Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Reuni


__ADS_3

Damar baru saja duduk di ruangannya, kebetulan kelasnya sudah habis, dan waktupun sudah menjelang senja.


" Tok! tok! tok!" suara pintu ruangan di ketuk.


Damar melihat sesosok tubuh masuk kedalam ruangan.


" Untunglah, kau belum pulang.." suara Rian terdengar lega.


Laki laki itu juga bekerja sebagai Dosen, namun di fakultas lain, dia adalah salah satu teman Damar saat duduk di bangku kuliah, dan teman satu mapala.


Dulu mereka lumayan dekat, tapi itu dulu..


sebelum Aji meninggal.


Setelah Aji sudah tidak ada, Damar menarik diri dari pergaulan, ia tak mengijinkan satupun temannya untuk berbicara padanya,


sikapnya menjadi kaku dan sensitive.


" Ada perlu apa?" tanya Damar heran, karena Rian sama sekali tak pernah berkunjung keruangannya.


" Aku mau memberikan undangan," Rian mendekat dan meletakkan sebuah undangan di atas meja Damar.


" Reuni?" ucap Damar setelah membuka undangan itu.


Rian tersenyum dan mengangguk,


" Mapala angkatan kita.." suara Rian sedikit ragu.


Damar terdiam, lalu menghela nafas dalam.


" Maafkan aku" suara Damar berat,


" aku belum sanggup.." imbuh Damar.


" Kami akan menemanimu... jadi tolong, semua mengharapkan kehadiranmu..?" Rian duduk di kursi, tepat di depan meja kerja Damar.


Laki laki itu terlihat menginginkan kesediaan Damar untuk hadir.


" Sudah berapa tahun, bukankah luka itu seharusnya sudah sedikit pulih..?


apalagi kau sudah hidup bahagia dengan adik Aji.." Rian berhati hati.


" Aku menikahinya karena mencintainya, bukan karena sekedar tanggung jawab pada almarhum Aji, kau faham?!" tegas Damar,


Rian terhenyak, rupanya ia sudah salah bicara.


" Maafkan aku, tentu saja semua orang tau itu..." kata Rian.


" Sudahlah...aku tidak bisa ikut.."


tolak Damar lebih tenang.


" Berpikirlah dulu, semua teman teman kita dari luar jawa berkumpul,


entah kapan kita bisa seperti ini lagi,


Kau boleh menunggu di ranu gumbolo,


tidak ada yang memaksamu menginjak puncak seperti yang sering kau lakukan dulu..


meski sesungguhnya kami yakin,


kau masih cukup mampu menaklukkan mahameru dengan kaki dan hatimu yang kuat,"


Damar terdiam, ia bahkan mulai tertunduk sedih mendengar kata kata Rian.


" Kau ingat, dulu kau selalu menjadi yang terdepan.. "

__ADS_1


" Itu dulu.." jawab Damar dengan mata merah berkaca kaca.


" Kau yang sudah sampai kalimati bahkan turun lagi ke oro oro ombo untuk menjemput adik adik kita yang baru bergabung saat itu..


meski kau memutuskan untuk tidak naik gunung lagi,


tapi aku tau jiwamu masih melekat disana.."


" Diamlah.. ini sudah saatnya aku pulang, jadi pergilah," ucap Damar menutupi matanya yang berkaca kaca.


" Ikutlah.. meski kau hanya diam di ranu gumbolo, kita melintas siang hari.."


Rian masih terus membujuk.


" Kalian akan membopongku jika aku pingsan? apa kalian tutup mata dengan penderitaan ku karena kehilangan Aji?," Damar mulai marah,


" Kami perduli padamu Dam?!


kami ingin kau normal dan menikmati hobbymu kembali?!


Banyak orang yang kehilangan di gunung, namun beberapa tahun kemudian dia kembali dengan jiwa yang lebih kuat,


kenapa kau malah lari?"


" Pergilah!" bentak Damar,


" pergilah.. tolong, jangan bicarakan rencana pendakian kalian lagi di hadapanku.." ulang Damar lebih menguasai dirinya.


Rian yang mendapat bentakan semacam itu, merasa harus menyerah untuk sekarang.


Mungkin Damar memang belum sanggup, pikirnya.


" Baiklah.. jaga kesehatanmu, aku pergi.." Rian bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu, dan hanya dalam beberapa kedipan mata Damar,


Rian sudah menghilang di balik pintu.


Senja sudah hampir bersatu dengan langit, karena itu Damar buru buru memarkirkan motornya di garasi dan masuk.


Baru masuk ke dalam rumah, hidungnya sudah di sergap oleh bau masakan yang gurih dari dapur.


" Masak apa?" tanya Damar mengintip pintu dapur,


" nasi goreng udang mas.. sebentar lagi ya? mas mandi dulu.." ujar Kinanti sembari melempar senyum pada suaminya.


Damar membalas senyum Kinanti sembari mengangguk,


laki laki itu segera menuju kamar untuk merapikan dan membersihkan dirinya.


30 menit kemudian, saat Damar sudah selesai dengan kesibukannya sendiri, ia melihat bungkusan pakaian di atas meja rias Kinanti.


Karena penasaran Damar membolak baliknya.


Kinanti sudah mempersiapkan makanan di atas meja makan.


Ia tau sekali suaminya itu pasti lapar, karena suaminya itu bukan tipe laki laki yang suka makan malam di luar.


Kinantipun sudah mulai mengurangi kopi Damar,


perlahan Kinanti menggantinya dengan kopi susu.


Hanya itu yang bisa Kinanti lakukan, karena tidak mungkin mencegah Damar untuk merokok.


Suaminya itu adalah perokok berat, apalagi jika sedang dalam tekanan yang berat,


ia tak akan bicara sebanyak biasanya, namun sehari dia bisa menghabiskan dua bungkus.


Tak heran, kadang aroma tembakau sangat pekat di tangannya,

__ADS_1


untungnya bau parfum Damar yang lembut membuat aroma tambakau itu berkurang, dan perpaduan keduanya malah membuat aroma itu terkesan maskulin.


Sesungguhnya Kinanti sering was was saat Damar berangkat mengajar di kampus, selain penampilan suaminya yang rapi dan terlihat sangat menonjol itu, aroma parfum Damar yang lembut itu sangat memikat hidung Kinanti.


Bagaimana nanti jika hidung hidung para mahasiswi itu menemukannya,


dan merasa nyaman dengan aroma tubuh suaminya.


Kinanti tau benar, suaminya termasuk dosen dengan usia yang masih cukup muda.


Tentunya dia banyak menjadi bahan pembicaraan para mahasiswi, seperti jamannya dulu,


ia ingat, setiap ada dosen muda, teman temannya akan sibuk mengeluh eluhkan dan membicarakan si dosen sepanjang jam perkuliahan.


Dan sekarang fenomena itu pasti terjadi pada suaminya.


Diam diam Kinanti mengeluh, sembari menaruh sendok di atas nasi goreng yang sudah di tata rapi di piring itu.


" Kenapa?" tanya Damar mendengar eluhan ringan Kinanti rupanya.


" Ah.. tidak mas.." sahut Kinanti mengulas senyum ringan, ia tak sadar kalau suaminya sudah sejak tadi memperhatikannya.


" Kalau capek rebahan saja.." ujar Damar duduk di meja lalu menyeruput kopi susunya.


" Makan yang banyak.." Damar memandangi istrinya yang duduk disampingnya.


" Mas yang harus makan banyak.. karena mas lah yang lebih banyak menghasilkan uang.." ucap Kinanti sembari mengunyah nasi gorengnya.


Damar tersenyum ringan mendengarnya,


" Itu sudah kewajiban seorang laki laki sayang.." sahut Damar.


" Oh ya.. kau membeli Daster baru? tadi ke pasar ya?" tanya Damar sembari menyendok nasi terakhirnya.


" Tidak mas.." jawab Kinanti dengan nada yang berubah tiba tiba, rautnya tidak senyaman tadi.


" Lalu?" tanya Damar sembari meneguk air putih yang sudah di sediakan Kinanti.


Kinanti terdiam sejenak,


" mbak Winda yang memberikan mas,


oleh oleh dari papa Bagas katanya.." suara Kinanti hati hati, di pandangi suaminya sekilas, demi ingin tau perubahan apa yang ada di wajah suaminya.


" Yoga.." ucap Damar pelan, di letakkan gelas yang sudah kosong itu kembali di atas meja.


Entah apa yang di rasakan suaminya itu, namun yang tertangkap oleh mata Kinanti adalah sikap yang tetap tenang dari suaminya.


" Iya mas.. aku tidak akan memakainya, aku akan menyimpannya saja, rasanya tidak enak kalau aku menolaknya sementara mbak Winda yang mengantarkannya sendiri.." Kinanti buru buru bicara, ia takut suaminya itu salah faham.


" Kenapa tidak di pakai? pakai saja.. toh hanya oleh oleh.." suara Damar tetap tenang.


Kinanti tertunduk, kalimat suaminya itu malah membuatnya merasa tidak nyaman.


" Bukankan lebih bagus jika mas melarangku?" ucap Kinanti,


" kenapa aku harus melarangmu? toh saudaraku juga saudaramu bukan?" jawab Damar sembari mengambil gelas kopi susunya dan berjalan ke arah ruang kerjanya.


" Aku banyak tugas.. tidurlah dulu.." ucapnya lalu menutup pintu kamar kerjanya.


Kinanti hanya bisa terdiam, lagi lagi..


Yoga membuat situasi yang sudah mulai nyaman menjadi tidak nyaman kembali,


dan sampai kapan hal semacam ini akan terjadi,


diam diam Kinanti kesal, masa lalu yang sungguh menjengkelkan dan membuatnya kesulitan.

__ADS_1


__ADS_2