."
" Damar?! jangan keterlaluan?! dia adikmu! penerus keluarga ini?! kau ingin menyingkirkannya?!"
" Menyingkirkan ibu iya, tapi Kaila tidak.. selama dia mampu merubah dirinya,
aku tentu saja tidak bisa menutup mata, orang orang akan mempertanyakan sikapku jika aku tidak menikahkan adikku padahal sudah ada kejadian memalukan semacam itu..
setelah ini orang orang akan membicarakan Kaila,
dan menikahkan nya adalah jalan yang paling tepat."
" Dia harus melanjutkan kuliahnya dulu! toh kandungannya sudah gugur?!"
" bukan hal yang bijak jika menganggap hal ini tidak ada..
Kaila harus di hukum dengan kehidupan yang sedikit sulit, dan tanpa dukungan ibu disampingnya tentunya.."
si ibu mulai goyah, wajahnya diliputi kebingungan.
" Ibu mohon.. sekali ini saja.. lepaskan Kaila.." mohon si ibu untuk pertama kali pada Damar.
" Keputusanku tidak akan ku ubah, jadi percuma saja ibu memohon..
Kalau ibu terus saja menentang keputusanku,
lebih baik ibu pergi dari sini..
hiduplah diluar dengan tenang..
nikmati masa tua ibu dengan kesana kemari sebebas mungkin..
__ADS_1
bagaimana bu..?" Damar tersenyum pahit.