Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
cukup jadi penonton


__ADS_3

Kinanti menyuguhkan kopi pada Yusuf dan suaminya,


lalu ikut duduk di sofa ruang tamu.


Ketiganya berbincang seperti biasanya, Damar juga bertanya tentang progres pekerjaan Yusuf.


" Aku sering ikut tukang tukang lembur mas.." ujar Yusuf tidak merasa malu meski harus ikut bekerja kasar bersama para tukang di tempatnya.


" Baguslah.. selain bertambah pemasukan, kau juga menambah kemampuanmu.." sahut Damar positive.


" Kau lihat aku.. apapun ku kerjakan, andai kau tau aku bahkan pernah sambilan menjadi kuli saat sedang kuliah..


jangan malu.." imbuh Damar.


" aku tidak malu mas.. tapi entahlah jika Kaila tau mungkin dia akan merasa kurang nyaman dengan apa yang ku kerjakan.." jawab Yusuf dengan ekspresi datar.


" Kenapa Kaila harus malu.. kurasa tidak masalah asal kau menjadi laki laki yang serius dan bertanggung jawab,"


Yusuf tersenyum hambar,


" itu kan pemikiran mas.." ucapnya.


" Tidak.. sebagai perempuan aku pun berpikir seperti itu.. kau sejak dulu adalah laki laki yang selalu serius dengan apa yang kau kerjakan, jadi jangan menganggap remeh dirimu sendiri.." Kinanti menyela.


" Kau tau.. adikku itu masih belia.. kau harus menjadi sosok yang bisa membuat dia lebih mandiri dan dewasa,


yah.. meskipun kau kadang emosional..


tapi ku kira kau akan terus belajar..apalagi kau tau pasanganmu masih begitu muda..


jika kau memang serius aku tak akan menghalangi hubungan kalian..


sebagai pengganti bapak, aku bukan orang yang pilih pilih..


tapi aku mengedepankan laki laki yang mau susah dan bertanggung jawab penuh pada wanitanya.."


Damar santai namun serius, dan Yusuf tau apa yang di katakan Damar itu merupakan sebuah dukungan asal Yusuf mau bekerja keras.


Setelah berbincang cukup lama, Yusuf memutuskan untuk pamit karena hari sudah mulai malam.


" Kau sungguh tidak mau bertemu Kaila dulu?" tanya Kinanti mengantar Yusuf keluar.


" Tidak Nan.. toh besok aku juga menjemputnya pulang kuliah," jawab Yusuf berjalan ke arah mobilnya.


Belum lagi Yusuf membuka pintu mobil, matanya menemukan kekasihnya sedang berdiri di depan rumah, seperti sedang mengantar kepergian seseorang.


Tentu saja seorang laki laki yang berpenampilan menarik dan bermobil lebih bagus dari pada milik Yusuf.


Ada ibu Kaila yang berdiri tak jauh dari Kaila dan laki laki itu,

__ADS_1


senyum ibu Kaila begitu cerah sembari melambaikan tangan,


sementara Kaila pun terlihat tersenyum.


" Itu Kaila Suf?" suara Kinanti menyadarkan Yusuf bahwa dari pandangannya yang terpaku pada Kaila.


" Siapa laki laki itu Nan?" tanya Yusuf tanpa menatap Kinanti,


" aku tidak tau, mana aku kenal dengan orang orang itu..


mas Damar melarang ku datang kesana meski mbak Winda memintaku kesana.."


Yusuf diam, namun kakinya tak juga melangkah.


Ia sengaja menatap Kaila hingga Kaila tersadar, dan pandangan keduanya bertemu.


Kaila terlihat sedikit kaget, namun dengan langkah cepat ia berjalan menuju halaman rumah Damar.


" Aku pulang dulu Nan.." pamit Yusuf cepat ketika tau Kaila berjalan ke arahnya.


Laki laki berkaos coklat tua itu langsung masuk ke dalam mobil dan begitu cepatnya pergi dengan mobilnya, sementara Kaila seperti anak ayam yang di tinggalkan induknya saat tau Yusuf pergi begitu saja setelah memandanginya.


" Lho...???" suaranya lemah, kecemasan tiba tiba tampak di wajahnya.


" Tenanglah.. Yusuf sudah mulai menjadi orang yang sabar.. dia tidak akan salah faham hanya karena hal kecil semacam itu.." Kinanti menghampiri Kaila.


" Dia sudah tidak pernah marah mbak.. tapi aku sering di diamkan.." keluh Kaila,


tapi kalau sudah hilang ngambeknya ya normal lagi.." Kinanti menenangkan.


" Ibu sih.. dia memaksaku mengantar anak temannya pulang..?!"


Kinanti menghela nafas mendengarnya, ia sudah mulai faham dengan karakter ibu tirinya.


" Kau sudah besar.. tentunya kau tau mana yang baik dan tidak..


bersikaplah yang dewasa dan tegas untuk ke depannya.." nasehat Kinanti.


" Kembalilah, nanti ibu ngomel.."


Kaila mengangguk pelan dan berbalik pergi, berjalan kembali ke arah rumahnya, sementara Kinanti masuk kembali ke dalam rumah.


" Mas..." panggil Kinanti pada suaminya yang sudah pindah ke kamar dan rebahan di atas tempat tidur.


" Hemmm..." jawab Damar berbalik ke arah istrinya.


" Apa benar tidak apa apa kita tidak kerumah mbak Winda?" tanya Kinanti duduk di pinggir tempat tidur.


" Memangnya kenapa?"

__ADS_1


" aku sungkan saja tidak membantu apapun.. dan.. aku sempat melihat ibu tadi, pandangannya tidak ramah sekali padaku..?" keluh Kinanti.


" Jangan kau pikirkan.. aku saja tidak pernah turut sejak dulu, aku tidak cocok dengan pertemuan pertemuan semacam itu, tidak menghasilkan uang.. yang ada menambah beban pikiran..


lagi pula kau sedang hamil..


kita tenang tenang saja disini,


dan soal ibu.. tak usah kau pikirkan.. kau sudah faham bukan beliau seperti apa..?" Damar menenangkan istrinya.


" Sepertinya dia tidak suka dengan Yusuf..


Tadi saja Kaila di paksa mengantarkan anak temannya, dan kebetulan Yusuf melihat itu.."


Damar tertawa mendengarnya,


" Biarkan.." katanya santai,


" lho? kok biarkan?"


" ya biarkan.. permasalahan akan mendewasakan mereka,


kalau melewati ibu saja mereka tidak bisa, berarti mereka memang tidak layak bersama,


aku tidak bisa terus menolong Kaila..


Kaila harus menentukan jalan hidupnya sendiri dan berusaha keluar dari bayang bayang ibu,


karena kalau Kaila tidak mampu keluar dari bayang bayang ibu..


sampai menikahpun, ibu akan menganggunya,


ibu akan seenaknya masuk dan mendesak Kaila dengan berbagai pendapat dan keputusannya yang kadang tidak bijaksana itu.."


Kinanti berpikir sejenak, namun tak lama setelah itu dia mengangguk pertanda ia memahami apa maksud dari suaminya.


" Ibu dulu masuk dalam rumah tangga bapak dan ibuku.. dan memecah belah semuanya..


jadi.. bukan tidak mungkin, kelak dia akan memecah belah rumah tangga anaknya hanya demi obsesinya,


aku sih berharap..


ibu akan mulai sadar dan memahami semuanya saat ia sudah mulai menua..


tapi ketika ia masih tak mau sadar dan bersikap sesuka hatinya..


aku tak bisa apa apa.."


" Jadi mas akan diam saja?"

__ADS_1


" tentu tidak sayang..


tapi untuk sekarang, aku cukup jadi penonton saja..".


__ADS_2