
Kinanti baru saja memarkirkan vespanya di garasi.
Tapi ia buru buru berjalan keluar lagi saat melihat Bagas berlari ke arahnya.
Ia beranjak dari pangkuan Yoga saat melihat sosok Kinanti.
" Jangan lari?! nanti jatuh?!" suara Kinanti khawatir.
di belainya kepala Bagas saat bocah itu memeluk kaki Kinanti.
" Tante juga kangen.. sudah maem?" tanya Kinanti,
" sudah.." Bagas mengangguk,
" Kalau begitu kita makan kue saja.. dan bikin jus.." Kinanti mengandeng tangan Bagas dan menuntunnya.
Yoga yang melihat putranya di tuntun masuk berjalan mendekat.
" Kau akan menjaganya?" tanya Yoga membuat langkah Kinanti terhenti.
" Ya, biarkan dia bersamaku, toh aku sudah pulang" jawab Kinanti datar.
" Tubuhnya sedikit kurang fit.. jangan beri dia coklat dan makanan yang terlalu manis.." ujar Yoga,
" lho? dia sakit?!" raut Kinanti berubah,
" suhu tubuhnya sedikit naik...di juga sedikit batuk batuk,
aku hanya takut saja saat ku tinggal nanti suhu tubuhnya naik lagi.."
" kau harus meninggalkan obat untukku? jaga jaga?" Kinanti menatap Yoga serius.
" Akan ku antarkan padamu sebentar lagi.. sering sering beri dia air hangat.."
Kinanti mengangguk,
" Ajak tidur siang, supaya dia tidak bermain dan menghabiskan tenaganya.." ujar Yoga lagi.
" Pengasuhnya tidak datang.. semisal kau repot nanti, serahkan pada mbak Winda..
karena aku mungkin pulang malam.."
Kinanti menghela nafas, lalu mengangguk.
" Terimakasih.." ujar Yoga kalem, ucapan itu sepertinya benar benar tulus dari lubuk hatinya.
" Bekerjalah dengan tenang, aku akan mengurusnya, jangan khawatir.." sahut Kinanti.
Yoga tersenyum mendengar itu, keduanya sempat beradu pandang, namun Kinanti segera berbalik dan berjalan kembali menuntun Bagas.
Yoga yang seperti tersirami hatinya dengan kalimat yang tenang dan manis dari Kinanti itu berbalik, dan terus saja tersenyum sembari berjalan sampai ke dalam rumahnya.
Sore itu sedikit mendung, cahaya di sekitar mulai meredup dan berubah menjadi abu abu.
Anginpun mulai kencang, sehingga bisa mempermainkan korden korden yang menggantung di jendela jendela ruang tamu.
Dari kejauhan terdengar suara motor trail Damar memasuki garasi.
Tak lama terlihat sosok Damar yang baru pulang mengajar itu masuk ke dalam rumah,
laki laki berkemeja biru tua dan bercelana kain hitam itu melempar senyum pada istrinya yang sedang duduk di ruang tengah bersama Bagas.
" Wah.. ada jagoan disini?!" sapa Damar sembari melepas tas punggungnya dan meletakkannya dengan hati hati di atas meja.
" Untung mas pulang sebelum hujan.." ucap Kinanti,
" Di kota sudah mulai gerimis.. anginnya juga kencang.." sahut Damar, ia akan meraih Bagas, tapi Kinanti mencegahnya.
" Mandi dulu mas, mas kan dari luar.. Bagas kurang sehat soalnya.." jelas Kinanti.
" Sakit? wah.. jangan sakit dong??" Damar menarik tangannya kembali,
" Ya sudah, om mandi dulu.. setelah ini main sama om? oke?"
" Okeh..!" Bagas memperlihatkan gigi gigi kecilnya sembari mengangguk.
Di luar hujan mulai lebat, setelah meminum obat yang di tinggalkan Yoga, Bagas tertidur lelap di kamar Kinanti.
Damar membenarkan letak selimut Bagas karena khawatir anak itu kedinginan.
" Jangan di beri selimut mas, takutnya tambah panas..?" Kinanti masuk ke dalam kamar membawa air hangat.
__ADS_1
" Hawanya dingin, aku tidak tega.. "
" Beri selimut tipis saja.."
" Mana ada?, oh.. ?!" Damar berjalan ke arah lemari, lalu mengeluarkan salah satu sarungnya.
" Ini sarungku yang paling tipis.." ujar Damar lalu menyelimuti bagian perut dan paha Bagas, dan membiarkan bagian yang lain terbuka, terutama telapak kakinya.
" Tidak apa apakan? tidak terlalu panas juga?" Damar sedikit bimbang.
Kinanti mengangguk,
" Nanti kalau bapaknya datang jangan boleh memindahkannya, biarkan dia tidur disini saja.. kasian.." Damar menatap sayu Bagas yang sedang terlelap itu.
" Kenapa?" tanya Kinanti mendekat, ia membaca kesedihan di wajah suaminya.
" Aku sedih sekali setiap melihat anak ini, sebenarnya aku sempat bertemu ibunya, tapi jangankan bertanya tentang putranya, dia malah pura pura tidak mengenaliku.." Damar berdiri di samping jendela.
" Apa hubungan mereka benar benar seburuk itu mas? sehingga ibu Bagas sampai setega itu?" Kinanti mendekat.
" Yah.. apa yang harus ku katakan, pernikahan itu tidak di dasari rasa cinta..
tapi seharusnya sepahit apapun kondisi rumah tangga mereka, ibu Bagas tidak bertindak setega ini pada Bagas.." Damar memeluk istrinya.
Keduanya berdiri disamping jendela sembari mengamati hujan yang tak kunjung reda.
" Seandainya Bapakmu masih hidup.. dia juga pasti akan menentangmu menikahiku kan mas?" tanya Kinanti menyandarkan kepalanya di dada Damar, pelukan Damar sungguh hangat dan menenangkan.
" Ya.., tapi aku tidak akan patuh.." jawab Damar yakin,
" Kenapa?"
" karena kau adalah tanggung jawabku.. kau adalah adik Aji.."
" Hanya karena aku adik mas Aji??"
" Tidak hanya itu.."
" Lalu?" Kinanti mendongakkan kepalanya, menatap suaminya itu lembut.
" Karena kau sudah mencuri hatiku sejak lama, semakin kau dewasa.. semakin sulit aku mengalihkan perhatianku..
aku selalu menunggu kabar dan mengawasimu melalui ibu..
tapi kau menolakku mentah mentah.." Damar mengulas senyum mengerti sembari menyentuh pipi Kinanti.
" Aku marah sekali saat itu.. ingin membawamu lari saja, tapi apa yang ku bawa lari mau..? itu yang membuatku akhirnya hanya bisa diam dan mengikuti keinginanmu.."
" Maafkan aku mas.." Kinanti menyesal,
" Untuk apa minta maaf.. kau sudah menjadi istriku sekarang.." Damar mengeratkan pelukannya.
" Kalau kau marah padaku nanti.. tolong jangan lampiaskan kemarahanmu pada anak anak kita ya..?" pinta Damar,
" apa aku terlihat akan bersikap seperti itu??"
" Aku tidak tau.. karena kau termasuk tega sih terhadapku.."
" tega??"
" Yah.. kau jelas jelas suka padaku, tapi malah mau menikah dengan laki laki lain.."
" Di bahas lagi..!" Kinanti kesal, ia mencubit pinggang Damar dan memelintirnya.
" Ampunn???!" suara Damar membuat kaki Bagas bergerak.
" Jangan ramai? nanti Bagas bangun??" Damar memelankan suaranya.
Yoga mengetuk pintu rumah Damar, ia sedikit ragu karena waktu sudah menunjukkan jam 10 malam.
" Maafkan aku menganggu mas?" ucap Yoga ketika Damar membuka pintu.
" Dia tidur.. masuklah.." Damar membiarkan Yoga masuk, karena raut wajahnya begitu khawatir.
" Dia tidur dengan istriku di kamar.." Damar membuka pintu kamar, membiarkan Yoga melihat sejenak,
benar, putranya sedang tertidur lelap dengan Kinanti disampingnya.
" Biar ku bawa pulang mas?" ujar Yoga,
" Kasihan.. biarkan.."
__ADS_1
" aku tidak tenang, tubuhnya kurang sehat..?" Yoga terlihat lelah sekali.
" Kinanti menjaganya dengan baik, sudah tidak panas kok.." Damar mengajak Yoga untuk duduk di ruang tamu.
" Aku tidak tenang mas, sungguh.. biar ku bawa pulang..?"
mendengar itu Damar diam, ia menyandarkan dirinya di sofa tuang tamunya.
" Apa yang membuatmu resah? biasanya kau percaya pada kami?" tanya Damar tenang.
" Tentu saja aku percaya padamu mas.. istrimu juga penuh kasih sayang pada Bagas.." jawab Yoga pelan.
" Lalu?"
" Dia.. dia sering menangis tengah malam, sekitar seminggu ini.." wajah Yoga sayu,
" Demam?"
" tidak.. menangis sembari tidur.. karena itu aku memeluknya setiap malam..?"
" Kalau begitu biar istriku yang memeluknya selama dia tidur disini.."
mendengar itu Yoga semakin getir.
Ia menundukkan pandangannya dengan resah.
" Apa yang menganggumu.. katakan padaku.. ?"
Damar membaca keresahan itu dengan jelas, Yoga juga tak mau menatapnya.
" Tidak mas.. aku sungguh sungguh hanya khawatir pada putraku saja.." ucap Yoga.
" Kau sedang tidak baik baik saja.. jujurlah.." kejar Damar tenang.
Yoga terdiam,
" Apa yang bisa ku bantu? katakan?" tanya Damar pengertian, tapi Yoga tetap membisu.
Damar pun ikut terdiam,
" Biar ku bawa pulang Bagas..?" ucap Yoga kemudian, matanya terlihat berkaca kaca.
Damar terhenyak, ia kaget dengan ekspresi Yoga yang tiba tiba seperti itu.
" Kau kenapa? katakan padaku jika ada masalah? apapun itu?" Damar duduk tegak seketika.
" Tidak mas.. mas tidak bisa membantuku.." jawab Yoga menahan air di sudut matanya agar tidak tumpah.
" Kau tidak biasanya begini?"
" apa aku harus selalu bersikap bahagia, padahal aku tidak baik baik saja?" suara Yoga di penuhi kegetiran.
Damar menghela nafas, ia tau Yoga sedang tidak bisa di paksa, semakin Damar bertanya, maka semakin sulit ia mendapatkan jawaban dari mulut Yoga.
" Jangan egois.. putramu akan terganggu jika kau tiba tiba mengangkatnya..
lebih baik kau pulang dulu, ganti bajumu..
lalu tidurlah disini.." ujar Damar mengerti.
" Apa kata istrimu kalau aku tidur disini mas? aku malu..?" Yoga masih saja tidak tenang.
" Sudahlah.. terserah kau mau tidur dimana, di kamar tamu, atau di sofa.. senyaman mu saja..
istriku tidak akan berkomentar macam macam..
segeralah ganti bajumu, pintunya tidak ku kunci.." Damar bangkit, meninggalkan Yoga yang masih berpikir.
" Mas?" panggil Yoga ketika Damar sudah berjalan menjauh keruang tengah.
" Tidak pantas aku tidur disini.. biar aku pulang saja, tapi.. jika Bagas menangis.. tolong antarkan padaku?" ujar Yoga sudah bangkit dari duduknya.
Dengan langkah berat ia berjalan keluar dan menghilang dari balik pintu rumah Damar.
Yoga berjalan kembali kerumahnya,
dengan susah payah ia menahan gemuruh di hatinya.
Entah kenapa hatinya begitu nelangsa,
ia seperti tak terima melihat betapa di kasihani nya putranya itu.
__ADS_1
Ia di serang rasa frustasi dan tidak berdaya karena tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk putra yang amat di cintanya itu.