Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
telfon dari pak tyo


__ADS_3

Kinanti dan Damar saling menatap,


satunya menatap kesal, satunya menatap cemburu.


" Jangan di ulangi lagi ya mas?! aku sengaja menelfon pak Tyo kemarin karena aku ingin bertanya tentang lowongan guru disana..!" ujar Kinanti penuh kekesalan.


" Kau mau mengajar lagi disana?" raut wajah Damar berubah, lebih gelisah di banding yang tadi.


" Rencananya," jawab Kinanti membuang pandangannya ke arah teras.


" Berarti kau sudah memutuskan sesuatu?" tanya Damar penuh harap.


" Apa?"


" kok apa? astaga Nan.. kau membuatku gemas?!"


Kinanti diam,


" Malah diam? jelaskan padaku keputusan hubunganmu dengan Haikal?" tuntut Damar.


" Ah.. tidak tau.." jawab Kinanti lirih,


" tidak tau??"


" Besok dia baru menemuiku, dan hasil pembicaraan ibu dengan orang tuanya tidak membuahkan hasil yang memuaskan..


mereka tetap berharap aku menikah dengan putranya.." jelas Kinati.


" Lalu kau? kau bagimana?"


" Aduh.. jangan menggangguku dengan pertanyaan pertanyaan mu mas?!, pulanglah sana..!"


Damar diam sejenak, bukannya bangkit karena di usir ia justru merebahkan dirinya di atas sofa.


" Aku sudah bilang mau tidur disini.." ujarnya tenang.


" Ihh.. ngelunjak?! sekalinya di perbolehkan tidur disini oleh ibu, kau mau tidur disini terus terusan mas?!"


Kinanti kesal sekali dengan tingkah laki laki di hadapannya ini.


" pilihlah.. kau mengijinkanku tidur disini, atau aku akan membawamu lari dengan paksa.." ucap Damar sembari bangun dari rebahannya.


Kata kata Damar yang penuh ketenangan itu membuat Kinanti tertegun.


" Membawaku lari??" tanya Kinanti tak serius.


" Jangan kira aku hanya omong kosong, aku sedang menahan diriku yang sepertinya akan meledak ini setiap kali melihatmu.."


ujar Damar dengan pandangan yang tak asing bagi Kinanti.


Kinanti tertunduk, pandangan itu membuat hatinya gelisah sesaat.


" Aku masih calon istri orang, jangan bertindak di luar kebijaksanaanmu.. pulanglah.." ucap Kinanti lebih tenang.


" Hei, adiknya Aji.." suara Damar berubah berat.


Tanpa sadar Kinanti langsung melihat ke arah si pemilik suara.


" Kau sudah merusak pemikiran ku yang selama ini penuh perhitungan,


kau sudah menambah kegelisahan dan beban pikiranku yang sesungguhnya sudah penuh dengan kakakmu,


kau merusak tatanan tatanan yang sudah ku pertahankan selama ini,


kau bahkan membuka pintu pintu yang sudah ku tutup dengan kuat,


pintu yang tidak ada seorang wanitapun selama ini yang sanggup membukanya dengan begitu lebar,


pintu yang bisa kau lewati keluar masuk dengan se enak nya tanpa memperdulikan aku.. si pemiliknya,

__ADS_1


pernahkah kau memikirkan ku? apa yang ku tanggung dan tahan selama ini?"


Kinanti benar benar tak bisa berkata apa apa, kalimat kalimat Damar begitu menohok hatinya,


membuatnya takut akan kalimat kalimat yang akan Damar lontarkan selanjutnya.


Di karenakan kalimat itu mampu membawa perasaan Damar, hingga terlihat begitu jelas bagi Kinanti.


" Jangan menambah bebanku mas.." ucap Kinanti setelah lama terdiam,


" itu bukan jawaban yang ku inginkan.." tukas Damar,


" ku katakan jangan menambah beban pikiranku.." ujar Kinanti lagi,


" jadi perasaanku membebani mu selama ini?"


lagi lagi Kinanti terdiam.


" Lucu sekali, kenapa hanya perasaanku yang membebanimu? sementara perasaan pak guru itu dan Haikal tak pernah membuatmu terbebani seperti ini?" tanya Damar sakit hati,


" apa aku boleh berspekulasi? kau bersikap seperti itu karena dua hal..


antara kau membenciku.. atau justru karena kau mencintaiku.. tapi kau tak mau menerima kenyataan itu..


yang mana?" Damar mengamati raut wajah Kinanti tanpa celah.


Deg..


Kinanti tertegun,


dinding yang ia bangun tinggi tinggi agar Damar tak bisa masuk, kini di runtuhkan oleh Damar, di runtuhkan oleh pemikiran dan kepekaannya yang tajam.


Kinanti yang awalnya tak tau perasaan apa yang selama ini timbul saat dirinya berdekatan dengan Damar seperti menemukan jawaban.


Apa yang Damar katakan benar,


hanya ada dua hal yang mungkin terjadi pada dirinya,


Namun karena rasa sakit yang pernah ia rasakan dan egonya yang begitu tinggi, ia selalu berusaha lari dari perasaan itu,


ia bahkan dengan tergesa gesa berlari pada Haikal.


Kinanti mengepalkan tangannya sendiri, ia bertarung dengan perasaannya yang campur aduk.


Tapi ia tak mau kalah dengan Damar yang sudah menangkap basah perasaannya, ia sudah menyiapkan sanggahan sanggahan yang siap di lontarkan.


Namun sebelum Kinanti sempat memberi pernyataan perlawanan,


Damar dengan sigap mendekatkan dirinya pada Kinanti,


menundukkan kepalanya,


mendekati wajah wanita itu dan merenggut bibir Kinanti tanpa sempat wanita itu menghindar.


Kinanti yang kaget tentu saja berusaha mendorong tubuh Damar, namun Damar tak mau kalah begitu saja.


Damar terus mencium..


dan mencium Kinanti, sampai perlawanan Kinanti terhenti.


Sikap Damar yang sedikit kasar melukai hati Kinanti yang sedang rapuh dan di penuhi beban pikiran itu.


Sehingga ia tak bisa menahan bulir bulir air matanya yang turun begitu saja dari kedua sudut matanya.


Damar yang melihat air mata itu melepaskan Kinanti, ia menjauhkan wajahnya demi melihat kerapuhan yang sedang melanda perempuan yang amat di kasihi nya itu.


Bahu Kinanti berguncang hebat demi menahan isakan demi isakan agar Damar tak melihat sisi lemahnya.


Namun terlamat, Damar sudah melihat sosoknya yang lemah dan rapuh, juga air mata yang mengalir deras itu.

__ADS_1


Dengan perasaan campur aduk Damar merengkuh Kinanti ke dalam pelukannya, dirinya di penuhi rasa bersalah.


" Aku salah.. maafkan aku..??" ujar Damar membelai kepala Kinanti yang sedang tenggelam di dadanya.


" Aku hanya perduli dengan diriku sendiri tanpa memikirkan keadaanmu..


dan sekarang aku membuatmu menangis.." nada suara Damar di penuhi penyesalan.


Di biarkannya Kinanti menangis,


tetap di peluknya wanita itu, ingin memberi Kinanti rasa aman.


Sikap kasar yang tadi sempat melekat di diri Damar sekarang hilang entah kemana.


Sesungguhnya dirinya bukan laki laki yang kasar, tapi karena Kinanti selalu menolak dan menolaknya, membuat harga dirinya terluka.


Ia merasa di sepelehkan dan di perlakukan sebutuhnya saja.


Setelah Kinanti tenang beberapa menit kemudian, Kinanti mulai menjauhkan dirinya dari Damar.


Ia malu menemukan baju Damar yang basah karena air matanya.


" Tak apa.. " ujar Damar tau Kinanti malu dengan apa yang sudah ia suguhkan di hadapan Damar.


Kinanti mendorong dada Damar dan berusaha melepaskan diri dari rengkuhan tangan Damar.


" Kenapa? mau melarikan diri lagi dariku?" tanya Damar penuh dengan ketenangan, pandangannya yang teduh di tangkap sekilas oleh Kinanti sebelum wajahnya di tundukkannya kembali.


" Siapa yang mau lari?" jawab Kinanti lirih,


" Kenapa kau selalu berusaha melepaskan dirimu dari pelukanku?" Damar mengeratkan lagi pelukannya sehingga tubuh Kinanti menjadi dekat kembali dengannya.


" Ini tidak pantas mas..?" Kinanti memberanikan diri mengangkat wajahnya, memandang Damar.


" aku akan membuatnya menjadi pantas" jawab Damar cepat,


" Tapi mas seharusnya melindungiku?"


" aku sedang melindungimu, kau tidak merasakan betapa eratnya pelukanku?" Damar menatap Kinanti tanpa celah.


" Ini salah mas..?!" Kinanti tetap tak mau menyerah.


" Bagimu salah, bagiku tidak.." jawab Damar tenang, membuat Kinanti kehabisan kata kata.


" Bicaralah terus, carilah kalimat kalimat perlawananmu..


aku akan selalu mencari jawaban yang bagus untuk mematahkannya.."


Kinanti frustasi, hingga tanpa sadar ia mengigit bibir bawahnya.


Damar yang melihat itu menghela dagu Kinanti, mengecup bibir mungil itu dengan hati hati dan lebih lembut.


Kinanti terhenyak menerima kecupan lembut itu, matanya beradu dengan mata Damar.


" Jangan mendorongku lagi.." ucap Damar , dan sekali lagi di raihnya bibir Kinanti.


Kali ini lebih hati hati dan lembut, karena Damar tak mau menemukan air mata Kinanti lagi.


Kinanti yang merasakan sikap selembut itu tentu saja tak mampu melawan.


Kekuatannya seakan hilang, ia membiarkan Damar begitu saja.


Damar yang merasakan kepasrahan menarik tubuh Kinanti dan mengangkatnya ke atas pangkuannya.


Keduanya larut, Kinanti yang begitu pasrah dan akhirnya membalas juga membuat Damar tidak mampu berhenti, bahkan kepekaannya hilang, hingga tak sadar seseorang sudah berdiri cukup lama di depan pintu.


" Ehem..?!" terdengar suara ibu berdehem dengan sengaja agar kedua muda mudi itu menyadari kehadirannya.


" Ibu?" Kinanti melonjak dari pangkuan Damar, wajahnya merah padam karena malu.

__ADS_1


Sedangkan Damar, ia memperbaiki posisi duduknya sembari tertunduk.


Rasa bersalah dan malu bercampur aduk menjadi satu.


__ADS_2