Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
dewasalah


__ADS_3

Yoga melepas kepergian Dinda dengan berat hati,


beberapa kali laki laki itu mengejar sosok perempuan yang di cintainya, ingin menarik kembali kata katanya bahwa ia setuju untuk melepaskan Dinda dua minggu saja demi mengurus apapun miliknya yang tersisa di bandung.


Namun perempuan itu sudah menghilang dengan cepat di kerumunan para penumpang.


Yoga mengambil HPnya dari kantong, ia benar benar tak ingin Dinda pergi, perasaannya sungguh tak bisa di ajak kompromi.


" Jangan," Damar menarik pergelangan Yoga.


" Tapi mas? perasaanku tidak enak?" ucap Yoga memohon.


" Dewasalah.. dia pergi untuk kembali, bukan untuk tidak kembali.." Damar memberi pengertian.


" Pernikahan kalian masih dua puluh hari lagi, dan dia pergi hanya untuk dua minggu, bahkan dia berkata akan menyelesaikan semua kurang dari dua minggu,


Dinda perempuan yang sangat menepati janji, apa yang kau takutkan?" tanya Kinanti dengan raut kesal.


" Perasaanku tidak enak.." jawab Yoga lirih,


" ya sudahlah.." ucap Yoga akhirnya murung, laki laki itu berjalan keluar dari Bandara dengan langkah berat.


Sementara Damar dan Kinanti hanya bisa saling menggeleng melihat sikap Yoga.


" Kalian pulang dulu saja," ujar Yoga setelah sampai di parkiran.


" Memangnya kau mau kemana?" tanya Damar dengan dahi berkerut.


" Aku ada kepentingan lain, mas dan mbakyu pulang duluan saja.." jawab Yoga dengan nada tak bersemangat.


Dengan langkah yang di paksakan laki laki itu berjalan kearah salah satu taksi yang berjajar rapi.


Sore itu suasana tampak tenang, meski langit mulai kelabu.


Angin pun bertiup sedang, tak terlalu pelan tak juga terlalu kencang,


membuat Kaila yang duduk di kursi teras rumahnya enggan untuk beranjak.


Entah apa yang sedang di pikirkan gadis itu, matanya menyalang lepas ke area persawahan, sudah sejam lebih ia begitu.


Sesekali di lirik HPnya di meja yang terletak tepat di samping kursinya.

__ADS_1


Tak terdengar notifikasi apapun.


jemarinya saling menggenggam erat, sembari membuang nafas berat.


" Laki laki busuk.." desisnya di penuhi sakit hati.


Kaila yang selalu di manja itu tak pernah di kecewakan, ia benar benar mendapat pukulan yang keras.


Setelah beberapa waktu yang lalu ia melihat Yusuf keluar dengan Dinda, siang tadi ia menangkap basah laki lakinya itu sedang menghabiskan waktu makan siangnya dengan perempuan lain.


Perkara Dinda tak terlalu di masukkan ke dalam hatinya, karena ia tau Dinda dan Yoga sudah berkomitmen untuk menikah dalam waktu dekat, tidak pantas rasanya ia cemburu buta.


Namun Siang ini, hatinya sungguh sungguh terbakar, apalagi di hiasi dengan kebohongan yang sudah di ciptakan oleh Yusuf.


Untuk pertama kalinya, laki laki itu tidak menjemputnya dengan dalih sedang menemani rekan bisnis bapaknya dari luar kota.


Andai saja Kaila tidak menerima ajakan teman temannya untuk mencoba salah satu menu yang sedang in di cafe yang lumayan cukup terkenal baru baru ini,


Kaila tidak akan menemukan pemandangan yang menyakitkan hati dan matanya.


Yusuf sedang makan dan berbincang ramah dengan seorang perempuan yang menurut Kaila bukanlah rekan bisnis bapaknya.


Usianya perempuan itu sepantaran Kakak iparnya, Kinanti.


Tapi penampilannya jauh berbeda, lebih modern dan terbuka, seakan sengaja menarik perhatian Yusuf dan laki laki lain di sekitarnya.


Rambutnya terurai panjang berwarna merah kecoklatan, make up nya pun terlihat tebal.


atasan yang ia gunakan memang cukup tertutup, tapi ia memakai rok yang cukup pendek,


semua orang bahkan bisa melihat paha mulusnya yang putih.


Cantik memang, terlihat dewasa pula, Kaila mengakuinya, apalah ia yang masih bau bangku SMA ini dan kemana mana selalu memakai celana jeans panjang.


Semakin bergemuruh hati Kaila saat melihat Yusuf begitu ringannya mengumbar senyumnya.


Laki lakinya yang begitu acuh dan malah senyum sebulan ini, bisa bisanya tersenyum begitu manis di hadapan perempuan lain.


Tanpa berpikir apapun lagi, dan disertai amarah yang sudah siap meledak, Kaila berjalan mendekati meja Yusuf.


" Pembohong!" suara Kaila membuat semua pengunjung cafe menatap kearah Kaila dan Yusuf.

__ADS_1


" Apa apaan sih La?!" Yusuf bangkit, dan berusaha menenangkan Kaila, sementara perempuan yang bersama Yusuf hanya bisa membeku dan tercengang.


" Laki laki busuk?! ini yang kau bilang akan menungguku?! setia kepadaku?!" sembur Kaila.


" Sabar?! tenanglah dulu?! mari bicara baik baik?!" Yusuf memegang kedua lengan Kaila.


Namun entah dari mana kekuatan Kaila datang, di lepaskan tangannya dari pegangan Yusuf dan di tamparnya wajah Yusuf.


" Aku bodoh jika masih mau bicara pada laki laki murah sepertimu! kita putus!" tegas Kaila lantang.


Pandangannya begitu sengit pada Yusuf, sementara Yusuf masih belum sadar dari keterkejutannya karena tamparan Kaila, lalu di susul kalimat putus,


Yusuf linglung, hingga ia tak sadar bahwa Kaila sudah pergi dari hadapannya.


Air mata Kaila mengembung, ditahan agar tak tumpah.


Ia tak mau menangisi laki laki pembohong dan tidak setia itu, batinnya keras.


Tak terasa langit mulai menghitam, senja mulai menghilang tergantikan malam.


" Kau itu sedang apa sih?" suara ibunya membuyarkan lamunannya.


" Hari sudah gelap?, tidak makan, tidak mandi?, makin di biarkan makin tidak karuan saja! cepat masuk! mandi sana lalu makan!" tegas ibunya kesal melihat Kaila yang murung saja sejak pulang kuliah.


" Kau ini! bikin malu saja!" laki laki tua itu melempar asbak ke arah putranya.


Untunglah asbak itu meleset dan membentur pintu.


" Kapan kau itu bisa bertindak benar?!" amarah Si bapak benar benar meluap.


Tidak ada yang bisa di lakukan Yusuf saat ini, selain diam menerima kemarahan bapaknya karena sudah mengecewakan laki laki tua itu.


" Kalau kau terus terusan tidak patuh dan membuat malu, lebih baik kau keluar saja dari sini! cari pekerjaan lain! kalau perlu kau keluar saja dari rumah!"


Yusuf membeku,


ia tak pernah menyangka kalimat semacam itu bisa keluar dari mulut bapaknya.


Apa ini..?? batinnya pedih,


apa tamparan dan makian Kaila tidak cukup.. sehingga dia juga harus menelan kalimat pahit dari bapaknya.

__ADS_1


__ADS_2