
" Plaakkk..!" tangan kiri Vania yang bebas tiba tiba menampar pipi Dinda.
Tak ada yang menyangka tak bisa mengelak, karena tangannya pun sedang sibuk memegangi tangan kanan Vania.
" Perempuan Gila!!" Rakha mendorong Vania dengan seluruh tenaganya, kemarahannya tak lagi bisa di bendung melihat Dinda di sakiti semacam itu.
Tentu saja Vania langsung jatuh tersungkur dan meringis kesakitan.
Dinda yang melihat Rakha lepas kendali dan mendekat untuk menyakiti Vania lagi, buru buru menarik Rakha agar tak menyentuh Vania.
Suara pegawai yang sebelumnya ribut sekarang senyap.
" Jangan?!" Dinda menggeleng pelan, memperingatkan Rakha, Dinda tak mau laki laki itu terlibat masalah karenanya.
" Dia menyakitimu?!" sentak Rakha pada Dinda,
" bagaimana kau bisa tahan?! aku saja tak tahan melihatnya!!" Rakha meledak ledak.
" Jangan.. kalau kau menyentuhnya lagi, kau bisa terlibat masalah??" Dinda memegang erat pergelangan Rakha.
" Aku tau, kau bisa melepaskan tanganku dengan mudah.. tapi kumohon jangan..
jangan biarkan ku bersalah padamu..??" pinta Dinda.
" Siapa yang bisa menjelaskan tentang apa yang sudah terjadi?" suara Yoga memecah keheningan, ia tiba tiba saja berdiri di tengah ruangan dengan sorot mata tajam yang terarah ada Vania.
Vania yang masih tersungkur tertunduk takut.
" Pergilah, atau harus kutelfon keluargamu? agar mereka tau betapa tidak pantasnya tindakanmu pada keluargaku?" suara Yoga di penuhi kebencian.
Vania buru buru bangkit, ia berjalan terhuyung keluar dari toko,
tatapan Yoga beralih pada dua orang di hadapannya, istrinya.. dan si teman laki lakinya.
Tangan Dinda masih memegang kedua lengan Rakha erat, hal itu membuat Yoga terlihat semakin marah, bahkan tatapannya sekarang membuat Dinda merasa tidak nyaman.
Menyadari hal itu Dinda buru buru melepas genggamannya.
" Bagus sekali, kau biarkan perempuan yang menampar istrimu pergi begitu saja.." ejek Rakha penuh kekesalan,
mendengar kata kata Rakha Yoga terlihat terkejut,
" dia menampar istriku?" tanya Yoga menegaskan,
" tanya saja ada semua pegawai, atau.. jika disini ada cctv, kau cek saja..
__ADS_1
agar kau tau bagaimana istrimu di perlakukan,"
Yoga terdiam, rahangnya terlihat menegang.
" Jika itu benar aku akan membuat perhitungan yang setimpal,
tapi untuk sekarang, sebaiknya kau menjauh dari istriku."
Yoga dan Rakha saling menatap tajam,
" beginikah caramu memperlakukan orang lain?" suara Rakha sinis,
" lalu bagaimana dengan dirimu? menempel pada istri orang saat suaminya di hadapanmu, apa itu bagus menurutmu?" balas Yoga tak kalah sinis.
" Aku melindunginya saat kau tak ada, saat kau tak bisa menjalankan fungsimu sebagai suami.."
" jangan melebihi batas.." peringat Yoga,
" aku melebihi batas karena ketidak becusanmu,
apa yang kau lakukan selama ini sehingga mantan istrimu sampai berani bertindak seperti itu pada Adinda?!"
" Adinda adinda.. mesra sekali kau memanggil nama istriku.."
" kenapa? kau keberatan? aku memanggilnya begitu sebelum kau ada dalam hidupnya,
Yoga mengepalkan tangannya,
" cukup!" Dinda berdiri diantara keduanya.
" kau membela laki laki ini?" desis Yoga,
" aku tidak mau ada perkelahian yang sesungguhnya tidak perlu terjadi,
tenangkan pikiran kalian dan bicara dengan kepala dingin..?" ujar Dinda ada suaminya dan Rakha.
" Aku berpikir malah lebih baik kita berkelahi, siapa yang masih berdiri dalam 30 menit berhak membawa Adinda pergi.." Rakha menantang Yoga.
" Kau?!" Yoga berjalan maju, tangannya sudah gatal ingin memukul Rakha, tapi Dinda menghalanginya.
" Cukup ku bilang?!" bentak Dinda keras,
" Dasar.. laki laki tidak becus, awas saja kalau kau menyakiti Dinda,
akan ku cari dan kurebut dia dari tanganmu,
__ADS_1
aku serius, dan akan kulakukan itu terang terangan.." Rakha mendorong dada Yoga dengan jari telunjuknya.
" Hentikan Rakha?!"
" kenapa? laki laki seperti ini yang kau nikahi??
apa yang kau beratkan??
dia bahkan tidak becus melindungi mu,
jangan salahkan aku,
kalau setelah ini aku akan terus muncul di hadapanmu dan membuatmu goyah.." kata Rakha tenang sembari mendekatkan wajahnya pada Dinda.
" Hei!" Yoga mendorong dada Rakha agar menjauh dari istrinya.
" ku peringatkan sekali lagi, pergi! atau aku tidak akan menahan diri lagi!"
Keduanya beradu pandang, dengan sorot yang tak bersahabat.
" tolong.. pergilah.." suara Dinda setengan memohon.
Rakha menatap Dinda dan memaksakan senyumnya,
" Periksakan wajahmu.. oke?" ucap Rakha tak perduli meski Yoga menatapnya penuh amarah.
" baiklah.. demi dirimu, hari ini aku mengalah..
jaga dirimu, telfon aku kapanpun.." Rakha lagi lagi melempar senyum dan tatapan redup penuh pengertian,
lalu berjalan pergi meski langkahnya terlihat begitu berat.
Setelah Rakha pergi, Dinda duduk di kursinya, di pejamkan matanya karena lelah.
" Biar ku kompres dulu pipimu.." Yoga mendekat, kemarahannya pada Dinda menguap begitu saja saat melihat pipi kiri istrinya memerah dan tampak tak baik baik saja.
" Tidak usah," jawab Dinda lelah, sepertinya ia sedang tak ingin di ganggu.
Yoga terdiam, hatinya sungguh berantakan.
Masalah semakin besar saja tanpa ia bisa mengendalikannya,
apalagi sekarang laki laki itu terang terangan berkata bahwa ia bisa merebut istrinya kapan saja.
Yoga mengeluh, ia berjalan keluar dari ruangan Adinda dengan raut wajah kesal dan bingung.
__ADS_1
" Mbak Mar?!" panggil Yoga pada pegawai paling tua,
" kesini?! saya mau bicara! yang lain ambil rekaman cctvnya!" nadanya tegas, membuat para pegawai yang sudah mulai tenang kembali tegang.