
Lagi lagi kesabaran Dinda di uji, Vania kembali datang, ia membawa segala macam barang dan mainan untuk mengambil hati Bagas,
tapi Bagas tak dapat di rayu dengan mudah, ia bahkan tak mau mendekati Vania sedikitpun.
" Tidak mau!" bentak Bagas pada Vania yang berusaha merangkulnya.
" Mama Bagas ya mama Dinda!!" kali ini suara Bagas lebih keras.
Dinda yang mendengar itu dari dalam kamar hanya bisa berkaca kaca sembari memendam perasaannya.
" Bagas..?! papa tidak pernah mengajari Bagas berkata keras atau bertindak tidak sopan semacam itu, cepat minta maaf.. dia ibumu Bagas.." suara Yoga terdengar tertahan, ia sungguh sungguh bingung dengan kondisi yang ia hadapi sekarang.
Egonya menolak untuk memberitahu jika Vania adalah ibu kandung putranya,
namun ia tak mau menjadi seorang pembohong, Bagas harus tau kenyataan yang sesungguhnya karena Vania tiba tiba menunjukkan wajahnya dan minta di akui.
Bagas tak perduli dengan kata kata Papanya, anak laki laki itu menolak keras kehadiran Vania.
Dengan langkah setengah berlari Bagas masuk ke dalam kamar dan berlari memeluk Dinda.
" Mama usir saja tante itu! tante itu selalu datang kesini dan mengangguku ma?!" Bagas menangis di pelukan Dinda.
Sementara Dinda hanya terdiam, namun tangannya erat memeluk Bagas.
" Mama?! kenapa mama diam saja ma?! mama??!" protes Bagas dengan air matanya yang meleleh tanpa henti.
" Bagas anak mama kan? Bagas anak mama kan??!"
Dinda mengangguk pelan,
" tentu saja Bagas anak mama.." jawab Dinda dengan air mata yang mulai jatuh.
Hatinya sakit sekali, benar benar sakit, perempuan itu memang ibu kandung Bagas, tapi bisa bisanya dia datang dengan cara seperti ini.
Vania.. ibu kandung Bagas itu bahkan tak mengubris Dinda saat pertama kali dia datang kerumah ini,
dia merasa tidak perlu untuk berbasa basi dengan Dinda yang statusnya adalah nyonya dirumah ini.
" Biar dia tidur denganku malam ini." ujar Dinda pada Yoga yang mulai mengangkat tubuh Bagas.
" Dia tertidur karena kelelahan menangis, biarkan saja disini." ucap Dinda lagi, namun tak di gubris oleh Yoga, laki laki itu tetap menggendong putranya dan memindahkannya ke kamarnya sendiri.
Dinda terdiam, namun terlihat jelas bahwa Dinda sedang menekan dirinya agar tenang, ia tak mau membuat masalah, sudah cukup ia melihat air mata Bagas hari ini, ia lelah.. dan ingin tidur secepatnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Yoga kembali ke dalam kamar,
melihat Yoga berjalan ke arah tempat tidur Dinda buru buru bangkit,
" mau kemana? jangan seperti anak kecil." Yoga meraih lengan Dinda,
" jadi sekarang kekuranganku mulai terlihat?"sahut Dinda dengan suara tertahan,
" jangan membuatku semakin pusing, tak ada yang membahas kekurangan, berhentilah mengada ngada.. seharusnya kau bersikap bijaksana dengan membantuku mencari jalan keluar?" ucap Yoga tak melepaskan tangan istrinya.
" Aku? mengada ngada? baiklah.. aku adalah perempuan yang senang mengada ngada.. jadi sekarang lepaskan aku.." Dinda berusaha melepaskan diri, namun Yoga memegang tangannya semakin erat.
" Hentikan.. dewasalah..?! kau bersikap seolah olah aku ini laki laki yang gampang terpengaruh,
seolah aku ini laki laki yang gampang terbujuk perempuan?!" tegas Yoga.
" Bukankah memang begitu?"
" Apanya yang memang begitu?!"
suasana hening seketika,
" sudahlah.. memang seharusnya aku tidak disini.." Dinda lagi lagi melepaskan tangan Yoga, namun bukannya melepaskan Yoga malah menarik tubuh Dinda.
" Kau cemburu?"
Tak disangka kata kata Dinda itu membuat amarah Yoga naik,
diangkatnya tubuh istrinya itu, lalu di lemparkannya sedikit kasar ke atas tempat tidur.
" Berpikirlah dulu sebelum bicara, pantaskah kau menilai diriku semena mena seperti itu?!
perempuan itu memang ibu kandung Bagas!
aku pernah tidur dengannya layaknya kau juga tidur dengan mantan suamimu!
tapi yang membedakan adalah aku tidak pernah sedikitpun mencintainya, dari awal pernikahan sampai pernikahan kami berakhir!
kau tau benar siapa yang ku cintai saat itu,
dan sekarang kau juga tau benar siapa perempuan yang mengisi hatiku?! yang menjadi tujuanku hidup?!" amarah laki laki itu akhirnya meledak juga.
" Kau memandang rendah cintaku untukmu, aku benci itu!" Yoga menatap tajam istrinya yang sedang terpaku di atas tempat tidur itu,
__ADS_1
air mata Dinda meleleh begitu saja melihat kemarahan Yoga.
" Berminggu minggu kau bersikap dingin padaku, bahkan setiap kata katamu begitu tajam melukai perasaanku..
kau kira aku tidak terluka?
aku ini siapamu Adinda? haruskah ku jelaskan betapa bingungnya aku menghadapi ini semua??!" suara Yoga begitu keras di telinga Dinda, membuat air mata Dinda semakin deras mengalir.
Melihat itu Yoga tiba tiba tersadar akan sikapnya yang kasarnya.
Di dekati istrinya itu dan perlahan duduk disamping Dinda,
tatapan yang sebelumnya tajam, kini kembali sayu, kalimat yang sebelumnya begitu keras..
kini mulai terdengar pelan dan berhati hati.
" Aku bukan lembek.. aku hanya terbentur kenyataan bahwa Vania memang ibu Bagas dan aku tidak boleh menghalangi pertemuan mereka..
jika boleh memilih, aku ingin Bagas tak bertemu dengan Vania sampai kapanpun..
jadi..
jangan pernah membandingkan dirimu dengan Vania,
kau lebih segala galanya..
kau lebih layak untukku..
salah besar jika kau cemburu padanya.." Yoga menghela wajah istrinya, dan menghapus air mata yang masih tersisa.
" Maafkan aku.. aku bersalah karena kurang tegas..
tapi jangan sekali kali meninggalkan kamar dan membiarkanku tidur sendiri ketika kau marah..
mungkin laki laki lain bisa menerimanya..
tapi aku tidak bisa.." Yoga merebahkan kepalanya di bahu istrinya yang sedari tadi hanya terduduk membisu di atas tempat tidur.
Dinda memang diam, tapi matanya begitu banyak bicara,
kekecewaannya belum juga hilang, kelembutan Yoga tak bisa mengusir kekhawatirannya,
bahkan sikap Yoga malah membuatnya semakin sakit hati.
__ADS_1
Yoga mengira dengan kata kata penyesalannya Dinda akan melunak, dan membuang kekesalannya.
" Lho..? air matamu kok semakin deras Din??" Yoga yang merasakan guncangan di bahu Dinda buru buru mengangkat kepalanya dan menatap istrinya.