Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
tangis kaila


__ADS_3

Kinanti memperhatikan sekitar, ia tak menemukan wajah yang ia kenal.


" Hai mbak?! sini!" seorang gadis yang duduk disamping jendela melambaikan tangan padanya pada Kinanti, senyum gadis itu begitu cerah.


Kinanti mendekat,


" duduk mbak.." ujar gadis itu lagi lagi tersenyum manis.


Setelah Kinanti duduk tak lama sebuah minuman datang,


" Aku sudah pesan duluan mbak.. ini yang paling oke rasanya menurutku.."


" tidak apa apa.." jawab Kinanti juga tersenyum, namun senyumnya di penuhi beban.


" Maafkan aku ya mbak, merepotkan sehingga mbak harus kesini.."


" tidak apa apa.. sekalian aku jalan jalan, aku juga mau mencari buku.."


" Wah.. bagaimana kalau denganku saja nanti, ada beberapa buku yang aku butuhkan juga.. mau ya mbak?"


Kinanti diam sejenak, namun mengangguk setelahnya.


" jadi.. apa yang mau di bicarakan.." tanya Kinanti setelah beberapa lama.


" Tentu saja aku ingin bicara tentang mas ku yang menyedihkan itu.."


Kinanti merasa tidak enak, namun entah kenapa dia mau menuruti gadis di hadapannya ini untuk bertemu.


" Kenapa dengan mas Damar?" tanya Kinanti kemudian.


" Tidak bisakah membatalkan pernikahanmu mbak?"


Kinanti kaget, berani beraninya adik Damar mengatakan hal se sensitive ini kepadanya.


" Maaf kalau aku lancang mbak.. tapi aku harus bicara terus terang.. mungkin aku hanya seorang adik tiri..


tapi aku menyayanginya.." ucap Kaila dengan wajah sedih.


" Ibuku selalu bersikap kurang baik pada mas Damar, tapi tak sekalipun mas Damar mengabaikanku.." imbuhnya.


" Mas Damar memang orang yang baik.. harusnya kau faham itu.. apalagi dia hidup denganmu.." sahut Kinanti.


" Hanya setahun ini.."


" maksudnya?"


" ya kami tinggal berdekatan hanya setahun ini.. selebihnya entah mas Damar tinggal dimana.. yang jelas ia tidak pernah pulang bertahun tahun sebelumnya.." jelas Kaila.


" Kalau bapak tidak meninggal.. mungkin mas Damar tidak akan mau pulang.."


" Mas mu pergi dari rumah mulai kapan?" tanya Kinanti hati hati, ia mulai penasaran.


" Sejak lulus SMA, dan baru kembali setahun yang lalu.."


Kinanti terdiam, lalu dapat dari mana dia uang kuliahku? tanya Kinanti dalam hati.


Kalaupun orang tuanya mengirim, itu pasti hanya untuk kebutuhannya sendiri, lalu dapat dari mana dia uang kuliahku?? muncul pertanyaan yang besar di hati Kinanti.


" Sebenarnya apa maksudnya mengatakan hal seperti ini kepadaku..?" tanya Kinanti pada Kaila.

__ADS_1


" Supaya mbak kasihan terhadap mas Damar.." jawab Kaila terus terus terang dan polos.


" Kenapa aku harus mengasihani mas mu? diantara kami tidak ada hubungan seperti yang kau kira.." jelas Kinanti.


" Dia mencintaimu mbak.."


Kinanti terhenyak, benar benar polos adik Damar ini pikirnya.


" Dia tidak mencintaiku dek.." jawab Kinanti tenang namun tegas.


" Dari mana mbak tau itu?" Kaila seakan tak terima.


" Dia hanya terobsesi dengan janjinya.. tanggung jawabnya pada almarhum kakakku.. jadi..


ku harap mengertilah..


apa yang kau kira benar, belum tentu benar.."


Kaila terdiam, wajahnya sedih.


" Tidak.. itu bukan obsesi.. dia sungguh mencintaimu.. aku melihat itu dari matanya,


tolonglah mbak.. ?" wajah Kaila memerah, matanya mulai berkaca kaca.


" Dia tidak akan menikah kalau itu bukan dirimu..?!


di sudah banyak mengalah dalam hidupnya, kenapa sekarang mas ku harus mengalah juga dalam urusan hati..?!"


Kinanti menghela nafas sejenak, lalu menenangkan Kaila yang hampir menangis itu.


" Dengarkan.. jangan menangis.." Kinanti menyentuh punggung tangan Kaila.


tapi aku tidak boleh menjadi seorang pengkhianat..


aku sudah mempunyai janji pernikahan dengan orang lain..


dan mas mu tau benar hal itu..


ia bahkan sudah menyerah dan menerima ini dengan baik.."


" dia menyerah lagi?! mas Damar bodoh..!" Kaila tak bisa menahan diri, air matanya menetes.


" Ibuku sudah banyak menyakitinya.. dan sekarang kau menyakitinya?! kau mengabaikan mas Damar dan menikah dengan orang lain, kau jahat mbak!" kaila menyingkirkan tangan Kinanti yang menyentuhnya dan bangkit,ia berhamburan pergi meninggalkan Kinanti.


Kinanti terlalu kaget dengan kelakuan Kaila, sehingga ia terbengong sedikit lama.


" Astagaaa.." keluhnya setelah menguasai diri, di sandarkan punggungnya di kursi, menatap keluar jendela dan melihat mobil yang berlalu lalang kesana kemari.


Entah apa yang sebenarnya ia inginkan sesungguhnya diri sendiri tidak begitu tau, bohong jika Damar tidak menggerakkan hatinya, tapi bayangan hidup dengan orang yang penuh obsesi dan rasa bersalah menghantuinya.


Dan justru karena Kinanti tau ada rasa yang tumbuh dalam dirinya di karenakan Damar, ia harus menjauhinya..


sudah cukup cukup ia mengantungkan hatinya pada seorang laki laki dulu, dan ujung ujungnya di sakiti.


Ia benar benar takut menikah atas dasar cinta.


Lebih baik ia menjalaninya dengan Haikal, karena di hatinya tidak ada sedikitpun rasa untuk Haikal, jadi apapun yang Haikal kerjakan kelak, itu tak akan menyakiti hatinya.


Ia hanya perlu bertindak sebagai istri yang tenang dan melayani Haikal dengan baik tanpa membawa bawa perasaan cinta.

__ADS_1


Yoga baru saja pulang dari tempat prakteknya, namun ia berpapasan dengan Kaila.


Mata Kaila terlihat sembab dan wajahnya murung.


" Hei hei.. kenapa nduk?" tanya Yoga menghalangi langkah Kaila dan menatap gadis itu baik baik.


" Jangan ganggu aku mas, aku sedang kesal.." jawab gadis itu.


" Kau ribut dengan ibumu lagi?"


" tidak.."


" lalu?"


" pacar mas Damar itu jahat?!"


" lho lho lho.. coba jelaskan.." tanya Yoga serius.


" Aku bicara dengannya, mencoba membujuknya.. tapi dia bersikeras meninggalkan mas Damar dan menikah dengan orang lain..?!"


Kaila meradang lagi.


" Tunggu tunggu.. setauku mereka tidak pacaran Kaila..


jangan berkata jahat pada orang lain se enaknya kalau belum tau duduk permasalahannya.." nasehat Yoga,


" pokoknya dia mengabaikan mas Damar?!"


" Segala sesuatu ada sebabnya.. kalau mereka saling menyayangi aku yakin mereka akan saling mengerti.."


" Kasihan mas Damar.. kasihan mas.." kaila merengek,


" Aduhh aduh.." Yoga menenangkan gadis itu sembari memeluknya.


" Kau bukan anak SMA lagi.. jangan berlebihan..


kalau mas Damarmu tau kau menangis seperti ini dia akan lebih sedih..


bukan menghibur kau justru menambah beban perasaannya.."


nasehat Yoga,


" Sudahlah.. mungkin ada perempuan yang lebih baik untuk mas Damar kelak.. kau jangan khawatir.."


" aku ingin dia bahagia.. aku dan ibu sudah membuatnya tidak bahagia selama ini.."


" eh, kau bicara apa.. tentu saja mas mu bahagian dengan adanya dirimu.."


" Kalau dia bahagia kenapa dia pergi dari rumah dulu, tentunya itu ia lakukan untuk menghindariku.. menghindari ibu yang selalu ketus pada mas Damar, iya kan mas Yog?!"


Yoga terdiam, itu memang benar..


Damar pergi karena diperlakukan tidak adil,


Yoga bahkan sering menjadi saksi banyaknya pukulan pukulan keras dan cacian yang Damar terima selama bapaknya masih hidup.


Dan ibu Kaila, bukanya menenangkan, ia malah semakin membakar amarah bapak Damar sehingga pukulan itu terjadi hampir setiap hari.


" Sudah.. kau jangan menangis lagi, mas Damar sayang padamu.. percayalah itu.." ujar Yoga menepuk punggung Kaila agar ia berhenti menangis.

__ADS_1


__ADS_2