
" Mas Damar sepertinya tidak mau lagi menemui kami.." ujar Yusuf.
Winda dan Yudi saling memandang, keduanya seperti berat untuk bicara.
" Jangan ganggu mas Damar dulu, kalau ada sesuatu bicarakan dengan kami.." Yoga menyela, karena Winda dan Yudi terlihat sulit untuk mengawali kata.
" Mas Damar marah sekali padaku pastinya.." keluh Kaila dengan raut murung.
" Kau mencoreng wajahnya.. menurutmu dia harus bagaimana?" lanjut Yoga, Winda mendelik, memperingatkan agar Yoga lebih halus dengan kata katanya.
" Aku sendiri gemas denganmu nduk, tapi karena kau adikku, mau bagaimana?" lanjut Yoga tak memperdulikan peringatan Winda.
Yoga merasa ini adalah saat yang tepat untuk memberi nasehat dan rasa jera pada Kaila.
Kaila hanya tertunduk, tak menjawab.
" Andai kau bertindak lebih dewasa dan bertanggung jawab.. mungkin mas Damar tak akan semarah ini..
sesulit apapun kondisimu, seharusnya kau jujur pada mas Damar, dia tidak hanya kakak, tapi juga ayah bagimu..
tanpanya apa kau kira keluargamu bisa hidup senyaman ini?"
" Yoga, tidak perlu kau bahas hal itu?!" tegas Winda memotong,
" Kenapa tidak perlu mbak? kurasa perlu, agar dia tau perjuangan mas Damar,
harusnya kau sadar nduk.. hubungan kalian di landasi dari sikap tidak baik yang di lakukan bulek, yaitu ibumu..
tapi mas Damar tetap mengambil tanggung jawab penuh padamu dan ibumu, di kesampingkan sakit hatinya..
di kesampingkan luka yang sudah ibumu tanam..
nduk nduk.. Kaila..
tanpa mas Damar kau tidak akan hidup senyaman ini,
anak sepertimu mana tau kondisi krisis pabrik?
mana tau saat ibumu diam diam menjual tanah peninggalan bapakmu yang disana dan disini?"
Kaila tetap diam, namun terlihat butiran butiran air matanya yang jatuh membasahi rok jeans panjang yang sedang ia kenakan.
" Harusnya kau katakan pada kami tentang kehamilanmu,
toh bapaknya masih hidup dan sehat.. apa kau kira kami tidak akan menyeretnya untuk bertanggung jawab?" Yoga melirik Yusuf yang duduk tepat disamping Kaila.
Wajah laki laki itu tak kalah risaunya, ia bahkan bingung harus berkata apa.
" Tidak mungkin saya tidak bertanggung jawab.." Yusuf memberanikan diri membuka suara,
" Itu adalah perbuatan saya, seburuk apapun hubungan kami saya akan tetap mempertahankannya.. bahkan membesarkannya..
namun sayangnya.." Yusuf terdiam sejenak, penyesalan lagi lagi menyergapnya hingga air mata mulai memenuhi sudut matanya.
" Sayangnya.. saya tidak di beri tau, saya benar benar tidak tau bahwa saya akan menjadi seorang ayah.." lanjut Yusuf menekan perasaannya agar tidak meledak dan air mata yang sudah mengembung itu tidak menetes.
__ADS_1
" Saya tidak menyalahkannya, karena saya juga turut bersalah..
namun saya tidak bisa berkata bahwa saya tidak kecewa atas keputusannya..
saya sungguh sungguh menyesali semuanya..
atas sikap saya yang sudah bertindak di luar batas dan sudah mencoreng nama baik keluarga disini..
Jika mas Damar memang tidak mau menemui saya..
tolong sampaikan..
saya, Yusuf.. akan bertanggung jawab sepenuhnya pada Kaila..
dan akan menerima hukuman apapun dari mas Damar..
jika mbak Winda sebagai yang tertua ingin memberi hukumanpun pada saya.. akan saya terima..
tak ada pembelaan, saya memang bersalah..
saya adalah laki laki bersalah yang kecewa...
tidak ada yang lebih menyedihkan dari itu bagi saya sekarang.." suara Yusuf bergetar.
Semua yang ada di ruangan itu bisa merasakan betapa dalam penyesalannya.
Yoga dan Winda tau.. kalau Yusuf pasti lebih menginginkan anak itu hidup dari pada di lenyapkan seperti itu.
Apalagi dalam hal ini Yusuf tak tau apa apa..
menduga Kaila hamil pun tidak.
Sesak memenuhi dadanya, malu, bersalah, kecewa..
namun cintanya begitu besar pada perempuan yang duduk disampingnya,
kemarahan tak mampu melenyapkan perasaannya.
Winda menghela nafas, rasanya tak sampai hati membuatnya sampai seperti ini.
Namun keputusan Damar tetap harus ia hormati.
" Aku mendapat pesan dari Damar, bukan pesan sesungguhnya..
lebih tepatnya perintah.." Winda membuka suara.
" Kalian berdua mau tidak mau harus melaksanakan keputusan Damar.. kepatuhan kalian adalah bukti dari penyesalan kalian..
faham kau La?" Winda menatap Kaila, dan Kaila hanya menjawab dengan anggukan yang lemah.
" Baiklah.. yang pertama.. tidak akan diadakan pesta pernikahan dalam bentuk apapun disini, kalau keluarga Yusuf mau mengadakan itu urusan mereka,
kedua.. perintah wajib dari Damar, Kaila tidak boleh lagi tinggal dengan ibunya,
Kaila wajib mengikuti suami, apapun kondisi suami.
__ADS_1
Ketiga, Damar tidak akan mengeluarkan biaya dalam bentuk apapun untuk Kaila, bantuan pendidikan pun tidak..
jadi mau lanjut kuliah silahkan, berhenti kuliah silahkan.. semua tergantung kemampuan Yusuf sebagai suamimu nanti.
intinya kehidupan setelah menikah seluruhnya adalah tanggung jawab Kalian berdua.
Dan Yusuf... Damar melarang dirimu untuk bekerja di bawah naungan keluargamu,
artinya keluarlah dari zona nyaman dan carilah pekerjaan di tempat lain.
Cukup.. kurasa semua kata kata Damar sudah kusampaikan.." ujar Winda sembari menatap Yoga dan suaminya bergantian.
" Tanggung jawabmu besar Suf.. selain mendidik Kaila yang belum dewasa ini, kau juga harus mengambil alih semua hal yang selama ini di penuhi mas Damar.." suara Yoga terdengar simpatik,
" Nasehat untukmu Kaila.. jika kau tau segalanya akan berubah, maka berubahlah juga.. lebih baik tentunya..
kau harus membantu suamimu dengan cara mengendalikan naluri nalurimu yang sesungguhnya tidak begitu penting..
kurasa cukup, aku dan mbak Winda sudah terlalu banyak bicara..
semoga hal hal yang baik merasuk di pikiran dan hati Kalian.." Yoga menepuk pahanya, lalu bangkit.
Yoga berjalan dengan tenang menuju rumahnya.
" Papa.. " Sambut Bagas yang belum tidur juga,
" Wah.. papa lama ya? Bagas nonton apa?" tanya Yoga pada Bagas yang sedang duduk di depan tv.
Ia di temani oleh mbak yang biasanya menjaganya.
Beberapa hari ini Yoga memang menambah jam kerjanya karena banyak kesibukan dan tentu saja karena ada kejadian yang tak terduga juga.
" Sudah pulanglah mbak.. biar Bagas saya temani.." ujar Yoga memberi ijin pengasuh Bagas untuk pulang.
" Papa?" tanya bocah itu saat sudah terbaring di atas tempat tidur bersama papanya.
" Sudah malam tidur nak.. " Yoga mengeluh dahi putranya.
" Mama kenapa lama pulangnya?" suara polos itu lagi lagi.
Ah.. membuat gelisah saja.. papa kan jadi rindu.. keluh Yoga dalam hati.
" Beberapa hari lagi mama juga pulang..jangan khawatir.." jawab Yoga,
" Mama disini terus? tidak pergi pergi lagi?" dasar si Bagas.. ia tidak akan berhenti bertanya jika tidak mendapatkan jawab yang memuaskan.
" Setelah ini, mama akan sepenuhnya jadi milik kita..
mama tidak akan kemana mana lagi,
mama akan selalu disamping papa dan Bagas..
Bagas berdoa ya..?
supaya mama cepat pulang.." jelas Yoga pada putra tercintanya.
__ADS_1
" Amin papahh..!" saut Bagas cepat,
lalu dengan lincah di peluknya papanya.