Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
bagaimana perasaan istrimu?


__ADS_3

Beberapa orang..


kadang tak menyadari..


bahwa mereka sesungguhnya saling membutuhkan dan mencintai..


banyak orang..


juga kadang tak tau..


bahwa hati yang sekeras batu, hanya akan membuat satu menjadi dua..


dan bahagia menjadi merana.


Manusia boleh keras..


namun keraslah yang berarti,


manusia boleh keras..


tapi berusahalah seperti besi..


meski di bakar dan di lebur berkali kali..


ia masih dapat di bentuk lagi,


bahkan mungkin menjadi bentuk yang lebih elok dan berguna..


bagi orang lain atau dirinya sendiri..


Yoga memandangi istrinya,


perempuan itu begitu lelap, sampai sampai tak sadar dasternya tersingkap ke atas.


Paha yang putih itu seperti meminta untuk di sentuh,


Yoga menelan ludah, namun tak lama ia melengos.


Di buang jauh jauh hasratnya,


ia tau betapa beresikonya hubungan suami istri saat usia kehamilan masih sangat muda.


Yoga tak tau.. apakah sejak dulu ia sudah tertarik pada Adinda..


semakin hari rasanya semakin tak karuan saja cintanya.


Perempuan yang kini menjadi istrinya itu, merubahnya menjadi laki laki agresif dan impulsif.


" Haaahh..." Yoga mengeluh, ia tak tahan untuk tidak menyentuh istrinya,


entah kenapa, apa ini efek hamil muda..


hasrat Yoga semakin sulit saja di tepis.


Yoga membaringkan dirinya disamping Dinda.


Di beranikan dirinya mendekat, dan mengecup bibir berada dihadapannya itu dengan hati hati.


Saat tau Dinda tak juga membuka mata, Yoga semakin berani,


tangannya masuk ke dalam daster dan menyingkap daster itu ke atas perlahan.


Merasakan dingin di bagian paha dan pinggangnya, Dinda membuka mata,


dan keduanya saling beradu pandang.


Pandangan yang sama sama hangat, pandangan yang sama sama rindu dan di penuhi hasrat.


Sadar Dinda diam saja dan tak melawan, Yoga meneruskan keinginannya.


Di ciuminya istrinya itu, sembari tangannya terus merayap rayap di atas tubuh Dinda.

__ADS_1


Lama..


Yoga dan Dinda sama sama tenggelam dalam ciuman dan sentuhan yang rasanya sudah lama tak mereka dapatkan.


Keduanya seperti meluapkan kerinduan beberapa minggu ini,


yang walaupun keduanya tampak saling tak begitu perduli, namun sesungguhnya saling membutuhkan dan menginginkan.


Yoga yang sudah tidak tahan mengangkat tubuh istrinya ke atas pangkuannya.


Habis di kecup istrinya, dari leher sampai dada,


dan saat tangannya mulai mengangkat pinggang istrinya agar lebih tinggi,


tiba tiba laki laki itu tersentak,


seperti mengingat sesuatu.


Wajahnya berubah tegang,


sentuhannya yang lembut berubah kaku.


Dinda terlihat bingung melihat raut wajah suaminya yang tiba tiba berubah antara takut dan bingung.


" Maafkan aku.. padahal aku sudah berjanji tidak akan menyentuhmu saat kau sakit.." ujar Yoga pelan, namun terdengar sekali suara itu di paksakan.


Dinda sesungguhnya terkejut, saat tubuhnya di turunkan dari pangkuan suaminya, dan suaminya itu bangkit,


lalu berjalan pergi keluar begitu saja meninggalkannya.


Tak satu katapun keluar dari mulut Dinda,


ia terlalu terkejut,


dadanya terlalu sesak untuk bertanya,


nelangsa menyergapnya..


Dalam hatinya berkecamuk berbagai macam dugaan,


kenapa suaminya itu tiba tiba berhenti dan meninggalkannya begitu saja.


Apakah benar benar karena kondisi Dinda yang sedang tidak fit,


atau karena ia sudah enggan menyentuh tubuh Dinda.


Ini tengah malam, tapi Yoga tetap saja datang menemui Damar.


Laki laki yang selalu menjadi pelindung terkuatnya.


Keduanya duduk di teras, langit yang gelap pekat membuat asap rokok Damar terlihat jelas terbang kesana kemari.


Laki laki beralis tebal dan berhidung mancung itu hanya tersenyum kecil saja saat mendengar Yoga berkali kali menghela nafas.


" Kelakuanmu kadang kadang tidak masuk akal.."


" Aku ini manusia biasa mas.. dokter hanyalah sebuah gelar..


sama sepertimu,


saat itu kau adalah pengajar.. tp kau melemparku dengan penuh amarah sampai berdarah darah..


bukankah kita tidak boleh menilai orang lain dengan mudah dan dangkal?


emosi dapat merubah manusia?


se terpelajar apapun dia.." ujar Yoga,


" hanya karena aku dokter maka aku harus begini terus?


begitu terus?

__ADS_1


dan jika sikapku tidak sesuai maka aku akan di salahkan??


aku manusia biasa mas..


beberapa rekanku yang mengambil spesialis malah jauh lebih tempramen..


bahkan mereka marah tanpa sebab pada pasiennya hanya karena stress yang menumpuk.." imbuh Yoga,


" aku membicarakan dirimu, kenapa kau bawa bawa profesi dan salah satu rekanmu?" Damar menghembuskan rokoknya,


lengannya yang kokoh mengambil cangkir disampingnya yang berisi kopi hangat.


" Pulanglah.." ujar Damar setelah menyeruput kopinya.


" Kok malah di usir?"


" harusnya kau berpikir panjang..


meninggalkan istri dalam kondisi seperti itu..


lalu keluar tengah malam tanpa pamit..


Yoga Yoga..


menurutmu apa yang akan di pikirkannya?"


tanya Damar tenang dan santai,


" Kau tidak belajar dariku dan Kinan?


aku meninggalkannya ke gunung,


tapi dia malah mengiraku menemui perempuan lain untuk pelampiasan karena marah padanya..


bukankah itu berbahaya?"


mendengar itu Yoga membisu,


" ini adalah hal yang sangat rentan dalam rumah tangga.. jangan lagi lagi kau lakukan,


selain memancing kecurigaan juga bisa semakin merenggangkan hubungan kalian..


apalagi kau bilang dia sedang hamil muda.."


" Kasihan.. pasti dia sedang nelangsa sekarang..


dia pasti berpikir kau sudah enggan menyentuhnya,


atau bahkan sudah tidak mau tidur dengannya.." Damar menyadarkan Yoga.


" kalau masalah hormon mungkin kau lebih paham, perempuan hamil, atau menstruasi bagaimana..


tapi kalau perkara perasaan..


kau tidak bisa menyelami dan mengukurnya.." imbuh Damar.


Yoga masih diam dan berpikir,


melihat Yoga yang berpikir keras Damar menghela nafas,


ia tak mau saudaranya itu semakin stress karena tertekan oleh nasehatnya,


maka di alihkan pembicaraannya.


" Bagaimana perkembangan laporanmu pada Vania?"


" sudah masuk mas.." jawab Yoga masih kepikiran.


Damar mengangguk tenang,


" Baguslah.. sekarang tinggal mengurus laki laki itu.. siapa namanya.. Rakha?" tanya Damar sembari mematikan rokoknya di asbak.

__ADS_1


__ADS_2