
Beberapa hari kemudian, Kinanti berbincang lagi dengan ibunya, ia bertanya, bagaimana pendapat ibunya jika ia memutuskan untuk menikah dengan Haikal.
Jawaban ibu tetap sama..
apapun itu asal Kinanti bahagia, namun ibu tetap tak ingin Kinanti terburu buru, apalagi mereka baru saja bertemu.
Haikal juga sering berbincang dengan ibu Kinanti, banyak hal yang mereka bahas, termasuk kakak angkat Kinanti, begitu ibu memanggil Damar untuk di perkenalkan pada Haikal.
Ibu berkata Keluarga ini berada dalam naungan Damar, jadi segala keputusan pun yang diambil Kinanti nanti si kakak angkat harus di beri tau.
Haikal menyetujui, ia berjanji pasti akan berbincang secara langsung dengan kakak angkat Kinanti yang namanya Damar itu.
" Apa yang kau lakukan? pulanglah.. ini sudah mau magrib.." ujar Kinanti menyuruh Haikal pulang.
" Aku masih mau disini.." jawab Haikal,
" Astaga.. setidaknya pulang kerja langsung lah pulang kerumahmu, jangan kesini,
aku sungkan tau pada tetangga..?!" Kinanti kesal juga lama lama, seragamnya itu cukup membuat para tetangga memperhatikan rumah ini setiap Haikal masuk.
" Kumohon pulanglah..?! masih ada hari esok Kal?!" Kinanti menatap Haikal serius.
" Hemm.. ya sudahlah.. aku pulang kalau begitu, besok aku piket.. mungkin lusa aku main kesini lagi.." ujarnya,
" Yah.. terserah kau lah.." jawab Kinanti sekenanya.
" Kau sehat Dam? bagaimana adikku? dia juga sehat? kau menjaganya dengan baikkan?" Aji tersenyum,
lalu melambaikan tangan pada Damar, tatapan matanya mengandung banyak kerinduan juga harapan,
" Awas.. aku titip Kinanti.." suara lirih itu menggema, seakan akan ingin itu benar benar di perhatikan,
Aji lalu berbalik dari hadapan Damar yang entah kenapa diam saja, sembari melempar senyum lagi Aji berjalan pergi, dan menghilang diantara kabut tebal.
Damar terbangun, setengah terperanjat.
Mimpi itu seperti biasanya, terasa nyata.. seakan akan Aji memang datang dan bicara.
" Uhh.." Keluhnya pelan, sembari menyentuh dadanya, rasanya nyeri sekali.
" Jangan begini terhadapku.." Damar tertunduk sembari membersihkan sudut sudut matanya dari air mata yang jatuh ketika ia tidur tadi.
" Aku tidak sanggup lagi menjaga adikmu...
biar orang lain yang menjaganya.." Damar tertunduk lebih dalam, sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, rasanya frustasi sekali.
Tak lama setelah dirinya tenang, ia bangkit dari tempat tidurnya, berjalan ke arah teras.
Ia duduk dan memandangi para pekerja yang sedang siap siap untuk bertukar giliran.
Damar lalu melayangkan pandangannya pada satu gunung besar yang selalu menyambutnya saat ia duduk di teras rumah,
di sekitarnya di kelilingi bukit bukit hijau yang rapat tanpa celah.
Benar sekali, desa ini adalah tempat yang lumayan dingin dan sejuk, pemandangannya selalu saja indah, entah itu pagi siang atau sore.
Gunung itu seperti melambai lambai,
" Naiklah.. naiklahh.." mungkin gunung itu akan berkata demikian jika ia bisa, pikir Damar.
__ADS_1
Namun traumanya begitu besar, ia tak mempunyai nyali untuk naik gunung lagi.
Ia hidup sebagai pengecut beberapa tahun ini.
Ditengah lamunannya, tiba tiba HP damar berbunyi,
ada sebuah chat masuk, dan itu dari Kinanti, Damar membacanya dengan tenang.
- Maafkan aku menganggu mas..
- tapi ibu menyuruhku memberi tahu mu..
Alhamdulillah..
- seseorang mengajakku menikah..
- dan aku sudah mempertimbangkannya..
- ibu berharap mas datang kerumah,
- untuk melihat calon suamiku,
- juga untuk berdiskusi dengan ibu.."
Di taruhnya HP itu di meja, sebelah kursi yang di duduki Damar saat ini.
Wajah laki laki itu tiba tiba saja terlihat berbeda, gerahamnya mengetat sejenak,
ia menahan sebuah perasaan yang tidak menyenangkan.
Di hela nafasnya berkali kali, ia ingin tenang meski itu sulit.
Bahkan wajahnya terlihat begitu merah padam sekarang,
seluruh tubuhnya di rasa panas, termasuk wajahnya.
Entah rasa panas itu tiba tiba muncul dari mana.
" Baguslah.. menikahlah.." suara Damar parau, dan jemarinya gemetar lagi.
" Mas?" Yoga yang baru saja datang berjalan setengah berlari ke arah Damar yang sedang duduk tertunduk di teras, ia terlihat tak baik baik saja.
" Tarik nafas mas?!" ujar Yoga, ia memegang telapak tangan Damar yang basah dan gemetaran.
" Dadaku sakit.." keluh Damar masih dengan suara paraunya.
" Dadaku sakit.." ulangnya lagi sembari menutup mata.
Yoga menarik Tubuh Damar dan membawanya ke dalam, membaringkannya setengah duduk di sofa.
" Apa yang kau pikirkan mas? bukankan sudah ku peringatkan.. jangan berpikir terlalu berat..
setiap kau berpikir berat gejalamu muncul, dan itu mirip seperti saat kau mimpi buruk mas.."
Yoga menatap Damar dengan ekspresi cemas, sudah sampai seperti ini gejalanya, namun Damar tetap tidak mau berobat, apa yang harus ia lakukan, tidak mungkin ia diam saja dan tutup mata terus.
" Tolong, dengarkan aku.. kita harus memeriksakan dirimu dengan benar mas.." kata Yoga,
" Kau mau aku berakhir dirumah sakit jiwa?" suara Damar setengah berbisik.
__ADS_1
" Tidak?! kau tidak akan mas.. justru mas bisa sembuh perlahan..
asal mas mau.. dan menerima pengobatan itu.."
" Aku tidak mau.." jawab Damar masih dengan mata tertutup,
" Berikan saja aku obat untuk sakit di dadaku.." imbuhnya.
" Tapi kemungkinan sakit yang mas rasakan bukan sakit medis mas.. aku takut salah memberikan obat dan malah berakibat buruk bagi tubuhmu..
kita ke psikiater saja ya??" bujuk Yoga,
Damar diam, lalu menggeleng pelan.
" Ayolah mas.. kau seorang dosen,
kau tau dengan benar apa yang terjadi pada dirimu..
jangan menyangkalnya..?!"
Damar diam, ia tak menjawab kata kata Yoga, namun juga tak mengiyakan.
Yah.. ia tau benar kalau dirinya sedang menderita trauma berat.
Namun terakhir kali ia ke psikiater, ia bahkan enggan untuk meminum obat yang di resepkan.
" Dia kenapa lagi Yog?" tanya ibu tiri Damar ketika Yoga berjalan melalui halaman depan rumah Kaila.
" Tidak apa apa budhe.." jawab Yoga tersenyum sekilas.
" Ah, wajahnya saja tidak terlihat baik, jangan jangan dia punya penyakit kronis atau apa, coba kau periksa dia baik baik..
laki laki kok sakit terus..!" komentar sang ibu tiri.
Yoga hanya tersenyum,
" saya pulang dulu budhe.." pamitnya kemudian dan segera berlalu, ia malas berbicara lama lama dengan ibu Kaila itu.
Pekerjaannya hanya menyudutkan dan mencari kesalahan orang lain saja.
Untunglah Kaila tidak seperti ibunya,
ia lebih patuh terhadap Damar, dan mudah bersimpati pada orang lain.
" Weh! jagoan papa?!" Yoga memeluk putranya, dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.
Sesungguhnya bukanya ia tak mau memperhatikan Damar lebih lanjut, namun dirinya sendiripun juga berantakan,
menjadi ayah tunggal bukanlah hal yang mudah, namun ia harus menghadapinya meski terkadang ia lelah,
tak jarang Yoga mencoba menggali ingatan ingatannya yang lalu.
menemukan lagi hal hal yang membuatnya bersemangat ketika membayangkan wajah wanitanya dulu..
seperti hal hal manis yang pernah terjadi diantara mereka dan hal hal indah sebelum ia menyakiti perempuan yang terkadang di rindukannya itu..
Sekarang kenangan hanya tinggal kenangan, ia salah memilih istri, salah memilih pendamping.
Dan tidak ada jalan untuk dirinya kembali ke masa lalu.
__ADS_1