Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Jamu


__ADS_3

Yoga membuka pintu kamar sewaannya, kamar yang tidak terlalu kecil namun juga tidak terlalu besar.


Disana sudah lengkap dengan tempat tidur, lemari, TV dan kebutuhan kamar lainnya, lengkap pula dengan kamar mandi dalam.


Yoga sudah memutuskan, seminggu ini dia akan berangkat kerja dari sini.


Setidaknya dia sedikit jauh lebih tenang dan bisa berpikir jernih tanpa takut ketemu Kinanti.


" Kau dimana?" tanya seorang temannya dari sambungan telfon.


" Kenapa? bukankan hari ini aku sudah ijin libur?" jawab Yoga.


" Yah.. memang.."


" lalu?"


" dokter intan kecelakaan di jalan, jadi dia tidak bisa masuk, dan hari ini hanya ada aku saja di sini.." ujar dokter Jamal,


" lalu kau merengek? minta di temani?"


" Kalau kau tidak ada kegiatan kesinilah.."


" tidak.. aku sedang libur, jadi lebih baik aku tidur.."


" Eh.. tega sekali.."


" kau yang lebih tega, orang sudah minta ijin libur masih kau suruh masuk saja.." ujar Yoga segera mematikan telfon dari rekan kerjanya itu.


" Kemana?" tanya Damar melihat istrinya itu bangkit dari tempat tidur.


" Ke kamar mandi.." jawab Kinanti berjalan pelan, langkahnya sedikit aneh karena menahan pedih.


Damar yang melihat itu bangkit, ia memakai handuknya yang terjatuh tadi.


" Kapan sampai kamar mandinya kalau begini.." ujar Damar lalu mengendong Kinanti ke kamar mandi, Kinanti yang tak bertenaga tak bisa melawan.


keduanya berpandangan sesampainya di kamar mandi.


Damar tiba tiba mengulas senyum lebar, Kinanti merasa ada yang tidak beres melihat betapa lebarnya senyum itu.


" Mau ku temani mandi?" tanya Damar masih penuh senyuman,


Kinanti menghela nafas mendengar itu, ia menggeleng pelan, bagaimana tidak, seluruh tubuhnya masih nyeri.


Namun Damar yang sedang dalam mode pengantin baru tidak sepeka itu, tanpa menunggu persetujuan Kinanti,


ia ikut masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.


Dan tentu saja, Damar mengulanginya lagi dan lagi, hingga keduanya baru keluar dari kamar, sekitar jam 11 siang, mereka bahkan tak mengunyah sarapan, dan langsung menuju ke makan siang.


Wajah Damar begitu berseri seri ketika keduanya di meja makan.


Ia makan dengan lahap seperti tidak makan berhari hari.


Sedangkan Kinanti, ia terlihat resah, berkali kali mengubah posisi duduknya.


" Ini bantal mbak.. biar enak duduknya.." si yuk berinisiatif memberi bantal kecil dan bertekstur lembut untuk di duduki Kinanti.


" Wah.. makasi yuk.." ucap Kinanti dengan wajah sedikit malu.


Tentu saja si yuk pasti tau kenapa Kinanti seperti itu.


" Mau minum jamu mbak? kalau mau minum nanti biar saya buatkan.." yuk menawari, lagi lagi niat baiknya membuat Kinanti malu.

__ADS_1


" Jamu apa yuk?" sahut Damar sembari mengunyah makanannya.


" jamu anu mas.. jamu buat perempuan, supaya sehat dan singset.." jawab Si yuk kikuk.


" Istriku sudah singset yuk, apa yang mau di singseti lagi?" ujar Damar tersenyum manis sembari menatap istrinya.


" tapi kalau buat kesehatan, buatkan saja..


seminggu sekali begitu.. apa seminggu dua kali.." Damar memberi ijin.


" Nggih mas.. saya buatkan dua minggu sekali.." ujar si yuk.


Kinanti tak berkomentar, ia hanya menghela nafas dan melanjutkan makannya.


" oh nggih mas, tadi mas Bagas madosi njenengan (mencari anda).."


" lho mana? bawa kesini yuk..?!" ujar Damar.


" nggih.. biar saya ambil dirumah mbak Winda.." si yuk segera berjalan keluar dan menuju rumah Winda.


" Bagas..?" tanya Kinanti,


" iya, keponakanku.. yang waktu itu ada kadonya di mobilku.. saat aku baru saja mengantar jemputmu dari kost.." jelas Damar.


" Oh.., usia berapa dia mas?"


" aduh.. aku lupa, 4 apa 5 tahun ya?"


" eh.. bisa bisanya mas seperti itu pada keponakan mas sendiri.."


" Jangan begitu, aku bukan tipe orang yang merayakan ulang tahun.. ulang tahunku saja terlewati tanpa aku mengingatnya..


bagiku kesehatan lbh penting, aku tak perduli berapa usiaku.."


" jadi jangan marah nanti kalau aku tidak merayakan ulang tahunmu..


sebagai gantinya,


belilah apapun yang kau inginkan meski itu bukan hari ulang tahunmu.."


" aku juga bukan orang yang suka merayakan ulang tahun mas..


yah.. dulu pernah tapi sudah bertahun tahun ini tak pernah kurayakan.." ujar Kinanti, ada kesedihan yang terselip.


" Oh ya, kita ajak saja Bagas mengambil baju dirumah ibu.." ide Kinanti.


" Tentu saja, meski sesungguhnya kita belum boleh keluar.."


" bismillah saja mas.." sahut Kinanti.


" Kasian, papanya sedang seminar di luar kota, jadi memang lebih baik kita ajak.."


" apa ibunya juga bekerja?" tanya Kinanti tak tau


" Ibunya tidak ada.."


" Meninggal?"


" Tidak.. dia lari dengan laki laki lain.."


" Astaga...kasihan sekali Bagas.." Kinanti menjadi sayu, ia tiba tiba begitu ingin bertemu dengan anak itu.


" Tapi papanya sedang berusaha mencari pengganti kok..

__ADS_1


yah semoga saja papanya tidak salah pilih lagi.." ujar Damar.


" Biarkan dia sering sering disini bersamaku mas..


aku juga bisa mengajarinya belajar calistung.."


Damar tersenyum,


" Hampir saja aku lupa kalau ada ibu guru dirumahku.." ucap Damar melepar senyum manis pada istrinya.


" Apa sesering ini mas?"


" apanya?"


" senyummu?, jangan jangan kau banyak tersenyum di luar sana juga mas..?"


" Ya ampun sayang...??, senyumku ini hanya ku tunjukkan padamu.."


" hemm.. omong kosong.."


" Kita baru menikah kemarin, dan sekarang aku kau sebut omong kosong?, kalau begitu bagaimana kalau kita ulangi omong kosongku tadi pagi?"


Kinanti diam, ia kembali fokus ke makanannya.


" Pinggangku bahkan masih sakit.. tapi mas masih mau memintanya lagi, bukankan pagi ini mas sudah melakukan itu berkali kali.. tega sekali..?" Gumam Kinanti sembari memasang wajah memelas.


Damar tertawa kecil melihat sikap Kinanti,


" Kau seperti kucing yang manis di atas tempat tidur sayang, padahal dalam kondisi normal galakmu padaku luar biasa.." ujar Damar menahan senyum, ia ingat begitu pasrah dan tidak berdayanya Kinanti di bawah tubuhnya.


" kucing?" Kinanti mengerutkan dahi,


Belum sempat Damar menjawab terdengar suara Bagas yang berlari kecil ke arahnya.


" Om!" Bagas menjatuhkan diri di pangkuan Damar.


" wah, jagoan..! sudah maem?" tanya Damar menaikkan Bagas ke atas pangkuannya.


" Belum mas kata mbak Winda.." sahut yuk,


" lha.. kok belum.. sini maem dulu, di suapi om.." Damar memindahkan Bagas agar duduk disampingnya dan Kinanti.


" Hai.." sapa Kinanti manis karena Bagas mencuri curi pandang sejak tadi.


" Namanya tante Kinan.. istri om Damar.. ayo salim.." ujar Damar, dan bocah yang cerdas itu langsung patuh, mencondongkan dirinya ke Kinanti dan mencium tangan Kinanti.


" Te Kinan.. istli om.." ujar Bagas yang kesulitan mengeja huruf R.


" iya.. istri om, cantik ya?"


" iya, Bagas mau punya mama cantik seperti te Kinan.." ucap Bocah laki laki polos, membuat Damar tertawa.


" Iya.. nanti Bagas pasti dapat mama cantik seperti tante..


Sekarang Bagas maem dulu.. maem sendiri apa di suapi?"


" Maem sendiri.."


" wah.. hebatnya.. sini tante ambilkan.." Kinanti langsung mengambil piring.


Terlihat jelas sekali Bagas senang dengan kehadiran Kinanti, mereka berinteraksi dengan cepat karena Kinanti yang mempunyai basic guru pintar sekali berkomunikasi dan mengambil hati anak anak.


Setelah makan bersama, Damar dan Kinanti mengajak Bagas untuk pergi kerumah ibu Kinanti.

__ADS_1


Karna tak ada satupun baju atau barang Kinanti yang ada dirumah ini.


__ADS_2