Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
mantan kekasih


__ADS_3

Damar berhenti di depan salah satu rumah di area perumahan itu.


Ia turun dari motornya dan mengamati nomor rumah.


Nomor rumah itu sama dangan yang di beritahukan Haikal padanya lewat telfon.


" Permisi?" Damar mengetuk pintu pagar dengan kunci motornya.


" Iya mas?!" Haikal buru buru keluar dan membuka pagar, rupanya ia juga menunggu Damar.


" Silahkan masuk mas.." ujar Haikal,


dan keduanya masuk ke dalam rumah, duduk bersama di ruang tamu Haikal.


" Saya buatkan minum ya mas.." Haikal bangkit,


" tidak usah.. sudah duduklah.." ujar Damar, membuat Haikal mengurungkan niatnya dan duduk kembali.


" Saya ndak enak, ada tamu kok tidak di suguhi minum.."


" Langsung saja.. aku ada perlu dengan mu.." ujar Damar,


" Wah.. padahal besok rencananya saya mau kerumah mas Damar dengan Kinan, jalan jalan..?"


" Silahkan saja... tapi kita bicara dulu" raut wajah Damar benar benar serius.


" Ada apa mas, sampai sampai mas kesini mencari saya..?" tanya Haikal juga mulai serius.


Damar terdiam sejenak, merangkai kata kata yang tepat agar segala sesuatunya bisa di selesaikan dengan baik.


" Aku minta maaf sebelumnya..


bukannya aku ingin ikut campur urusanmu, tapi apapun yang berhubungan dengan Kinan aku berhak tau.."


" iya mas? tentang apa itu? masalah nikah kantor?" tanya Haikal mengira Damar akan menanyakan hal itu.


" Tidak.." jawab Damar bersikap se tenang mungkin.


" Boleh aku tau apa yang kau lakukan di surabaya beberapa waktu ini?"


Deg..


Haikal terdiam, ia tiba tiba tertunduk dan membuang pandangannya ke arah lain.


Suasana hening sejenak, Damar sengaja memberi ruang untuk Haikal.


" Saya ada urusan sedikit mas disana, tapi sekarang insyaallah sudah selesai.." Jawab Haikal mengembalikan pandangannya pada Damar.


Alis Damar terangkat,


" Urusan yang seharusnya Kinan tau?"


lagi lagi ucapan Damar seperti pukulan untuk Haikal.


" Apa maksud mas?" Haikal mencoba tersenyum,

__ADS_1


Damar membenarkan letak duduknya, lalu memandang Haikal dengan pandangan yang mencoba mengerti.


" Aku melihatmu dirumah sakit itu.." ucap Damar membuat Haikal menatapnya.


" Aku dua kali melihatmu..


saat kau mendorong kursi roda, dan saat kau keluar dari rumah sakit pagi pagi.."


" Mas?! bagaimana?" Haikal terdiam lagi, ia kehabisan kata kata saking terkejutnya.


" Aku tidak sengaja.. kau tau sopirku kecelakaan di surabaya, dan di rawat disana,


apa kau kira aku membuntutimu? untuk apa.."


Haikal mengigit bibir bawahnya.


" Tolong aku mas?! rahasiakan ini dari Kinanti..?!" pinta Haikal pada Damar, kegelisahan tak bisa ia tutupi lagi.


" Aku bisa jelaskan mas.. aku bisa jelaskan?!" imbuh Haikal.


Damar menghela nafas panjang, ia serba salah..


jika ia diam takutnya ke depannya hal ini akan terulang, tapi jika ia bicara, ia takut di salah fahami dan merusak hubungan orang.


" Aku tidak ada niat menyampaikan ini pada Kinan, karena itu aku menemuimu,


berharap dirimu sendiri yang jujur terhadapnya.."


" Tidak mas?, dari karakter Kinan.. jika dia tau, dia pasti akan memutuskan hubungan kami..?!"


" Tidak mas, dia tidak perlu tau.. karena aku sudah menyelesaikan persoalan ini.."


ujar Haikal meyakinkan Damar.


" Kau yakin?"


Haikal mengangguk,


" Haahh.." keluh Damar, andai saja ia bisa memukul laki laki di hadapannya ini, mungkin akan lebih baik bagi Damar.


" Sesungguhnya kami sudah berpisah 8 bulan yang lalu.." ucap Haikal tiba tiba.


" Dia adalah putri dari seorang pejabat tinggi mas..


dan saya yang berpangkat pas pasan ini tentu saja tidak pernah mendapatkan restu..


awalnya saya tidak menyerah, tapi setelah saya mendengar kekasih saya malah di jodohkan dengan orang lain yang pangkatnya jauh lebih tinggi dari saya, rasanya kepercayaan diri saya rontok..


perjuangan saya habis di telan kepahitan kenyataan.." jelas Haikal dengan menahan segala perasaan pedihnya.


" Saya memutuskan berpisah dengannya, dan pindah ke kota ini,


saya kira semua sudah berakhir dengan baik, dia pun tak pernah ada kabar lagi..


lalu..

__ADS_1


tanpa sengaja saya mendengar kabar Kinanti dari Yusuf,


Kinanti itu cinta pertama saya mas.."


Damar tetap tenang mendengarnya meski ada nyeri yang menelusup ke hatinya.


" Saya mendengar Kinanti tak kunjung menikah dan dia tidak memiliki kekasih..


seketika itu saya berpikir bahwa kami akan cocok.." imbuh Haikal,


" Jadi kau menjadikan Kinan pelampiasan mu?" tanya Damar mulai menajam.


" Tidak mas, Kinan bukan pelarian atas rasa sakit hati saya.. kinan adalah penyembuh.. Kinan selalu bisa membuat saya lupa akan segala kesedihan dan kepedihan yang saya terima..


berada disampingnya membuat saya di hargai..?" tukas Haikal.


" Bukankah itu sama namanya?"


" berbeda mas.. tolonglah itu berbeda mas..?!"


" hemm.. baiklah.. tapi kau tetap harus jujur, karena sejujurnya dalam hati aku ingin menghajarmu.. bisa bisanya kau berbohong pada Kinan kalau kau ada urusan kerja, padahal kau mengurus perempuan lain.."


" Tapi aku tidak berselingkuh mas? aku tidak bermaksud untuk berbuat semacam ini..


dia bunuh diri dan keluarganya mencariku mas?


kalau mas jadi aku mas akan bersikap seperti apa mas?"


Damar terdiam, gerahamnya mengetat menahan kesal.


" Tetap tidak bisa di benarkan, seharusnya kau jujur pada calon istrimu!" tegas Damar.


" Kalau sekarang kau bisa bersikap seperti ini, bukan berarti setelah menikah kau tidak akan seperti ini lagi jika gadis itu mencarimu?!" kata kata Damar lebih keras.


" Aku tidak perduli siapapun dirimu, apapun kekuatanmu.. tapi, menyakiti Kinan sama dengan menyakitiku!


Aku menjaga Kinan sejak dia remaja! jangankan laki laki, aku bahkan menyingkirkan batu di tengah jalan agar tidak menganggu langkahnya! sekali saja aku kecolongan dia di sakiti laki laki, untuk ke depannya tidak akan ki biarkan lagi!"


Haikal tertunduk,


" Mas berlebihan.. aku tidak sedang mengkhianatinya.. jadi semua akan baik baik saja..


dan pernikahan kami akan tetap berjalan sesuai dengan apa yang sudah di rencanakan.." ujar Haikal dengan nada lemah.


" Dia calon istriku mas... pernikahan ini kami berdua yang menentukan.. bukan orang lain..


harap mas mengerti.."


Damar mengepalkan tangannya, menahan kesal juga tinjunya.


" Tidak ada yang berlebihan bagiku jika itu urusan Kinanti!


aku memang tak akan bicara pada Kinanti, tapi bukan berarti kau boleh berbohong,


aku akan menunggu kabar baik darimu soal pengakuan mu pada Kinan,

__ADS_1


jadi jangan tenang tenang sebelum kau selesaikan benang kusut antara dirimu dan mantan kekasihmu itu"


__ADS_2