
Damar duduk setenang mungkin di hadapan ibu.
" Kinanti sedang keluar, sebentar lagi juga pulang, tunggulah.." ujar ibu.
Damar menjawab dengan anggukan, raut wajahnya terlihat kusut, tidak segar.
" Ada apa lagi le.. kenapa wajahmu seperti orang yang kurang istirahat begitu?" tanya ibu sungguh kasihan dengan Damar, seharusnya dia sudah merasa tenang, tapi kenapa raut wajahnya begitu kusut.
" Bersabarlah pada Kinan, dia memang sedikit keras kepala.. kau harus memakluminya.." nasehat ibu.
" Sampai kapan bu..?" tanya Damar dengan tatapan frustasi.
" Sampai dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri..
apa yang dia lakukan sekarang hanya sebuah bentuk pertikaiannya yang belum selesai dengan ketakutan masa lalunya.."
" Tapi kenapa dia dengan mudah menerima laki laki lain?
namun dengan saya dia menggunakan berbagai macam cara untuk menolak??" tuntut Damar.
Ibu tersenyum mengerti,
" Dimana Damar yang dulu..?
Damar yang tenang dan sabar?" tanya ibu.
" Ibu tak bisa menemukannya sekarang, putri ibu yang membuat saya jadi frustasi seperti ini.." jawab Damar tertunduk.
" Sudahlah le.. jangan mimikirkan hal hal yang sudah tidak perlu di pikirkan..
tunggulah disini, ibu ada janji dengan Yusuf.." ujar ibu,
" mau kemana bu?"
" Kerumah saudara tertua ibu..
sudah, kau diam diamlah disini, dan tenangkan hatimu..
kalau lapar ada soto ayam di dapur.."
" Ah.. saya tidak lapar bu.." jawab Damar lirih.
Ibu kemudian masuk ke dalam, mengganti bajunya rupanya.
Tak lama Yusuf datang,
senyumnya begitu lebar,
" mas..!" sapanya pada Damar, begitu bahagianya ekspresi Yusuf sampai sampai Damar merasa tidak nyaman.
" Aku sedang sedih begini, bisa bisanya dia tersenyum selebar itu..? apa dia lebih bahagia Kinan menikah dengan Haikal?!" keluh Damar dalam hati.
" Sehat mas?" tanya Yusuf,
" seperti yang kau lihat, sehat.." jawab Damar datar,
" baguslah, harus sehat..!" Yusuf menepuk lengan Damar.
Dahi Damar berkerut, apa apaan sikap bahagia ini pikirnya.
" Sudah Suf? ayo berangkat supaya pulangnya tidak terlalu sore..!" ujar ibu mengambil tas tangannya.
" Iya bulek, ayo?!" ujar Yusuf,
__ADS_1
" Mas, saya pergi dulu ya dengan bulek..?" pamit Yusuf,
Damar hanya mengangguk dan tersenyum seadanya.
Yusuf dan ibu segera berangkat demi mengejar waktu, karena pastinya akan ada banyak hal yang di bicarakan dengan saudara tertuanya itu.
Damar duduk terdiam sendirian, matanya redup menatap langit langit ruang tamu.
Di karenakan semalam ia tidak tidur dan baru tertidur seusai adzan subuh, matanya kini begitu berat karena suasana begitu sepi.
Ia terpejam cukup lama, hingga ia mendengar suara mobil yang terhenti dan suara pagar yang terbuka.
" Sampai jumpa besok ya?!" terdengar suara Kinanti.
Damar buru buru bangun, ia mengintip melalui jendela.
" Teganya kau.." ucap Damar dalam hati ketika ia melihat mobil Haikal.
Hatinya serasa di remas remas,
namun entah kenapa Haikal tidak masuk, ia pergi begitu saja.
" Baguslah.. aku bisa memukulmu jika kau ikut masuk.." lagi lagi Damar menggerutu dalam hati.
Damar kembali duduk ketika ia melihat Kinanti berjalan masuk ke dalam rumah.
" Mas..?" Kinanti tak menyangka ada Damar dirumahnya, karena di depan tak ada motor atau mobil Damar.
" Kok tidak ada motor atau mobil?" tanya Kinanti sedikit tergagap.
Sementara pandangan Damar sama sekali tak bersahabat,
Melihat hal itu Kinanti gugup, tak seperti biasanya.
rambutnya di sanggul modern dengan rapi, tak lupa setangkai bunga segar terselip di tengah sanggul itu, tampak segar sekali.
Belum lagi lipstik merah yang membuat bibirnya tampak lebih bervolume.
Dahi Damar berkerut kerut, antara terpesona dengan kecantikan Kinanti dan rasa penasaran nya.
Perempuan yang jarang berdandan ini sebenarnya dari mana dengan Haikal,
kenapa dia berpakaian seperti ini? padahal di hadapanku tidak pernah tampil secantik ini, lagi lagi Damar menggerutu dalam hati.
Matanya menatap Kinanti tanpa celah, seperti seorang hakim yang ingin menjatuhkan hukuman pada tersangka.
" Aku.." Kinanti bingung,
" Aku apa?" tanya Damar tetap duduk tenang di tempatnya.
" Aku baru saja menghadiri pesta sederhana, pernikahan seorang teman.." jawab Kinanti.
" Pesta sederhana? semerah ini?" Damar menatap tajam.
" Apa maksudmu mas? aku memakai baju yang rapi, tidak ada unsur terbuka sama sekali?" Kinanti sedikit kesal dengan kalimat merah yang di lontarkan Damar.
" Yah.. tertutup, tapi lekuk tubuhmu terlihat jelas olehku..
bahkan bibirmu yang merah itu, serta mawar yang terselip di sanggulmu itu seperti magnet yang menarik setiap mata laki laki untuk menatapmu..
lalu apa gunanya baju tertutup.."
Kinanti melotot,
__ADS_1
" Apa sih?! datang datang mengajakku ribut? bukankan semua keinginanmu sudah terpenuhi? kenapa masih bersikap seperti ini padaku?" benar benar Damar membuat Kinanti kesal.
" Pulanglah mas! jangan merusak suasana hatiku yang sudah mulai membaik..!" tegas Kinanti berjalan masuk.
" Oh! jadi suasana hatimu mulai membaik? karena itu kau keluar dengan Haikal terus terusan?!" Damar bangkit, ia mengikuti langkah Kinanti.
Kinanti yang baru saja masuk ke dalam kamar dan menaruh tas nya kaget melihat Damar menyusulnya masuk.
" Keluar mas! aku mau ganti baju! aku tidak punya waktu meladeni emosimu yang naik turun tidak jelas?!" Kinanti ketus.
Keduanya beradu pandang, seperti dua orang musuh lama yang baru saja bertemu, sengit.
" Bisa bisanya kau seperti itu? kau sengaja menguji kesabaranku?" suara Damar tertahan, matanya memerah karena menahan emosi.
" Seperti apa aku mas? aku tidak berbuat apapun yang merugikanmu?" jawab Kinanti tak mengerti kenapa laki laki itu marah sekali.
" Kau bilang tidak melakukan apa apa? padahal selama dua hari ini kau terus keluar dengan Haikal, bahkan kau berpenampilan secantik ini? kau kira hatiku terbuat dari apa?!" bentak Damar kehabisan kesabaran.
" Kau kesambet ya mas? setan mana yang merasukimu dan membuatmu seperti ini?!" Kinanti tak kalah, ia bicara lebih lantang.
" kau yang keluar atau aku yang keluar?" tanya Kinanti masih sengit.
Karena melihat Damar tak berkutik akhirnya Kinanti memutuskan dirinya yang keluar.
Dengan langkah cepat Kinanti melewati Damar dan berjalan ke arah pintu.
Namun Damar yang belum puas dan merasa belum mendapatkan jawaban segera menyusul langkah Kinanti.
Kakinya yang jenjang membuatnya mampu mendahului Kinanti dan menutup pintu kamar dengan cepat.
" Aku belum selesai bicara,
apa kau tau kalau meninggalkan orang yang belum selesai berbicara denganmu itu adalah hal yang tidak sopan?" Suara Damar tenang, namun sedikit menakutkan.
Damar berbalik, mengunci pintu agar Kinanti tak bisa kabur keluar.
Namun saat ia berbalik itulah matanya terbentur dengan kotak kotak berpita yang di susun rapi di dinding di belakang pintu.
Damar tercekat, dadanya di rasa sakit sesaat.
Dengan perasan kecewa ia menatap Kinanti.
Matanya tidak lagi di penuhi amarah, namun kesedihan yang menumpuk.
" Kau.. kenapa tak membunuhku saja..?" ujar Damar.
Kinanti di terdiam, di landa kebingungan.
" Apa sih kau ini mas?!" tanya Kinanti, antara marah, bingung dan tak mengerti.
" Apa lagi yang mas ributkan?!" tanya Kinanti lagi.
" aku sudah menerimanya mas, apalagi yang mas mau??!" Kinanti masih bertanya dengan bingung.
" Kau bilang sudah menerimanya?! kau berkata seperti itu tanpa beban di hadapanku?!" Damar meluap lagi.
Di tariknya Kinanti, di gendongnya, lalu setengah di lemparnya ke tempat tidur.
" Kau gila ya mas?!" pekik Kinanti, ia berusaha bangun namun kesulitan karena rok kebayanya yang sempit.
" Jika dengan ciuman tak cukup membuatmu mengerti dan berhenti, maka aku sanggup melakukan sesuatu yang lebih dari itu,
aku akan membuatmu tak bisa melihat laki laki lain selain aku..!" Damar tau tau sudah berada di atas tubuh Kinanti.
__ADS_1
Ia memegang kedua pergelangan tangan Kinanti dengan kuat.